Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

SEKILAS TENTANG PARFUM BERALKOHOL


Dalam perspektif Islam atau kamus besar lainnya secara umum tidak ada pengertian parfum beralkohol secara spesifik. Dua kata itu mempunyai dua pengertian tersendiri. Alkohol asalnya dari bahasa  arab yaitu alghaul atau al khuhul.[1] Khamer artinya raksasa, nama itu diberi kepada pati arak, lantaran khasiatnya yang seperti raksasa. Selain itu dapat diartikan minuman yang memabukkan.[2]

Keterangan dari kitab al-Mabahitsa al-Wafiyyah, pengertian alkohol sebagaimana yang kami dapatkan dari pernyataan orang yang mengetahui hakekatnya serta yang kami lihat dari peralatan industri pembuatannya adalah, merupakan unsur yang dapat menguap yang terdapat pada minuman yang memabukkan. Keberadaannya akan mengakibatkan mabuk. Alkohol ini juga terdapat pada selain minuman, seperti pada rendaman air bunga dan buah-buahan dibuat untuk wangi-wangian dan lainnya, sebagaimana juga terdapat pada kayu-kayuan yang diproses dengan mempergunakan peralatan khusus dari logam.  Dan  yang akhir  terakhir  ini  merupakan alkohol dengan kadar  paling rendah, sedangkan yang terdapat pada perasan anggur merupakan  alkohol dengan kadar tertinggi.[3]

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, Alkohol yaitu cairan tidak berwarna yang mudah menguap, mudah terbakar, di pakai dalam  industri atau pengobatan, merupakan unsur yang memabukkan, dll.  Kebanyakan minuman keras, C2H5OH, etanol, senyawa organik dengan gugus OH pada atom karbon jenuh.[4]

Pengertian alkohol menurut kamus Ilmiah Populer ialah zat kimia cair yang dapat memabukkan.[5] Parfum menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah minyak wangi, bau wangi-wangian yang berupa cairan, zat pewangi.[6]

Menurut Prof. dr. Muhammad Sa’id al-Suyuthi, alkohol merupakan istilah yang diarabkan dari sebuah kata berbahasa Perancis, yaitu alcool, dengan kata cohol.[7] Sedangkan parfum menurut kamus Ilmiah Populer adalah zat pewangi tubuh, wewangian.[8]

Dari banyaknya definisi tentang alkohol tersebut, meskipun dalam redaksinya berbeda tapi hakikat dan tujuannya sama, yaitu sama-sama zat cair yang dapat memabukkan. Dan segala sesuatu yang diarakkan serta memabukkan hukumnya najis.[9]

Selain kata alkohol sesuatu yang memabukkan itu ada yang cair sesuai dengan asalnya, seperti khamer dan nabidz, dan ada pula  yang padat. Seperti candu dan  ganja.[10]

Terlepas candu dan ganja dalam pembahasan kali ini agar tidak  melebar, penulis hanya memfokuskan masalah alkohol dalam campuran yang digunakan pada parfum.



[1] Ali Mutahar, Kamus Bahasa Arab,Surabaya; al-Hikmah, hlm, 805
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran, Jakarta; Lentera hati, 2002, hlm. 34
[3] Ahkamul  Fuqaha,  Solusi  Problematika  Aktual  Hukum  Islam,  Keputusan Muktamar,  Munas  dan  Konbes  Nahdlatul  Ulama  (1926-2004),  penerjemah  Teks  Arab, Prof. Dr.  H. M. Djamaluddin Miri, Lc, Ma. Pengantar, DR. KH. MA. Sahal Mahfudh
[4] Kam.  Kamus  besar  Bahasa  Indonesia/tim  penyusun  kamus  pusat  pembinaan dan pengembangan bahasa-ed. 2.- cet. , Jakarta: Balai Pusaka, 1994, hlm, 27
[5] M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya; Arkola, 1994, hlm. 22
[6] Kam.  Kamus  besar  Bahasa  Indonesia/tim  penyusun  kamus  pusat  pembinaan dan pengembangan bahasa, op. cit.., hlm. 730
[7] KH  Ali  Mustapa  Yaqub,  Kriteria  Hala  Haram  Untuk  Pangan,  Obat,  dan Kosmetika Menurut al-Quran dan Hadits, Jakarta; PT. Pustaka Firdaus, hlm 121
[8] M. Dahlan Al Barry, op. cit,,. hlm. 570
[9] Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Bandung; CV. Diponegoro, hlm 36
[10] Muhammad  Jawad  Mughniyah,  Fiqih Ja’fari,  ditejemahkan  oleh  Samsuri Rifai, dkk, Jakarta: Lentera, 1996,  hlm. 25

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter