Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

KONDISI FISIK DAN PSIKIS IBU HAMIL


Kehamilan dapat terjadi bila hubungan seksual membuahkan pertemuan benih laki-laki dan perempuan. Pada saat kelamin laki-laki ada dalam vagina dan terjadi ejakulasi, dalam waktu yang singkat (kurang lebih 5 menit), ratusan juta benih laki-laki masuk ke dalam rongga rahim.

Jika pada saat tersebut wanita sedang dalam masa subur, sel-sel telur yang dilepaskan mungkin bertemu dengan sperma laki-laki dan dapat menghasilkan pembuahan yaitu terbentuknya sel janin (Zygote). Sel janin itu kemudian menjadi janin (calon bayi). Proses perkembangan janin berjalan selama 9 bulan.

Kehamilan bisa dibagi menjadi tiga tahap, dan setiap tahap berlangsung kira-kira selama tiga bulan. Tahap-tahap atau stadium ini diberi istilah trimester. Setiap trimester cenderung mempunyai perasaan/cita rasa tersendiri. Walaupun satu tahap perlahan-lahan melebur ke tahap berikutnya. Selama tiap trimester calon ibu mendapati bahwa mereka mempunyai rangkaian prioritas baru, di samping rangkaian persoalan dan keresahan yang baru pula.[1]

Kehamilan pertama merupakan masa perubahan yang cepat seorang ibu harus mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan gagasan kehamilan dan mungkin tidak selalu merasa sehat sekali. Masa ini adalah bulan-bulan ketika ibu sering merasa cepat lelah dan pusing-pusing serta perut mual-mual.

Juga tidak jarang perasaan was-was yang kemungkinan mengalami keguguran yang merupakan kekhawatiran umum pada tahap kehamilan. Sejak saat menempel pada dinding rahim menyusullah peristiwa-peristiwa yang menakjubkan, yang merupakan proses kehamilan. Semua diatur dengan cermat dan menurut waktu yang tepat. Di situlah keajaiban dari kehidupan dan tampak betapa besar kekuasaan Tuhan, Maha Pencipta dan Maha Pengatur.

1. Kondisi Fisik Ibu Hamil

Sementara kehamilan terus berkembang, tubuh melakukan banyak penyesuaian untuk membentuk bayi tumbuh. Beberapa diantaranya penyesuaian diri terjadi tanpa mengubah perasaan maupun rupa. Adapun perubahan tubuh yang terjadi pada masa kehamilan, sebagai bagian dari kehamilan yang normal adalah:

a. Rasa nyeri perut

Rasa sakit disebabkan pada  ligaments  lingkar/otot yang menahan rahim supaya tetap tegak, ketika rahim tumbuh semakin besar, ligaments lingkar semakin terenggang, semakin rawan terhadap tegangan. Untuk mengatasinya paling baik adalah dengan latihan jasmani.

b. Sakit punggung

Beberapa perubahan tubuh dalam kehamilan bisa mengakibatkan rasa pegal-pegal pada punggung. Sementara berkembang semakin besar, rahim berangsur-angsur mengubah pusat gravitasi tubuh dan merenggang otot perut. Semua perubahan ini menyebabkan punggung mudah tertarik atau terenggang, karena banyak melakukan angkat-mengangkat. Untuk mengatasinya lakukanlah latihan jasmani secara teratur dan tidur di kasur yang kasar.

c. Kesulitan bernafas

Bernafas pendek-pendek merupakan hal biasa dalam masa akhir kehamilan karena rahim yang tumbuh menjadi besar menyita banyak ruangan sehingga membatasi gerakan. Untuk mengatasinya berdiri dan duduk dengan sikap tegak.[2]

d. Sakit kepala

Sakit kepala disebabkan oleh meningkatnya aliran darah serta pembengkakan hidung, juga bisa meningkat menjadi penyumbat hidung. Ada juga disebabkan kelelahan, ketegangan, beban terlalu berat bagi mata. Untuk mengatasinya istirahat yang banyak dan rileks.

e. Mual dan muntah-muntah

Kira-kira separuh dari wanita yang mengandung mengalami mual dan muntah-muntah, dengan tingkat yang berbeda-beda. Biasanya cukup ringan dan terjadi terutama di pagi hari, kadang-kadang juga cukup parah dan dapat berlangsung sepanjang hari.[3]

2. Kondisi psikis ibu hamil 

Bagi seorang wanita, kehamilan dan kelahiran akan memberikan arti emosional yang cukup berarti bagi dirinya. Apabila disertai dengan tekanan-tekanan perasaan yang kuat maka wanita akan menjadi sangat perasa (emosional) sehingga mengakibatkan mudah terganggunya keseimbangan kejiwaan (mentalnya), karena semakin membesarnya janin dalam kandungan dapat mengakibatkan ibu yang bersangkutan mudah capek, tidak nyaman badan, tidak bisa tidur enak, sering mendapatkan kesulitan bernafas dan merasakan beban jasmani lainnya. Kemudian timbullah rasa-rasa tegang, ketakutan kecemasan, konflik-konflik batin dan gangguan psikis lainnya.[4]

Maka kondisi psikis ibu semasa hamil akan muncul proses bermacam-macam antara lain ; 

a. Timbul keinginan yang aneh-aneh serta irasional, yang disebut peristiwa “mengidam”. Peristiwa ini disertai emosi-emosi yang kuat oleh sebab itu wanita yang bersangkutan menjadi sangat perasa. 

b. Muncul perasaan cemas-cemas harap tegang, lebih-lebih jiwa dibumbui dengan cerita takhayul atau tanda-tanda yang telah diberikan sebelumnya dibesar-besarkan, takut cacat anaknya, takut keguguran dan lain-lainnya.[5]

Kecemasan dan kebingungan dalam kelahiran bayi itu muncul adanya resiko kehamilan yang berat, karena dipertaruhkan jiwa dan raga untuk berjuang melawan perasaan yang macam-macam tersebut sehingga kondisi badannya mudah lelah fisik dan mental. 

c. Merasakan kebahagiaan dan kepuasan, karena ia merasa dirinya subur, ia calon ibu sejati, maka ada keinginan menyambut bayinya dengan gairah.

Kebahagiaan dan kepuasan pada keadaan dirinya maka kehamilan akan sebagai rahmat dan kandungannya bisa memperyakin ke-wanitaan-nya dengan anak yang bisa mengekspresikan “kelengkapan” sebagai seorang wanita sejati janin pun akan tumbuh subur dan sehat. 

Maka semakin mampu seorang menerima hakikat diri sendiri sebagai suami atau istri (laki-laki/wanita) dengan segala konsekuensi dan tanggung jawabnya, maka akan sangat tegar menyambut kehamilan dan bayinya. Meskipun kehamilan itu sendiri banyak dibebani kecemasan dan kesusahan.[6]

Sejak kelahirannya, bayi tidak sepenuhnya bergantung pada rahmat dan kondisi lingkungannya saja. Akan tetapi ia ikut menentukan kondisi lingkungannya, dalam pengertian, ikut mempengaruhi situasi lingkungan dan sikap orang-orang yang ada di sekitarnya.

Sungguhpun dia itu lemah dan tidak berdaya, namun dalam ketidakberdayaannya itu terhimpun pula kekuatan-kekuatan tertentu, ketidakberdayaannya justru “memaksa” orang lain untuk melayani dirinya guna membantu pertumbuhan dan kelestariannya. Kelemahan bayi justru mengandung minat, perhatian orang tua. 

Sebagaimana keberhasilan dan kegagalan dapat dicapai melalui penggunaan kekuatan dengan tepat, demikian pula dengan kekuatan psikis, seseorang bisa mencapai keberhasilan besar atau kegagalan besar, kesemuanya ada pada kekuatan psikis. Dengan kekuatan psikis seseorang dapat menyembuhkan orang lain, juga dapat membangun urusan sebagaimana urusan orang lain.[7]

Kekuatan psikis dapat disebut sebagai kekuatan pikiran, dalam kenyataannya adalah perasaan-perasaan adalah ruh dari pikiran, sebagaimana ucapan adalah ruh tindakan, oleh sebab itu, konsentrasi adalah hal penting bagi pengembangan psikis.[8]




[1] Philip D. Slone, Sali, Benedict,  Petunjuk Lengkap Kehamilan, Mitra Utama, Jakarta, 1997, hlm. 40
[2] Philip D. Slobe. Salli Benedid, op. cit., hlm. 168-176
[3] Derek Lewellyn, Jones, Setiap Wanita, Pustaka Dela Prasta, Jakarta, 1997, hlm. 197
[4] Kartini Kartono, Psikologi Wanita, Alumni, Bandung, 1986, hlm. 182
[5] Abu Ahmadi Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, Rineka Cipta, Jakarta, 1991, hlm. 45
[6] Kartini Kartono,  Psikologi Anak ; Psikologi Perkembangan, Mandar Maju, Bandung, 1995, hlm. 64
[7] Hazrat Inayat Khan, Dimensi Spiritual Psikologi, terj. Andi Haryadi, Pustaka Hidayah, Bandung, 2000, hlm. 163
[8] Ibid., hlm. 168

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter