Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

EKSISTENSI FILSAFAT JAWA


Banyak kalangan yang meragukan eksistensi filsafat jawa dengan pernyataan bahwa: “Indonesia tidak mempunyai filsfat asli” atau  van autochtone philosophie hier te lande is geen sproke. Akhirnya, pernyataan tersebut mendapat tanggapan serius  dari tokoh budaya jawa, Zoetmulder dalam majalah Djawa yang berjudul  geen eigen wjisbegeerte  (tidak ada filsafat sendiri). Berdasarkan fakta-fakta yang nyata, dapat diyakini bahwa pendapat yang mengingkari adanya pemikiran filsafat asli itu tidak benar.[1]

Dipertegas dengan adanya hasil penelitian yang dilakukan sarjana barat yang mengakui keberadaan filsafat jawa yang berdiri sendiri. Di antaranya adalah:

a. Robert Jay, seorang ahli yang telah menyelidiki secara mendalam tentang agama asli, di sana dikatakan bahwa pemikiran jawa tradisional merangkum suatu sistem filsafat lengkap dan pengindahan hidup yang berdiri sendiri.

b. Y.M. Lee Khoen Choy dalam bukunya yang berjudul “Indonesia Between Mith and Reality” (1976), mengakui bahwa cerita wayang merupakan simbolisme dari filsafat jawa.

Simbol-simbol tersebut dapat dilihat dalam mengartikan filosofi pewayangan,  layar yang diterangi adalah dunia yang nyata dan wayang-wayang nya menggambarkan bermacam-macam ciptaan Tuhan. Gedebog pisang yang dipergunakan untuk menyangga wayang dengan menancapkan cempurik wayang ke dalamnya menggambarkan permukaan dunia. Blencong  lampu yang dipasang di atas dalang adalah sinar kehidupan, gamelan adalah lambang keserasian (harmoni) kegiatan duniawi.[2]

c. Soetoko Djojosoebroto berpendapat bahwa filsafat jawa dapat dikelompokkan dalam jajaran filsafat mistik. Tujuan filsafat mistik adalah peleburan diri dalam kodrat-iradat Tuhan sebagai yang tampak mengejawantah dalam hukum evolusi yang berlaku dalam alam semesta.

Istilah yang cukup populer dikalangan orang jawa yaitu manunggaling kawula gusti, atau curiga manjing warangka. Istilah manungaling di sini hendaknya diberi arti kiasan; tidak menggambarkan bersatunya dzat Tuhan dengan dzat manusia, melainkan jumbuh-nya (samanya) karsa Tuhan dengan tujuan hidup orang jawa.[3]

Manusia yang oleh filsafat Jawa dianggap berhasil dalam hidupnya ialah yang sanggup mencapai sukses dalam hidup teori dan praktek, sehingga tampak dengan nyata sikap arif dan bijaksana, dalam melaksanakan tugas masyarakatnya sebagai satria-pinandita, yang mempunyai tugas untuk berjuang secara ksatria, memberantas segala rintangan yang menghalangi tercapainya kesejahteraan semesta atau dengan istilah “memayu rahayuning sarira, memayu rahayuning praja” dan “memayu rahayuning bawono”.[4]

Romo Zoetmulder mengemukakan tentang filsafat jawa bahwa pengetahuan atau filsafat itu sendiri merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan, sehingga dapat dirumuskan bahwa filsafat jawa adalah cinta kesempurnaan (the love of perfection) dengan memakai analogi philosophia Yunani, yang dalam translitrasi jawa menjadi ngudi kasampurna (berusaha mencari kesempurnaan).[5]

Membedakan filsafat barat dengan filsafat jawa yang lebih menekankan pada unsur rasa. Perbedaan ini dapat dijumpai dalam ungkapan: “wong jawa iku nggone rasa”, karena orang akan dianggap kasar bila ia tidak tahu rasa. Rasa menjadi satu dengan jawa. Bukankah Descartes menggunakan istilah  “cogito ergo sum”, de Brian menyatakan  “volo ergo sum”, sehingga rasa menjadi istilah yang sangat luas maknanya, mulai dari penginderaan sampai hidup itu sendiri.[6]

Rasa dipahami sebagai substansi atau dzat yang mengaliri alam sekitar  berupa suasana pertemuan antara  jagad gedhe (makro kosmos) dan jaghad cilik (mikro kosmos), bahkan terkadang muncul sebagai daya hidup. Rasa terbagi dalam hirarki sebagai berikut:

a. Rasa pangrasa, yaitu rasa badan wadagh, seperti yang dihayati seseorang melalui inderanya dan hadir dalam kebadanan seseorang.

b.  Rasa rumangsa, yakni rasa eling, rasa cipta, rasa grahito, seperti ketika seseorang menyatakan bahwa kramadangsa telah “ngrumangsani kaluputane” atau “rumangsa amung titah kramadangsa amung caos syukur”.

c. Rasa sejati, yakni rasa yang masih mengenal rasa yang merasakan dan rasa yang dirasakan, sudah manunggal, tetapi masih dapat di sebut seperti rasa damai, bebas dan abadi.

d. Sejatining rasa, yaitu rasa yang berarti hidup itu sendiri yang abadi.[7]




[1] Abdullah Ciptoprawiro, Filsafat Jawa, Balai Pustaka, Jakarta, 1986, hlm. 10
[2] Budiono Herusatoto, Simbolisme Dalam Budaya Jawa,  cet. ke-3., Hanindita, Yogyakarta, 1997, hlm. 72
[3] Soetoko Djojosoebroto,  Theorema Filsafat Kepercayaan Tentang Tuhan Yang Esa Dasar Filsafat Kejawen, Pancasila, Semarang, 1984, hlm. 67
[4] Ibid., hlm. 67
[5] Abdulah  Ciptoprawiro, op.cit., hlm. 14
[6] Darmanto Jatman, Psikologi Jawa, Bentang Budaya, Yogyakarta, 1997, hlm. 25-26
[7] ibid., hlm. 27

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter