Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

PANDANGAN ULAMA TENTANG TRANPLANTASI EMBRIO DARI SPERMA DAN OVUM SUAMI-ISTERI KE DALAM RAHIM WANITA LAIN (IBU TITIPAN)


1. Menurut Majma’ al-Fiqhu al-Islami,[1] sebagaimana ditetapkan dalam keputusannya  tertanggal  8-13 Safar 1407H/11-16 Oktober  1986M  pada poin ketiga mereka memutuskan untuk mengharamkan praktek inseminasi buatan[2] dengan bibit dari suami-isteri dan ditranplantasikan pada orang (wanita  lain). 

Alasan pengharaman tersebut menurut Suwito disebabkan adanya kekhawatiran akan terjadinya percampuran nasab dan hilangnya perasaan keibuan  serta  halangan  syara’  lainnya.[3] 

Berikut fatwa-fatwa Majma’ al-Fiqhu al-Islami tentang bayi tabung yang dilaksanakan pada tanggal 8-13 Safar 1407H/ 11-16 Oktober 1986M:

ان مجلس مجمع الفقه الإسلامي المعقد في دورة مؤتمرة الثالث بممعان عاصمة المملكة الأردونية الهاشمية من 8-13 صفر 1407 هـ (11-16 اكتوبر 1986م)
بعد استعراضه الموضوع التلقيح الصناعي (أطفال الأنابيت) و ذلك باطلاع على البحوث المقدمة و الإستماع لشرح الخبراء و الأطباء و بعد التداول تبين للمجلس أن طرق التلقيح الصناعي المعروف في هذا الأيام هي سبع:
الأولى ان يجري تلقيح بين نطفة مأخوذة من زوج و بيضة مأخوذة من امرأة ليست زوجته ثم تزرع اللقيحة في رحم زوجته
الثانية ان يجري تلقيح بين نطفة رجل غير الزوج و بيضة الزوجة ثم تزرع تلك اللقيحة في رحم زوجته.
الثالثة ان يجري تلقيح خارجي بين بذرتي زوجين ثم تزرع اللقيحة في رحم امرأة متطوعة بحملها.
الرابعة ان يجري تلقيح خارجي بين بذرتي رجل أجنبي و بيضة امرأة أجنبية و تزرع اللقيحة في رحم زوجته.
الخامسة ان يجري تلقيح خارجي بين بذرتي زوجين ثم تزرع اللقيحة في رحم الزوجة الأخرى.
السادسة ان تؤخذ نطفة من زوج و بيضة من زوجته و تم تلقيح خارجيا ثم تزرع اللقيحة في رحم زوجة.
السابعة ان تؤخذ برزة زوج و تحقن في الموضع المناسب من مبهل زوجته او رحمها تلقيحا داخليا.
و قرر:
ان الطرق الخمسة الأولى كلها محرمة شرعا و ممنوعة منعا باتا لذاتها او لما يترتب عليها من اختلاط الأنساب و ضياع الأمومة و غير ذلك من المحاريز الشرعية.
اما الطريقان السادس و السابع فقد رأى مجلس المجمع انه لا خرج من اللجوء اليهما عند الحاجة مع التأكيد على ضرورة اخذ كل الإحتياط اللازمة[4]

Adapun maksud dari keputusan Majma’ al-Fiqhu al-Islami di atas adalah sebagai berikut:

Bahwa sidang Majma’ al-Fiqhu al-Islami yang diselenggarakan pada sesi muktamarnya ke-3 yang diadakan di kota ‘Amman, ibukota  kerajaan Yordania al-Hasyimiyyah pada tanggal 8 hingga 13 Safar  tahun 1407 H, bertepatan dengan 11 hingga 16 Oktober tahun 1986 M.

Setelah dipaparkan masalah inseminasi buatan “bayi tabung”, yaitu dengan memperhatikan secara seksama berbagai pengkajian yang disampaikan dan setelah mendengarkan penjelasan para pakar dan ahli kedokteran, maka setelah dibahas panjang lebar, jelaslah bagi majelis:

Bahwa cara inseminasi buatan yang dikenal saat ini ada tujuh macam:

a. Dengan cara mengawinkan sperma yang diambil dari seorang  suami dengan sel telur (ovum) yang diambil dari seorang wanita yang bukan isterinya. Kemudian hasil pembuahan ditanamkan ke dalam rahim isterinya.

b. Dengan cara mengawinkan sperma yang diambil dari seorang laki-laki yang bukan suaminya dengan sel telur (ovum) isteri. Kemudian hasil pembuahan ditanamkan ke dalam rahim isteri.

c. Dengan pembuahan sperma dan sel telur (ovum) pasangan suami isteri yang dilakukan di luar (maksudnya pembuahan tidak alami tapi diproses di laboratorium), kemudian hasil pembuahan ditanamkan ke dalam rahim wanita lain.

d. Dengan cara melakukan pembuahan di luar (maksudnya pembuahan tidak alami tapi diproses di laboratorium) antara sperma dan sel  telur (ovum) dari laki-laki asing dan perempuan asing (maksudnya sperma dan sel telur bukan milik pasangan suami-isteri) kemudian  hasil pembuahan ditanamkan dalam rahim isteri.

e. Dengan melakukan pembuahan di luar (maksudnya pembuahan tidak alami tapi diproses di laboratorium) antara sperma dan sel telur (ovum) pasangan suami-isteri kemudian hasil pembuahan tersebut ditanamkan ke dalam rahim isteri yang lain (isteri yang lain dari suami yang sama).

f. Dengan cara mengambil sperma suami dan sel telur isterinya, lalu pembuahan dilakukan di luar (maksudnya pembuahan tidak alami tapi diproses di laboratorium), lalu ditanamkan di dalam rahim isteri.

g. Dengan cara mengambil benih sperma seorang suami, kemudian disuntikkan ke tempat yang sesuai di vagina isterinya atau di rahimnya, sehingga pembuahan terjadi di dalam.

Sidang menyimpulkan:

Bahwa lima cara yang pertama, semuanya diharamkan menurut tuntunan syari’at dan dilarang keras secara substansial karena akan menyebabkan (terjadinya) pencampuran nasab keturunan dan menghilangkan nilai-nilai keibuan dan hal-hal lain yang dilarang syari’at.

Sedangkan cara keenam dan ketujuh, maka Majma’ al-Fiqhu al-Islami berpandangan bahwa tidak mengapa menggunakan cara di atas (cara keenam dan ketujuh) ketika memang dibutuhkan dengan tetap menegaskan perlunya mengambil sikap hati-hati sebagaimana mestinya.

2. Sebagaimana dikutip Suwito, Majelis Ulama’ DKI Jakarta juga mengharamkan inseminasi model ini. Sedangkan Mahmud Syaltut, Yusuf al-Qaradhawi, al-Ribashy dan Zakaria Ahmad al-Barry tidak menggambarkan secara jelas kasus semacam ini. Akan tetapi, mereka jelas-jelas mengharamkan inseminasi buatan yang bibitnya (khususnya sperma) bukan berasal dari suaminya yang sah.[5] 

3. Menurut Majlis Tarjih Muhammadiyah, model bayi tabung[6] yang sperma dan ovumnya berasal dari pasangan suami-isteri, kemudian embrionya dititipkan kepada wanita lain yang bukan isterinya, maka Islam tidak membenarkan. Sebab menurut mereka, menanam benih pada rahim wanita lain haram hukumnya, sebagai penjelasan Nabi bahwa tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan  hari  akhir menyirami airnya keladang orang lain. Kedua kalinya, Islam melarang karena:[7]

a. Pembuahan semacam itu termasuk kejahatan yang menurunkan martabat manusia.

b. Merusak tata hukum yang telah dibina dalam kehidupan masyarakat.

4. Menurut Ali Akbar sebagaimana dikutip Salim, beliau mengatakan bahwa menitipkan bayi tabung pada wanita yang bukan ibunya boleh, karena si ibu tidak menghamilkannya, sebab rahimnya mengalami gangguan, sedangkan menyusukan anak kepada wanita lain dibolehkan dalam Islam, bahkan boleh diupahkan. Maka bolehlah pula memberikan upah kepada wanita yang menyewakan rahimnya.[8]

Lebih lanjut beliau memberikan alasan kebolehan melakukan proses bayi tabung dengan menggunakan rahim wanita lain adalah karena yang ditanamkan pada rahim wanita lain itu adalah sperma dan ovum yang sudah bercampur, sehingga hanya menitipkan untuk memperoleh kehidupan, yaitu makanan untuk membesarkannya  menjadi bayi yang sempurna. Menurut beliau, hal ini tidak dapat dikategorikan sebagai zina.[9]

Pandangan dan pendapat di atas secara tegas menyebutkan bahwa cara surrogate mother dibolehkan dan cara ini disamakan dengan ibu susuan yang dikenal dalam Islam. Dengan adanya penegasan ini, maka dengan sendirinya anak yang dilahirkan oleh surrogate mother (ibu titipan) dapat dikualifikasikan sama dengan ibu susuan.[10]

5. Menurut Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdhatul Ulama, menitipkan sperma suami dan ovum ke rahim perempuan lain dengan akad sewa adalah tidak sah dan diharamkan.[11]

6. Fathurrahman Djamil sebagaimana dikutip oleh Luthfi asy-Syaukanie mengatakan bahwa, inseminasi dengan menggunakan sperma dan ovum dari suami isteri, kemudian ditransfer ke dalam rahim wanita lain adalah haram. Alasannya adalah karena masalah keturunan. Meski dalam kasus itu nasab bapaknya jelas, tetapi nasab ibunya menjadi tidak jelas.

7. Luthfi asy-Syaukanie berpendapat, inseminasi buatan dengan meminjam rahim orang lain (surrogate mother) tampaknya lebih baik kemungkinannya, baik dari sisi hukum maupun dari sisi etika daripada inseminasi dengan menggunakan sperma dan ovum tak dikenal pada rahim isteri, inseminasi sperma suami dan ovum dari orang lain (donor) pada rahim isteri, dan inseminasi dengan ovum isteri dan sperma orang lain (donor) pada rahim isteri. Beliau juga mengatakan persoalan inseminasi jenis ini lebih dianggap persoalan moral daripada persoalan hukum.[12]



[1] Suatu  lembaga  yang  membahas  permasalahan-permasalahan  keislaman  yang berpusat di Cairo, Mesir, dan Lembaga Fikih Islam yang berada di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam (OKI).
[2] Inseminasi  buatan  adalah  terjemahan  dari  istilah  Inggeris  yakni  artificial insemination.  Dalam bahasa  Arab  disebut  al-talqih  al-shina’i.  Sedangkan  di  dalam  bahasa Indonesia  ada  yang  menyebut  dengan istilah pemanian buatan, pembuahan buatan, atau penghamilan buatan. Secara umum dapat diambil pengertian bahwa inseminasi buatan adalah suatu teknik atau cara untuk memperoleh kehamilan tanpa melalui persetubuhan (coitus).
[3] Suwito,  “Inseminasi  Buatan  Menurut  Tinjauan  Hukum  Islam”,  dalam  Chuzaimah T.  Yanggo  dan  Hafiz  Anshari  AZ  (ed),  Problematika Hukum Islam Kontemporer (Jakarta:Pustaka Firdaus, 2002), IV: 24.
[4] Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqhu  al-Islami  wa  adillatuh,  (Damaskus:  Dar  al-Fikr, 2004), VII: 5099-5100.
[5] Suwito, “Inseminasi Buatan. , hlm. 24.
[6] Bayi tabung adalah terjemahan dari “Tube Baby” yaitu tabung yang dibuat sebagai tempat  pembuahan  sperma  dan  ovum  menjadi  janin.  Jadi  yang  disebut  dengan  bayi  tabung yang  sebenarnya  adalah  sperma  dan  ovum  yang  telah  dipertemukan  dalam  senuah  tabung. Setelah terjadi pembuahan, kemudian disarangkan dalam rahim wanita, hingga sampai saatnya lahirlah  bayi  tersebut.  Bayi  inilah  yang  kemudian  disebut  atau  dikenal  dengan  istilah  “bayi Tabung”.  Ada  juga  yang  mendefinisikan  Bayi  tabung  atau  pembuahan  in  vitro  (bahasa Inggris:  in  vitro  fertilisation)  adalah  sebuah  teknik  pembuahan  dimana  sel  telur  (ovum) dibuahi di luar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan  ketika metode lainnya  tidak  berhasil. Prosesnya  terdiri dari mengendalikan  proses ovulasi  secara hormonal,  pemindahan sel telur  dari  ovarium  dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair.
[7] Keputusan  Muktamar  Tarjih  Muhammadiyah ke  21,  Bayi  Tabung  dan Pencangkokan dalam sorotan Hukum Islam  (Yogyakarta: Persatuan, t.t.), hlm. 65.
[8] Salim,  Bayi  tabung,  Tinjauan  Aspek  Hukum (Jakarta:  Sinar  Grapika,  1993),  hlm. 46.
[9] Suwito, “Inseminasi Buatan. , hlm. 25.
[10] Salim, Bayi tabung. , hlm. 46.
[11] Keputusan  Muktamar,  Munas  dan  Konbes  Nahdhatul  Ulama  (1926-1999M), Ahkamul  Fuqaha,  Solusi  Problematika  Aktual  Hukum  Islam, alih  bahasa  Djamaluddin  Miri, cet. ke- 2 (Surabaya:  Diantama, 2005), hlm. 490.
[12] Luthfi asy-Syaukanie, Politik, HAM,  dan  Isu-Isu  Teknologi  dalam  Fikih Kontemporer, cet. ke- 1 (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998), hlm. 154.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter