728x90 AdSpace

  • Latest News

    SLAMETAN KEMATIAN


    Kematian selain tidak dapat diramalkan juga berada diluar kekuasaan manusia. Meskipun kita semua mengetahui bahwa kita akan mati, namun hampir tak seorangpun mengetahui kapan   kematian itu akan terjadi. Tak seorangpun, selain barangkali orang yang bunuh diri, dapat merencanakan kematiannya, apalagi mengaturnya.

    Mungkin karena ketidakpastian inilah kita menentukan interpretasi-interpretasi keagamaan tentang kematian dalam setiap masyarakat. Kematian tidak hanya menunjukkan ketiadaan dan kefanaan, namun kematian merupakan putusnya hubungan antara roh dan jasad, terpisah antara keduanya, berarti  pula  berpindahnya  dari  satu  kehidupan  ke kehidupan lain.[1]

    Oleh karena itu, tidak perlu diragukan bahwa upacara kematian tampak sebagai ritus religius yang sangat penting. Demikian juga agama Islam mengajarkan para pemeluknya melakukan kegiatan-kegiatan  ritualistik. Yang dimaksud dengan kegiatan ritualistik adalah meliputi berbagai bentuk ibadah.

    Dalam Islam upacara kematian, pada saat mempersiapkan penguburan orang mati  ditandai  dengan  memandikan,  mengkafani,  mensholati,  dan pada akhrinya  menguburkan.[2]

    Menurut keyakinan Islam orang yang sudah meninggal dunia ruhnya tetap hidup dan tinggal sementara waktu di alam kubur atau alam barzah. Kepercayaan tersebut telah mewarnai orang Jawa, hanya saja menurut orang Jawa, arwah orang-orang tua sebagai nenek moyang yang telah meninggal dunia berkeliaran di sekitar tempat tinggalnya, atau arwah leluhur menetap di makam.

    Mereka masih mempunyai kontak hubungan dengan keluarga yang masih hidup sehingga suatu saat arwah itu datang ke kediaman anak keturunan. Dari sinilah kemudian timbul upacara slametan kematian. Dan disisi lain atas dasar kepercayaan Islam bahwa orang meninggal dunia perlu dikirim doa, maka muncul tradisi kirim doa setelah seseorang meninggal dunia.[3]

    Secara umum pelaksanaan slametan kematian dalam masyarakat Jawa dilaksanakan dari hari-hari tertentu sampai tahun ketiga (seribu hari). Pada malam hari sesudah yang meninggal dikubur, keluarga mengadakan slametan ngesur tanah. Ngesur tanah disini berarti memindakan dari alam fana ke alam baka, asal dari tanah kembali ke asal mula menjadi tanah.[4]

     Setelah itu slametan diadakan lagi pada hari ketiga (nelung dina), hari ketujuh (mitung dina), empat puluh hari (matang puluh), 100 hari (nyatus), satu tahun (mendak sepisan), dua tahun (mendak pindo) dan tiga tahun (nyewu).[5]

    Hari-hari pelaksanaan slametan kematian tentu saja memiliki makna khusus dalam perhitungannya. Ngesur tanah atau geblak mempunyai arti memindahkan dari alam fana ke alam baka, asal dari tanah menjadi tanah. Nelung dina, yaitu untuk menyempurnakan empat perkara yang disebut  anasir, yaitu bumi, api, angin, dan air. Mitung dina maksudnya menyempurnakan kulit dan kukunya.

    Matang puluh dina untuk menyempurnakan pembawaan dari ayah dan ibu berupa darah, daging, sumsum, isi perut, rambut, tulang, dan otot. Nyatus untuk menyempurnakan semua yang bersifat badan (jasad). Mendak pisan untuk menyempurnakan kulit, daging dan isi perutnya. Mendak pindo untuk menyempurnakan semua kulit darah dan semacamnya yang tinggal hanyalah tulangnya saja. Dan nyewu untuk menyempurnakan semua rasa dan bau hingga sudah lenyap.[6]

    Peringatan seribu hari itu biasanya dibarengkan pula dengan ngijing atau pemasangan batu nisan.[7]

    Semua  slametan kematian ditandai dengan hidangan perlambang yaitu kue dari beras yang disebut apem. Apem ini melambangkan iklas.[8] Selain itu juga dihidangkan makanan-makanan lain dan sesajian yang masing-masing pun memiliki makna sendiri-sendiri. Selain unsur-unsur tersebut di atas, unsur penting dari slametan kematian adalah dhikir, tahlil dan kirim doa kepada orang yang sudah meningggal tersebut.




    [1] Ali Mohammad Loaghaa, Perjalanan Kematian, Terjemahan Fausi Saleh Lammo, Pustaka Azzan, Jakarta, 2001, hlm. 17
    [2] H. Ridin Sofwan,”Interelasi Nilai Jawa dan Islam dalam Aspek Kepercayaan dan Ritual”, dalam M. Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000, hlm. 130
    [3] Ibid, hlm. 127–128
    [4] Thomas Wiyasa Bratawidjaja, Op. Cit., hlm. 136
    [5] H. Ridin Sofwan,”Interelasi Nilai Jawa dan Islam dalam Aspek Kepercayaan dan Ritual”, dalam M. Darori Amin, Op. Cit., hlm. 133-134
    [6] Thomas Wiyasa Bratawidjaja, Op. Cit., hlm. 136
    [7] Clifford Geertz, Op. Cit., hlm. 96
    [8] Marbangun Hardjowirogo, Op. Cit., hlm. 142
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: SLAMETAN KEMATIAN Rating: 5 Reviewed By: Amin Khakam
    Scroll to Top