Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MEMBANGUN KESEHATAN JIWA


Jiwa adalah harta yang tiada ternilai mahalnya. Kesehatan jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin, itulah kekayaan sejati. Jiwa yang sehat adalah manusia yang mampu menetapkan pilihan atau tinjauan dan menserasikannya dengan lingkungan.

Jiwa itu akan terganggu kesehatannya kalau manusia itu menetapkan pilihan terlalu tinggi tidak sesuai dengan kemampuannya atau dia hanya menetapkan tujuan sendiri, tujuan orang lain tidak peduli atau dia mencoba menguasai lingkungannya dan sebagainya.

Ketenangan dan ketenteraman jiwa akan tercipta apabila seseorang telah mengalami kematangan dalam beragama dan dia akan mampu mengatasi segala persoalan hidup. Jiwa yang rela merupakan jiwa yang paling tinggi, karena ia rela terhadap pemberian, ketetapan dan ketentuan-Nya, sabar tatkala susah dan syukur tatkala bahagia.[1]

Orang yang ingin menjaga kesehatan jiwa harus terus menerus melakukan penalaran dan perenungan. Ia tidak boleh melupakan hal itu, karena jika jiwa meninggalkan penalaran dan pemikiran, maka ia menjadi bodoh dan dungu, kehilangan materi semua kebaikan dan terlepas dari potret kebaikan serta kembali ke tingkat hewan. Orang yang ingin menjaga kesehatan jiwanya hendaknya menjaga jiwa syahwatnya dan daya emosinya dengan mengingat dampak dari keduanya. Selain itu ia juga harus menggunakan otak dan pikirannya agar mampu mencapai jiwa yang sehat.

Ibnu Taimiyyah memandang bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan jiwa manusia hanya dapat terwujud melalui  ‘ubudiyyah dan cinta yang sempurna kepada Allah. Dia menyatakan, “Hati akan menjadi baik, beruntung, merasa nikmat, bahagia, senang, damai dan tenang hanya dengan beribadah, cinta dan  inayah  kepada Allah. Meskipun orang memperoleh kenikmatan sebagai makhluk tetap saja ia tidak tenang dan damai, lantaran ia mengalami kemiskinan jati diri kepada Tuhan yang seharusnya adalah dzat yang layak disembah, dicintai, dan dicari. Jika yang terakhir itu dilakukan, maka ia akan memperoleh kebahagiaan, kesenangan, kenikmatan, anugerah, kedamaian dan kenyamanan.[2]

Dr. Musfir bin Said Az-Zahrani mengemukakan, bahwa sebenarnya konsep Islam lah yang mampu merealisasikan kesehatan jiwa, karena ia ditunjang tiga metode:

a. Dengan memperkuat sisi spiritualitas pada diri individu dengan cara menanamkan keimanan kepada Allah dan ketauhidan atas-Nya serta tidak menyekutukan-Nya.

b. Menguasai sisi kebutuhan fisik pada diri individu dengan mengendalikan semua motivasi dan emosi yang berkaitan dengannya. Juga mengalahkan keinginan syahwat dan hawa nafsu yang berlebihan. Islam tidak menyerukan kepada pengekangan motivasi dan emosi namun menyerukan kepada penyeimbangan akan pemenuhan motivasi dan emosi itu sendiri.

c. Dengan mempelajari cara-cara dan kebiasaan penting yang merealisasikan adanya kesehatan jiwa dengan memiliki jiwa yang sehat, maka individu telah memiliki kematangan emosi dan sosial hingga mampu membentuk kepribadian yang baik dan diidamkan selama ini.[3]

Ada tiga langkah yang ditempuh orang dalam mencapai kesehatan jiwa, yakni pengobatan (kuratif), pencegahan (preventif) dan pembinaan (konstruktif).

Langkah pengobatan ialah usaha yang ditempuh untuk menyembuhkan dan merawat orang yang mengalami gangguan dan sakit kejiwaan, sehingga ia dapat menjadi sehat dan wajar kembali.

Langkah pencegahan adalah metode yang digunakan untuk menghadapi diri sendiri dan orang lain, guna meniadakan atau mengurangi terjadinya gangguan kejiwaan sehingga ia dapat menjaga kegoncangan dan ketidak ketenteraman batin.

Langkah pembinaan disamping bertujuan untuk menjaga kondisi mental yang sudah baik, juga meliputi cara yang ditempuh orang untuk meningkatkan rasa gembira, bahagia, dan kemampuannya dalam mempergunakan segala potensi yang ada seoptimal mungkin.[4]

Agama berfungsi sebagai terapi bagi jiwa yang gelisah dan terganggu, berperanan sebagai alat pencegah (preventif) terhadap kemungkinan gangguan kejiwaan dan merupakan faktor pembinaan (konstruktif) bagi kesehatan mental pada umumnya. Dengan keyakinan beragama, hidup yang dekat dengan Tuhan serta tekun menjalankan agama, kesehatan mental dapat terbina. Dengan mental yang sehat efisiensi dan produksi dapat tercapai.[5]



[1] Muslih Muhammad, Membangun Kesehatan Jiwa, Terj. Agus Purnomo, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002, hlm. 50.
[2] Ibid, hlm. 104-350.
[3] Musfir bin Said Az-Zahrani, Konseling Terapi, Terj. Sari Marulita, Lc., Gema Insani Press, Jakarta, 2005, hlm. 452-255.
[4] Yaya Jaya, Spiritualisasi Islam: Dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian dan Kesehatan Jiwa, CV. Ruhama, Jakarta, 1994, hlm. 85.
[5] Zakiah Darajat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, Bulan Bintang, Jakarta, 1982, hlm. 94.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter