Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

R3PRODUKSI SEHAT DAN BERTANGGUNGJAWAB

  

1. Larangan hubungan s3ksual saat isteri haid  

Secara umum fiqih mengajarkan agar manusia melakukan aktifitas reproduksinya secara sehat dan betanggungjawab. Sehat dan betanggungjawab berarti terhindar dari bahaya penyakit yang bisa menyebabkan gangguan pada alat-alat reproduksi atau aktifitas reproduksi. Tidak hanya gangguan secara fisik-biologis, juga gangguan psikis-mental. 

Ajaran fiqih tentang reproduksi sehat dan bertanggungjawab antara lain fiqih mengkonstititusikan keharaman (larangan) hubungan s3ksual diwaktu isteri sedang menjalani proses-proses reproduksi seperti haid atau nifas. Larangan ini dimaksudkan agar laki-laki maupun perempuan menjaga sikap hidup sehat dan betanggungjawab terkait dengan persoalan alat-alat reproduksi. 

Masih dalam bab Ţahārah, fiqih melarang (mengharamkan) pers3tubuhan yang dilakukan diwaktu perempuan (isteri) sedang menjalani proses-proses reproduksi seperti haid dan nifas. Fiqih mengkonstitusikan hubungan seksual yang dilakukan diwaktu perempuan sedang haid sebagai dosa besar (min al-kabāir).[1] 

Alasan kenapa fiqih melarang laki-laki (suami) menyetubuhi isterinya yang sedang dalam kondisi haid ataupun nifas karena darah yang keluar dari faraj-nya adalah sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Karena itu, orang yang menghalalkan hubungan s3ksual diwaktu sang isteri sedang haid oleh ulama fiqih dikategorikan sebagai kafir.[2]  

Dasar dari larangan ini adalah firman Allah SWT: 

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : “haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci….” (QS: al-Baqarah (2) : 222)”

Yang dimaksud dengan “menjauhkan diri” adalah perintah untuk tidak bers3tubuh dengan perempuan yang sedang haid hingga haid telah berhenti. Lebih dari itu, meskipun haid telah berhenti akan tetapi perempuan belum mandi juga fiqih juga tidak memperbolehkan melakukan hubungan s3ksual. Menurut ulama fiqih, hubungan s3ksual baru boleh dilakukan setelah perempuan melakukan gusl.[3]

Dari aspek pendidikan kesehatan alat-alat reproduksi bahwa larangan hubungan s3ksual ketika perempuan sedang haid bertujuan untuk menghindari dari infeksi, bekteri kanker dan kuman penyebab penyakit yang membahayakan kesehatan alat-alat reproduksi. Sebab ketika isteri sedang haid cairan vag1na yang berfungsi sebagai pembasmi kuman-kuman tidak berfungsi secara optimal. Selain itu, dinding vag1na juga mengalami luka-luka kecil akibat keluarnya darah haid. Jika hubungan s3ksual tetap dipaksakan kemungkinan besar terserang kuman dan penyakit kelam1n sangat mungkin terjadi.[4]

Lebih dari itu, hubungan s3ksual saat isteri sedang haid juga akan menimbulkan kelemahan jasmani, pembusukan rahim, kemandulan, infeksi pada alat-alat reproduksi dan gangguan pada saluran kencing.[5]

Adapun bahaya dari hubungan s3ksual diwaktu isteri sedang haid juga bisa menimpa laki-laki, yang terpenting di antaranya; infeksi pada organ-organ pembiakan, karena bakteri-bakteri yang masuk ke dalam saluran kencing, bahkan bisa menimpa kandung kencing, dan infeksi itu dapat meluas hingga kelenjar prostat, kantung sperma dan kedua biji pelir.[6] 

Dengan demikian hubungan s3ksual saat perempuan sedang haid merupakan perilaku yang tidak sehat dan bisa mendatangkan bahaya dan mengancam keselamatan alat-alat reproduksi. Karenanya, fiqih melarang perilaku hubungan s3ksual tersebut sebagai bentuk pembelaan fiqih akan kesehatan alat-alat reproduksi.[7]

Selain itu, ketika perempuan haid ia akan mengalami berbagai “gangguan menstruasi”. Tentunya tidak etis jika hubungan s3ksual dilakukan sedangkan perempuan sedang mengalami gangguan baik fisik maupun psikis; perasaan tidak nyaman, ingin marah, ingin makan terus, ingin disayang dan diperhatikan, sensitif, pusing, malas.

Inilah yang disebut dengan gejala  Sindrom Pra-Menstruasi.[8]  Jika suami, misalnya, memaksa untuk berhubungan s3ksual dikhawatirkan justru akan menyakiti isterinya. Dengan demikian larangan ini merupakan pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi ketika perempuan mengemban beban reproduksi.

Selain larangan hubungan s3ksual saat perempuan sedang haid, fiqih juga melarang (mengharamkan) perempuan menjalani ibadah seperti shalat puasa. Khususnya larangan shalat, dilihat dari aspek kesehatan reproduksi, merupakan satu bentuk “cuti reproduksi” yang diberikan fiqh kepada perempuan. Sebab ketika fungsi reproduksi berjalan pengaruhnya bagi perempuan bukan saja terasa pada fisik-bilogis  tapi juga sekaligus mental-psikologis.[9] Dengan pemberian “cuti reproduksi” ini fiqih bertujuan melindungi kondisi kesehatan perempuan baik fisik maupun mental.      
  
2. Hubungan S3ksual dalam Institusi Pernikahan
  
Secara kodrati manusia memiliki keinginan untuk bereproduksi, melestarikan keturunan (anak). Allah memenuhi keinginan ini antara lain dengan memberi manusia sifat tertarik pada lawan jenis. Laki-laki mencintai perempuan, sebaliknya perempuan juga ingin menyayangi laki-laki. Cinta akan lawan jenis ini juga didorong oleh gairah untuk melakukan hubungan s3ksual baik dengan tujuan reproduksi atau sekedar ismtimnā’ (bersenang-senang). 

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan manusia akan keinginan untuk bereproduksi dan hasrat s3ksual, fiqih memandang perlunya manusia masuk dalam ikatan pernikahan. Dalam isntitusi pernikahan inilah manusia memiliki keabsahan melakukan hubungan s3ksual baik dengan tujuan reproduksi atau hanya sekedar having fun, bersenang-senang atau istimnā’ menurut istilah fiqih. Pernikahan merupakan aqad ibâĥah, kontrak untuk memperbolehkan seseorang melakukan sesuatu termasuk hubungan s3ksual yang semula dilarang[10] menjadi boleh dilakukan setelah adanya aqad pernikahan. 

Fiqih juga mengajarkan bahwa ketika seseorang laki-laki dan perempuan telah mengikatkan diri (‘aqad) maka resmi menjadi suami isteri dan membawa implikasi terhadap berbagai tugas, kewajiban dan hak yang diatur dalam hukum perkawinan. Sayid Sabiq misalnya menyebutkan bahwa perkawinan merupakan metode untuk memiliki dan meperbanyak anak, menyambung generasi yang berbeda dengan makhluk lainnya.[11] 

Lebih jauh Sayid Sabiq menyatakan bahwa Islam sangat mendorong orang untuk melangsungkan pernikahan secara benar. Sebab dalam pernikahan terkandung berbagai hikmah bagi manusia. Hikmah tersebut antara lain: untuk menyalurkan hasrat s3ksual (al-Ġarîzah al-jinsiyyah), memperbanyak keturunan, dan generasi, menyalurkan naluri kebapakan dan keibuan dan menguatkan rasa cinta kasih.[12] 

Bahkan Imam Al-Ghazali dalam magnum opusnya, Ihyā Ulūm al-Dîn, menyatakan bahwa pernikahan dimaksudkan untuk menghindari kerusakan yang disebabkan oleh pandangan maupun farj[13] dan gejolak nafsu s3ksual, misalnya khawatir akan terjerumus dalam pel4curan dan lainnya. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa pernikahan dimaksudkan untuk melahirkan keturunan (ibqa al-nasl).[14] 

Dari pernikahanlah terjadi proses-proses reproduksi secara sehat dan bertanggungjawab. Dari pernikahan pula akan lahir anak keturunan sebagai pelanjut cita-cita kedua orang tua. Dengan demikian pernikahan merupakan salah satu isntitusi untuk membentengi diri dari sikap dan perilaku reproduksi yang tidak sehat dan bertanggungjawab. Dengan menikah diharapkan laki-laki maupun perempuan terhindar dari berbagai penyakit kelam1n yang disebabkan oleh penyimpangan s3ksual seperti perz1naan dan lainnya. 

Selain itu juga adanya tanggungjawab terhadap pendidikan anak yang akan lahir dari pernikahan tersebut. Lebih jauh, nafkah pendidikan merupakan tanggungjawab yang harus diemban suami-isteri sebagai satu konsekuensi dari proses-proses reproduksi.

3. Larangan Aborsi 

Persoalan kesehatan alat-alat reproduksi yang mendapat perhatian serius dari fiqih antara lain aborsi, ijhadh. Yakni isti’malu ad-dawa bi qasdhi al-itsqath atau isqath al-haml, yaitu pengguguran kandungan yang sudah tua.[15]

Para ulama sepakat bahwa pengguguran kandungan yang telah berumur lebih dari 120 hari (4 bulan) adalah terlarang (haram). Alasannya pengguguran kandungan setelah berumur 120 hari sama dengan melakukan pembunuhan (tindakan pidana) dan dikenakan sanksi berupa diyat (denda pembunuhan).

Sebab janin yang telah berumur 120 hari telah memiliki (ruh) kehidupan sebagaimana layaknya manusia.[16] Meskipun demikian, sebagian ulama memperbolehkan pengguguran kandungan sebelum 40 hari. Namun ada juga yang memperbolehkan Aborsi sebelum janin berumur 120 hari. 

Akan tetapi, dari perspektif kesehatan reprduksi aborsi yang dilakukan diatas 40 dari kehamilan hari akan membawa resiko bagi ibu yang mengandung. Sebab diatas 40 hari sperma telah menjadi segumpal darah maupun segumpal daging.[17] Apalagi jika aborsi dilakukan secara ilegal artinya tidak sesuai dengan kaidah-kaidah kesehatan tentu akan membawa resiko yang lebih berat lagi.

Dengan demikian, dari sudut pandangan pendidikan kesehatan alat-alat reproduksi aborsi merupakan perilaku yang membahayakan kesehatan. Apalagi jika aborsi dilakukan oleh pihak yang tidak profesional. Kompas (28/1/1991) melaporkan bahwa akibat buruk dari Aborsi adalah terjadinya kematian sekitar 7 hingga 10% pada perempuan yang melakukan Aborsi.[18]  

Menurut Dr. Andri Wijaya, aborsi membawa berbagai risiko baik psikis maupun fisk sebagai berikut: 

a. Risiko fisik, seperti pendaharahan, infeksi kandungan, kemandulan, bahkan dalam penelitian terkini aborsi terbukti memicu muenculnya brest cancer atau kanker payudara.

b. Risiko psikologis seperti berbagai gangguan mental pasca aborsi mulai dari mimpi buruk sampai timbulnya halusinasi yang berkaitan dengan aborsi. 

c. Risiko sosial, seperti ditolak oleh keluaraga teman bahkan pacar sendiri. maka yang sering terjadi adalah rusaknya hubungan cinta. 

d. Risiko hukum. Ada kemungkinan bisa dijerat dengan pasal tindak pidana aborsi. Sebab aborsi termasuk pembunuhan. 

e. Risiko spritual, pertanggungjawaban dengan Sang Khalik.[19] 

Hasil penelitian Dr. Anne Catherine Speckard dari Minnesota University mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun setelah terjadinya tindakan aborsi, para wanita yang menjalaninya akan mengalami berbagai masalah kejiwaan. 81 % dilaporkan bahwa pikirannya selalu dipenuhi dengan anak yang digugurkannya. 73% dilaporkan mengalami kilas balik pengelaman aborsi dalam pikirannya. 54 % dilaporkan selalu mengalamim mimpi buruk berhubungan dengan abortsi yang dijalaninya. 23 % mengalami halusinasi yang berhubungan dengan aborsi.[20]

Selain itu, Aborsi merupakan pembunuh ranking ke-empat dihampir semua negara berkembang. Hal ini terjadi karena aborsi dilakukan secara ilegal, oleh dukun beranak dengan peralatan yang tidak steril, misalnya.[21]




[1] Abi Abdullah Mu’thi Muhammad Ibn Umar Ibn Ali An-Nawawi, Nihayah al-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin, (Semarang : Thoha Putera, t.th) Hlm. 34-35
[2] Muhammad Asy-Syarbini al-Khatib, Al-Iqnā’ fi Hilli Al-Faz Abi Syuja’,  Juz I (Syirkah Nur Asia, t.th), hal. 60
[3] lihat Ibnu Katsir,  Tafsir Al-Qur’ān al-‘adzîm,  juz I, (Beirut: Al-Nûr al-‘Ilmiyyah, 1991) hal. 246. lihat juga, Ar-Rāzi,  Tafsir Al-Kabîr, Juz 5-6 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990) hal. 55 dan 58.
[4] Ali Akbar,  Seksualita Ditinjau dari Hukum Islam, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982) hal. 45
[5] Ibrahim Muhammad al-Jamal, Fiqih Muslimah: Ibadah Muamalat, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995) hlm. 33-35
[6] Ali Akbar, Op.Cit., hal. 34-35.
[7] Lihat Ahmad Mustofa al-Marāgî, Tafsir al-Marāgî, jilid I, Dar Al-Fikr, t.th. hal.  154
[8] Nina Surti Retna, Bimbingan S3ks bagi Remaja, (Bandung: PT. Remaja Rosda  Karya, 2001), hal. 18
[9] Masdar F. Mas’udi,  Hak-Hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fiqih Pemberdayaan, (Bandung :Mizan, 1997)  hal. 154
[10] Muhammad Asy-Syarbini , Op.Cit., hal. 115. Ibrahim Al-Bajuri, Op.Cit., hal. 91
[11] Sayid Sabiq,  Fiqih al-Sunnah, Juz I, (Kairo: Dar al-Fikr, 1987),   hal. 5. Untuk mengetahui lebih detail akan etika hubungan s3ksual, kewajiban dan hak suami isteri bisa membaca kitab Uqūd Al-Lujain dan Qurrat Al-‘Uyūn.
[12] Ibid. hal. 10-12
[13] Lihat Abu Hāmid Al-Ghazāli, Ihya Ulum Al-Din, Juz II ( Dar Ihya Kutub Al-Arabiyyah, t.th, Juz II hal. 23
[14] Ibid. hal. 25
[15] Lihat Abu Bakar Syatha, Op. Cit., hal. 130-131. Lihat juga KH. MA. Sahal Mahfudh, Dialog dengan Kiai Sahal Mahfudh : Solusi Problematika Umat, Op.Cit. hlm. 255
[16] Ibid. Abu Bakar Syatha, hal. 131. Ibid. BF Musallam, hal. 74 -76. Dasar keharaman ini adalah : “jangan membunuh anak-anakumu karena atkut faqir….”(Al-Isra’ ayat 31)
[17] Ibid. Abu Bakar Syata, hal. 131.  KH. MA. Sahal Mahfudh, Op. Cit., hal. 257
[18] Chuzaimah Tahido Yanggo,  Agama dan Aborsi, dalam  Agama dan Kesehatan Reproduksi, Elga Sarapung (editor) (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan-YKF dan Ford Foundation, 1999) hlm. 161
[19] Andrik Wijaya, 55 Masalah S3ksual yang ingin anda ketahui tapi “tabu” untuk ditanyakan, Jakarta: PT Gramedia, 2004, hal. 28
[20] Ibid.  Hal. 33. lihat pula Janet Shibley Hyde,  Half The Human Experience : The Psychology of Women, Third Edition, D.C Heath and Companym, 1985, hal. 266-268
[21] Hanny Ronosulidtyo, dan Aam Amiruddin, S3ks bukan sekedar birahi : Panduan Lengkap Seputar Kesehatan Reproduksi :Tinjauan Islam dan Medis, (Bandung: Granada, 2004), hal. 170

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter