Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

PANDANGAN ULAMA TENTANG TRANPLANTASI EMBRIO DARI SPERMA DAN OVUM DARI SUAMI-ISTERI KE DALAM ISTERI YANG LAIN DARI SUAMI YANG SAMA


1. Menurut Yusuf Qaradhawi,  sewa  rahim  dalam  bentuk  sperma  dan  ovum berasal dari pasangan suami-isteri, kemudian embrionya ditranplantasikan ke dalam isteri yang lain dari suami yang sama, maka ini tidak diperbolehkan. Pasalnya, dengan cara ini tidak diketahui siapakah sebenarnya dari kedua isteri ini yang merupakan ibu dari bayi yang akan dilahirkan kelak. Juga kepada siapakah nasab (keturunan) sang bayi disandarkan, kepada pemilik sel telur atau si pemilik rahim.[1]

2. Majma’ al-Fiqhu al-Islami dalam sidangnya di Amman, Yordania,  pada tahun 1986 yang dikutip Dahlan Abdul Azis, membahas  permasalahan bayi tabung yang ditinjau dari berbagai aspek.  Mereka menyimpulkan bahwa, apabila suami mempunyai  dua orang isteri, dan ovumnya diambilkan dari isteri pertama, kemudian setelah terjadi pembuahan diletakkan ke dalam rahim isteri kedua,  maka hal ini tidak dapat dibenarkan.[2]

Sebagaimana dikutip Yahya Abdurrahman al-Khatib, alasan yang dikemukakan Majma’ al-Fiqhu al-Islami ini disebabkan adanya kekhawatiran apabila isteri yang dimasukkan sperma dan ovum dari isteri yang pertama tersebut telah keadaan hamil. Dan apabila isteri yang dititipi sperma dan ovum ini melahirkan anak kembar, tidak diketahui mana anak dari hasil inseminasi buatan dan mana anak hasil dari hubungan badan dengan suaminya. Begitu juga tidak diketahui  siapa ibu dari anak hasil inseminasi buatan dan siapa anak dari hasil  hubungan badan dengan suaminya.

Hal yang sama seandainya salah satu di antara kedua janin  itu ada  yang mati, dan ia tidak mengalami keguguran, kecuali bersamaan dengan lahirnya janin yang lain, akhirnya juga tidak diketahui apakah yang mati itu janin hasil inseminasi buatan atau janin hasil  hubungan  badan dengan suaminya. Akibat dari kejadian-kejadian tersebut akan berimplikasi terjadinya kekacauan nasab bagi ibu yang sebenarnya karena disebabkan masing-masing dari keduanya tidak diketahui mana yang merupakan anaknya. Akibatnya akan terjadi kesamaran dalam sejumlah hukum.[3]

3. Sebagaimana dikutip Salim, hasil ijtihad  Majelis  Ulama  Indonesia  di dalam Surat Keputusannya nomor: kep-952/MUI/XI/1990 memutuskan, inseminasi buatan/bayi tabung dengan sperma dan  ovum yang diambil secara  muh}taram dari pasangan suami isteri  untuk isteri-isteri yang lain hukumnya haram/tidak dibenarkan dalam Islam.[4]

4. Menurut Majlis Tarjih Muhammadiyah, bayi  tabung  dengan sperma  dan ovum dari pasangan suami isteri yang kemudian dititipi  kepada  rahim isteri yang lain dari suami yang sama dapat dibenarkan asalkan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Sperma dan sel telur berasal dari suami-isteri.

b. Isteri yang punya bibit menurut pemeriksaan dokter, rahimnya tidak bisa ditempati janin sampai saat bayi itu lahir.

c. Isteri yang dititipi itu secara alami tidak bisa hamil, tetapi rahimnya memenuhi syarat untuk bisa ditempati pertumbuhan janin sampai saat bayi itu lahir.

d. Adanya kesepakatan atau persetujuan antara isteri-isteri tersebut tentang pemeliharaan bayi tersebut setelah terjadi kehamilan.[5]

5. Menurut Radin seri Nabahah bt. Ahamad Zabidi, dalam menyikapi bentuk sewa rahim dengan sperma dan ovum dari pasangan suami isteri yang kemudian dititipi kepada rahim isteri yang lain dari suami yang sama, pendapat para ulama terbagi menjadi dua  golongan. Golongan yang pertama mengharamkan sewa rahim dalam jenis ini, dan golongan yang kedua membolehkan.[6]

a. Golongan yang mengharamkan:

Golongan ini berpendapat bahwa sewa rahim dalam bentuk ini adalah haram sebagaimana sewa rahim dalam bentuk yang lain. Mereka beralasan dengan mengatakan bahwa sewa rahim dalam  bentuk  ini akan membawa akan membawa banyak masalah dan ada kemungkinan isteri (ibu tumpang) tersebut telah hamil ketika suaminya telah “berkumpul” dengannya. Hal ini akan menyebabkan kekeliruan untuk memastikan siapa ibu sebenarnya dari anak tersebut.

Selain  itu,  mereka  juga  beralasan  dengan  mengqiyaskan  sewa  rahim dalam bentuk ini sama dengan lesbian. Menurut mereka, lesbian adalah sesuatu yang diharamkan, maka memindahkan benih seorang wanita kepada wanita lain adalah sama dengan perbuatan ini (lesbian).

b. Golongan yang membolehkan:

Mereka berpendapat bahwa sewa rahim dalam bentuk ini adalah boleh karena kedua wanita tersebut adalah isteri bagi suami yang sama dan isteri yang lain secara sukarela mengandungkan anak bagi madunya. Dalam hal ini, ayah dari anak tersebut sudah bisa dipastikan dan ikatan kekeluargaan telah terwujud dalam lingkungan yang baik.  Selain itu, pencampuran nasab tidak akan terjadi jika dilakukan dengan hati-hati untuk memenuhi syarat-syarat yang menjamin tidak terjadinya pencampuran nasab. Mereka juga mensyaratkan untuk tidak melakukan sewa rahim dalam bentuk ini kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak.



[1] Yusuf Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer. ,  hlm. 660.
[2] Dahlan  Abdul  Azis,  Ensiklopedi  Hukum  Islam  (Jakarta:  PT  Ichtiar  Baru  Van Hoeve, 2000), III: 730.
[3] Yahya  Abdurrahman  al-Khatib,  Hukum-Hukum  Wanita  Hamil  (Ibadah,  Perdata, Pidana) , cet. ke- 1 (Jatim: al-Izzah, 2003), hlm. 171.
[4] Salim, Bayi tabung. , hlm. 47.
[5] Keputusan Muktamar Tarjih Muhammadiyah ke 21, Bayi Tabung. , hlm. 64.
[6] Radin  Seri  Nabahah  bt.  Ahmad  Zabidi,  ”Penyewaan  Rahim  Menurut  Pandangan Islam,” http//tibbians.tripod.com/shuib3.pdf, hlm.12-15.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter