Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

FATIMA AZ-ZAHRA



Pada suatu hari di Madinah, ketika Nabi Muhammad berada di masjid sedang di-kelilingi para sahabat, tiba-tiba anaknya tercinta Fatimah, yang telah menikah dengan Ali -prajurit utama Islam yang terkenal- datang pada Nabi. Dia meminta dengan sangat kepada ayahnya untuk dapat meminjam seorang pelayan yang dapat membantunya dalam melaksanakan tugas pekerjaan rumah. Dengan tubuhnya yang kurus dan kesehatannya yang buruk, dia tidak dapat melaksanakan tugas meng-giling jagung dan mengambil air dari sumur yang jauh letaknya, di samping juga harus merawat anak-anaknya.

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tampak terharu mendengar permohonan si anak, tapi sementara itu juga Beliau menjadi agak gugup. Tetapi dengan menekan perasaan, Beliau berkata kepada sang anak dengan sinis, “Anakku tersayang, aku tak dapat meluangkan seorang pun di antara mereka yang terlibat dalam pengabdian 'Ashab-e Suffa. Sudah semesti-nya kau dapat menanggung segala hal yang berat di dunia ini, agar kau mendapat pahalanya di akhirat nanti.” Anak itu mengundurkan diri dengan rasa yang amat puas karena jawaban Nabi, dan selanjutnya tidak pernah lagi mencari pelayan selama hidupnya.

Fatimah az-Zahra si cantik dilahirkan delapan tahun sebelum Hijrah di Mekkah dari Khadijah, istri Nabi yang pertama. Fatimah ialah anak yang keempat, sedang yang lainnya: Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum.

Fatimah dibesarkan di bawah asuhan ayahnya, guru dan dermawan yang ter-besar bagi umat manusia. Tidak seperti anak-anak lainnya, Fatimah mempunyai pembawaan yang tenang dan perangai yang agak melankolis. Badannya yang lemah, dan kesahatannya yang buruk menyebabkan ia terpisah dari kumpulan dan permainan anak-anak. Ajaran, bimbingan, dan aspirasi ayahnya yang agung itu membawanya menjadi wanita berbudi tinggi, ramah-tamah, simpatik, dan tahu mana yang benar.

Fatimah, yang sangat mirip dengan ayahnya, baik roman muka maupun dalam hal kebiasaan yang saleh, adalah seorang anak perempuan yang paling disayang ayahnya dan sangat berbakti terhadap Nabi setelah ibunya meninggal dunia. Dengan demikian, dialah yang sangat besar jasanya mengisi kekosongan yang di-tinggalkan ibunya.

Pada beberapa kesempatan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menunjukkan rasa sayang yang amat besar kepada Fatimah. Suatu saat Beliau berkata, “O... Fatimah, Allah tidak suka orang yang membuat kau tidak senang, dan Allah akan senang orang yang kau senangi.”

Juga Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dikabarkan telah berucap: “Fatimah itu anak saya, siapa yang membuatnya sedih, berarti membuat aku juga menjadi sedih, dan siapa yang menyenangkannya, berarti menyenangkan aku juga.”

Aisyah, istri Nabi tercinta pernah ber-kata, “Saya tidak pernah berjumpa dengan sosok pribadi yang lebih besar daripada Fatimah, kecuali kepribadian ayahnya.”

Atas suatu pertanyaan, Aisyah men-jawab, “Fatimah-lah yang paling disayang oleh Nabi.”

Abu Bakar dan Umar keduanya ber-usaha agar dapat menikah dengan Fatimah, tapi Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam diam saja. Ali yang telah dibesarkan oleh Nabi sendiri, seorang laki-laki yang padanya tergabung berbagai kebajikan yang langka, bersifat ksatria dan penuh keberanian, kesalehan, dan kecerdasan, merasa ragu-ragu mencari jalan untuk dapat meminang Fatimah. Karena dirinya begitu miskin. Tetapi akhirnya ia memberanikan diri me-minang Fatimah, dan langsung diterima oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.

Ali ra. menjual kwiras (pelindung dada dari kulit) miliknya yang bagus. Kwiras ini dia menangkan pada waktu Perang Badar. Ia menerima 400 dirham sebagai hasil penjualan, dan dengan uang itu ia mem-persiapkan upacara pernikahan. Upacara yang amat sederhana. Agaknya, maksud utama yang mendasari perayaan itu dengan kesederhanaa, ialah untuk men-contohkan kepada para Muslim dan Muslimah perlunya merayakan pernikahan tanpa jor-joran dan serba pamer.

Fatimah hampir berumur delapan belas tahun ketika menikah dengan Ali. Sebagai mahar dari ayahnya yang terkenal itu, ia memperoleh sebuah tempat air dari kulit, sebuah kendi dari tanah, sehelai tikar, dan sebuah batu gilingan jagung.

Kepada putrinya Nabi berkata, “Anakku, aku telah menikahkanmu dengan laki laki yang kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi daripada yang lainnya, dan seorang yang menonjol dalam hal moral dan kebijaksanaan.”

Kehidupan perkawinan Fatimah berjalan dengan lancar dalam bentuknya yang sangat sederhana, gigih, dan tak mengenal lelah. Ali bekerja keras tiap hari untuk mendapatkan nafkah, sedangkan istrinya bersikap rajin, hemat, dan berbakti. Fatimah di rumah melaksanakan tugas-tugas rumah tangga; seperti menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pasangan suami-istri ini terkenal saleh dan dermawan. Mereka tidak pernah membiarkan pengemis melangkah pintunya tanpa memberikan apa saja yang mereka punyai, meskipun mereka sendiri masih lapar.

Ali ra. berkata : “Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari. Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu.”

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menikahkan Fatimah, beliau mengirimkan unta itu bersama satu lembar kain dan bantal kulit berisi ijuk dan dua alat penggiling gandum, sebuah timba dan dua kendi. Fatimah menggunakan alat penggiling gandum itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari kulit) berisi air hingga berbekas pada dadanya. Dia menyapu rumah hingga berdebu bajunya dan menyalakan api di bawah panci hingga mengotorinya juga. Inilah dia, az-Zahra', ibu kedua cucu Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu al-Hasan dan al-Husein.

Sifat penuh perikemanusiaan dan murah hati yang terlekat pada keluarga Nabi tidak banyak tandingannya. Di dalam catatan sejarah manusia, Fatimah Zahra terkenal karena kemurahan hatinya.

Pada suatu waktu, seorang dari suku bani Salim yang terkenal kampiun dalam praktek sihir datang kepada Nabi, me-lontarkan kata-kata makian. Tetapi Nabi menjawab dengan lemah-lembut. Ahli sihir itu begitu heran menghadapi sikap luar biasa ini, hingga ia memeluk agama Islam. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam lalu bertanya: “Apakah Anda berbekal makanan?” Jawab orang itu: “Tidak.” Maka, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menanyai Muslimin yang hadir di situ: “Adakah orang yang mau menghadiahkan seekor unta kepada tamu kita ini?” Mu'ad ibn Ibada bersedia menghadiahkan seekor unta. Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam sangat berkenan hati dan melanjutkan: “Barangkali ada orang yang bisa memberikan selembar kain untuk penutup kepala saudara seagama Islam?” Kepala orang itu tidak memakai tutup sama sekali. Sayyidina Ali langsung melepas serbannya dan menaruh di atas kepala orang itu. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam minta kepada Salman untuk membawa orang itu ke tempat seseorang saudara seagama Islam yang dapat memberinya makan, karena dia lapar.

Salman membawa orang yang baru masuk Islam itu mengunjungi beberapa rumah, tetapi tidak seorang pun yang dapat memberinya makan, karena waktu itu bukan waktu orang makan.

Akhirnya, Salman pergi ke rumah Fatimah, dan setelah mengetuk pintu, Salman memberi tahu akan maksud dari kunjungannya. Dengan air mata berlinang, putri Nabi ini mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada makanan sejak sudah tiga hari yang lalu. Namun, putri Nabi itu enggan menolak seorang tamu, dan tuturnya: “Saya tidak dapat menolak seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makanan sampai kenyang.”

Fatimah lalu melepas kain kerudungnya, lalu memberikannya kepada Salman, dengan permintaan agar Salman mem-bawanya barang itu ke Shamoon, seorang Yahudi, untuk ditukar dengan jagung. Salman dan orang yang baru saja memeluk agama Islam itu sangat terharu. Dan orang Yahudi itu pun sangat terkesan atas kemurahan hati putri Nabi, dan ia juga memeluk agama Islam dengan menyatakan bahwa Taurat telah memberitahukan kepada golongannya tentang berita akan lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur.

Salman balik ke rumah Fatimah dengan membawa jagung. Dan dengan tangannya sendiri, Fatimah menggiling jagung itu, dan membakarnya menjadi roti. Salman me-nyarankan agar Fatimah menyisihkan beberapa buah roti untuk anak-anaknya yang kelaparan, tapi dijawab bahwa diri-nya tidak berhak untuk berbuat demikian, karena ia telah memberikan kerudungnya itu untuk kepentingan Allah.

Fatimah dianugerahi lima orang anak, tiga putra: Hasan, Husein, dan Muhsin, dan dua putri: Zainab dan Umi Kalsum. Hasan lahir pada tahun ketigi dan Husein pada tahun keempat Hijrah. Muhsin meninggal dunia waktu masih kecil.

Fatimah merawat luka Nabi sepulang-nya dari Perang Uhud. Fatimah juga ikut bersama Nabi ketika merebut Mekkah, begitu juga ia ikut ketika Nabi melaksana-kan ibadah Haji Waqad, pada akhir tahun 11 Hijrah.

Dalam perjalanan haji terakhir ini Nabi jatuh sakit. Fatimah tetap mendampingi beliau di sisi tempat tidur. Ketika itu Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah yang membuat Fatimah menangis, dan kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam membisikkan sesuatu lagi yang membuat Fatimah tersenyum. 

Setelah nabi wafat, Fatimah menceritakan kejadian itu kepada Aisyah. Ayahnya membisikkan berita kematianya, itulah yang menyebabkan Fatimah me-nangis, tapi waktu Nabi mengatakan bahwa Fatimah-lah orang pertama yang akan berkumpul dengannya di alam baka, maka Fatimah menjadi bahagia.

Fatimah memberikan contoh kepada kita saat ayahandanya wafat. Ketika ayah-nya menjelang wafat dan sakitnya bertambah berat, Fatimah berkata : “Aduh, susahnya Ayah !” Nabi saw menjawab : “Tiada kesusahan atas Ayahanda sesudah hari ini.” 

Tatkala ayahandanya wafat, Fatimah berkata : “Wahai Ayah, dia telah memenuhi panggilang Tuhannya. Wahai Ayah, di surga Firdaus tempat tinggalnya. Wahai Ayah, kepada Jibril kami sampaikan beritanya.”

Fatimah telah meriwayatkan 18 hadits dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Di dalam Shahihain diriwayatkan satu hadits darinya yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim dalam riwayat Aisyah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud. Ibnul Jauzi berkata: “Kami tidak mengetahui seorang pun di antara puteri-puteri Rasulullah saw yang lebih banyak meriwayatkan darinya selain Fatimah.”

Fatimah pernah mengeluh kepada Asma' binti Umais tentang tubuh yang kurus. Dia berkata : “Dapatkah engkau menutupi aku dengan sesuatu ?” Asma' menjawab: “Aku melihat orang Habasyah membuat usungan untuk wanita dan mengikatkan keranda pada kaki-kaki usungan.” Maka Fatimah menyuruh membuatkan keranda untuknya sebelum dia wafat. Fatimah melihat keranda itu, maka dia berkata : “Kalian telah menutupi aku, semoga Allah menutupi aurat kalian.” 

Ibnu Abdil Barr berkata : “Fatimah adalah orang pertama yang dimasukkan ke keranda pada masa Islam.” Dia dimandikan oleh Ali dan Asma’, sedang Asma’ tidak mengizinkan seorang pun masuk. Ali r.a. berdiri di kuburnya dan berkata : “Setiap dua teman bertemu tentu akan berpisah dan semua yang di luar kematian adalah sedikit kehilangan satu demi satu adalah bukti bahwa teman itu tidak kekal.”

Tidak lama setelah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam wafat, Fatimah meninggal dunia, dalam tahun itu juga, eman bulan setelah Nabi wafat. Waktu itu Fatimah berumur 28 tahun dan dimakamkan oleh Ali di Jaat ul Baqih (Medinah), diantar dengan dukacita masyarakat luas.

Semoga Allah swt meridhoinya. Dia telah memenuhi pendengaran, mata dan hati. Dia adalah 'ibu dari ayahnya', orang yang paling erat hubungannya dengan Nabi saw dan paling menyayanginya. Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam terluka dalam Perang Uhud, dia keluar bersama wanita-wanita dari Madinah menyambut-nya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fatimah langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, lalu mengambil air dan membasuh mukanya.

Betapa indah situasi di mana hati Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam berdenyut menunjukkan cinta dan sayang kepada puterinya itu. Seakan-akan kulihat Az-Zahra' berlinang air mata dan berdenyut hatinya dengan cinta dan kasih sayang.

Selanjutnya, inilah dia, az-Zahra', puteri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, puteri sang pemimpin. Dia memberi contoh ketika keluar bersama 14 orang wanita, di antara mereka terdapat Ummu Sulaim binti Milhan dan Aisyah Ummul Mu'minin r.a. dan mengangkut air dalam sebuah qirbah dan bekal di atas punggungnya untuk memberi makan kaum Mu'minin yang sedang berperang menegakkan agama Allah swt.


Fatimah telah menjadi simbol segala yang suci dalam diri wanita, dan pada konsepsi manusa yang paling mulia. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sendiri menyatakan bahwa Fatimah akan menjadi “Ratu segenap wanita yang berada di Surga.” 

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter