Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

PARFUM ALKOHOL




Dalam kimia, alkohol adalah istilah yang lebih umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon, yang alkohol sendiri terikat pada atom hidrogen atau karbon lain.[1]

Sebagaimana sumber yang ada dari Wikipedia, terdapat info sebagai berikut: minyak biasanya dilarutkan dengan menggunakan solvent (pelarut), solvent yang digunakan untuk minyak wangi adalah etanol atau campuran antara etanol dan air. Minyak wangi juga bisa dilarutkan dalam minyak yang sifatnya netral seperti dalam fraksi minyak kelapa, atau dalam larutan lak (lilin) seperti dalam minyak jojoba (salah satu jenis tanaman, pen).[2]

Beberapa kegunaan etanol sebagai berikut;  

a. Sebagai pelarut (solvent), misalnya pada parfum, perasa, pewarna makanan dan obat-obatan 

b. Sebagai bahan sintesis (feedstock) untuk menghasilkan bahan kimia lain, seperti dalam pembuatan asam asetat (sebagaimana terdapat pada cuka) 

c. Sebagai bahan alternatif. Bahan bakar etanol telah banyak dikembangkan di negara Brasil sejak mereka mengalami krisis energi.  Brasil adalah negara yang memiliki industri etanol terbesar untuk memproduksi bahan bakar.  

d. Sebagai penangkal racun (antidote) 

e. Sebagai antiseptik (penangkal infeksi) 

f. Sebagai deodorant (penghilang bau tidak enak atau bau busuk) 

LP POM MUI, alkohol yang dimaksudkan dalam parfum adalah etanol. Menurut fatwa MUI, etanol yang merupakan senyawa murni bukan berasal dari industri minuman khamer sifatnya tidak najis. Hal ini berbeda dengan khamer yang bersifat najis. Oleh karena itu, etanol tersebut dijual sebagai pelarut parfum, yang notabene memang dipakai diluar (tidak dimaksudkan ke dalam tubuh). 

Etanol disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut atau alkohol saja. Etanol merupakan sejenis yang mudah menguap (volatile), mudah terbakar (flammable), tak berwarna (colorless), memiliki wangi  yang khas dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.[3]

Etanol dibuat melalui fermentasi molase yaitu residu yang didapat dari pemurnian gula tebu. Pati dari padi-padian, kentang dan beras dan difermentasi dengan cara yang sama menjadi etanol, sehingga hasilnya sering dinamakan alkohol padi-padian (grain alkohol).[4]
 
Selain fermentasi, etanol juga dibuat melalui hidrasi etilena dengan katalis asam. Dengan katalis asam sulfat atau katalis asam lainnya. Pertama-tama melibatkan konversi ezimatik pati menjadi gula, gula itu kemudian diubah menjadi etanol dan karbondioksida oleh kerja zimase, suatu zimase yang dihasilkan oleh sel-sel ragi yang hidup.[5]
 
Etanol dibuat kebanyakan dengan dua metode; pertama, peragian dari molase (tetes) dari tebu. Kedua, adisi air kepada etilena dengan hadirnya suatu katalis asam. Maka dari itu, etanol adalah zat yang suci, ada tiga point yang dibuat pertimbangan dari kesimpulan di atas; 

a. Hukum asal etanol jika ia berdiri sendiri dan tidak bercampur dengan zat lain adalah halal. 

b. Etanol bisa berubah statusnya jadi haram, jika ia menyatu dengan minuman yang haram seperti miras. 

c. Etanol ketika berada dalam miras yang dihukumi adalah campuran mirasnya dan bukan etanolnya lagi. 

Jika melihat etanol (alkohol) yang ada dalam parfum, maka penulis dapat katakan bahwa yang jadi solvent (pelarut) dalam parfum tersebut adalah etanol yang suci, bukanlah khamer. 

Banyak orang yang menyamakan minuman beralkohol dengan alkohol, maka disinilah sering kurang difahami dan ini menjadi titik masalah oleh sebagian orang yang menghukumi haramnya parfum beralkohol, karena mengira bahwa alkohol yang terdapat dalam  parfum adalah khamer.  

Khamer itu mau diminum cuma setetes atau mau ditengak seember, sama-sama haram. Alkohol tidak sama atau tidak identik dengan khamer. Karena orang tak akan sanggup meminum alkohol dalam bentuk murni, karena akan menyebabkan kematian. 

Alkohol memang merupakan komponen kimia terbesar setelah air yang terdapat pada minuman keras, akan tetap alkohol bukan satu-satunya senyawa kimia yang dapat menyebabkan mabuk, karena banyak senyawa-senyawa lain yang terdapat pada minuman keras yang juga bersifat memabukkan jika diminum pada konsentrasi cukup tinggi. Secara umum, golongan alkohol bersifat narcosis (memabukkan), demikian juga komponen-komponen lain yang terdapat pada  minuman  keras seperti aseton, beberapa ester. Secara umum, senyawa-senyawa organik mikromolekul dalam bentuk murni juga bersifat racun.[6]

Disini penulis katakan bahwa alkohol adalah senyawa kimia, sedangkan khamer adalah karakter suatu bahan makanan, minuman atau benda yang dikonsumsi. Definisi khamer tidak terletak pada sub kimianya, tapi definisinya terletak pada efek yang dihasilkannya, yaitu al-iskar (memabukkan). Maka benda apapun yang kalau dimakan atau diminum akan memberikan efek mabuk, dikategorikan sebagai khamer. 

Menurut IUPAC penamaan alkohol sama seperti  penamaan alkana dengan menambahkan akhiran ol, yaitu; 

a. Rantai terpanjang yang mengandung gugus hidroksil diberi nama dengan mengganti akhiran –na dengan –ol 

b. Penomoran rantai cabang dilakukan dengan memberi atom karbon yang  mengandung gugus  hidroksil dengan nomor  yang paling kecil 

c. Jika terdapat banyak rantai pada rantai utama, penamaan rantai cabang berdasarkan alfabet.[7]

Maka definisi khamer yang benar menurut para ulama adalah segala yang memberikan efek iskar (memabukkan).[8] Dan jelaslah disini bukanlah semua makanan yang mengandung alkohol. Sebab menurut para ahli kesehatan, secara alami beberapa makanan seperti, singkong, duren, dan buah lainnya malah mengandung alkohol. Tapi kenapa tidak pernah menyebut bahwa makanan itu haram karena mengandung alkohol. 

Dan karena definisinya segala benda yang memberikan efek iskar, maka ganja, opium, drug, mariyuana dan sejenisnya, tetap bisa dimasukkan sebagai khamer. Padahal benda itu malah tidak mengandung alkohol, jika senyawa alkohol sendiri kalau kita minum, bukan efek al-iskar (mabuk) yang dihasilkan, melainkan efek mati. 

Padahal pemakaian parfum beralkohol tidaklah menikmatinya dan tidak merasakan rasa dari kandungan alkohol tersebut, apalagi membuat orang pingsan atau mabuk. Kalau khamer itu pasti akan membuat  mabuk dan orang akan  menikmatinya.  

Alkohol (etanol) dan minuman beralkohol adalah dua hal yang berbeda. Minuman beralkohol sudah pasti memabukkan dan diharamkan sedangkan alkohol (etanol) belum tentu demikian. Alkohol (etanol) adalah sebagaimana hukum zat pada asalnya yaitu halal.  Etanol bisa menjadi haram jika memang menimbulkan dampak negatif.


[1] Riswiyanto, Kimia Organik, Jakarta; Erlangga, 1995, hlm 146
[2] Sumber: http//en. Wikipedia.org/wiki/parfume
[3] Donald  C.  Kleinfelter  dan  Jesse  H.  Wood,  Ilmu  Kimia  Untuk  Universitas, diterjemahkan oleh Aloysius, Hadyana Pudjaatmaka Jakarta; Erlangga, 1992, hlm 402
[4] Harold  Hart,  Kimia  Organik,  diterjemahkan  oleh  Suminar  Achmadi, Jakarta: Erlangga 1983, hlm. 176
[5] Kleinfelter Wood, loc. cit, 1992, hlm. 382-383
[6] http://lppommuikaltim.multiply.com/journal/item/9/STATUS KEHALALAN ALKOHOL
[7] Riswiyanto, Kimia Organik, Jakarta; Erlangga, 1995 hlm 49

1 comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter