Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

PENYALAHGUNAAN ALAT-ALAT REPRODUKSI


1. Perzinaan

Aspek pendidikan kesehatan alat-alat reproduksi yang mendapat sorotan dari kitab-kitab fiqih pesantren adalah adanya larangan berz1na. Fiqih memandang perz1naan sebagai salah satu bentuk perilaku reproduksi yang tidak bertanggungjawab dan merupakan salah satu bentuk penyelewengan terhadap fungsi alat-alat reproduksi. Bahkan fiqih memasukkan perzinaan sebagai tindakan kriminalitas alat-alat k3lamin. 

Memang tak ada keraguan bahwa naluri s3ks adalah salah satu naluri terkuat dalam diri manusia. Dr. Muhammad Fazlur Rahman, sebagaimana dikutip Abu Fadhl Mohsin Ebrahim menyatakan bahwa tujuan jangka pendek dari naluri s3ksual adalah hubungan s3ksual dengan lawan jenis, dan tujuan akhirnya adalah melahirkan keturunan.[1] Dan fiqih telah memberikan solusi untuk menyalurkan hasrat s3ksual dengan jalan pernikahan. Meskipun demikian ada juga sebagian manusia yang melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam persoalan s3ksual, yakni s3ks bebas atau z1na.  

Menurut kitab-kitab fiqih pesantren ada dua kategori z1na,[2]

Pertamaz1na muhson (z1na ekstramarital). Dengan kata lain, z1na muhson adalah kasus perz1naan yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah, berkeluarga. Pelaku perzinaan model ini oleh fiqih diancam dengan hukuman rajam (dilempari batu). 

Keduaz1na ghairu muhson (z1na preamarital). Yakni z1na yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang belum menikah. Terhadap pelaku perz1naan ini fiqih mengancam hukuman jilid (cambuk) 100 kali dan diasingkan ke daerah lain selama kurang lebih satu tahun. Selain itu z1na juga masuk dalam ketegori dosa besar.[3] 

Lebih jauh, z1na merupakan perbuatan keji dan menjijikkan, z1na merupakan salah satu wujud dari maksiat  faraj  yang akan melahirkan berbagai macam penyakit dan bencana.[4] Karenanya, semua agama sepakat bahwa z1na merupakan perbuatan yang terlarang. Z1na adalah dosa besar dan perbuatan yang paling keji diantara perbuatan keji lainnya. Dan hukumannya pun juga paling berat karena z1na mengotori dan merendahkan kehormatan dan nasab manusia.[5] 

Termasuk, perz1naan adalah free s3x dan pel4curan, meskipun dilakukan atas dasar suka sama suka. Sebab perz1naan merupakan mengingkaran terhadap nilai-nilai kehormatan dan hak reproduksi. 

Johan Suban Tukan, dalam Etika S3ksual dan Perkawinan, mengemukakan berbagai alasan-alasan etis menyangkut larangan perz1naan maupun s3ks pranikah. 

1. Dari aspek bilogis medis, perz1naan, lebih pelecuran merupakan media atau tempat berkembanganya penyakit s3ksual. 

2. Dari aspek emosional psikologis, perz1naan atau pel4curan tidak memecahkan masalah kesepian. Justru orang yang berz1na atau mel4cur secara psikologis sebetulnya merasa bersalah dan minder karena tidak bisa mengendalikan dorongan s3ks secara berbudidaya. Sebab hubungan s3ks dalam pel4curan bersifat semu, tidak dari hati dan cinta kasih yang hakiki. 

3. Dari aspek sosial, perz1naan ataupun pel4curan menghancurkan keharmonisan keluarga. 

4. Selain itu, aspek cinta dalam perz1naan adalah semu. Karena sesungguhnya perz1naan maupun pel4curan tak lebih adalah praktik eksploitasi s3ksual dan material. 

5. S3ks yang dilakukan sebelum menikah akan berdampak adanya kehamilan tidak dikehendaki, aborsi. Selain itu s3ks sebelum nikah tak lebih adalah sikap egoisme dan hedonisme. 

6. Perz1naan maupun s3ks sebelum nikah hanya memandang s3ks sebagai perwujudan cinta fisik-bilogis semata.[6] Padahal hubungan s3ksual memiliki berbagai nilai dan tujuan yang bukan semata-mata tujuan fisik bilogis.

Setidaknya hubungan s3ksual bertujuan: (1) rekreatif, sebagai upaya mendapatkan org4sme yang optimal atau kenikmatan s3ksual antara suami isteri (2) prokreatif, sebagai upaya mendapatkan kehamilan secara efektif. (3) relasional, menjalin deep emotional relationship, hubungan psikis-emosional dengan pasangan[7] untuk menumbuhkan cinta kasih antar keduanya.

Menurut Dr. Andik Wijaya, MrepMed, aktifitas s3ks pra-nikah bisa bisa menimbulkan berbagai masalah psikologis. Salah satunya adalah munculnya insecure intimacy, yaitu rasa tidak aman dalam menjalin kedekatan dengan pasangan. Akibatnya sulit mendapatkan kebahagian yang utuh dan kepuasan seksual yang optimal. Fenomena semacam ini semakin disadari di berbagai negara liberal, seperti Amerika. Misalnya kampanye yang dilakukan oleh The Medical Institut for S3ksual Health, yang mengajarkan semangat : Abstinence is better than condom, artinya menunggu sampai pernikahan adalah s3ks aman yang sesungguhnya.[8]

Adapun larangan perz1naan (s3ks bebas) ini berpijak dari firman Allah:
 
Dan janganlah kamu mendekati z1na; sesungguhnya z1na itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’ (17) : 32).

Dilihat dari sisi pendidikan kesehatan reproduksi jelas bahwa perz1naan, pel4curan dan s3ks bebas mengandung resiko dan berbahaya bagi kesehatan alat-alat reproduksi. Diantara resiko dan bahaya yang ditimbulkan oleh perz1naan antara lain timbulnya penyakit s3ksual menular atau yang dikenal dengan PMS antara lain Syphillis (Raja Singa), Genore (Kencing Nanah), Herpes Genitalis dan HIV/AIDS.[9] PMS merupakan masalah yang serius karena telah terjadi peningkatan kasus di banyak negara di dunia. Kegagalan dalam diagnosis maupun terapi pada tahap dini mengakibatkan timbulnya komplikasi yang cukup serius, misalnya, infertilitas (kemandulan), kematian janin, infeksi neonatus, bayi dengan berat badan lahir rendah, bayi cacat, abortus berulang bahkan menyebabkan kematian.

Dalam kaitannya dengan HIV/AIDS banyak bukti yang menunjukkan bahwa PMS dapat meningkatkan resiko penularan HIV melalui jalur s3ksual.[10] Sebab pada umumnya PMS penularannya melalui hubungan s3ksual/s3ksual penetratif yang tidak terlindungi, baik per-vag1nal, an4l atau or4l.[11] Oleh karena itu banyak yang menyebutnya sebagai penyakit kelamin. Kemungkinan seseorang tertular PMS ini akan lebih besar bila melakukan hubungan s3ksual dengan berganti-ganti pasangan. Sedangkan perilaku yang meningkatkan resiko infeksi PMS antara lain: Sering berganti pasangan s3ksual dan mempunyai lebih dari satu pasangan s3ksual.[12] 

Dengan demikian dari sudut pandang pendidikan kesehatan, perz1naan menimbulkan berbagai jenis penyakit k3lamin (STD: S3xual trnsmitted diseases), seperti gonorea, sifilis, AIDS (Aquired Immune Deficiency Syndrome).[13] Karena itu, menghindari perz1naan adalah perilaku sehat yang akan menjamin kesehatan alat-alat reproduksi. 

Kompas edisi Jateng-DIY (6/8/2004) melaporkan bahwa menurut kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang secara umum HIV/AIDS[14] lebih banyak disebabkan perilaku s3ksual yang salah, yaitu ganti-ganti pasangan. Kebanyakan pengidap HIV/AIDS adalah para Pekerja S3ks Komersial, Karyawati Panti pijat[15] dan tentunya orang yang suka berhubungan s3ksual dengan mereka.

Resiko tertimpa penyakit menular s3ksual seperti HIV AIDS juga bisa menimpa para isteri yang suaminya sering melakukan perz1naan. Dengan demikian, meskipun para isteri tidak melakukan perz1naan, namun ia bisa tertular penyakit menular s3ksual  melalui para suami mereka. Lebih celaka lagi HIV AIDS akan menular ke janin ketika para isteri tersebut hamil.  

2. Larangan melakukan sod0mi, Liwāţ dan Ityānu al-Bahāim   
  
Petunjuk yang  berkaitan  dangan  kesehatan  alat-alat reproduksi juga dapat dipahami ketika fiqih menetapkan keharaman melakukan sod0mi hubungan s3ksual lewat dubur (anal s3x), homos3ksual (liwāth)  dan bers3tubuh dengan binatang  (Ityānu al-Bahāim).[16] Fiqih melarang anal s3x, liwath dan pers3tubuhan dengan binatang, disamping perbuatan-perbuatan tersebut keji, jijik dan kotor juga merusak kesehatan dan menyebabkan terjangkitnya penyakit kelamain (venereal diseases).[17]

Ada empat kendala yang akan ditanggung oleh homos3ksual: (1) kendala anatomi dalam melakukan kontak s3ksual. Karena pen1s dirancang untuk vag1na maka untk melakukan kontak s3ksual homos3ks memunculkan bentuk aktifitas s3ks yang tidak lazim, seperti anals3ks dengan segala risikonya; (2) kendala reproduksi;  (3) psikologis;  (4) sosial.[18]

Selain itu, banyak risiko yang ditimbulkan oleh homos3ksual,[19] yakni timbulnya perilaku s3ks yang tidak lazim seperti oral s3ks dan anal s3ks. Perilaku ini disebabkan oleh kendala anatomis ketika berhubungan s3ksual. Penelitian Saghir dan Robin menyatakan bahwa 93 % orang yang homo melakukan anal s3ks.

Sedangkan anal s3ks memliki kelebihan dalam menimbulkan bahaya sebagai berikut: 

a. Anus tidak menghasilkan cairan pelicin seperti vagina saat ter4ngsang sampai pen1s memasuki anus. Karena itu orang yang disod0mi akan merasa sakit. Jika hal ini terjadi berulang-ulang maka otot-otot yang mengatur buang besar akan hancur dan kehilangan daya elastisitasnya. Akibatnya orang sulit mengendalikan buang air besar. 

b. jika kerusakan mencapai bagian atas (rektum) bisa terjadi pendarahan besar. Akibatnya pelaku sod0mi akan terancam infeksi yang akan menjalar ke usus besar dan organ tubuh lainnya.[20]  

c. Selain itu, bers3tubuh lewat dubur (anals3ks) terbukti berbahaya karena anus merupakan tempat berkumpulnya bakteri. Bila ada sedikit saja luka pada penis dikhawatirkan akan terjadi infeksi.[21]

Ada beberapa dampak yang bisa terjadi bila seseorang melakukan aktifitas anal s3ks. Yang paling sederhana adalah timbulnya iritasi baik pada anus maupun pen1s. Karena begitu banyak kuman didaerah anus, iritasi yang terjadi bisa menjadi pintu masuk terjadinya infeksi. Itu sebabnya bila salah seorang diantaranya mengidap HIV-AIDS, maka aktifitas anal s3ks akan sangat mudah menjadi jalan penularan. Hal lain yang bisa terjadi adalah, kerusakan otot-otot dubur, karena dipaksakan untuk meregang saat terjadi penetrasi pen1s. Kerusakan otot-otot dubur ini akan berakibat hilangnya kemampuan untuk mengendalikan proses buang air besar.[22]

Dunia medis menunjukkan bahwa sesungguhnya S3ks oral tidak tepat jika dikatakan sebagai s3ks yang aman. Memang dalam the journal of the American Dental, Vol 118/June 1989 dilaporkan bahwa didalam saliva (cairan ludah) terdapat zat yang bisa menghambat virus HIV. Namun mengingat aktifitas s3ks oral sering kali menimbulkan microlesi  (luka kecil yang tak tampak di mata) maka aktifitas ini masih dikelompokkan dalam  the high-risk behavior. Dengan pemahaman ini kita bisa mengerti bahwa s3ks oral maupun kondom bukanlah tindakan s3ks yang aman.[23] 

Hasil penelitian Dr. Dennis Osmond, University of California, San Fransisco, yang dilansir di The Journal of The American Medical Association edisi 9 Januari 2002, menyatakan s3ks oral ditengarai merupakan jalur penularan utama penyakit  Kaposi’s Sarcoma, yaitu sejenis kanker kulit yang amat ganas yang sering kali terdapat pada pasien yang mengidap penyakit HIV/AIDS. Adapun penyebabnya adalah sejenis virus yang diberi nama Kaposi’s Sarcoma associated Herpes Virus (KSHV), yaitu virus yang gemar tinggal di saliva (air liur).[24]

Sedangkan anal s3ks sangat terkait dengan homos3ksual. Pada tahun 1973 homos3ksualitas tidak lagi dianggap sebagai penyimpangan s3ksual oleh The American Psychiatric association dan tidak lagi dicantumkan lagi dalam the diagnostic and statistical manual of mental disorder, namun banyak ahali yang menyesalkan hal itu dan menganggapnya sebagai sebagai kesimpulkan yang tergesa-gesa.[25] 

Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat penderita AIDS di Inggris adalah kalangan homos3ksual dan bis3ksual.[26] Ini menunjukkan bahwa aktifitas penggunaan alat-alat reproduksi yang tidak sesuai sengan kaidah-kaidah fiqih akan menimbulkan bahaya dan bencana.




[1] Abu Fadl Muhsin Ebrahim, Aborsi, Kontrasepsi dan Mengatasi Kemandulan : Isu-Isu Biomedis dalam Perspektif Islam, (Bandung: Mizan, 1997, hal. 140
[2] Muhammad Asy-Syarbini al-Khatib, Al-Iqnā’ fi Hilli Al-Faz Abi Syuja’, Juz I (Syirkah Nur Asia, t.th). hal. 220-221
[3] Abi Suja’,  Matan Gâyah wa al-Taqrib, dalam  Kifaytaul Akhyar fi Hilly Ghayat al-Ikhtisar, (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, T.Th) Hal. 78
[4] Muhammad Ibnu Sâlim Ibnu Saîd Babasyil,  Is’ād al-Rafîq,  (Indonesia: Dar Ihya al-Kutubu al-Arabiyah, t.th) hal. 106
[5] Muhammad Asy-Syarbini al-Khatib, Op.Cit. hal. 220
[6] Johan Suban Tukan, Etika S3ksual dan Perkawinan, (Jakarta: Intermedia, 1990), hal. 88-90.
[7] Andik Wijaya,  55 Masalah S3ksual yang ingin anda ketahui tapi “tabu” untuk ditanyakan, Jakarta: PT Gramedia, 2004. hal. 68-70
[8] Ibid.  hal. 18
[9] Di Indonesia dapat ditemui berbagai jenis Penyakit Menular S3ksual, antara lain : Pertama,  Syphillis (Raja Singa) adalah jenis PMS yang disebabkan kuman  treponema pallidum---yang menyrang selaput lendir, termasuk anus, k3maluan, serta mulut--- yang ditularkan melalui hubungan s3ksual. Gejala terkena syphillis antara lain ;  Pertama,  gejala yang bersifat ringan seperti luka di daerah kemaluan tanpa disertai rasa sakit.  Kedua,  selanjutnya timbulnya bintik-bintik atau bercak-bercak merah yang muncul pada alat k3lamin dan pada tubuh. Ketiga, kemudian timbulnya kelainan-kelainnan pada saraf, jantung, pembuluh darah, bahkan sampai di otak. Lebih jauh, Syphillis dapat menimbulkan komplikasi yang apabila tidak diobati secara tuntas dapat menyebabkan kerusakan berat pada otak dan jantung. Pada wanita hamil dapat menyebabkan keguguran atau bayi lahir cacat. Yang lebih parah lagi adalah mudah menularkan HIV/AIDS.  Kedua, Genore (Kencing Nanah) adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman neisseria gonore melalui hubungan s3ksual. Selain menjangkiti organ s3ks gonore juga akan menjangkit selaput lendir mulut, anus, rektrum, mata dan beberapa organ lainnya.Gejala Genore pada laki-laki seperti sakit dan panas pada waktu buang air kencing/kecil dan mengeluarkan nanah dari lubang kencing. Ujung k3maluan tampak merah meradang dan pada pagi hari keluar nanah yang berwarna kuning kehijauan dari kemaluan (alat kelam1n) Wanita misalnya keputihan (cairan vag1na) kental, warna kuning kehijauan. Kadang menyebabkan sakit waktu kencing dan pendarahan setelah hubungan s3ksual. Rasa nyeri dirongga panggul (bila kuman sudah masuk ke dalam saluran kencing dan terjadi radang pada saluran kencing). Genore yang sudah mencapai tahap komplikasi akan menyebabkan saluran kencing menyempit yang mengakibatkan sukar buang air kecil, kemandulan, bisa menyebabkan kebutaan pada bayi yang dilahirkan dan menimbulkan radang selaput otak (meningitis). Ketiga,  Herper Genetalis atau Jengger Ayam adalah PMS yang disebabkan oleh virus herpes simplek. Disebut jengger ayam karena timbul bintil-bintil yang bergerombol menyerupai jenger ayam pada kemaluan. Gejalanya adalah terdapat bintil-bintil yang berair kecil bergerombol yang sangat nyeri. Pada laki-laki terdapat disekitar pangkal batang zak4r dan pada wanita disekitar bibir k3maluan. Bintil-bintil dapat pecah dan meninggalkan luka yang kering, kemudian hilang sendiri dapat juga menimbulkan infeksi sehingga timbul nanah dan pembengkakan. Dapat kambuh lagi tiap 2-3 bulan setelah 11/2 tahun dapat hilang sendiri. Pada tahap komplikasi maka bila bintil-bintil belum kering dapat menular pada bayi. Dapat terjadi keguguran pada wanita hamil. Selain itu mudah tertular penyakit HIV/AIDS
[10] Ramonasari dkk.,  Penanggulangan Penyakit Menular S3ksual dengan Pendekatan Sindrom, (Jakarta : Pathfinder International-PKBI, 2000) hal. 4
[11] Ramonasari dkk.,  Ibid.  hal. 3. Menurut Nina Surtiretna PMS disebut juga penyakit kelam1n, penyakit yang menghinggapi organ reprduksi pria maupun wanita yang diakibatkan oleh senggama dengan orang yang sudah terjangkit penyakit kelam1n. Dahulu penyakit ini disebut veneral deseases. Kata veneral berasal dari kata venus yang berarti dewi cinta karena penyakit ini ditimbulkan akibat bermain cinta. Pada umumnya berjangkitnya penyakit kelam1n ini terjadi melalui s3nggama meskipun sekarang ini penularan pnyakit tidak harus selalu melalui hubungan s3ksual
[12] Ramonasari, Ibid. hal. 4 .
[13] Hanifa Wiknjosastro (edit.),  Ilmu Kandungan, edisi II, (Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1994) hlm. 270. lihat pula MA Sahal Mahfudh,  Nuansa Fiqih Sosial, (Yogyakarta: LkiS, 1994) hlm. 84
[14] HIV/AIDS adalah singkatan dari Human Immuno Defeciency Virus, yaitu sekumpulan jasad renik yang sangat kecil (virus) yang dapat menyerang sistim kekebelan tubuh manusia. Virus ini dalam jumlah besar terdapat dalam darah, cairan vag1na, dan sp3rma. Sedangkan dalam jumlah kecil terdapat dalam air susu ibu, air liur, air mata dan air kencing. Sedangkan AIDS adalah singkatan dari  Acquired Immuno Defeciency Syndrom,  yaitu sekumpulan gejala yang didapat karena menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV. Virus ini merusak sel darah putih yang bertugas melawan penyakit akhirnya kekebalan tubuh terhadap penyakit menurun. Gejala seseorang mengidap HIV/AIDS melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :  a.  Tahapan masuknya virus ke dalam dengan gejala : (1) Seperti flu biasa dan akan sembuh dalam beberapa hari (2) Secara umum masih tampak sehat (3) Jika dilakukan tes darah belum menunjukkan adanya kuman (negatif) (4) Keadaan seperti ini dapat berlangusng 2-10 tahun.  b.  Tahap selanjutnya sudah menunjukkan gejala akan tetapi masih gejala umum yang dapat terjadi pada penyakit lain: (1) Demam yang berkepanjangan (2) Diare terus menerus tanpa sebab yang jelas (3) Bercak-bercak dikulit (4) Selera makan menurun dan berat badan turun  secara dratis.  c.  Tahapan dengan gejala khas. Pada tahap ini kekebalan tubuh sudah sangat menurun dan telah berkembang menjadi penderita penyakit AIDS dengan gejala sebagai berikut: (1) Batuk-batuk lama / radang paru-paru  (2) Radang saluran pencernaan (3) Radang (karena jamur) di mulut dan kerongkongan (4) TBC dan gangguan susunan sarayf  d.  Tahap akhir . Pada umumnya penderita AIDS akan meninggal dalam waktu 2 tahun setelah muncul gejala-gejala AIDS (tahapan dengan gejala yang khas tersebut).  Usaha-usaha untuk mencegah menularnya penyakit HIV/AIDS antara lain (1) Tidak melakukan hubungan s3ksual sebelum menikah meskipun dengan pacar (2) Tidak melakukan hubungan s3ksual di luar nikah atau bergnati-ganti pasangan (3) Selalu menggunakan alat suntik atau alat tusuk lainnya yang seteril dan hanya sekali pakai.
[15] Kompas, 6/8/2004, Meningkat, Kasus HIV AIDS di Kabupaten Semarang.
[16] Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah al-Bajuri,  (Dar Ihya al-Kutub, t.th) Hlm. 232-233. lihat  juga Abi Abdullah Mu’thi Muhammad Ibn Umar Ibn Ali An-Nawawi, Op.Cit .Hlm. 34
[17] Jalaluddin Rahmat, Islam Al-Ternatif: Ceramah-Ceramah di Kampus, (Bandung: Mizan, 1993. hlm. 207
[18] Ibid. hal. 195
[19] Nena Surtiretna, Bimbingan S3ks bagi Remaja, (Bandung: PT. Remaja Rosda  Karya, 2001)., hal. 113-114
[20] Ibid. hal. 119
[21] Hanny Ronosulidtyo, dan Aam Amiruddin, S3ks bukan sekedar b1rahi : Panduan Lengkap Seputar Kesehatan Reproduksi :Tinjauan Islam dan Medis, (Bandung: Granada, 2004. Hal. 25
[22] www.drawclinic.com
[23] Andik, 55 Masalah S3ksual yang ingin anda ketahui tapi “tabu” untuk ditanyakan, Jakarta: PT Gramedia, 2004. hal. 18
[24] Ibid. hal. 22. S3ks oral pada awalnya banyak dilkukan oleh pelaku s3ks sejenis, sebagaimana anal s3ks. Pelaku s3ks sejenis melakukan hal tersebut karena mereka mengalami kendala anatomi dalam berhubungan int1m. Karena tidak mungkin melakukan kontak genital, maka oral s3ks menjadi pilihan bagi pelaku s3ks sejenis. Aktifitas s3ks oral dan anal inilah yang kemudian dikenal dengan istilah sod0mi. Sod0mi berasal dari kata sod0m, Yaitu nama sebuah kota di jaman kuno, yang penduduknya pertama kali dicatat dalam sejarah peradaban manusia sebagai yang melakukan aktifitas hubungan s3ks sejenis, hal. 24-25.
[25] Ibid. hal. 194. Homos3ksual adalah cara penyaluran kebutuhan s3ks terhadap sesama jenis. laki-laki dengan laki-laki (g4y) atau pempuan dengan perempuan (disebut lesb1en)
[26] EliZabeth Tara dan Eddy Soetrisno, Buku Pintar Kesehatan, (Jakarta: Intimedia, tth) hal. 4

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter