Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MASALAH SEPUTAR KESEHATAN ALAT-ALAT REPRODUKSI


Berfungsinya organ-organ reproduksi remaja melahirkan kebutuhan dan jenis risiko akan kesehatan reproduksi[1] yang dihadapi remaja. Sehingga timbul berbagai masalah berkaitan dengan kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja.

Adapun masalah yang berkaitan dengan kesehatan alat-alat reproduksi antara lain:

1. Merawat Kelamin

Kelamin yang sehat adalah kelamin yang dingin. Perhatikan ventilasi kelamin. Dengan menggunakan pakaian ketat dari bahan yang tidak tembus udara seperti stretch, nilon, atau jeans ketat akan menyebabkan panas dan banyak kuman, serta jamur senang tumbuh di sana. Rasa panas juga pertanda dari suatu infeksi. Biasakan bila sedang santai di rumah mengenakan rok, pakaian yang longgar atau sarung tanpa celana dalam.[2]

Oleh karena itu Usahakan tidak menggunakan celana ketat agar permukaan alat kelamin tidak mudah berkeringat sehingga mudah lembab dan kena jamur. Bagi laki-laki, celana ketat bisa mengakibatkan suhu di daerah skrotum atau zakar/pelir menjadi lebih panas sehingga bisa mempengaruhi kesuburan laki-laki. 

Pembersihan alat daerah kelamin perlu dilakukan secara teratur setiap hari. Namun karena kepekaan kulit di daerah ini pembersihan perlu dilakukan dengan hati-hati agar tidak ter-iritasi atau terluka. Gunakan hanya dengan air tawar.[3]  

Bubuk pembersih dan sabun meskipun sangat lembut dapat mengakibatkan iritasi. Yang perlu dibasuh hanya bagian yang di luar vulva karena dinding vagina akan dibersihkan sendiri oleh cairan vagina yang melindunginya dari infeksi. Semprotan dan pewangi vagina tidak berguna bagi nkebersihan dan kesehatan vagina. Tindakan tersebut malah dapat mengekibatkan iritasi serta dapat mengacaukan keseimbangan kimiawi dan biologis dalam vagina.[4] 

Vagina mempunyai sistem perlindungan alam yang ampuh, yaitu keasaman yang lebih tinggi dari jaringan lainnya dan adanya mikroba pelindung yang menguntungkan tubuh kita, yaitu Doderleins, yang hidup menjaga keseimbangan ekosistem vagina, sehingga tetap dalam keadaan seimbang. Tapi tentu saja, keseimbangan ini dapat terganggu oleh beberapa hal antara lain menstruasi, dan pemakaian obat-obat hormonal.[5]

Biasakan membasuh vagina dengan cara yang baik dan benar yaitu dengan gerakan dari depan ke belakang, bukan sebaliknya. Cucilah dengan air bersih setiap kali Anda  buang air kecil dan pada saat mandi. Begitu pula penggantian sanitary napkins (pembalut wanita) pada waktunya selama masa menstruasi akan banyak menolong agar terjaga kebersihan alat kelamin.[6]

Agar daerah alat kelamin tidak menjadi sarang kutu atau tumbuhnya jamur yang menyebabkan gatal-gatal, ada baiknya rambut yang tumbuh di alat kelamin dibersihkan atau dicukur secara rutin. 

Bagi perempuan sebaiknya sehabis buang air besar dan kecil, cara membersihkannya (cebok) menggunakan tangan dengan disiram air dari belakang pantat, dengan gerakan tangan dari depan ke belakang. Ini mencegah masuknya kuman-kuman dari dubur ke vagina. Selesai cebok, keringkan alat kelamin dengan tisu yang tidak beraroma dan tidak mudah sobek, atau memakai handuk lembut. 

Karena alat kelamin cewek merupakan daerah yang sangat sensitif dan lembab, sebaiknya tidak asal mencuci alat kelamin dengan obat/cairan lain, seperti air sirih, obat pencuci vagina, maupun air yang terlalu hangat. Soalnya, itu dapat membunuh "kuman baik" yang berfungsi menjaga kesehatan vagina. Selain itu, akan berakibat jamur dan kuman jahat merajalela dan menyebabkan keputihan. 

Menggunakan deodoran atau sabun antiseptik dan parfum untuk maksud menghilangkan bau di wilayah alat kelamin perempuan juga berbahaya dan bisa menyebabkan infeksi.

Selain itu, perempuan juga penting memerhatikan kebersihan dan kesehatan sewaktu menstruasi. Pembuluh darah di dalam rahim pada saat cewek menstruasi sangat sensitif kena infeksi. Sementara itu, pada kondisi menstruasi, kuman-kuman mudah masuk dan dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada saluran reproduksi. Tentu ini membahayakan.

Karena itu, kalau lagi menstruasi dianjurkan untuk mengganti pembalut secara teratur, yaitu 4-5 kali sehari, atau setelah buang air kecil maupun mandi. Ini untuk menghindari pertumbuhan bakteri. Seperti halnya celana dalam, pilihlah pembalut dengan bahan yang lembut agar dapat menyerap dan tidak mengandung bahan wangi-wangian, dan dapat merekat dengan baik pada pakaian dalam.

Selanjutnya bagi laki-laki yang belum atau tidak sunat/khitan, cara membersihkan alat kelaminnya harus lebih teliti karena ujung penis masih terselubungi oleh kulit. Hal ini dilakukan agar bakteri tidak tertinggal, yang kemudian dapat berkembang dan menyebabkan terjadinya infeksi.

Bagi cowok yang disunat/khitan (dipotong kulit yang menyelubungi ujung penis), ujung penisnya dalam keadaan terbuka, maka cara membersihkan alat kelaminnya dari kotoran dan smegma (cairan dan kelenjar sekitar alat kelamin dan sisa air seni) lebih mudah. Habis mencuci alat kelamin dengan air bersih, lalu keringkan dengan tisu atau handuk lembut sebelum memakai celana dalam agar tidak gatal-gatal atau tumbuh jamur.

Dengan demikian sebaiknya laki-laki berkhitan. Manfaat khitan adalah untuk menjaga kebersihan alat kelamin dari kotoran semisal smegma. Biasanya smegma berada di leher penis yang belum dikhitan. 

Smegma adalah campuran zat yang dihasilkan oleh kelenjar Tyson, yang ada dijaringan leher penis, kelenjar keringat,  jaringan kulit yang mengelupas dan kadang debu atau kotoran dari luar tubuh. Pada Smegma inilah ada sejenis virus yang gemar dan mudah berkembang biak yang brnama human pilloma virus.

Celakanya HPV ini mempunyai sifat carcinogen, yaitu mampu mengubah sel yang ganas atau kanker. Maka pria yang tidak bisa membersihakan pnisnya dari smegma ini mudah terjangkiti hpv sehingga risiko terjadinya kanker penis juga meningkat.

Bila pria yang tidak bisa membersihkan penisnya dari smegma ini melakukan kontak seksual maka wanita pasangannya akan tertular puila dengan HPV. Dan 98 % akan mengalami kanker rahim. Dari pemahamn ini kita tahu betapa pentingnya membersihkan penis dari smegma ini. Itu sebabnya sunat atau  circumcisi perlu dilakukan agar proses pembersihan itu mudah dilakukan dan tidak terhalang oleh topi atau preputium.[7]

2.  Menghindari Masturbasi atau Onani 

Masturbasi atau onani adalah pemuasan kebutuhan seksual dengan merangsang organ-organ sensitif (terutama alat kelamin) sendiri dengan atangan atau alat bantu lainnya. Masturbasi bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.

Pada laki-laki masturbasi dilakukan dengan menggesek-gesekkan penis denhgan tangan atau benda lain hingga mengeluarkan sperma. Pada perempuan masturbasi dapat dilakukan dengan cara memasukkan tangan atau benda lain ke dalam vagina atau sekedar mengempit dua paha dan menggesek-gesekannya hingga anggota kelamin tergesek-gesekkan pula dan menimbulkan orgasme.[8]   

Secara medis masturbasi tidak menimbulkan gangguan jika tidak dilakukan secara berlebihan (pada pria). Pada wanitapun masturbasi tidak berbahaya jika dilakukan dengan mengempit kedua paha dan menggesek-gesekannya. Namun masturbasi akan merusak selaput dara jika mamasukkan jari atau benda lain dalam vagina.[9] 

Meskipun demikian, ada dampak dari melakukan masturbasi/onani antara lain:[10] 

a. Infeksi terutama jika menggunakan alat-alat yang membahayakan seperti benda tajam, benda lain yang tidak steril dan sextoy, alat bantu seksual lainnya. 

b. Energi fisik dan psikis terkuras, biasanya menjadi mudah lelah, sulit konsentrasi, dan malas melakukan aktivitas lain.

c. Dapat merobek selaput dara (karena letak selaput dara hanya sekitar 1-1,5 cm dari permukaan vagina). 
 
d. Pikiran terus-menerus ke arah fantasi seksual.

e. Perasaan bersalah dan berdosa.

f. Bisa lecet jika dilakukan dalam frekuensi tinggi. 

g. Kemungkinan mengalami ejakulasi dini pada saat nantinya berhubungan intim. 

h. Kurang bisa memuaskan pasangan jika sudah menikah (karena terbiasa memuaskan diri sendiri atau merangsang diri sendiri.  

3. Oral Seks dan Anal Seks

Seks oral tidak tepat jika dikatakan sebagai seks yang aman. Memang dalam the journal of the American Dental , Vol 118/June 1989 dilaporkan bahwa didalam  saliva (cairan ludah) terdapat zat yang bisa menghambat virus HIV. Namun mengingat aktifitas seks oral sering kali menimbulkan microlesi (luka kecil yang tak tampak di mata) maka aktifitas ini masih dikelompokkan dalam the high-risk behavior. Dengan pemahaman ini kita bisa mengerti bahwa seks oral maupun kondom bukanlah tindakan seks yang aman.[11] 

Hasil penelitian Dr. Dennis Osmond, University of California, San Fransisco, yang dilansir di The Journal of The American Medical Association edisi 9 Januari 2002, menyatakan seks oral ditengarai merupakan jalur penularan utama penyakit  Kaposi’s  Sarcoma,  yaitu sejenis kanker kulit yang amat ganas yang sering kali terdapat pada pasien yang mengidap penyakit HIV/AIDS. Adapun penyebabnya adalah sejenis virus yang diberi nama Kaposi’s Sarcoma associated Herpes Virus (KSHV), yaitu virus yang gemar tinggal di saliva (air liur).[12]

Sedangkan anal seks sangat terkait dengan homoseksual. Pada tahun 1973 homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai penyimpangan seksual oleh The American Psychiatric association dan tidak lagi dicantumkan lagi dalam the diagnostic and statistical manual of mental disorder, namun banyak ahli yang menyesalkan hal itu dan menganggapnya sebagai sebagai kesimpulkan yang tergesa-gesa.[13] 

Ada empat kendala yang akan ditanggung oleh homoseks (1) kendala anatomi dalam melakukan kontak seksual. Karena penis dirancang untuk vagina maka untyk melaukan kontak seksual homoseks memunculkan bentuk aktifitas seks yang tidak lazim, seperti analseks dengan segala risikonya. (2) kendala reproduksi. (3) psikologis (4) sosial.[14]

Adapun risiko yang ditimbulkan oleh homoseksual[15] adalah timbulnya perilaku seks yang tidak lazim seperti oral seks dan anal seks. Perilaku ini disebabkan oleh kendala anatomis ketika berhubungan seksual. Penelitian Saghir dan Robin menyatakan bahwa 93 % orang yang homo melakukan anal seks. 

Sedangkan anal seks memliki kelebihan dalam menimbulkan bahaya sebagai berikut: 

a. Anus tidak menghasilkan cairan pelicin seperti vagina saat terangsang sampai penis memasuki anus. Karena itu orang yang disodomi akan merasa sakit. Jika hal ini terjadi berulang-ulang maka otot-otot yang mengatur buang besar akan hancur dan kehilangan daya elastisitasnya. Akbatnya orang sulit mengendalikan buang air besar. 

b. Jika kerusakan mencapai bagian atas (rektum) bisa terjadi pendarahan besar. Akibatnya pelaku sodomi akan terancam infeksi yang akan menjalar ke usus besar dan organ tubuh lainnya.[16] 

c. selain itu, bersetubuh lewat dubur (analseks) terbukti berbahaya karena anus merupakan tempat berkumpulnya bakteri. Bila ada sedikit saja luka pada penis dikhawatirkan akan terjadi infeksi.[17]

4. Aborsi

Kebanyakan aborsi dilakukan bila terjadi kehamilan yang tidak dikehendaki dikalangan remaja, baik secara legal maupun ilegal. Majalah editor edisi 29 Agustus 1992 (rubrik investigasi) melaporkan bahwa setiap tahun terjadi pengguguran kandungan sekitar 5.000 di Jakarta.[18] 

Sementara penelitian J.B Tjitarasa menunjukkan bahwa aborsi sudah tak asing lagi di kalangan remaja. Dimana setiap hari ada 3 orang lebih di antaranya remaja umur 15-25 melakukan aborsi. Selain itu, harian kompas 28 Januari 1991 melaporkan akibat buruk aborsi adalah sekitar 7-10% kematian perempuan akibat pengguguran kandungan.[19] Menurut Tanthowi pada tahun 1999 terjadi kasus aborsi sebanyak 2,3 juta. Di mana 70% dilakukan oleh pasangan pra-nikah dan 30% adalah remaja.[20]   

Menurut Dr. Andri Wijaya, aborsi membawa berbagai risiko sebagai berikut: 

a. Risiko fisik, seperti pendaharahan, infeksi kandungan, kemandulan, bahkan dalam penelitian terkini aborsi terbukti memicu muenculnya brest cancer atau kanker payudara.

b. Risiko psikologis seperti berbagai gangguan mental pasca aborsi mulai dari mimpi buruk sampai timbulnya halusinasi yang berkaitan dengan aborsi.

c. Risiko sosial, seperti ditolak oleh keluaraga teman bahkan pacar sendiri. maka yang sering terjadi adalah rusaknya hubungan cinta.

d. Risiko hukum. Ada kemungkinan bisa dijerat dengan pasal tindak pidana aborsi. Sebab aborsi termasuk pembunuhan.

e. Risiko spritual, pertanggungjawaban dengan Sang Khalik.[21] 

Hasil penelitian Dr. Anne Catherine Speckard dari Minnesota University mengungkapkan, dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun setelah terjadinya tindakan aborsi, para wanita yang menjalaninya akan mengalami berbagai masalah kejiwaan. 81 % dilaporkan pikiranyya selalu dipenuhi dengan anak yang digugurkannya. 73% dilaporkan mengalami kilas balik pengalaman aborsi dalam pikirannya. 54 % dilaporkan selalu mengalami mimpi buruk berhubungan dengan aborsi yang dijalaninya, 23 % mengalami halusinasi yang berhubungan dengan aborsi.[22]

Selain itu, aborsi merupakan pembunuh ranking keempat dihampir semua negara berkembang. Hal ini terjadi karena aborsi dilakukan secara ilegal, oleh dukun beranak dengan peralatan yang tidak steril, misalnya.[23] 

5.  Seks Bebas. 

Yang dimaksud dengan seks bebas adalah hubungan seks yang dilakuan di luar ikatan pernikahan. Bisa dalam bentuk premarital seksual intercourse, bila dilakukan oleh orang-orang yang belum terikat pernikahan, bisa pula dalam bentuk extramarital seksual intercourse, bila hubungan seks dilakukan oleh mereka yang yang sebenarnya telah memilki ikatan pernikahan, namun dengan tidak dengan pasangan legalnya.[24]

Seks bebas (unprotected sexuality) merupakan perilaku yang sedang menggejala seiring dengan perubahan nilai-nilai masyarakat. Hasil sebuah studi menyatakan bahwa lebih dari 500 juta remaja usia 10-14 tahun hidup di negara berkembang, dan rata-rata pernah melakukan hubungan suami-isteri (intercourse) pertama kali di bawah usia 15 tahun (Sedlock, 2000; US Bureau of The Cencus, 1998 ).[25] 

Selain itu, data survei demografi dan kesehatan Indonesia tahun 1997 menunjukkan bahwa pada kelompok perempuan usia 15-19 tahun, sebanyak 9 % pernah melahirkan bayi akibat hubungan seks pra-nikah dengan 100 orang per 1.000 perempuan.[26] Data tersebut menunjukkan bahwa angka kehamilan pada remaja cukup tinggi akibat pergaulan bebas. 



[1] Pengertian kesehatan reproduksi menurut rumusan Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo tahun 1994 adalah : “keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik mental dan sosial dan bukan semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya”. Jika pengertian tersebut diterjemahkan ke dalam kebijakan dan program, maka cakupannya tidak hanya menyangkut aspek biomedis tetapi juga aspek sosial budaya. Dari perspektif biomedis kesehatan reproduksi mencakup tiga unsur pokok (1) kemampuan bereproduksi (2) keberhasilan bereproduksi (kelahiran anak sehat) (3) keamanan bereproduksi (menyangkut semua aspek reproduksi seperti hubungan seksual, kehamilan, persalinan kontrasepsi dan aborsi). Sedangkan kesehatan reprduksi dilihat aspek sosial budaya menyangkut antara lain : sikap dan perilaku sehat, perilaku seksual, kepercayaan, status sosial, kelas sosial dan lainnya.
[2] Hanny Ronosulidtyo, dan Aam Amiruddin,  Seks bukan sekedar birahi : Panduan Lengkap Seputar Kesehatan Reproduksi :Tinjauan Islam dan Medis, (Bandung: Granada, 2004) Hal. 47
[3] Ibid. Hal. 48
[4] Ibid. hal. 48
[5] Astri Rozanah, Keputihan, Republika Online - http--www_republika_co_id.htm
[6] ibid
[7] Andik Wijaya,  55 Masalah Seksual yang ingin anda ketahui tapi “tabu” untuk ditanyakan, Jakarta: PT Gramedia, 2004 Hal. 115
[8] Hanny Ronosulidtyo, dan Aam Amiruddin,Op. Cit. hal. 22
[9] Ibid. hal. 23
[10] Andrik Wiyaja, Op.Cit.  hal. 38
[11] Ibid. hal. 18
[12] Ibid. hal. 22. Seks oral pada awalnya banyak dilkukan oleh pelaku seks sejenis, sebagaimana anal seks. Pelaku seks sejenis melakukan hal tersebut karena mereka mengalami kendala anatomi dalam berhubungan intim. Karena tidak mungkin melakukan kontak genital, maka oral seks menjadi pilihan bagi pelaku seks sejenis. Aktifitas seks oral dan anal inilah yang kemudian dikenal dengan istilah sodomi. Sodomi berasal dari kata sodom, Yaitu nama sebuah kota di jaman kuno, yang penduduknya pertama kali dicatat dalam sejarah peradaban manusia sebagai yang melakukan aktifitas hubungan seks sejenis, hal. 24-25.
[13] Ibid. hal. 194. Homoseksual adalah cara penyaluran kebutuhan seks terhadap sesama jenis. laki-laki dengan laki-laki (gay) atau pempuan dengan perempuan (disebut lesbien)
[14] Ibid. hal. 195
[15] Nena Surtiretna, Bimbingan Seks bagi Remaja, (Bandung: PT. Remaja Rosda  Karya, 2001), hal. 113-114
[16] ibid. Hal. 119
[17] Hanny Ronosulidtyo, dan Aam Amiruddin , Op. Cit. Hal. 25
[18] Chuzaimah Tahido Yanggo, Agama dan Aborsi, dalam Elga Sarapung (Ed.),  Agama dan Kesehatan Reproduksi,  (Jakarta: Pusataka Sinar Harapan-YKF dan The Ford Foundation, 1999) hal.161
[19] Ibid.,  hal.161
[20] Tanthowi Djauhari, Op.Cit. hal. 5
[21] Andrik Wijaya, Op.Cit, hal. 28
[22] Ibid.  Hal. 33. lihat pula Janet Shibley Hyde,  Half The Human Experience : The Psychology of Women, Third Edition, D.C Heath and Companym, 1985, hal. 266-268
[23] Hanny Ronosulidtyo, dan Aam Amiruddin , Op. Cit., hal. 170
[24] Andrik Wijaya, Op. Cit., hal. 41
[25] Siswandi Suarta, Pendidikan Seksual dan Reproduksi Berbasis Sekolah, www.bkkbn.go.id.
[26] Fizah Fauzan dan Betty A. Sirait , Op.Cit. hal 2

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter