Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

GEJALA-GEJALA TIMBULNYA GANGGUAN MENTAL




Untuk mengetahui bagaimana kondisi mental atau kondisi jiwa kita. Apakah kondisi mental itu sehat, normal atau terganggu. Ini semua bisa diketahui atau dideteksi lewat apa yang disebut dengan “gejala” atau “tanda”.  
Gejala adalah tanda-tanda yang mendahului suatu problem, atau sesuatu yang dapat diamati sebelum timbulnya suatu problem,[1] atau keadaan yang menjadi yang menjadi tanda-tanda akan timbulnya atau berjangkitnya sesuatu.[2]

Jadi gejala-gejala timbulnya gangguan mental ialah segala bentuk kondisi kejiwaan yang bisa diamati atau bisa dirasakan secara jelas sebagai realisasi aktivitas kejiwaan yang bisa mengakibatkan ketidaknyamanan ataupun ketidaktenangan baik secara psikologis maupun secara jasmaniah (fisik).[3]

Adapun gejala-gejala timbulnya gangguan mental yang dapat dirasakan dan diamati sebagai bentuk upaya deteksi (diagnosis) yang terjadi dalam diri yaitu, dengan menilai dan mau merasakan bagaimana kondisi jasmaniah dan rohani yang ada dalam diri kita. Untuk mengetahuinya bisa diagnosis atau deteksi sendiri melalui beberapa gejala (tanda). 
Adapun gejala-gejalanya tersebut bisa dirasakan atau bisa dideteksi melalui gejala kejiwaan yang ada dalam diri (kejiwaan) yaitu, melalui pikiran, perasaan, emosi, kehendak dan tingkah laku. 
Pikiran  
Pikiran yang dimiliki setiap manusia memiliki fungsi yaitu untuk berfikir. Berfikir ialah sebagai bentuk gejala kognisi atau gejala cipta, dan berfikir juga wujud dari proses kerja pikiran dan merupakan kondisi kejiwaan yang juga bisa ikut membantu mengontrol segala perilaku manusia. Pikiran memiliki fungsi untuk mengetahui, mencipta, dan memecahkan problema. Dalam kerjanya, berfikir itu menggunakan sebuah alat yang disebut dengan akal (inteligensia), yang berada dalam otak sebagai tempat singgah dalam proses berfikir.

Ada beberapa tingkatan dalam berfikir yaitu; berfikir konkrit, berfikir skematis, dan berfikir abstrak. Dengan berfikir seseorang bisa memperoleh pengetahuan, pengertian dan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk memperoleh kebenaran dalam bentuk apapun, seperti kebenaran dalam bertindak dan bertingkah laku.[4]

Berfikir bisa disebut juga, gejala atau kondisi kejiwaan yang dapat menetapkan hubungan-hubungan antara ketahuan-ketahuan kita. Berfikir merupakan proses dialektika, yakni selama individu berfikir, pikiran akan mengadakan tanya jawab ataupun melakukan pertimbangan-pertimbangan, untuk bisa memutuskan suatu persoalan yang akan dilakukan. Dalam proses dialektika itulah yang memberi arah atau pengertian agar pikiran tidak salah dalam memberikan keputusan.[5]

Adams, memberikan definisi bahwa, berfikir ialah suatu proses aktif, yang meliputi penggunaan, pengamatan, tanggapan, simbol-simbol, tanda-tanda atau kata-kata, pembicaraan batin dan pengertian-pengertian. Oleh karena itu berfikir dapat didefinisikan sebagai setiap urutan kesadaran yang diarahkan pada suatu tujuan yang belum ada kepastiannya. Setiap berfikir yaitu diarahkan sebagai bentuk problem solving (pemecahan masalah). Jenis berfikir setiap individu tidaklah sama, yaitu sesuai dengan hakekat persoalan yang dihadapi, tujuan yang diinginkan dan pendekatan terhadap setiap persoalan.[6]

Adapun kondisi pikiran yang sehat diantaranya yaitu, mampu berfikir secara cepat, akurat dan sistematis, realistis, mampu berkonsentrasi, tidak merasa lelah dan tidak merasa gundah dan kacau (distorsi).[7]

Dengan demikian apabila diri seseorang merasakan hal yang sebaliknya dalam pikirannya, ini merupakan suatu gejala timbulnya gangguan mental ataupun gangguan jiwa secara umum. 
Perasaan  
Setiap aktivitas, tingkah laku dan pengalaman kita diliputi oleh perasaan. Disamping pikiran perasaan juga mempunyai peran untuk memberikan pertimbangan bagaimana seseorang atau individu untuk berbuat dan bertingkah laku. Perasaan juga termasuk naluri manusia yang banyak memberi pengaruh serta mempengaruhi perkembangan sikap dan tingkah lakunya.

Ada dua macam perasaan manusia sebagaimana yang dikategorikan oleh Jamaludin Kafie yaitu digolongkan ke dalam dua bentuk, yakni: Pertama, perasaan yang dikategorikan sebagai perasaan kejasmanian (rendah) seperti, perasaan penginderaan, perasaan vital, perasaan psikis dan perasaan pribadi. Kedua perasaan kerohanian (tinggi), seperti perasaan religius (hal yang suci), perasaan etis (hal yang baik), perasaan estetik (hal yang indah), perasaan egoistis (hal diri sendiri), perasaan sosial (hal bersama), perasaan simpati (hal tertarik) dan perasaan intelektual (hal yang benar).[8]
Perasaan disebut juga sebagai gejala rasa atau disebut juga sebagai gejala emosi. Prof. Hukstra mendefinisikan perasaan yang dikutip oleh Agus Sujanto, perasaan ialah suatu fungsi jiwa untuk dapat mempertimbangkan dan mengukur sesuatu menurut rasa senang dan tidak senang.[9]
Perasaan biasanya disifatkan sebagai kondisi kejiwaan yang dialami oleh setiap manusia pada suatu waktu. Seperti orang merasa iba, terharu, gembira, merasa gembira atau sedih, tercengang dan sebagainya. 

Secara sederhana perasaan bisa dimaknai sebagai suatu kondisi kejiwaan sebagai akibat dari adanya peristiwa-peristiwa, pada umumnya datang dari eksternal individu, yang bisa menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada diri individu yang mengalaminya.[10]
Perasaan yang dimiliki oleh setiap orang tidaklah sama, itu semua tergantung pada kondisi atau peristiwa yang mempengaruhinya atau yang dialaminya. 

Disamping pengaruh stimulus dari luar, perasaan juga bergantung pada; Pertama, kondisi jasmani dan rohani.  Kedua sifat pembawaan yang erat hubungannya dengan kepribadian seseorang. Ketiga  kondisi perkembangan seseorang, yakni keadaan yang pernah mempengaruhi, akan dapat memberikan corak dalam perkembangan perasaannya. Disamping itu faktor lain yang dapat mempengaruhi perasaan seseorang, misalnya; keluarga, lingkungan, tempat kerja, sekolah dan sebagainya.[11]
Ekspresi perasaan ini bisa dilihat dari keadaan jasmani, karena banyak perasaan timbul bersamaan dengan peristiwa tubuh, seperti tertawa, marah, membentak, mengepal tangan, menangis, mengerutkan dahi dan sebagainya, ini semua tak lain adalah sebagai perbuatan-perbuatan tubuh (badan) untuk melahirkan perasaan. Tanggapan-tanggapan perasaan dapat diwujudkan dengan gerakan-gerakan seperti, perubahan raut muka (mimik) dan gerakan-gerakan tubuh yang lain baik sebagian (pantomimic) maupun seluruhnya. 
Sebagai bentuk gejala (symptom) terhadap mental, yakni terganggu tidaknya kondisi mental seseorang itu bisa diamati atau bisa dirasakan lewat perasaannya, untuk  mengetahuinya bisa kita rasakan atau kita amati terhadap gejala-gejala baik secara psikis maupun secara fisik seperti, denyut jantung yang sangat cepat tidak seperti biasanya, pernafasan yang tidak teratur atau tidak seperti biasanya, raut muka yang tidak seperti biasanya (seperti tampak pucat, tampak murung, tampak bersedih, dan sebagainya), kehilangan gairah dan sebagainya.[12]

Perasaan sebagai bagian kondisi kejiwaan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi mental, tingkah laku dan kepribadian. Cannon seorang ahli kejiwaan dengan teori  sentralnya, yang dikutip oleh Zuhairini, mengemukakan bahwa gejala jasmani itu merupakan suatu akibat dari perasaan ataupun emosi yang dialami oleh seseorang atau individu. Jadi gejala-gejala jasmani itu merupakan akibat dari kondisi perasaan ataupun emosi yang sedang dialaminya. 
Disamping teori tersebut James dan Lange dengan teori perifernya mengemukakan bahwa gejala-gejala jasmani itu bukan akibat dari kondisi perasaan ataupun emosi yang dialami oleh seseorang, akan tetapi sebaliknya yaitu kondisi perasaan ataupun emosi yang dialami seseorang akibat dari gejala-gejala jasmaniah.[13]
Dari kedua teori ini setelah dilakukan analisa bahwa keduanya tidak bisa dipisah-pisahkan karena keduanya merupakan satu-kesatuan yang utuh yang ada dalam diri manusia yang saling mempengaruhi terhadap kondisi mental seseorang, secara sederhana dapat dikatakan bahwa mental seseorang itu dapat dipengaruhi kondisi internal maupun kondisi eksternal. 
Apabila suatu aktivitas perasaan melebihi batas hingga kemungkinan komunikasi terganggu, maka yang timbul ialah emosi, karena manusia sudah demikian jatuh terperangkap oleh perasaannya dan larut didalamnya hingga tidak mampu lagi menguasai dirinya dan juga tidak mampu mengendalikan perasaannya, maka yang terjadi atau yang timbul adalah bentuk-bentuk sikap dan perilaku emosional yang cenderung negatif.   
Dengan demikian mental yang sehat ataupun tidak itu bisa diukur sendiri, melalui kapasitas perasaan, yakni apakah perasaannya dapat bekerja dalam batas kewajaran atau justru sebaliknya. Apabila kondisi perasaan kita bekerja pada  batas ketidakwajaran dan disertai dengan gejala-gejala jasmaniah yang tidak seperti biasanya (tidak wajar) berarti mental atau jiwa seseorang mulai terganggu. Kondisi perasaan seperti inilah yang bisa  disebut sebagai gejala terjadinya gangguan mental. Maka dari itu perasaan seseorang perlu didik dan dilatih agar menjadi baik, wajar stabil, dan proporsional dan bernilai positif, sehingga dengan sendirinya akan membentuk mental yang sehat.[14]
Emosi 
Kondisi kejiwaan yang dapat mempengaruhi “mental”, disamping pikiran dan perasaan juga dipengaruhi oleh “emosi”. Emosi dengan perasaan hampir tidak ada perbedaannya. Emosi dalam pengertiannya sangat bermacam-macam, seperti “keadaan bergejolak”, “gangguan keseimbangan”, “ respon kuat dan tidak teratur terhadap stimulus”. Dari pengertian-pengertian tersebut memiliki kecenderungan yang sama bahwa, keadaan emosional itu menunjukkan penyimpangan dari keadaannya normal. Keadaan yang normal adalah keadaan yang tenang atau keadaan seimbang fisik dan sosial.[15]
Dalam emosi itu sudah terkandung unsur perasaan yang mendalam (intense). Secara definitif kata emosi berasal dari kata  emotust  atau  emovere, artinya; mencerca, menggerakkan  (to stir up) yakni, sesuatu yang mendorong sesuatu di dalam diri manusia. Emosi merupakan penyesuaian organis yang timbul secara otomatis dalam diri seseorang setiap menghadapi peristiwa-peristiwa tertentu, jadi emosi digerakkan oleh kondisi gejolak psikis. Gejalanya bisa diperoleh dari faktor dasar yakni, watak, karakter, hereditas, dan atau dipengaruhi oleh lingkungan.[16]
Disamping pengertian diatas yang dimaksud dengan emosi ialah suatu kondisi perasaan yang melebihi batas, terkadang tidak mampu menguasai diri dan menjadikan hubungan pribadi dengan dunia luar menjadi terputus. Ketidak-mampuan untuk mengendalikan perasaan tersebut terhadap setiap problem akan melahirkan sikap yang emosional yang cenderung negatif.  
Emosi bisa muncul apabila kurang adanya penyaluran motoris (gerak dari dalam) yang cepat dari situasi yang dihadapinya. Misalnya tiba-tiba ada orang yang cinta atau membenci yang sangat berlebih-lebihan terhadap suatu hal, ini terjadi akibat dari refleksi motoris kurang bisa tersalurkan dalam situasi gejala itu timbul. Akan tetapi apabila sudah mampu memberikan reaksi kepada suatu yang dipikirkan atau dirasakan secara tepat maka sedikit-demi sedikit emosinya akan mereda.[17]
Emosi yang tampak dalam diri individu ataupun orang lain itu bisa diukur melalui atau dengan melihat perubahan-perubahan kondisi jasmani yang ada pada diri individu tersebut.  
Pada dasarnya (secara fitrah) setiap manusia memiliki sifat emosional, jadi emosi tidak bisa dibunuh, akan tetapi emosi harus disalurkan dengan cara yang baik. Emosi timbul tidak datang secara otonom, melainkan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang ada dalam diri individu, ketika menyikapi suatu hal (problem). Faktor-faktor yang mempengaruhi emosi diantaranya, kondisi pikiran, kondisi perasaan, motivasi, kehendak dan kondisi jasmani. 
Kondisi jasmani juga bisa menentukan kadar volume kondisi emosi seseorang, misal seseorang atau individu ketika kondisi jasmaninya, lemah, capek, lesu dan sebagainya biasanya kalau sedang dihadapkan suatu persoalan, dalam penyikapannya lebih cenderung pada sikap yang emosional, pada kondisi semacam ini tindakan atau perilaku yang ditampakkan cenderung tidak sehat (tidak normal).  
Perasaan-perasaan emosional kapan saja kita bisa mengalami suatu emosi, aspek yang paling kongkrit yaitu perasaan yang ditimbulkan, seperti pengalaman takut, marah, sedih atau gembira, itu akan melahirkan sensasi yang kuat dan hebat dalam diri seseorang. 
Disamping perasaan-perasaan yang bersifat subyektif tersebut, ada aspek-aspek emosi lain yang paling kongkrit, secara fenomena logis perasaan-perasaan emosional itu bisa diamati atau dirasakan pada perubahan-perubahan dalam tingkah laku, seperti berkelahi, marah-marah, mengamuk, berkelahi, melarikan diri, diam membeku, tertawa, menangis serta ucapan-ucapan tertentu dan sebagainya, disamping itu ekspresi emosional bisa diamati lewat ekspresi raut wajahnya, seperti tampak tegas, tampak memerah, tampak cemberut, mata melotot dan sebagainya, dan juga bisa dirasakan atau diamati lewat kondisi jasmani yang lain seperti mulut kering, keringat dingin, sakit perut dan sebagainya.[18]
Dengan demikian ekspresi wajah, dan kondisi jasmani serta tingkah laku yang tidak seperti biasanya merupakan pantulan dari sikap emosi. Faktor yang mempengaruhi emosi ialah sangat beraneka ragam, yakni tergantung pada stimulus yang mempengaruhinya.  
William James seorang ahli psikologi yang dikutip oleh Dimyati Mahmud dalam bukunya Psikologi suatu Pengantar (1990) mengemukakan bahwa “perasaan dan sensasi emosional itu merupakan reaksi bawaan terhadap stimulus tertentu”. Melalui proses conditioning hampir setiap stimulus dapat dibuat untuk membangkitkan respon emosional, misalnya kita tiap hari dihadapkan terus menerus pada persoalan yang sama apa bila emosi kita tidak kuat maka akan timbul sikap emosional yang cenderung negatif, seperti menendang, menjerit, marah, mengamuk dan sebagainya.[19]
Sikap emosional yang ada dalam diri manusia yang didasarkan pada arah aktivitas tingkah laku emosionalnya itu ada empat bentuk yaitu: 
1. Marah: yakni orang bergerak menentang sumber frustasi 
2. Takut: yakni orang bergerak meninggalkan sumber frustasi 
3. Cinta: yakni orang bergerak menuju sumber kesenangan 
4. Depresi: yakni orang menghentikan respon-respon terbukanya dan mengalihkan emosi ke dalam dirinya sendiri.[20]
 
Selama emosi berlangsung banyak terjadi perubahan-perubahan pada alat tubuh, perubahan-perubahan ini bisa membantu untuk mendeteksi berbagai reaksi pada orang-orang atau individu yang sedang mengalami emosi. Perubahan-perubahan itu adalah: 
a) Pupil mata membesar, alis melebar, dan bola mata melotot 
b) Kecepatan dan denyut jantung bertambah 
c) Tekanan darah meningkat; volume darah pada anggota badan terutama lengan, kaki, dan muka bertambah, akibatnya kulit menjadi merah 
d) Ujung rambut berdiri 
e) Pernafasan menjadi tak teratur, kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat
f) Saluran paru-paru melebar sehingga orang dapat menghirup lebih banyak oxygen 
g) Liver lebih banyak mengeluarkan gula ke otot-otot 
h) Kelenjar keringat pada kulit mengeluarkan banyak sekali keringat (dikenal dengan keringat dingin)  
i) Kelenjar ludah terhambat dengan tanda mulut menjadi kering 
j)  Pencernaan berhenti 
k) Kelenjar adrenal mengalirkan hormone adrenalin ke dalam darah dengan akibat jantung berdebar lebih cepat, liver mengalirkan gula ke dalam darah untuk tenaga otot, dan meningkatkan kemampuan darah untuk mengental dengan cepat.[21]

Dari sekian gejala-gejala tersebut diatas dapat diketahui bahwa emosi yang ada dalam diri individu atau seseorang bisa mempengaruhi kondisi mental ataupun jiwa seseorang tergantung bagaimana seseorang itu mampu mengatur emosinya. 
Dalam penelitian anatomis memperkuat gagasan bahwa pada dasarnya emosi dasar itu satu yaitu excitement (keadaan bergejolak) sebagai lawan keadaan calm (tenanga), telah diketahui bahwa otak lah yang mengendalikan dan mengatur alat-alat tubuh bagian dalam melalui salah satu dari dua saraf yang saling bertentangan, yaitu: 
1. Syaraf simpatik yaitu syaraf yang mengatur tubuh pada saat dalam keadaan genting. Syaraf ini berfungsi pada empat macam kondisi yaitu, apabila hidup terancam, selama sakit yang terus menerus, selama usaha yang keras dan selama takut dan marah.  
2. Syaraf parasimpatik yaitu syaraf yang memiliki peran untuk mempertahankan atau mengatur tubuh agar selalu tetap dalam keadaan normal. Misalnya; menciutkan mata pada saat terkena cahaya yang sangat terang, mengontrol pencernaan makanan, buang air, dan sebagainya.[22]

Di antara kedua fungsi saraf tersebut (saraf simpatik dan parasimpatik), keduanya saling mempengaruhi kondisi mental seseorang, karena keduanya memiliki peran yang berbeda sehingga kadar emosional seseorang juga dipengaruhi oleh kedua saraf tersebut.[23]
Perlu dimengerti dan juga diantisipasi bahwa emosi yang tidak stabil dapat mengganggu pikiran (berfikir), sedangkan berfikir adalah alat terbaik untuk memecahkan persoalan, dan juga bisa mengganggu perasaan. Apabila pikiran dan perasaan terganggu oleh emosi yang tidak stabil tersebut, yang terjadi adalah pikiran dan perasaan menjadi bingung sehingga tidak bisa berfikir secara obyektif.  Dan lebih parah lagi kondisi mental kita sampai pada taraf diffusi yakni dalam kondisi ini orang melakukan banyak gerakan yang tidak ada gunanya, seperti; berjalan mondar-mandir, menarik-narik rambut, menghempaskan apa saja yang ada di depannya, berteriak dan sebagainya.[24]
Disamping dapat mengganggu kesehatan mental emosi yang tidak normal juga dapat mengganggu kondisi fisik (fisiologis). Dalam kedokteran jiwa dan psikologi dikenal dengan istilah psychosomatic atau psychosomatic medicine.  Ide dasar psychosomatic medicine itu adalah banyak keluhan jasmaniah yang berakar pada reaksi psikologis seseorang terhadap kehidupan. Seperti penyakit radang usus bisa disebabkan tekanan-tekanan emosi yang dibarengi oleh telalu banyaknya sekresi hydrochloric acid. 
Di dalam perut, yang menyebabkan terjadinya radang dan pendarahan. Penyakit-penyakit lain yang berakar pada emosi yang kuat berupa penyakit kulit, tekanan darah tinggi, asthma dan sakit kepala. Kalau tidak menyebabkan timbulnya penyakit, emosi sebagai bentuk proses terjadinya suatu penyakit.[25] Emosi yang tidak stabil dan terlalu berlebihan yaitu sebagai bentuk gejala terjadinya gangguan mental. 
Kehendak  
 Kehendak atau kemauan disebut juga gejala konasi atau gejala karsa yang ada dalam diri (jiwa) seseorang, juga termasuk fungsi jiwa yang memberi dorongan untuk menuju atau menghindari sesuatu. Kalau pikiran memiliki fungsi untuk mengatur dan mengontrol dan perasaan berfungsi untuk merasakan (menilai) dan memberikan pertimbangan, maka kehendak merupakan fungsi jiwa yang memiliki fungsi untuk menentukan berhasil atau tidaknya suatu keinginan, karena kehendak atau kemauan merupakan tujuan aktif untuk menuju pelaksanaan suatu tujuan. 
Kehendak atau kemauan yang ada dalam diri manusia, menurut Sigmund Freud, dorongan tersebut dibentuk atas tiga dimensi sifat dasar kejiwaan yang saling mempengaruhi yang ada dalam jiwa manusia yaitu Das Es, Das Ich dan Das Uber Ich atau yang kita kenal dengan istilah “Id”, “Ego”, dan “Super Ego”. Id yaitu sebagai bentuk fitrah manusia yang cenderung mengejar kesenangan yang harus selalu terpenuhi atau sebagai bentuk kehendak atau kemauan dasar manusia yang harus dipenuhi. 
Sedangkan Ego ialah berfungsi sebagai pengatur atau yang memberikan pertimbangan dari setiap kemauan atau kehendak yang ditimbulkan oleh Id, bisa dikatakan Ego adalah sebagai alat rem terhadap Id, dan Super Ego yaitu hampir sama dengan Id akan tetapi kualitasnya lebih tinggi dan lebih selektif dalam memberikan pertimbangan terhadap Id, karena dalam diri (batin) kita terjadi pertentangan antara Id dan Ego, disinilah peran Super Ego untuk memberikan pertimbangan terhadapa tindakan seseorang yang harus dilakukan. Super Ego lebih condong pada pertimbangan yang sifatnya terkait dengan etika, moral, norma atau dapat disamakan dengan iman, jadi Super Ego merupakan kontrol atas semua kemauan seseorang yang lebih sempurna.[26]
Kehendak atau kemauan terhadap sesuatu itu muncul karena adanya dorongan –dorongan naluriah terhadap dunia luar dan relasi-relasi terhadap manusia dan benda yang berbentuk kebutuhan, hasrat, cita-cita, keinginan dan nafsu. Jadi kehendak manusia pada dasarnya ingin memiliki, akan tetapi keinginan memiliki tersebut lah yang akan mendorong seseorang mempunyai dorongan yang disebut dengan “kehendak” atau “kemauan”. Apabila keinginan untuk memiliki tidak terealisasi maka yang terjadi adalah kekosongan inilah yang mendorong timbulnya suatu kehendak atau kemauan. 
Kemauan atau kehendak itu dapat diamati atau dianalisis dalam empat momen. Pertama, saat objektif, yakni, saat timbulnya idea dan relasi dengan obyek. Kedua, saat dinamis (saat usaha), yakni kemauan merupakan pendorong perbuatan seluas mungkin. Perbuatan adalah pendorong mengisi kekosongan dan kekosongan adalah kebutuhan serta kebutuhan merupakan dasar suatu usaha. Kebutuhan yaitu bersifat statis dari pada suatu yang belum dikerjakan. Sedangkan usaha adalah merupakan suatu kehendak yang bersifat dinamis. Ketiga, saat subyektif, yaitu saat memilih dan mempertimbangkan atas segala yang dikehendaki sebelum diwujudkan dalam sebuah tindakan. 
Pada saat menentukan atau pada saat proses memutuskan mengambil suatu pilihan yang tepat yang akan dilakukan atau dikerjakan, dalam hal ini faktor motif sangat membantu mempercepat proses mengambil suatu keputusan tersebut. Setelah melalui proses tersebut maka yang akan muncul dalam diri kita atau dalam kehendak kita akan muncul berbagai kemungkinan, diantaranya, menerima atau menolak, dikerjakan atau menghindar, maju atau mundur dan sebagainya, yakni dalam kondisi semacam ini disebut dengan masa kebimbangan. Jadi tindakan kemauan yang final sangat ditentukan atau terletak pada keputusan ini. Keempat, saat aktual, yaitu berbentuk tindakan, aktivitas atau gerakan, sikap, tingkah laku dan sifat-sifat tertentu yang lain.[27]
Antara saat objektif, saat dinamis dan saat subjektif ialah masih pada tahap kemauan dalam pikiran (ide atau konsep).[28] Pada tahap aktual inilah keputusan telah ditentukan, sehingga bentuk perilaku yang ditampakkan oleh seseorang merupakan keputusan final dan cerminan dari dalam dirinya. Kehendak merupakan kesanggupan pribadi manusia yang memiliki corak yang sangat menentukan tingkah lakunya. 
Akan tetapi yang perlu diwaspadai dan disadari disini yaitu, bahwa kehendak atau kemauan juga tidak bisa terlepas dari apa yang disebut dengan “hasrat” ataupun “nafsu” yang bergejolak, yakni suatu keinginan yang kuat atau meluap-luap, yang cenderung menggebu-gebu yang terkadang bisa mengganggu atau pikiran, perasaan, emosi bahkan hasrat tersebut sampai menguasainya, kalau pikiran, perasaan dan emosinya telah tertutup maka yang muncul adalah sifat emosionalnya atau nafsunya yang begitu berkobar-berkobar, maka tidak menutup kemungkinan perilaku atau sikap dan tindakan yang dilakukan pasti tindakan berada diluar kontrol yang ada dalam dirinya. 
Dengan demikian secara lahiriah orang tersebut mengalami gangguan mental. Maka dari itu kita harus mampu mengatur dan mengendalikan kehendak atau kemauan kita, jangan sampai terjebak pada hasrat dan nafsu yang cenderung mengarahkan sikap dan tingkah laku kita pada tindakan yang negatif. Gejala gangguan mental disini juga bisa kita kenali atau kita deteksi sendiri lewat kehendak atau kemauan kita. 
Sikap dan Tingkah Laku  
Tingkah laku adalah gerak gerik, aktivitas, tindakan, sikap dan perbuatan atau gerakan yang nampak pada individu, yang merupakan manifestasi dari gejala-gejala kejiwaan yang ada dalam diri manusia. Secara sederhana tingkah laku bisa dikatakan sebagai bentuk yang kongkrit dari jiwa itu sendiri, maka dari itu tingkah laku sifatnya mudah diamati, dikenali, ditafsirkan, diramalkan, dan mudah dimengerti atau mudah difahaminya. Dengan demikian tingkah laku bisa disebut sebagai bentuk ungkapan jiwa yang tidak bohong, karena tingkah laku yaitu sebagai manifestasi atau ekspresi dari jiwa baik yang disadari maupun yang tidak disadari.[29]
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Freud dengan teori analisisnya yang mengatakan bahwa perilaku menyimpang ataupun bentuk gangguan mental yang lain yaitu, bahwa sumber utama konflik dan gangguan mental itu merupakan manifestasi dari dimensi kejiwaan yang berada pada dimensi alam bawah sadar.[30]
Begitu juga J.B. Watson penganut faham psikologi behaviorisme, yang dikutip oleh Drs. M. Dimyati Mahmud, mengatakan bahwa sumber utama konflik atau gangguan-gangguan mental lain itu ialah akibat dari sesuatu yang disadari atau juga kondisi lingkunganlah yang mempengaruhinya tingkah laku seseorang.[31]
Jadi tingkah laku ialah manifestasi dari kondisi kejiwaan yang tidak bisa ditipu dan segala bentuk konflik ataupun problem yang terjadi pada diri kita atau seseorang itu bisa kita amati lewat sikap dan tingkah laku yang diwujudkannya. 

Sebagaimana penjelasan tersebut di atas, bahwa tingkah laku ialah merupakan ekspresi dan manifestasi dari gejala-gejala hidup kejiwaan yang ada dalam diri manusia tersebut. Maka segala sikap tindakan yang dilakukan tidak bisa lepas dari kondisi kejiwaannya karena, manusia itu terbentuk atas dua dimensi yakni dimensi jasmani dan dimensi rohani, yang mana keduanya saling mempengaruhi. 
Tingkah laku manusia mempunyai arah dan tujuan yaitu untuk memenuhi suatu kebutuhan hidupnya baik sebagai mahluk individual, sosial, dan mahluk berketuhanan. Kebutuhan manusia merupakan dorongan dari kehendak, atau kemauan, pikiran, emosi dan perasaan, dimana semuanya secara totalitas bekerjasama untuk menentukan tingkah laku yang tepat (positif) yang harus dilakukan oleh manusia untuk memenuhi semua kebutuhan.[32]
Dengan demikian dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tingkah laku manusia menurut tinjauan psikologis ialah beberapa macam aktivitas, kegiatan dan tindakan manusia yang tampak secara riil (obyektif dan terbuka) sebagai bentuk penampakan (ekspresi/manifestasi) dari adanya dorongan-dorongan psikis untuk memenuhi atau mencapai suatu kehendak atau kemauan dan tujuan hidupnya.[33]
Menurut Dr. Kartini Kartono ada sepuluh symptom (gejala) atau faktor yang dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang. Yaitu: 
1.  Tropisme, ialah gejala desakan yang menyebabkan timbulnya gerakan-gerakan atau tujuan ke satu arah tertentu. Seperti kita ingin mencintai seseorang. 
2.  Refleks, ialah reaksi yang tidak disadari terhadap stimulus-stimulus, dan  berlangsung diluar kemauan kita.  
Refleks  itu ada dua bentuk yaitu, refleks bersarat dan tidak bersarat.  Refleks  bersyarat yakni sikap atau tingkah laku yang dipengaruhi atau dididik, sebagaimana dalam teori  operan conditioning, yang dipelopori oleh Pavlov dan kawan-kawan. Sedangkan refleks tidak bersyarat ialah tindakan, sikap atau tingkah laku yang timbul secara otomatis, seperti melarikan diri saat ketakutan, mengedipkan mata saat kemasukan debu dan sebagainya. 
3. Instinct (naluri), ialah kesanggupan melakukan hal-hal yang kompleks tanpa melakukan latihan sebelumnya, terarah pada tujuan berarti bagi si subyek tidak disadari dan berlangsung secara mekanis. 
Tingkah laku semacam ini, misalnya tiba-tiba kita ingin berbuat sesuatu penuh dengan keyakinan dimana perbuatan itu tidak kita sadari sebelumnya, berarti tingkah laku kita dituntun oleh naluri atau insting yang ada dalam diri kita. Bersamaan dengan dorongan-dorongan, naluri menjadi faktor penggerak bagi segala tingkah laku dan aktivitas manusia, dan menjadi tenaga dinamis yang tertanam sangat mendalam yang ada dalam pribadi manusia. 
4. Otomatisme, ialah gejala gerak-gerak yang berlangsung dengan sendirinya, tidak disadari dan ada diluar kehendak kita. Misalnya, berbicara, mengendarai sepeda, berjalan, menulis dan sebagainya. 
5. Kebiasaan, ialah bentuk tingkah laku yang tetap dari usaha penyesuaian diri terhadap lingkungan yang mengandung unsur afektif perasaan. 

Tingkah laku atau kepribadian seseorang bisa kita ketahui atau kita amati lewat kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya. Kondisi mental yang tidak sehat ataupun kepribadian yang buruk itu bisa kita rasakan atau kita amati lewat kebiasaan-kebiasaan tindakan yang kita lakukan. Kebiasaan ini biasanya dipengaruhi oleh kondisi dari dalam diri kita sendiri dan lingkungan (bisa berupa: keluarga, masyarakat, pendidikan/ sekolah). Jadi kebiasaan juga bisa sebagai penentu atau cerminan bagian terbesar dari kepribadian kita. 
6. Dorongan-dorongan  (drives), ialah suatu desakan yang sifatnya alami yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup, dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup. 

Dorongan-dorongan semacam inilah yang dapat menuntun sikap dan tingkah laku manusia untuk berbuat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Terkadang pemenuhan kebutuhan itu dilakukan dengan berbagi cara. Pendidikan an kebiasaan-kebiasaan yang baiklah yang dapat mempengaruhi dorongan-dorongan tersebut, bahkan dapat memperkuatnya, sehingga dalam pemenuhannya dapat dilakukan dengan sikap dan tingkah laku yang baik (positif) pula. Seperti dorongan ingin kaya, seks, ingin bersosialisasi, berkawan dan lain sebagainya. 
7.  Hasrat dan kecenderungan, ialah kebutuhan yang menimbulkan hasrat, atau suatu dorongan kuat yang ditunjukkan kepada objek tertentu yang dapat dilakukan berulang-ulang. 
Hasrat timbul dari dorongan dan terarah pada satu tujuan atau pada satu objek yang jelas (kongkrit) yang sangat diinginkan. Lawan dari hasrat ialah keengganan atau keseganan. Sedangkan hasrat yang selalu ingin diulang-ulang atau muncul kembali yaitu disebut kecenderungan. Kecenderungan adalah hasrat atau kesiapan reaktif yang hanya tertuju pada obyek yang jelas dan selalu muncul berulang-ulang kali. 
Kecenderungan merupakan sifat watak kita yang disposisional (bakat/ketetapan) yakni bukan merupakan tingkah laku itu sendiri, akan tetapi merupakan sesuatu yang memungkinkan akan menimbulkan suatu bentuk tingkah laku dan mengarah pada obyek tertentu. Dari kecenderungan inilah yang akan membentuk suatu sikap atau tingkah laku yang mengarah pada satu kebiasaan, bahkan bisa disebut sebagai bentuk watak  yang ada dalam diri seseorang. Dari kecenderungan-kecenderungan yang ada dalam diri seseorang, bisa kita lihat sementara karakter yang ada dalam diri individu atau seseorang tersebut. 
8. Nafsu: adalah kecenderungan yang kuat, hasrat yang bergolak, keinginan yang meluap-luap yang sangat hebat sekali, sehingga bisa mengganggu keseimbangan mental dan fisik. 
Nafsu inilah yang terkadang menghilangkan pertimbangan akal sehat dan menyingkirkan semua hasrat yang lain. Tingkah laku yang negatif biasanya lebih condong dikuasai oleh dorongan-dorongan nafsu negatif. Dan nafsu negatif biasanya lebih mendominasi sikap maupun tingkah dari pada nafsu positif. Nafsu inilah yang terkadang bisa menjerumuskan tingkah laku pada hal- hal yang negatif kalau tidak mampu mengendalikan atau mengatur nafsunya, sehingga nafsu juga bisa mendorong atau membentuk pada suatu bentuk tingkah laku atau karakter pada diri seseorang. 
9. Kemauan, adalah dorongan kehendak yang terarah pada tujuan-tujuan hidup tertentu, dan dikendalikan oleh pertimbangan akal budi.

Jadi dalam kemauan itu ada kebijaksanaan akal dan wawasan dan wawasan serta ada kontrol dan persetujuan dari pusat kepribadian. Dari sini akan timbul dinamika dan aktivitas manusia yang diarahkan pada tujuan akhir. Kemauan merupakan sifat dasar manusia yang bertujuan untuk mengaktualisasikan bakat atau seluruh potensi yang ada dalam dirinya. Dengan adanya kemauan ini sehingga suatu sikap dan tingkah laku dengan sendirinya akan terbentuk. Kemauan merupakan pemersatu (unifikator) dari semua tingkah laku, dan mengkoordinasikan segenap fungsi kejiwaan menjadi bentuk kerjasama yang supel dan harmonis. Maka kemauan yang sehat akan menjadikan seseorang satu kesatuan yang betul-betul menyadari tujuan hidupnya dalam setiap langkah dan tingkah lakunya. Dengan demikian kemauan juga merupakan suatu ukuran dari setiap gerak dan tingkah laku yang ditampilkan manusia. 
10. Perbuatan Kortsluiting dan Perbuatan Hati Nurani. 
Ialah suatu bentuk tingkah laku yang ditampilkan oleh satu dorongan yang kusut dan impuls (rangsangan pendorong dari dalam diri) yang tidak terkendali. Perbuatan  kortsluiting yaitu didorong oleh impuls yang luar biasa, timbul tidak melalui saringan kepribadian, tanpa pertimbangan akal, mengabaikan suara batin (hati nurani) dan ini muncul sebagai bentuk perbuatan nafsu yang sangat tidak terkendali, dan hampir tidak disadarinya. 
Perbuatan kortsluiting muncul dan dilakukan tanpa pertimbangan akal sehat, akibat dari dorongan nafsu, kehendak, keinginan yang sangat bergejolak atau keinginan yang sangat kuat dan keinginan tersebut terkadang banyak hambatan untuk memenuhi atau mencapainya. Perbuatan ini bisa disebut dengan perbuatan “nekat” yang diakibatkan oleh kondisi lingkungan yang tidak berpihak. Banyak perbuatan kriminal dan perbuatan-perbuatan yang menyimpang juga ditentukan oleh perbuatan kortsluiting tersebut dan perbuatan ini berlangsung pada tingkat animal.  Lawan dari perbuatan  kortsluiting yaitu perbuatan hati nurani, yaitu setiap tindakan yang disertai dengan pertimbangan dan suasana pikiran yang tenang, serta melalui tapisan kepribadiannya. Perbuatan hati nurani ini berlangsung pada tingkat human dan religius, yakni perbuatannya selalu didasari dengan perbuatan yang baik dan terarah.  
Hati nurani itu berfungsi sebagai pengemudi dan hakim terhadap segenap tingkah laku, dan pikiran manusia, sebagai pengontrol yang kritis, sehingga sikap dan tingkah laku manusia dituntun pada jalan yang benar. Hati nurani juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap semua tingkah laku dan berani menanggung semua resiko yang diperbuatnya. 
Dengan demikian dengan hati nurani yang hidup seseorang bisa menilai sendiri tingkah lakunya dengan bantuan norma-norma, sehingga dengan bebas dan tidak khawatir lagi seseorang bisa bertingkah laku, karena hati nurani secara pasti akan menuntun sikap dan tingkah laku seseorang pada tingkah laku yang positif. 

Sementara itu perbuatan kortsluiting akan menjerumuskan perbuatan seseorang pada tingkah laku yang negatif, karena perbuatan ini didorong atas nafsu and motif-motif yang ada dalam diri yang cenderung pada hal-hal yang negatif, perbuatan ini biasanya lebih condong pada perbuatan nekat yang cenderung pada perbuatan negatif, sehingga sikap dan perilaku yang tampak ialah tingkah laku yang menyimpang.[34]
Dari sepuluh gejala kejiwaan tersebut di atas itulah yang dapat mempengaruhi setiap tingkah laku yang ditampikan oleh seseorang. Karena tingkah laku merupakan kepanjangan dari kondisi kejiwaan yang tidak bisa ditipu, karena tingkah laku ini suatu gejala kejiwaan yang nampak dan kongkrit. Dan kepribadian seseorang itu bisa dilihat dan diukur melalui tingkah laku yang ditampilkannya. Begitu juga kondisi mental kita bisa dilihat atau di ukur sendiri melalui sikap dan tingkah laku kita. 
Dari kelima gejala kejiwaan itulah (pikiran, perasaan, emosi, kehendak dan tingkah laku) perlu senantiasa kita perhatikan dan kita jaga agar selalu dalam kondisi seimbang. Sehingga kondisi diri kita atau mental kita selalu dalam kondisi yang sehat (tidak terganggu). 
Secara umum, biasanya gejala-gejala gangguan mental bisa dirasakan melalui perasaan-perasaan yang tidak wajar atau kelainan-kelainan yang ada dalam diri kita, baik secara fisik maupun secara psikis. Secara psikis ada semacam ketidakwajaran pada fungsi intelek yang semakin tidak efisien, terkadang ada semacam masalah dalam fisik yang tidak kita ketahui asal penyebabnya, tiba-tiba kita merasa sakit. 
Gejala psikis, yang merupakan indikasi dari kondisi mental yang tidak sehat yang bisa menimbulkan terjadinya gangguan mental, dengan ciri-ciri diantaranya yaitu: 
1)  Perasaan sering gelisah, menderita insomnia (kesulitan akan tidur), mudah tersinggung, sering mimpi buruk, mudah marah, cenderung bersikap agresif, dan mudah garang (kurang perhatian pada daerah sekitarnya). 
2) Lekas jadi cemas, sering bingung,  sering lupa, suka menyendiri, benci terhadap keramaian, kehilangan nafsu makan dan seksual, dan cenderung kehilangan kontrol diri, seperti suka ceroboh, sering berbuat dengan tergesa-gesa dan lain-lain. 
3) Sering terjadi disorientasi waktu, kadang-kadang berperilaku immoral, terkadang lupa terhadap diri sendiri, terkadang berbicara ngelantur dan tidak jelas. 
4)  Sering berbuat apatis, beku emosional, perasaan sering berganti-ganti, tidak mampu melakukan konsentrasi, ada kelesuan pada bagian interesnya,  
5) Aktivitas intelektualnya mundur dan juga kemampuan-kemampuan lain menjadi lemah seperti tidak bisa berfikir secara cermat. 
6)  Merasa kesulitan dalam melakukan adaptasi atau adjustment dan sering datang perasaan-perasaan putus asa. 
7)  Prestasi menurun, merasa kesulitan dalam beraktualisasi, sosialisasi, dan komunikasi serta timbul perasaan-perasaan cepat bosan dan suka mengumpat. 
8)  Tanpa disadari tiba-tiba bicara sendiri tanpa dengan obyek yang jelas 
9)  Sering kehilangan kesabaran, dan perasaan ingin menjerit.[35]

Sementara itu gejala pada fisik, tanda-tanda kondisi mental yang terganggu, diantaranya yaitu: 
1) Terjadi gangguan pada fungsi pencernaan makan. 
2) Kondisi stamina tubuh menurun dan otak ada semacam kelesuan, sehingga timbul rasa malas dan malas berfikir. 
3) Ada semacam gangguan pada alat pernafasan 
4) Tanpa disadari sering melakukan tics (gerak-gerak facial pada wajah, seperti; mengedip-ngedipkan mata terus menerus, mengerenyit-kerenyitkan cuping hidung dan bibir, dan lain) 
5) Tanpa disadari sering menendang-menendang, tiba-tiba menjerit (histeris) dan bersikap agresif 
6) Sering mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas, berdiam diri dan tampak stupor. 
7) Kondisi tubuh terasa capek yang luar biasa, dan suka menggerak-gerakkan anggota tubuh yang tidak biasa dilakukan dan otot leher semakin terasa kaku.  
8) Muka tampak memerah, pucat dan lemas 
9) Suka marah dan disertai dengan tindakan agresif 
10) Dan lain-lain.[36]

Dari sekian gejala yang tampak dalam diri kita sebagaimana tersebut di atas, semua itu merupakan cerminan dari kondisi mental yang tidak sehat (terganggu) yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa, sehingga pada ujungnya dapat membentuk suatu kepribadian yang tidak sehat pula.




[1] Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah, (Surabaya: Indah Surabaya, 1993), hlm. 50
[2] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan¸ op. cit., hlm. 260.
[3] Jamaluddin Kafie, op. cit., hlm. 50-51.
[4] Ibid., hlm. 51.
[5] Agus Sujanto, Psikologi Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 58.
[6] Adams, Pokok-Pokok Ilmu Jiwa Umum, Tej, Wayan Ardhana dan Sudarsono,  (Surabaya: Usaha Nasional, 1985), hlm. 117-118.
[7] William Gladstone, Apakah Mental Anda Sehat, terj, Jeanette M, Lesmana, dkk, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994), hlm. 20-21.
[8] Jamaluddin Kafie, op. cit., hlm. 51-52.
[9] Agus Sujanto, op. cit., hlm. 75.
[10] H. Zuhairi dan Sardjoe, Ilmu Jiwa Umum, (Surabaya: Usaha Nasional, 1984), hlm. 9
[11] Ibid., 10-11.
[12] Ibid., 12.
[13] Ibid., 13.
[14] Jamaluddin Kafie, op. cit., hlm. 52
[15] M. Dimyati Mahmud, Psikologi; Suatu Pengantar, (Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA, 1990), hlm. 163.
[16] Jamaluddin Kafie, op. cit., hlm.  53.
[17] Ibid.
[18] M. Dimyati Mahmud, op. cit., hlm. 163.
[19] Ibid., hlm. 176.
[20] Ibid., hlm. 166.
[21] Ibid., hlm. 168.
[22] Ibid., 170
[23] Ibid.
[24] Ibid., hlm. 178
[25] Ibid., 179.
[26] Agus Sujanto, op. cit., hlm. 132-133.
[27] Jamaluddin Kafie, op. cit., hlm. 54-55
[28] Ibid.
[29] Ibid., hlm. 48.
[30] Segimund Freud, Psikoanalisis Sigmund Freud, terj, Ira Puspitorini, Ikon (Yogyakarta: Teralitera, , 2002), hlm. 324.
[31] M. Dimyati Mahmud, Psikologi; Suatu Pengantar, op. cit., hlm. 15-16.
[32] Jamaluddin Kafie, op. cit., hlm. 48-50.
[33] Ibid.
[34] Kartini Kartono, Psikologi Umum, (Bandung: Mandar Maju, 1990), hlm. 99-110.
[35] Kartini Kartono, Psikologi Abnormal dan Pathologi Seks, (Bandung: Penerbit Alumni, 1985), hlm. 124-140.
[36] Ibid.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter