Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

PANDANGAN ULAMA TENTANG HUKUM TRANPLANTASI EMBRIO DARI SPERMA DONOR DAN OVUM ISTERI KE DALAM RAHIM WANITA LAIN


1. Yusuf Qaradhawi mengatakan jika sperma barasal dari laki-laki lain baik diketahui maupun  tidak,  maka  ini  diharamkan. Begitu juga jika sel telur berasal dari wanita lain, atau sel telur milik sang isteri, tapi rahimnya milik wanita lain, inipun tidak diperbolehkan. Ketidak-bolehan ini dikarenakan cara ini akan menimbulkan sebuah pertanyaan yang membingungkan, siapakah sang ibu dari bayi tersebut, apakah si pemilik sel telur yang membawa karakteristik keturunan, ataukah yang menderita dan menaggung rasa sakit karena hamil dan melahirkan? Padahal ia hamil dan melahirkan bukan atas kemauannya sendiri.[1]

2. Syeikh Mamud Syaltut tidak menggambarkan secara rinci kasus semacam ini. Akan tetapi secara jelas beliau mengatakan jika inseminasi buatan ini menggunakan sperma laki-laki lain (bukan  suaminya), dan cara inilah yang banyak dilakukan pada inseminasi buatan, maka sudah tentu tindakan demikian berarti menyamakan kedudukan manusia yang sangat mulia dengan binatang atau hewan dan mengeluarkan manusia dari tingkat kemanusiaannya, tingkat masyarakat yang beradab yang kehidupannya diikat oleh ikatan perkawinan yang suci.[2]

Selain itu, beliau juga mengatakan inseminasi buatan yang dilakukan dengan menggunakan air mani laki-laki lain, maka dosa dan kemungkaran yang ditimbulkan olehnya akan lebih besar daripada pengangkatan anak. Bahkan beliau menyamakan perbuatan seperti  itu  sama halnya dengan tindakan zina yang dilarang oleh syari’at.  Bahkan  inseminasi buatan dengan menggunakan sperma milik laki-laki lain  dapat menjerumuskan manusia ke dalam masyarakat hewani di  mana  setiap individu tidak merasa terikat lagi oleh ikatan masyarakat yang utama.[3]

3. Menurut Setiawan Budi Utomo, inseminasi buatan yang dilakukan dengan bantuan donor sperma dan ovum, maka diharamkan dan hukumnya sama dengan zina. Inseminasi jenis ini lebih banyak mendatangkan mudharat daripada maslahahnya.[4] Maslahah yang dibawa inseminasi buatan ialah membantu suami isteri yang mandul, baik keduanya maupun salah satunya. Namun mudLarat dan mafsadahnya jauh lebih besar di antaranya:[5]

a. Terjadinya pencampuran nasab, padahal Islam sangat menjaga kesucian dan/kehormatan kelamin dan kemurnian nasab, karena nasab itu ada kaitannya dengan kemahraman dan warisan.

b. Bertentangan dengan sunnatullah dan hukum alam.

c. Inseminasi (jenis ini) pada hakekatnya sama dengan prostitusi, karena terjadi percampuran sperma pria dan ovum wanita tanpa perkawinan yang sah.

d. Anak hasil inseminasi lebih banyak unsur negatifnya daripada anak adopsi.

4. Menurut M Ali Hasan, inseminasi buatan yang dilakukan dengan menggunakan sperma donor adalah sesutu yang dilarang di dalam agama Islam dan status anak hasil inseminasi jenis ini sama dengan anak zina. Anak ini dikatakan anak zina bukan karena cara  yang  dilakukan suami isteri, tetapi dilihat dari segi kekaburan keturunan  anak itu, yang sama sekali tidak dapat diketahui siapa bapaknya (donor) karena donor itu mesti dirahasiakan.[6]

5. Majelis Tarjih Muhammadiyah berpendapat, bayi tabung yang sperma dan ovum yang bukan berasal dari suami-isteri, tetap tidak diperbolehkan dan hukumnya  haram;  walaupun  secara  formil,  baik  yuridis  maupun  praktis tidak terdapat unsur-unsur zina.[7] Sebab, menanam benih pada rahim wanita lain haram hukumnya, sebagai penjelasan Nabi bahwa tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyirami airnya ke ladang orang lain.[8] Kesimpulannya, bayi tabung yang dilaksanakan bukan dari (ovum dan sperma) suami isteri adalah termasuk dosa besar dan haram hukumnya.[9]

6. Menurut Zakariya Ahmad al-Barry, inseminasi yang dilakukan dengan sperma donor diharamkan di dalam Islam. Hal ini disebabkan, model inseminasi jenis ini mengandung unsur zina dan  menyebabkan  keturunan bercampur aduk dan kacau.[10]



[1] Yusuf  Qaradhawi,  Fatwa-Fatwa  Kontemporer ,  alih  bahasa  Abdul  Hayyie  al-Kattani, dkk, cet. ke- 1 (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), hlm. 660.
[2] Mahmud  Syaltut,,,,  Fatwa-Fatwa,   alih  bahasa  oleh  Bustami  A.  Gani  dan  Zaini Dahlan (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), hlm. 87.
[3] Ibid.
[4] Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual, Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer , cet. ke- 1  (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), hlm. 189-190.
[5] Ibid., hlm. 190-191.
[6] M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah al-Hadistah pada Masalah-Masalah Ko ntemporer Hukum Islam, cet. ke- 2 (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1997), hlm. 83.
[7] Keputusan Muktamar Tarjih Muhammadiyah ke 21, Bayi Tabung. , hlm. 76.
[8] Ibid. , hlm. 78.
[9] Ibid.
[10] Zakariya Ahmad al-Barry, Hukum Anak-anak dalam Islam, alih bahasa Chadidjah Nasution, cet. ke- 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 16.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter