Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

GANGGUAN MENTAL




Yang dimaksud dengan gangguan adalah hal-hal yang menyebabkan ketidak beresan (ketidakwarasan) atau ketidakwajaran terhadap kesehatan metal atau jiwa.[1]

Dalam terminologi yang lain gangguan mental ialah adanya ketidakseimbangan yang terjadi dalam diri kita, berpusat pada perasaan, emosional dan dorongan (motif/ nafsu), yang mengakibatkan pada ketidak-harmonisan antara fungsi-fungsi jiwa, yang menyebabkan kehilangan daya tahan jiwa, pada akhirnya jiwa menjadi labil dan cenderung mudah terpengaruh pada hal-hal yang negatif, serta dirinya tidak mampu merasakan kebahagiaan serta tidak mampu mengaktualisasikan potensi-potensi (kemampuan) yang ada dalam dirinya secara wajar.[2]
 
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia didefinisikan gangguan mental ialah ketidakseimbangan jiwa yang mengakibatkan terjadinya ketidaknormalan sikap dan tingkah laku yang dapat menghambat dalam proses penyesuaian diri.[3]
 
Dengan demikian gangguan mental ialah kondisi kejiwaan yang lemah (sakit), yang bisa merusak  kepribadian dengan tingkah lakunya yang tidak normal (abnormal), serta mengakibatkan seseorang atau individu mengalami kesulitan bersosialisasi, beraktualisasi, dan beradaptasi, yakni mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 

Orang yang mengalami gangguan mental ialah kebalikan dari orang yang sehat mentalnya, sebagaimana penjelasan Dadang Hawari menurutnya, orang yang sehat mentalnya (jasmani/ jiwa, psikis) ialah orang yang pikiran, perasaan, serta perilakunya itu baik, tidak melanggar hukum, norma, dan etika, serta tidak merugikan orang lain ataupun lingkungannya.[4]

Sementara itu Dr. Kartini Kartono gangguan mental (mental disorder) ialah bentuk penyakit atau gangguan dan kekacauan fungsi mental atau kesehatan mental yang disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/mental terhadap stimuli eksternal dan ketegangan-ketegangan; sehingga muncul gangguan fungsional atau gangguan strukural dari satu bagian atau lebih dari sistem kejiwaan.[5]

Zakiyah Daradjat, mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa; gangguan mental adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak wajar (normal) baik yang berhubungan dengan fisik (tingkah laku), kepribadian, kejiwaan, maupun psikis (psikologis).[6]

Orang yang terganggu mentalnya biasanya, pikirannya pendek, tidak memiliki pandangan hidup yang luas, sikap hidupnya penuh perasaan pesimis, dan biasanya suka menunda-nunda waktu, serta cenderung mengeluh. Apabila telah mengalami kondisi psikologis semacam itu jelas kondisi psikis kita terganggu. 

Ciri yang paling mudah dikenali dari kondisi mental yang tidak sehat yaitu perasaan selalu malas berbuat sesuatu, kondisi tubuh merasa selalu capek, isi pikiran dan hati diliputi perasaan iri, dengki, curiga, dan pikiran-pikiran aneh lain   dan selalu diliputi keinginan-keinginan yang tidak masuk akal (irrasional). 

Gangguan mental sekecil apapun dapat merusak kepribadian atau citra diri. Maka deteksi dini mutlak  perlu dilakukan terhadap diri kita dengan tujuan untuk mengenal kondisi kesehatan mental sedini mungkin, sehingga kita dapat mengarahkan diri agar tidak menderita gangguan mental. Deteksi diri (psycho-diagnostic) terhadap gangguan mental sejak dini perlu dilakukan oleh siapapun, yang menyadari betapa penting dan berharganya kesehatan metal yang melebihi hal apapun. Hal ini bisa dilakukan sendiri maupun dengan bantuan orang lain.


[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua (Jakarta: Balai Pustaka, 1994),, hlm. 202.
[2] Zakiyah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: CV Haji Masagung, 1990), hlm. 13.
[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan¸ op. cit., hlm. 202.
[4] Dadang Hawari, Al-Quran, Ilmu Kedokteran Jiwa Dan kesehatan Jiwa, (Jakarta: Dana Bakti Primayasa, 1999), hlm.
[5] Kartini Kartono dan Jenny Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, (Bandung : Mandar Maju, 1989), hlm.80-81
[6] Zakiyah Daradjat, op. cit., hlm. 33

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter