Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

OBAT-OBATAN DALAM ISLAM


Obat adalah sesuatu yang dapat menyembuhkan kita dari suatu penyakit yang diderita. Obat dalam arti luas adalah zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup dan digunakan dengan dosis tertentu, dengan harapan dapat mencegah serta menyembuhkan dari suatu penyakit.[1]

Penyakit sekarang ini banyak jenisnya, baik penyakit yang merusak tubuh maupun penyakit yang merusak akal pikiran, maka kita dituntut untuk mencari obat sebagai usaha penyembuhan terhadap penyakit tersebut, baik usaha tersebut melalui obat-obatan dan terapi (alternatif).

Namun yang menjadi persoalan apakah obat-obatan yang didapat, berasal dari benda yang halal atau berasal dari benda yang diharamkan oleh syara'. Seperti halnya pada makanan, obat-obatan juga merupakan hal yang dikonsumsi maka obat tersebut harus mengandung unsur-unsur yang tidak dilarang oleh syara'.

Secara umum obat-obatan yang tersedia biasa dalam bentuk larutan (sirup, elixis, tetesan), sirup antibiotik pada anak, serta emulsi (obat luar dan obat dalam). Diantaranya ada obat tertentu yang mengandung alkohol, seperti sirup atau obat batuk, kandungannya sekitar 1-55 persen.[2]

Selain alkohol ada juga obat yang mengandung babi, komponen babi yang dipakai biasanya adalah gelatin (diambil dari kulit atau tulang babi) yang digunakan sebagai emulgator, serta lemak yang digunakan sebagai penolong atau tambahan dalam reaksi kimia yang biasa disebut enzim. Obat ini biasa dalam bentuk kapsul, pil tablet, dan obat-obatan dalam bentuk lainnya.[3]

Obat jenis lain yang mengandung bahan yang memabukan adalah obat bius. Obat bius adalah zat yang dapat menyebabkan orang yang menggunakannya kehilangan kesadaran, dan dapat menjadi racun dalam tubuh.[4]

Obat bius biasa dipakai untuk operasi dengan tujuan menghilangkan rasa sakit dan takut. Namun obat bius banyak disalahgunakan sehingga menjadi racun bagi pemakainnya, jenis obat ini seperti morfin, heroin, opinium dan kokain.

Dalam Islam obat-obatan yang diharamkan adalah obat-obatan yang mengandung benda-benda najis dan benda-benda yang diharamkan oleh Allah, yaitu alkohol, babi serta zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. 

Manusia apabila sakit sudah seharusnya mencari obatnya, namun sebagai makluk yang taat pada Allah maka kita seharusnya mencari obat-obat yang harus betul–betul bersih dari kotoran dan najis serta barang-barang yang diharamkan oleh Allah SWT. Setiap obat yang bercampur dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa dan tubuh yang mengkonsumsinya seperti halnya memakan makanan yang diharamkan oleh nash.[5]

Para ulama' berbeda pendapat, bagi mereka yang berpendapat bahwa seseorang yang hanya dapat disembuhkan melalui obat-obat yang mengandung bahan yang diharamkan, adalah boleh, karena berpegang pada kebutuhan akan obat adalah sama dengan kebutuhan dengan makanan yang berhubungan dengan jiwa seseorang sehingga bisa disebut darurat. Namun bagi mereka yang tidak membolehkan dengan alasan bahwa obat tidak disamakan dengan kebutuhan makan,  sebagaimana dalam hadist nabi, "Sesungguhnya Allah tidak menjadikan penyembuhan kalian dari apa-apa yang diharamkan untuk kelian".[6]

Sedangkan menurut al Ghazali, "Bahwa semua hal yang dilarang adalah dibolehkan kecuali dalam keadaan darurat".[7] Yusuf Qhardhowi mensyaratkan tentang bolehnya mengkonsumsi makanan haram sebagai pengobatan yaitu "adanya bahaya yang mengancam jiwa seseorang, tidak ditemukannya obat lain yang sama fungsinya serta direkomendasikan oleh dokter ahli terutama muslim dan terpercaya".[8]

Hukum Islam telah membatasi yang haram  dan mempertegas dengan tidak membuka pintu bagi yang haram, karena yang haram tetaplah haram, kemudian mensiasati untuk mendapat yang haram tetaplah haram, namun Islam juga mempertimbangkan kemanusiawian dengan menghormati keadaan darurat yang tidak dapat ditolerir dan memelihara dari kebinasaan.



[1] Thobieb Al-Asyhar, ed. A. Zubaidi, Bahaya Makanan Haram(Jakarta: PT. Al-Mawardi Irama, cet 1, 2002), Hlm 37
[2] Ibid, hlm 38
[3] Ibid, hlm 39
[4] Syeh Fauzi Muhammad, Maaidah Al-Muslim Baina Al-Din Wa Al-'Illm, terj. Abdul Hayyi al-Kattanni, Hidangan Islam : Ulasan Komprehensip Berdasarkan Syari'at Islam Dan Modern, (Jakarta : Gema Insani press, cet I, 1997) hlm 73
[5] Thabib al-Asyhar, op.cit., hlm 36
[6] Yusuf Qordlowi, Halal wa haram fil Islam, terj. Wahid Ahmad, Halal Dan Haram Dalam Islam (Surakarta: Era Intermedia, cet III, 2003), hlm 84
[7] M. Maslehuddin, Islamic Yurisprudence And The Rule Of Necessity And Need, terj. A. Tafsir,  (Bandung : Pustaka, cet I, 1985) hlm 54
[8] Yusuf Qordlowi, Op. Cit. Hlm 84

1 comment

  1. bissmillahirrahmaanirrahim..
    Sehat menuju sukses bersama Berkah Herbal

    Bagi anda yang sedang mencari obat herbal,saya akan mengenalkan Toko Herbal Online yang sudah tidak asing lagi..yaitu Berkah Herbal,yang menjual berbagai produk herbal..

    ini dia websitenya >> www.berkahherbal.com/?id=riorenaldi07

    ReplyDelete

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter