Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

METAFISIKA FILSAFAT JAWA


Secara garis besar cakupan metafisika jawa berkubang dalam bahasan mencari sejating urip. Dalam hal ini Abdullah Ciptoprawiro menyatakan bahwa ungkapan tentang ada (Tuhan), alam dan manusia dianggap sebagai hasil dari pemikiran dan pengalaman atau penghayatan manusia Jawa.

Pernyataan tersebut berangkat dari asumsi tentang eksistensi manusia dan  alam sebagai wujud nyata yang dapat ditangkap panca indera, sehingga dapat digambarkan dalam pembagian tentang tiga entitas tersebut, yaitu:

1. Tuhan adalah Ada semesta atau Ada Mutlak.

2. Alam Semesta merupakan pengejawantahan Tuhan.

3. Alam Semesta dan manusia merupakan suatu kesatuan, yakni kesatuan makrokosmos dan mikrokosmos.[1]

Upaya pencarian hidup manusia di dunia ini senantiasa berakhir pada wikan, weruh atau mengerti  sangkan paran, karena Tuhan merupakan sangkan paraning dumadi dan manusia mengalami awal dan akhir dengan pengertian:

a. Awal berarti berasal dari Tuhan.

b. Akhir berarti kembali kepada Tuhan.[2]

Konsepsi metafisika jawa adalah terfokus bagaimana menyibak dari sesuatu yang ada sebagai sebuah realitas dan realitas tunggal tersebut adalah Tuhan, inilah tujuan dari metafisika jawa. Tujuan filsafat jawa dengan metafisika-nya berusaha mencari sangkan paran, karena awal berarti berasal dari Tuhan dan akhir berarti kembali kepada Tuhan. 

Pengejawantahan menuju Tuhan tersebut dikenallah dengan istilah manunggaling Subyek-Obyek, sehingga diperoleh pengetahuan mutlak atau kewicaksanaan, kaweruh sangkan paran dalam mencapai kesempurnaan.

Memperoleh hakikat tersebut ada jalan untuk sampai ke sana, yaitu dengan pengoptimalan cipta-rasa-karsa. Tahapan-tahapan dalam menempuh kesadaran adalah sebagai berikut:

1. Kesadaran panca inderawi atau Aku (Ego consciousness)

2. Kesadaran hening: manunggaling dalam cipta-rasa-karsa

3. Kesadaran pribadi (Ingsun, Suksma Sejati) manunggal Aku-Pribadi (self conciousness).

4. Kesadaran Ilahi; manunggaling Aku-Pribadi- Suksma Kawekas.

Dari keempat tingkat kesadaran tersebut, jalan untuk mencapai kesempurnaan adalah dengan mengolah kemampuan akan cipta-rasa-karsa dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dalam kata dan karya, ucapan dan perbuatan.[3]

Uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa untuk bisa sampai kepada Ada bukanlah diperoleh melalui penalaran rasio, melainkan melalui penglaman atau penghayatan batin (inner experience), karena pada dasarnya semua pengetahuan itu ada berasal dari  “experiential knowledge”.

Pengetahuan yang diperoleh dengan panca indera dan rasio lebih mudah dijadikan pengetahuan konseptual (conceptual knowledge) dan dinyatakan dengan kata (verbal), sebaliknya pengetahuan yang diperoleh melalui penghayatan batin, sering tidak dapat dinyatakan dengan kata dalam sistematis-logis, melainkan melalui perumpamaan, simbolisme atau bentuk syair.[4]

Unsur fundamental dalam kajian metafisika Jawa adalah tentang roh, raga dan alam kosmos.  Roh dan raga atau badan pada dasarnya adalah satu, sehingga muncul istilah loroning atunggal  (monodualisme) atau dualisme tunggal.

Serat Wedhatama membuktikan antara alam tetap dan tidak berubah dengan alam yang selalu berubah. Alam yang tetap dan tidak berubah disebut dengan alam suwung. Ini adalah tempat asal dan sekaligus tempat kembali manusia yang dapat memperoleh karunia Tuhan.

Alam Suwung juga disebut dengan kinoat yang dapat memuat waktu langgeng atau abadi. Alam ini juga merupakan tempat bersemayamnya Tuhan sendiri. Kekuatan alam suwung inilah yang menguasai dunia fisik secara keleluruhan (ta hyper ta phisika).[5]

Pemahaman inilah yang pada akhirnya muncul konsep manunggaling kawula gusti, karena antara roh dan raga adalah bersumber dari satu, yaitu Tuhan sebagai kekuatan metafisika yang mengatur dunia fisik.

Eksistensi dalam kosmos alam raya dipandang sebagai sesuatu yang teratur, dan tersusun secara hirarkis. Tugas moral segala sesuatu yang ada adalah menjaga keselarasan dengan tata tertib yang universal. Orang-orang yang mentaati tata tertib universal, akan hidup selaras dengan Sang Hidup (Allah) dan menjalankan hidup yang benar. Kehidupan manusia hendaklah dalam keadaan seimbang-tenang dengan jagad  raya; tidak bertentangan dengan kodrat alam, dan tidak terlalu mengejar materi kebendaan.

Pendekatan hidup dan kenyataan sesuatu terhadap Sang Maha Kuasa, jika manusai sadar akan dirinya, maka dengan cara tertentu telah bersangkut paut dengan dunia manusiawi. Kesadaran akan kehadiran diri berarti juga kesadaran dunia di mana manusia itu sendiri mendapatkan diri sendiri secara kritis, sehingga ia mengakui berdiri dalam diri sendiri, tidak tergantung dari obyek lain melainkan sebagai substansi.

Refleksi itu sekaligus sebagai kesadaran dan kehadiran manusia pada dunia serta manusia lain, di mana manusia tidak pernah secara menyeluruh dapat memisahkan diri. Kesadaran inilah yang menuntun manusia untuk berjalan dalam keteraturan kosmos di mana manusia melibatkan diri dan hadir di dalamnya.[6]

Masyarakat dan alam merupakan lingkup kehidupan orang jawa sejak kecil. Masyarakat baginya pertama-tama terwujud dalam keluarganya sendiri, termasuk sebagai anak dan sebagai adik atau kakak, kemudian ada para tetangga, keluarga yang lebih jauh dan akhirnya seluruh desa. Dalam lingkungan manusia akan selalu berusaha untuk mencari identitas dan keamanan  psikisnya.[7]

Melalui masyarakat manusia dapat membentuk hubungan sosial sekaligus membina kerukunan, dengan tujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan harmonis. Artinya berada dalam keadaan selaras, tenang dan tentram, tanpa perselisihan dan pertentangan, bersatu dalam maksud untuk saling membantu. Prinsip kerukunan pertama-tama tidak menyangkut suatu sikap batin atau keadaan jiwa,melainkan penjagaan keselarasan dalam pergaulan.[8]

Manusia harus jadi “Manungso sejati, sejatine manungso”, di sini nurani jadi titik dan sumber tuntunan hidup. Olah pikir sebagai alat untuk melaksanakan tuntunan Illahi tersebut. Manusia harus terus digembleng untuk jadi manusia yang benar. Menyelaraskan batin, pikiran, ucapan serta tindak dan sikap. Dengan begitu manusia bakal jadi manusia menurut kodrat Illahi.

Sukma sejati jadi percikan Illahi, sebagai utusan Sang Pencipta (Hanacaraka). Menyelaraskan batin, pikiran, ucapan dan tindakan merupakan upaya yang harus dilakukan manusia untuk bisa masuk kedalam golongan makrifat. Manusia tersebut bisa berdiri di dalam posisi  “Jumbuhing kawulo gusti”. Dengan demikian berarti manusia itu bisa jadi pemimpin (gusti=bagusing ati).

Laku topobroto, manusia kembali ke asalnya. Dalam budaya Jawa disebut “Sangkan Paraning Dumadi”. Hakikat hidup manusia sama dengan ciptaan lainnya, selaras dengan hukum ekosistem. Manusia bisa mendudukkan batin, pikiran, ucapan dan tindakannya dengan pas, tidak lain adalah tuntunan yang berasal dari Sang Pencipta lewat batin dan nurani. Suara batin ini disebut ‘Suara Sejati’.

Melaksanakan sesanti dengan benar orang Jawa punya pegangan yang disebut ‘sumeleh’. Sumeleh atau sumarah atau pasrah kepada Tuhan pencipta alam seisinya atau yang menjadi awal dari sejarah. Bekas atau petilasan di tanah Jawa menunjukkan bahwa Orang Jawa itu pada ‘sumeleh marang Gusti’. Ini bukan berarti ‘pasrah yang tidak berkarya’. Tetapi di dalam hidupnya manusia Jawa tak begitu ‘ngangsa’. Tidak mengikuti ‘hawa nepsu’.[9]

 Metafisika Jawa yang menitik-beratkan kekuatan manunggaling kawula Gusti dengan mengembangkan kekuatan rasa. Kesatuan masyarakat dan alam adikodrati dilaksanakan dalam sikap hormat terhadap nenek moyang. Orang mengunjungi makam untuk memohon berkah, untuk minta kejelasan sebelum suatu keputusan yang sulit, untuk memohonkan kenaikan pangkat, uang, agar hutang bias dibayar kembali. Setiap tahun dalam bulan ruwah, makam orang tua dibersihkan secara meriah. Kebanyakan desa memilki punden di mana pendiri desa (cikal bakal) dihormati.[10]

Sifat gaib alam menyatakan diri melalui kekuatan-kekuatan yang tak kelihatan dan dipersonifikasikan sebagai roh-roh. Semua kekuatan alam dikembalikan kepada roh-roh dan kekuatan halus. Roh pelindung desa sering disebut sebagai cikal bakal atau dhanyang. Ada yang mengangetkan manusia (memedi); ada lelembut yang masuk ke dalam manusia dan dapat membuat dia menjadi gila; di pohon-pohon, pada persimpangan jalan, di dekat sumur dan di banyak tempat lain terdapat demit; ada tuyul yang mencuri demi majikannya dan banyak makhluk halus lainnya. Ada sakit dan kecelakaan dianggap disebabkan oleh roh-roh itu, begitu pula sukses dan kebahagiaan.

Akhirnya masyarakat jawa mempercayai bahwa roh mempunyai peranan penting dalam menentukan kelangsungan hidup manusia. Masyarakat Jawa dengan segala upaya tetap menjalin hubungan yang baik dan menghormati roh-roh yang ada.





[1] Abdullah Ciptoprawiro, Filsafat Jawa, Balai Pustaka, Jakarta, 1986, hlm. 22
[2] Ibid., hlm. 23
[3] Abdullah Ciptoprawiro, op.cit., hlm. hlm. 24-25
[4] Ibid., hlm. 38
[5] Parmono, Menggali Unsur-Unsur Flsafat Indonesia, Andi Offset, Yogyakarta, 1985, hlm. 95
[6] Sunoto, Pemikiran tentang Kefilsafatan Indonesia, Andi Offset, Yogyakarta, 1983, hlm. 81
[7] Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993, hlm 85
[8] Ibid.,  hlm. 39-40
[9] Damardjati Supadjar,  “Ajining Dhiri” Wulang Wuruk - Rabu, 18 September 2002 damardjati s.htm
[10] Franz Magnis-Suseno, op. cit., hlm. 87

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter