Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

SHALAT TAHAJUD SEBAGAI TERAPI RELIGIUS


Salat tahajjud bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Demikian yang ditemukan Mohammad Sholeh seorang Psiko-Neuroimunolog. Pendapatnya dikembangkan dalam disertasinya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Penemuannya tidak sekedar ditulis, namun juga dibuktikan dalam praktik langsung.

M. Sholeh menyatakan sudah banyak pasien, baik yang sakit ringan maupun berat, mampu disembuhkan melalui terapi tahajjud. Umumnya mereka menderita penyakit parah sehingga berusaha mencari pengobatan lain, di luar medis. Menurut Sholeh banyak diantara pasiennya berstatus sebagai dokter dan dapat disembuhkan dengan izin Allah.

Moh. Sholeh mengatakan bahwa sejarah mencatat, ibadah mahdah yang pertama diperintahkan oleh Allah, adalah salat tahajud. Imam Turmudzi meriwayatkan dari Abu Hurairah/Rasulullah SAW, bersabda: "Salat sunah yang utama setelah salat fardu adalah salat tahajud". Dalam sebuah hadiś diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW, tidak pernah meninggalkan salat tahajud hingga Rasulullah SAW wafat.[1]

Dalam QS. 73:1-3, Allah SWT menyuruh orang yang berselimut, bangun di malam hari menjalankan salat tahajud. Karena di samping mempunyai makna sebagai ibadah tambahan (QS. 17:79), salat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan dari penyakit.

Sebuah penelitian membuktikan bahwa ketenangan dapat meningkatkan ketahanan tubuh  imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung, meningkatkan usia harapan. Sedangkan stres menyebabkan rentan terhadap infeksi, dapat mempercepat perkembangan sel kanker, dan meningkatkan metastasis.

Namun demikian dalam realitasnya terdapat dua kelompok hasil pengamalan salat tahajud, yaitu kelompok individu yang sehat dan kelompok yang sakit. Fakta ini merupakan masalah penelitian, mengingat mekanisme salat tahajud dapat meningkatkan respons ketahanan tubuh imunologik belum terungkap secara jelas. 

Secara fisiologis pola kehidupan manusia mempunyai irama sirkadian diurnal, namun dengan menjalankan salat tahajud di malam hari, berubah menjadi nocturnal. Hal ini akan menyebabkan perubahan behavior dari sistem syaraf pusat yang bertujuan menyesuaikan irama sirkadian, yang mempunyai siklus 24 jam terhadap lingkungan. Karena itu, bagi kelompok individu yang sakit setelah menjalankan salat tahajud, mungkin berkaitan dengan niat yang tidak ikhlas, sehingga gagal beradaptasi terhadap perubahan irama sirkadian tersebut.

Gangguan adaptasi ini tercermin pada sekresi kortisol yang seharusnya menurun pada malam hari, namun karena malam hari melakukan salat tahajud, maka  sekresi kortisol tetap tinggi. Reichlin menyatakan bahwa gangguan irama sirkadian akan mendatangkan stres yang ditandai dengan peningkatan ACTH. Sedangkan stres bisa mengganggu ketahanan imunologik. Bahkan bila stres mencapai tingkat exhaustion stage, dapat menimbulkan kegagalan fungsi sistem imun, yang berakibat timbulnya rasa sakit. Bila hal ini tidak segera. diketahui mekanismenya, maka akan mengesankan bahwa salat tahajud akan mendatangkan kerugian.[2]

Diduga salat tahajud yang dijalankan dengan tidak ikhlas, yang menyebabkan gangguan adaptasi terhadap irama sirkadian, sehingga mendatangkan rasa sakit, sudah ada sejak Allah mensyariatkan ibadah itu. Hanya saja hal ini belum terungkap mekanismenya, antara lain di samping karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, iptekdok, juga disebabkan oleh kuatnya pemikiran dikotomik, sekular, yang meletakkan sains pada satu sisi dan agama di sisi yang lain, sehingga diketahui IAIN yang secara kelembagaan mengkonsentrasikan kajian ke-Islaman, kajiannya bersifat normatif, tidak menyentuh sains. Sedangkan lembaga di luar lAIN menfokuskan kajian di bidang sains terkadang lepas dari landasan wahyu.[3]

Salah satu faktor yang mempunyai pengaruh penting terhadap kejadian yang menimbulkan stres adalah penggunaan strategi penanggulangan adaptif (coping mechanism). Respons individu terhadap stres dengan coping mechanism yang positif dan efektif dapat menghilangkan atau meredakan stres.

Sebaliknya coping mechanism yang negatif dan tidak efektif dapat memperburuk kesehatan dan memperbesar potensi sakit. Pengelolaan stres terdiri atas dua komponen, yaitu (1) Edukatif dan (2) Teknis relaksasi, yang meliputi meditasi, perenungan, dan umpan balik hayati (biofeedback). Salat tahajud yang mengandung aspek meditasi dan relaksasi dapat digunakan sebagai coping mechanism, pereda stres.

Secara konseptual, psikoneuroimunologi dapat menjalankan mekanisme keterkaitan peningkatan respons ketahanan tubuh, pengaruh dari salat tahajud, melalui mekanisme keterkaitan perilaku dengan ketahanan tubuh imunologik yang diperantarai oleh neurotransmiter, neurohormonal, hormon dan sitokin. Sekurang-kurangnya ada empat jalur keterkaitan perilaku dengan ketahanan tubuh.

Namun karena pertimbangan teknis pada penelitian ini hanya menggunakan jalur yang merupakan mediator penting dalam hipotalamus-adrenal, dan lazim digunakan oleh pakar peneliti di bidang imunologi, yaitu Jalur ACTH - kortisol imunitas. Meskipun demikian penelitian imunologik dengan 9 variabel melalui paradigma psikoneuroimunologi ini, diharapkan dapat membuka cakrawala baru untuk mengembangkan penelitian berikutnya, terutama keterkaitan salat tahajud dengan ketahanan tubuh imunologik dengan variabel yang lebih luas dan sampel yang lebih besar.[4]

Salat tahajud yang dijalankan dengan ikhlas, khusuk, tepat gerakannya, dan kontinyu akan memperbaiki emosional Positif dan efektifitas coping. Emosional positif dapat menghindarkan reaksi stres. Salat tahajud bisa saja mendatangkan stres yang merugikan, jika salat tahajud itu tidak dijalankan dengan ikhlas, yang tercermin pada gagalnya menjaga homeostasis tubuh atau gagalnya beradaptasi terhadap perubahan pola irama sirkadian yang bersifat diurnal menjadi nocturnal. Karena sekresi kortisol yang semestinya rendah di malam hari, namun tetap tinggi karena melakukan aktifitas salat tahajud.[5] 

Perubahan irama sirkadian sekresi kortisol di malam hari justru menambah kekhusukan pengamal salat tahajud yang niatnya ikhlas. Secara endogen, kortisol sekresinya tinggi lantaran melakukan aktifitas, sementara secara eksogen kortisol sekresinya menurun karena pengaruh lingkungan yang tenang dan kondisi yang gelap. Oleh karena itu sekresi kortisol bagi pengamal salat tahajud yang ikhlas berada pada kadar normal (homeostasis).

Apabila salat tahajud dijalankan dengan ikhlas, dapat memperbaiki emosional positif dan coping efektif, yang akan tercermin pada kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pola irama sirkadian, maka salat tahajud yang demikian itu dapat memodulasi sistem imun melalui alur kerja sebagai berikut.

Emosional positifditransmisi ke sistem limbik dan korteks sereberal dengan tingkat koneksitas yang kompleks antara batang  otak-talamus-hipotalamus-prefrontal kiri dan  kanan-hipokampus-amigdala. Sehingga terdapat keseimbangan antara sintesis dan  sekresi neurotransmiter, GABA dan antagonis GABA oleh hipokampus dan amigdala, dopamin, serotonin dan norepinefrin yang diproduksi oleh  prefrontal,  asetilkolin, endorfin, dan enkepalin oleh hipotalamus.[6]

Keseimbangan sintesis dan  sekresi neurotranmiter yang bersifat inhibitasi dan ekstasi tersebut akan mempengaruhi pula sekresi CRF oleh PVN di hipotalamus. Terkendalinya sekresi CRF, maka akan terkendali pula sekresi ACTH oleh HPAA. Terkendalinya sekresi ACTH akan mempengaruhi keseimbangan korteks adrenal dalam  mensekresi kortisol dan beberapa neurotransmiter, adrenalin dan noradrenalin, katekolamin dengan reseptor alfa maupun beta-nya. 

Normalitas kadar kortisol akan berperan sebagai stimulator terhadap respons ketahanan tubuh  imunologik, baik spesifik maiipun non-spesifik, seluler maupun humoral. Pada tingkat seluler yang bersifat spesifik, kortisol yang normal menstimuli sintesis sel, monosit, neutrofil, eosinofil dan basofil.

Sedangkan pada tingkat respons imun spesifik, seluler dan humoral, kortisol yang normal dapat menstimuli limfosit, baik limfosit T maupun limfosit B yang memproduksi antibodi. 

Alur kerjanya dimulai dari kortisol menstimuli makrofag atau monosit untuk mensekresi IL-1. Tersekresinya IL-1 oleh makrofag dapat merangsang limfosit B untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma yang kemudian memproduksi antibodi atau imunoglobulin, IgM, IgG dan IgA.

Pada jalur lain sekresi IL-1 oleh makrofag dapat menstimuli sel T berpoliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel Th-1, Th-2, Tc, sel mast/basofil, eosinofil, neutrofil, dan berpengaruh langsung pada sel NK. Basofil mengekspresi reseptor terhadap IgE, sebaliknya IgE dapat mengaktifasi sel mast/basofil atau reseptor spesifik lain pada permukaan sel pengikat anafilaktosin, antigen kompiek, kovalin, hapten, protein. Sel mast/basofil berperan penting pada reaksi hipersensitivitas tipe 1 atau tipe cepat dengan cara membebaskan mediator peradangan yang menimbulkan gejala alergi. 

Makrofag/monosit dapat dirangsang oleh produk bakteri dan sitokin, IFN, TNF, dan IL-1 untuk menghasilkan nitric oxide (NO), Sementara eosinofil diaktifkan oleh IgE dan berperan sebagai respons keradangan...Eosinofil juga dapat mengikat imunoglobulin, IgA, IgG, IgE, dan memperantarai sitotoksitas dengan perantara sel yang tergantung antibodi (antibody dependent cell mediated cytotoxicity) terhadap cacing. Eosinofil juga mengeluarkan sitokin, IL-1, TGF alfa maupun beta (tranforming growth factor), dan mengekspresikan HLA-DR, dengan demikian eosinofil mempunyai kemampuan sebagai penyaji antigen terhadap makrofag/monosit dan mengaktifkan sel T, terutama sel memori. 

Pada satu sisi Th-2 dapat menstimulasi sel B untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma, kemudian memproduksi imunoglobulin, IgG, IgM, IgE, dan IgD. Sementara T sitotoksikjuga dapat mengendalikan limfosit B agar tidak berlebihan. Dalam memproduksi imonoglobin. Disamping itu T sitotoksik berkaitan dengan IL-1 untuk mengaktifkan kembali T-Helper. 

Dengan demikian dari sisi medis, salat tahajud yang dilakukan secara kontinyu, tepat gerakannya khusyuk dan ikhlas, dapat memelihara homeostatis tubuh. Ini berarti salat tahajud dapat meningkatkan dan memperbaiki respons ketahanan tubuh imunologik. Respons ketahanan tubuh yang baik membuat individu terhindar dari infeksi, resiko terkena penyakit jantung, hipertensi, mati mendadak, dan kanker.[7] 



[1] Moh. Sholeh, 2003, Tahajud: Manfaat Praktis Ditinjau dari Ilmu Kedokteran Terapi Religius, Yogyakarta: Forum Studi Himanda, cet ke-2
[2] Ibid, hlm. 2
[3] Ibid, hlm. 3
[4] Ibid, hlm. 5-6
[5] Ibid, hlm. 5
[6] Ibid, hlm. 6
[7] Ibid.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter