Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

KESEHATAN ALAT-ALAT REPRODUKSI DALAM KITAB-KITAB FIQIH PESANTREN

  

Memang kitab-kitab fiqih pesantren secara eksplisit tidak pernah menyebut istilah kesehatan alat-alat reproduksi. Meskipun demikian, bukan berarti kitab-kitab fiqih mengabaikan persoalan-persoalan kesehatan alat-alat reproduksi. Sebab fiqih sebagai salah satu dari cabang ilmu agama (Islam) yang paling penting yang memiliki implikasi konkret terhadap perilaku manusia tentu tidak melupakan akan persoalan kesehatan alat-alat reproduksi. Dimana reproduksi merupakan proses yang menjamin keberlangsungan dan kelestarian kehidupan manusia di muka bumi.  

Selain itu, sebagaimana visi-misi fiqih untuk mewujudkan kemaslahatan manusia, tentu fiqih akan memperhatikan masalah-masalah kesehatan, lebih-lebih kesehatan alat-alat reproduksi manusia. Sebab kesehatan alat-alat reproduksi merupakan satu bentuk daripada kemaslahatan manusia. Sebagaimana diketahui kesehatan merupakan syarat utama untuk mencapai tujuan hidup manusia agar mampu beraktifitas dalam rangka mencapai keselamatan dunia akherat. 

Al-Ghazali menyatakan: “kemaslahatan menurut saya adalah mewujudkan tujuan-tujuan agama yaitu menjaga lima hal : agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta benda. Setiap hal yang mengandung lima prinsip ini adalah kemaslahatan dan setiap yang menegasikan adalah kerusakan. Menolak kerusakan adalah kemaslahatan”.[1]   

Hanya saja dalam membahas kesehatan alat-alat reproduksi fiqih tidak secara khusus membahasnya dalam satu bab, melainkan pembahasan kesehatan alat-alat reproduksi tersebar dalam berbagai bab pada masing-masing rubu’. Paling tidak kesehatan alat-alat reproduksi dibahas panjang lebar oleh para ulama fiqih pada sepertiga rubu’ dalam kitab-kitab fiqih pesantren. Pertama, rub’ul ‘ibādah khususnya dalam kitab ţahārah. Kedua, rub’ul Munākahah (fiqih pernikahan) dan ketiga, rub’ul Jināyat, khususnya dalam bab jināyat dan ĥudûd

Dalam bagian ini peneliti akan memfokuskan kajian kesehatan alat-alat reproduksi pada kitab (1) Fatĥ al-qarīb al-mujîb karya Ibnu Qāsim al-Guzzŷ, (2) Kifāyatu al-Akhyār fi ĥall alfāż Abī Syujâ’ karya Abū Bakar al-Dimasyqī, (3) al-Iqnā’ fi  ĥall alfāż Abī Syujâ’ karya Muĥammad al-Syarbinî Al-Khaţīb, (4) fatĥ al-Wahhāb karya Abū Zakaria al-Anŝârŷ.    

1. Kesehatan Alat-alat Reproduksi dalam Kitâb Ţahārah 
 
Apabila mencermati kitab-kitab fiqih yang menjadi standar kurikulum pengajaran di pesantren hampir bisa dipastikan akan menjumpai bab/kitab ţahārah. Artinya kitab ţahārah masih menjadi bagian yang belum terpisahkan dari seluruh bangunan ilmu fiqih. Dalam kitab-kitab fiqih pesantren pembahasan tentang ţahārah biasanya termasuk dalam satu bagian yang disebut dengan pembahasan rub’ul ‘ibādah. Dengan kata lain, dalam pembahasan rub’ul ‘ibādah tidak hanya dibahas persoalan-persoalan ibadah an sich, tetapi mencakup mengenai persoalan-persoalan lain yang masih ada kaitannya dengan persoalan ibadah seperti bab ţahārah.  Sekedar contoh, berikut penulis kutipkan struktur pembagian kitab/bab yang terdapat dalam kitab Fatĥul Qarîb al-mujîb syarah Ibn Qâsim atas kitab Ġayāh al-Taqrîb karya Abû Syujā’.[2] 

Menurut kitab ini yang termasuk dalam kitab aĥkāmi ţahārah adalah pasal sebagai berikut : (1)  al-miyāh (pasal tentang macam-macam air), (2) pasal tentang status kulit bangkai binatang, (3) pasal tentang pemakaian bejana emas dan perak (4)  isti’malu alāti al-siwāk (pasal tentang kebersihan gigi), (5)  furud al-wuďû (pasa tentang wudhu), (6) pasal tentang hal-hal yang membatalkan wudhu, (7) pasal tentang istinjak (cebok), (9) pasal tentang hal-hal yang mewajibkan mandi, (9) pasal tentang fardhunya mandi (10) pasal tentang mandi-mandi sunnah (11) pasal tentang mengusap sepatu (12) pasal tentang tayamum (13) macam-macam najis, (14) pasal tentang darah haid, nifas dan istihadhah.[3] 

Sudah barang tentu antara satu kitab fiqih dengan kitab fiqih yang lain akan memiliki struktur pembagian bab  ţahārah dalam bentuk yang berbeda-beda pula. Ada yang lebih luas ada pula yang lebih ringkas pembahasannya, tergantung seberapa besar dan tebal halaman kitab yang bersangkutan. Misalnya, ada yang memasukkan pasal khitān dalam bab ţahārah adapula yang tidak menyertakan bab tersebut dalam bab ţahārah. Meskipun struktur pembahasannya agak berbeda-beda, mayoritas kitab-kitab fiqih pesantren terutama dari madzhab Syafi’i memiliki ciri yang sama dalam menyusun muatan yang dibahas dalam kitab thaharah. 

Selanjutnya, dalam tulisan ini akan membahas secara terbatas sejumlah persoalan (pasal) dalam fiqih thaharah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Artinya tidak semua pasal yang tercantum dalam bab ahārah akan dibahas. Hal ini disesuaikan untuk melihat sejauh mana persoalan-persoalan kesehatan reproduksi dikaji dalam pasal-pasal bab ţahārah. Untuk itu, pembahasan hanya akan mengkaji pasal-pasal yang berkaiatan dengan kesehatan reproduksi saja.

a. Pasal istinjāk 

Ibnu Qāsim menyatakan:

Istinjāk wajib dilakukan karena keluarnya air seni dan buang hajat. Istinjak boleh menggunakan air atau batu dan setiap benda padat yang suci, mampu menghilangkan kotoran dan layak digunakan beristinjak seperti tisu yang memiliki fungsi (bisa membersihkan kotoran) sebagaimana batu.[4]       

Istinjāk merupakan salah satu dari bentuk aktifitas ţahārah. Tujuannya adalah menghilangkan najis atau kotoran yang keluar dari farj (alat kelamin dan anus) untuk menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh.[5] Dengan beristinjak berarti seseorang telah membebaskan dirinya dari penyakit.[6] Karena itu, fiqih memberi status wajib bagi aktifitas istinjāk ini. Seseorang yang mengeluarkan najis atau kotoran baik dari qubul (kelamin) maupun dubur (anus) wajib hukumnya beristinjāk[7] dengan air maupun dengan “batu”[8]

Status wajib beristinjak ini membuat ulama fiqih tidak mentolerir orang yang meninggalkan  istinjāk,  meskipun tidak ada air. Jika tidak mendapatkan air untuk beristinjak maka ulama fiqih masih mewajibkan seseorang untuk beristjmār (cebok dengan “batu”) atau benda apapun yang dapat menghilangkan najis dan layak digunakan untuk beristinjāk.[9] Sehingga seseorang bersih dari segala kotoran dan najis yang akan menyebabkan kemungkinan timbulnya penyakit. 

Begitu pentingnya kebersihan, fiqih-fiqih pesantren secara khusus membahas masalah istjmār (cebok dengan “batu”). Boleh Istijmār (cebok memakai batu) atau setiap benda padat, suci, dan bisa menghilangkan kotoran, bukan benda yang dihormati (goiru muhtaromin).[10]

Adapun syarat-syarat batu atau benda yang boleh digunakan untuk beristijmār adalah sebagai berikut : 

1. Berupa batu atau benda yang suci  

2. Berupa benda padat (jamid), bukan cair  

3. Bisa digunakan untuk menghilangkan najis 

4. Tidak berupa benda yang dihormati / dimuliakan, seperti makanan. 

Sedangkan syarat-syarat Istijmār  adalah : 

1. Memakai tiga buah batu dengan catatan sudah bisa menghilangkan najis (kotoran). Apabila memakai tiga buha batu tidak mampu menghilangkan najis maka wajib menambah batu secukupnya. 

2. Menggunakan batu yang suci

3. Bisa menghilangkan najis (kotoran) 

4. Najis yang ada diqubul maupun dubur belum mengering 

5. Najis tidak berpindah (melebar) dari tempat keluarnya 

6. Tidak ada najis lain ditempat keluar najis.  

7. Tidak terkena air 

8. Najis tidak melebar sampai melewati bokong atau kepala penis.[11]

b. Pasal hal-hal yang mewajibkan mandi

Secara bahasa al-ğuslu berarti mengalirkan air. Dalam terminologi fiqih al-ghuslu adalah mengalirkan air keseluruh tubuh (mulai ujung rambut sampai ujung kaki) dengan tujuan (niat) tertentu.[12] 

Pembahasan al-ğuslu berkaitan erat dengan aktifitas menghilangkan najis maupun hadas.[13] Dalam bab thaharah pada sub bab “hal-hal yang mewajibkan mandi” fiqih mewajibkan bagi perempuan untuk mandi janabah setelah haid –nifas berhenti dan setelah melahirkan (wilādah). Haid, Nifās dan Wilādah merupakan proses-proses reproduksi yang selalu terjadi pada perempuan.

Pada saat darah haid, nifas berhenti atau sehabis melahirkan anak perempuan berkewajiban untuk mandi. Sehingga ia bersih dari  hadas. Selain itu fiqih juga mengkonstitusikan gushl bagi laki-laki dan perempuan setelah melakukan hubungan seksual. Begitu pula, laki-laki yang mengalami ihtilam (mimpi basah) juga berkewajiban mandi.[14] Bahkan bagi perempuan yang telah berhenti dari haid maupun nifas disunnahkan untuk membersihkan farajnya  dari kotoran (darah) dan dianjurkan pula untuk berwudlu.[15] 

Adapun ketentuan mandi adalah sebagai berikut: (1) niat menghilangkan hadas besar (2) menghilangkan najis dari tubuh dan (3) meratakan air ke seluruh tubuh, termasuk membasuh alat-alat kelamin (farj-dzakar). Dengan demikian seseorang yang mandi harus meratakan air keseluruh badan (kulit) tanpa terkecuali, sampai ke bawah qulup (bagi yang belum berkhitan) dan sampai bagian farj (vagina)  perempuan yang bisa dilihat ketika sedang jongkok buang hajat. Wajib pula menggosok-gosok lipatan alat kelamin atau anus sehingga bersih najis. Selain itu, juga dianjurkan menggosok-gosokkan tangan ke seluruh badan (al-dalku).[16]

c. Pasal tentang Haid, Nifās dan Istihādhah

Masalah haid, nifas, dan istihadah dalam fiqih memperoleh perhatian yang begitu luar biasa dari para fuqaha. Bisa dipastikan kitab-kitab fiqih pesantren membahas masalah ini baik secara ringkas atau pajang lebar.[17]

Haid (menstruasi), secara biologis merupakan siklus reproduksi yang menandai sehat dan berfungsinya organ-organ reproduksi perempuan. Menstruasi menandakan kematangan seksual seorang perempuan dalam arti ia mempunyai ovum yang siap dibuahi, bisa hamil, dan melahirkan anak. Oleh para ulama fiqih siklus ini disebut dengan istilah haid.

Menurut bahasa ĥaid berarti mengalir. Dalam bahasa Arab dikatakan ĥâdha al-wâdi, artinya jurang itu mengalir. Sedangkan menurut syara’ haid berarti darah yang keluar dari ujung rahim perempuan dalam keadaan sehat tanpa sebab melahirkan atau sakit.[18] 

Dalam kitab Fath al-Qarib disebutkan : “haid adalah darah yang keluar---ketika usia haid yaitu sembilan tahun atau lebih--- dari farji perempuan ketika keadaan sehat, artinya tidak karena sebab sakit dan sebab-sebab melahirkan”.[19]  

Menurut fuqaha perempuan yang akan mengeluarkan darah haid minimal berumur 9 tahun menurut kalender hijriyyah atau kurang sedikit yakni tidak lebih dari 16 hari 16 malam. Sehingga ketika ia mengeluarkan darah melebihi 16 hari 16 malam sebelum umur 9 tahun maka disebut darah fasad atau istihadhah.[20] Meskipun begitu, batasan-batasan ini lebih bersifat lokalitas (taqrîban) daripada universal (taĥdîdan).[21]   

Sedangkan darah yang dihukumi haid oleh kitab-kitab fiqih pesantren pada umumnya paling sedikit sehari semalam (24 jam) baik 24 jam itu darah terus menerus keluar atau terputus-putus dalam 15 hari 15 malam. Sedangkan masa siklus haid paling lama adalah 15 hari 15 malam. Sedangkan masa siklus haid rata-rata berlangsung selama seminggu (6 hari 6 malam atau 7 hari 7 malam).[22] 

Ketentuan di atas berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Imam Syafi’i pada wanita-wanita di Arab.[23] Penelitian Imam Syafi’i ini di kalangan foqaha dikenal dengan metodologi  “istiqra’”.[24] Di mana dalam mengkaji masalah siklus haid imam Syafi’i berlandaskan pada penemuan-penemuan empiris siklus haid wanita Arab pada saat itu.    

Dalam kitab Minhajul Qawim dinyatakan :  “Masa haid terpanjang (lama) adalah 15 hari 15 malam (meskipun darah haid keluar terputus-putus) dan umumnya 6 atu 7 hari-malam, demikian ini berdasarkan penelitian Imam Syafi’i r.a”.[25]

Selain itu, fiqih juga menetapkan haid bagi perempuan merupakan tanda-tanda mulai dewasanya seorang perempuan. Dalam kitab safînah al-najâ dinyatakan bahwa tanda-tanda seseorang telah mencapai dewasa (baligh) adalah salah satu diantaranya seorang perempuan telah haid.[26]  

Lain halnya dengan haid, nifas menurut fuqaha  adalah darah yang keluar setelah perempuan mengalami persalinan (melahirkan). Kalangan ulama fiqih menetapkan bahwa pada umumnya masa siklus nifas adalah 40 hari atau paling lama dalah 60 hari.[27] Ketentuan-ketentuan tentang siklus nifas ini, sebagaimana siklus haid, juga berdasarkan dari hasil penelitian imam Syafi’i r.a pada wanita-wanita Arab[28] pada waktu itu.  
 
Pembahasan tentang nifas ini dalam kitab-kitab fiqih menjadi bagian integral dari pembahasan haid dan Istiĥâdhaĥ. Nifas ini juga merupakan siklus normal yang berkaitan dengan proses-proses reproduksi perempuan. Istilah nifas itu sendiri, seperti haid, adalah bahasa ahli fiqih yang sudah mengindonesia. 

Adapun Istiĥâdhaĥ adalah darah di luar siklus normal (haid dan nifas). Istihadah atau darah yang keluar diluar siklus haid atau nifas yang normal pada umunya menandai adanya gangguan alat-alat reproduksi perempuan.[29] 

Haid, nifas dan Istiĥâdhaĥ secara spesifik mendapat perhatian dalam kitab-kitab fiqih pesantren dikarenakan memiliki banyak implikasi terhadap ketentuan agama mengenai perempuan baik dalam aspek ibadah, muamalah, maupun munakahah. 

Perempuan yang sedang menjalani siklus haid dan nifas oleh fiqih dilarang melakukan hal-hal sebagai berikut : 

Pertama, Salat. Setiap orang islam wajib menunaikan salat lima waktu sehari semalam, sebagai agenda yang tidak dapat ditawar, bahkan bagi orang yang sakit berat sekalipun. Tetapi bagi orang yang sedang haid atau nifas kewajiban melakukan salat lima waktu itu dibebaskan, gratis tanpa harus mengganti (qadha).[30] 

Dengan demikian, selama siklus haid dan nifas berlangsung seorang peremuan tidak dikenakan kewajiban beribadah salat. Justru fiqih mengkategorikan salat sebagai sebuah tindakan terlarang (haram) bagi perempuan yang sedang mengemban siklus haid. Fiqih baru mewajibkan perempuan melakukan salat setelah siklus haid berhenti, namun dengan catatan setelah mandi (gushl). Jadi meskipun haid telah berhenti tetapi belum mandi janabah seorang perempuan belum diperkenankan untuk salat sampai ia mandi (gushl). Selain itu, kaitannya dengan siklus haid, perempuan tidak dikenakan melakukan qadha (mengganti) salat yang ditinggalkannya selama masa haid. 

Kedua, Puasa. ketentuan fiqih menyatakan bahwa perempuan yang sedang haid atau nifas dilarang berpuasa. Fiqih memberikan dispensasi bagi perempuan yang sedang haid atu nifas untuk tidak melaksanakannya. Selama ia masih mengalami siklus haid atau nifas larangan berpuasa tetap melekat pada perempuan. Meskipun fiqih melarang perempuan haid berpuasa, tetapi fiqih tetap mewajibkan mengqadha puasa di hari lain sebab puasa hanya sekali dalam setahun.[31]

Ketiga, Membaca dan menyentuh (memegang) al-Qur’an. Peremuan yang sedang haid dan nifas oleh fiqih juga dilarang membaca al-Qur’an dan menyentuh (memegang) mushaf al-Qur’an.

Keempat, Masuk masjid jika dikhawatirkan darah akan mengotori masjid. Kelima, Thawaf  dan keenam, Berhubungan seksual (al-wat’u).[32] 

Masih dalam bab ţahârah, fiqih juga melarang mengharamkan) persetubuhan diwaktu perempuan sedang menjalani proses-proses reproduksi seperti haid dan nifas. Fiqih mengkonstitusikan hubungan seksual diwaktu perempuan sedang haid sebagai dosa besar (min al-kabāir).[33]

Fiqih melarang suami menyetubuhi isterinya yang sedang dalam kondisi haid ataupun nifas karena darah yang keluar dari farajnya adalah sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Bahkan orang yang menghalalkan hubungan seksua diwaktu isteri haid---sedangkan ia mengetahui bahwa hubungan seksual tersebut haram--- maka bisa dikategorikan kafir.[34]

Lebih dari itu, meskipun haid telah berhenti akan tetapi perempuan belum mandi juga tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual. Fiqih mengkonstitusikan bahwa hubungan seksual boleh dilakukan setelah perempuan melakukan gushl.[35] 

d. Kewajiban Berkhitan 

Bagi muslim laki-laki fiqih mewajibkan untuk berkhitan.[36] Yakni pemotongan kulit yang menutupi hasyafah agar tidak menyimpan kotoran dan  mudah dibersihkan setelah buang air kecil.[37] Sebab secara fisik kesucian alat reproduksi laki-laki dari najis dan kotoran dianggap lebih sempurna setelah khitan ketimbang laki-laki yang belum berkhitan. Di mana qalafah yang tidak dibelah atau dipotong membuat kepala dzakar tertutup. Akibatnya menyebabkan air kemih tidak dapat keluar dengan sempurna karena qalafah menyebabkan ketertinggalan air kemih di dalam kepala zakar. 

2. Kesehatan alat-alat reproduksi dalam kitab munâkahah 

Kitab munākahah menempati posisi yang penting dalam pembahasan kitab-kitab fiqih pesantren. Dapat dipastikan setelah membahas fiqih ibadah dan fiqih mu’āmalat, kitab-kitab fiqih pesantren melanjutkan pembahasannya tentang kitab munākahah. 

Selanjutnya kitab munākahah memuat beberapa pasal (topik) pembahasan. Sebagai contoh berikut penulis kutipkan struktur pembahasan pasal yang terdapat dalam kitab  Fath Al-Qarîb  Syarh Ibn Qâsim atas kitab Gâyah wa al-ta’rîb karya Abu Syujâ’. 

Menurut kitab ini yang termasuk dalam fiqih munakahah adalah pasal-pasal sebagai berikut: (1) pasal tentang hukum-hukum perwalian (2) hal-hal yang diharamkan dalam nikah (3) mas kawin (4) pesta perkawinan (5) menggilir isteri (6)  nusyūs (7) hukum perceraian dari pihak isteri (khulu’) (8) perceraian (ţalak) (9) bentuk-bentuk perceraian (10) cara perceraian orang merdeka dan hamba sahaya (11) ruju’ (12) sumpah ila’ (13) hukum dzihâr (14) penuduhan zina (15) sumpah li’an (16) hukum ‘iddah (17) jenis-jenis orang yang ‘iddah (18) istibra’ (pembebasan) (19) penyusuan (20) nafkah (21) pasal tentang pemeliharaan anak.  

Namun sudah barang tentu antara satu kitab dengan kitab fiqih yang lain akan memiliki struktur pembagian fiqih munakahah dalam bentuk yang berbeda-beda pula. Ada yang lebih luas ada pula yang lebih ringkas pembahasannya, tergantung seberapa besar dan tebal halaman kitab yang bersangkutan. Misalnya ada ulama fiqih yang memasukkan pasal perceraian dalam kitab al-nikâh ada ada yang menjadikannya dalam satu kitab tersendiri. Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid Misalnya menjdikan pasal perceraian dalam satukitab (bab) tersendiri. 

Meskipun struktur pembahasannya agak berbeda-beda namun mayoritas kitab-kitab fiqih pesantren  dari madzhab Syafi’i memiliki ciri yang sama dalam menyusun muatan yang dibahas dalam kitāb al-nikāh.

Selanjutnya penulis akan membahas secara terbatas sejumlah persoalan yang berkaiatan dengan fiqih munākahah. Artinya tidak semua pasal yang tercantum dalam kitab nikah yang akan dibahas. Hal ini disesuaikan dengan tujuan penelitian ini, yaitu keinginan untuk melihat sejauh mana konsep kesehatan reproduksi di dalam kitab munākahah. Untuk itu, pembahasan ini hanya akan menyoroti pasal pernikahan dalam kitab munākahah.

Dalam pandangan kitab-kitab fiqih pesantren pernikahan didefinisikan sebagai aqad ibâĥah[38] (kontrak untuk memperbolehkan melakukan sesuatu---dalam hal ini alat seks yang semula dilarang setelah terjadinya akad nikah boleh untuk digunakan/bersetubuh). Dengan demikian pernikahan bukan aqad tamlîk (kontrak pemilikan), yakni bahwa dengan pernikahan seorang suami telah melakukan kontrak pembelian perangkat seks (budhu’) sebagai alat melanjutkan keturunan[39] dari pihak perempuan yang dinikahinya. Artinya, dengan perkawinan ini alat seks perempuan tetap merupakan milik perempuan yang dinikahi. Hanya saja kini alat itu sudah menjadi alat untuk dinikmati oleh seseorang yang menjadi suaminya atau sebaliknya.   

Menurut fiqih hukum nikah adalah sebagai berikut : 

Pertama, wajib. Menurut fiqih seseorang yang sudah masanya (mempunyai keinginan) menikah, memiliki biaya dan khawatir akan terjerumus dalam zina wajib hukumnya untuk menikah.

Kedua, Sunnah. Status hukum sunnah untuk menikah dikenakan oleh fiqih bagi seseorang yang sudah waktunya (mempunyai keinginan) menikah dan memiliki biaya untuk menikah meskipun ia tidak khawatir akan terjerumus dalam perzinaan. 

Ketiga, Makruh. Seseorang yang belum waktunya (belum memiliki berkeinginan untuk) menikah dan tidak punya biaya untuk menikah dan tidak khawatir akan terjerumus zina maka makruh hukumnya menikah.[40] 

Keempat, haram, yaitu bagi orang yang apabila ia kawin justeru akan merugikan isterinya karena ia tidak mampu memenuhi nafkah lahir maupun batin.[41]  

Kitab-kitab fiqih menyatakan, ketika laki-laki dan perempuan telah mengikatkan diri (‘aqad) dalam pernikahan maka resmi menjadi suami isteri dan membawa implikasi terhadap berbagai tugas, kewajiban dan hak yang diatur dalam hukum perkawinan. Sayid Sabiq menyatakan perkawinan merupakan metode untuk memiliki dan memperbanyak anak, melahirkan generasi1.[42] 

Lebih jauh Sayid Sabiq menyatakan, Islam sangat mendorong orang untuk melangsungkan pernikahan secara benar. Sebab dalam pernikahan terkandung berbagai hikmah bagi manusia. Hikmah tersebut antara lain: untuk menyalurkan hasrat seksual (al-Ġarîzah al-jinsiyyah), memperbanyak keturunan, dan generasi, menyalurkan naluri kebapakan dan keibuan dan menguatkan rasa cinta kasih.[43] 

Imam Al-Ghazali dalam magnum opusnya, Ihyā Ulūm al-Dîn, menyatakan pernikahan dimaksudkan untuk menghindari kerusakan yang disebabkan oleh farj[44] dan gejolak nafsu seksual, misalnya khawatir terjerumus dalam pelacuran. Lebih jauh ia menjelaskan pernikahan dimaksudkan untuk melahirkan keturunan (anak), ibqa al-nasl).[45]

3.  Reproduksi dalam Kitab Jinâyat. 

a. Aborsi 

Sebelum menjelaskan tentang aborsi ada baiknya penulis menguraikan tentang kehamilan dan janin. Karena bagaimanapun juga kurang afdhol jika membahas aborsi tanpa membahas kehamilan dan janin. Sebab aborsi erat kaitannya dengan kehamilan dan perkembangan janin. 

Biasanya saat berhubungan seks pihak lelaki akan mengeluarkan sel (sperma) laki-laki yang disebut spermatozoon. Ketika spermatozoon bertemu dengan dengan sel telur (ovum) maka akan terjadi kopulasi (peleburan) sehingga keduanya bersatu dan terjadilah pembuahan. Hasil pembuahan ini disebut embrio atau janin. Pada saat inilah terjadi kehamilan. 

Sedangkan istilah janin dalam bahasa Arab secara harfiah “berarti sesuatu yang diselubungi atau ditutupi”.[46] Jadi dari definisi ini janin berarti sesuatu yang akan terbentuk dalam rahim wanita dari saat pembuahan sampai kelahirannya.[47] Paling sedikit terdapat satu ayat al-Qur’an yang menyebut tentang janin. Allah berfirman: 

 “Dia lebih mengetahui keadaanmu sejak mulai diciptakan dari unsur tanah dan sejak kamu masih dalam kandungan ibumu” (QS 53:32).

Adapun tahap-tahap perkembangan janin adalah sebagai berikut :

Pertama, masih berupa zat yang mengadung air mani. Hal ini berlangsung selama 40 hari.

Kedua, segumpal darah (alaqah) yang tidak mengandung daging dan jantung, hati, serta otak belum jelas wujudnya. Proses inipun berlangsung selama 40 hari. 

Ketiga, berupa daging (mudhghah) di mana jantung, otak, hati serta organ-organ tubuh lainnya mulai terwujud. Ketiga, seluruh organ menjadi wujud sempurna dan pada sat inilah ditiupkan ruh pada janin tersebut. Terjadinya proses ini kurang lebih pada ke-120 hari pertumbuhan dan perkembangan janin.[48] Dengan demikian janin yang telah berumur 120 hari atau kurang lebih 4 bulan 10 hari telah memiliki kehidupan sebagaimana manusia pada umumnya.

Selanjutnya kajian tentang aborsi, dalam khazanah fiqih pesantren disebut dengan ijhadh. Yakni isti’malu ad-dawa bi qasdhi al-itsqath atau isqath al-haml, yaitu pengguguran kandungan yang sudah tua.[49] Para ulama sepakat bahwa pengguguran kandungan yang telah berumur lebih dari 120 hari (4 bulan) adalah terlarang (haram). Alasannya pengguguran kandungan setelah berumur 120 hari sama dengan melakukan pembunuhan (tindakan pidana) dan dikenakan sanksi berupa diyat (denda pembunuhan). Sebab janin yang telah berumur 120 hari telah memiliki (ruh) kehidupan sebagaimana layaknya manusia.[50] 

Lantas bagaimana jika Aborsi sebelum janin umur 120 hari. Sebagian ulama memperbolehkan pengguguran kandungan sebelum 40 hari. Namun ada juga yang memperbolehkan Aborsi sebelum janin berumur 120 hari. Akan tetapi aborsi diatas 40 hari tentu membawa resiko bagi ibu yang mengandung. Sebab diatas 40 hari sperma telah menjadi segumpal darah maupun segumpal daging.[51]

Adapaun ulama yang mengharamkan aborsi sebelum ditiupkan ruh antara lain Ibnu Hajar dalam kitabnya Al-Tuhfah,[52] al-Ghazali dalam Ihya ‘ulummuddîn.[53] Keduanya mengharamkan pengguguran kandungan sebelum ditiupkan ruh dengan alasan sesungguhnya janin atau embrio pada saat itu sudah ada kehidupan atau hayat yang patut dihormati yaitu dalam hidup pertumbuhan dan persiapan. 

b. Perzinaan 

Sebelum membahas tentang perzinaan terlebih dahulu penulis akan menguraikan tentang seksual. Sebab perzinaan merupakan salah satu bentuk penyimpangan seksual yang oleh fiqih masuk dalam kategori tindakan kriminal. 

Dalam bahasa Arab kata  seks diistilahkan dengan sebutan  jima’ atau  waţī’. Yang berarti hubungan seks, sebagaimana disebutkan oleh al-Husaini dalam kitab Kifaytul Ahyar: “bertemunya dua jenis kelamin laki-laki dan perempuan diibiratkan juga jima’ yaitu masuknya kepala penis tengkuknya ke dalam farji, qubul ataupun dubur (anus) sekalipun farji binatang atau ke dalam anus orang laki-laki dalam keadaan hidup atau mati”.[54]

Dalam kitab Ihya Ulumuddin al-Ghazali berkata:  “ketahuilah sesungguhnya hubungan seksual yang dilakukan/diberikan oleh manusia itu ada dua tujuan, pertama: agar ia mendapatkan kelezatan atau kenikmatan akan hubungan seks….kedua, agar mendapatkan keturunan anak untuk melestarikan kehidupan manusia di muka bumi”.[55] Selain itu, hubungan seksual juga berfungsi sebagai penyaluran hasrat seksual disamping melahirkan keturunan. Rasulullah berkata :

 “wahai para pemuda barang siapa telah mampu berumah tangga maka kawinlah ! karena kawin lebih bisa menundukkan pandangan dan menjaga farji…..” (HR Bukhari-Muslim). 

Maka tidak ada keraguan bahwa naluri seks adalah salah satu naluri terkuat dalam diri manusia. Dr. Muhammad Fazlur Rahman, sebagaimana dikutip Abu Fadhl Mohsin Ebrahim menyatakan bahwa tujuan jangka pendek dari naluri seksual adalah hubungan seksual dengan lawan jenis, dan tujuan akhirnya adalah melahirkan keturunan.[56] Akan tetapi, meskipun islam telah memberikan solusi terbaik bagi penyaluran libido seksual, masih ada juga sebagian manusia yang melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam persoalan seksual, misalnya seks bebas atau zina. 

Menurut kitab-kitab fiqih pesantren ada dua kategori zina,[57] pertama, zina muhson (zina ekstramarital), Dengan kata lain, zina muhson adalah kasus perzinaan yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah, berkeluarga. Pelaku perzinaan model ini oleh fiqih diancam dengan hukuman rajam (dilempari batu).  Kedua, zina ghairu muhson (zina preamarital) Yakni zina yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang belum menikah. Terhadap pelaku perzinaan ini fiqih mengancam hukuman jilid (cambuk) 100 kali dan diasingkan ke daerah lain selama kurang lebih satu tahun.

Selain itu zina juga masuk dalam ketegori dosa besar.[58] Lebih jauh, zina merupakan perbuatan keji dan menjijikkan, zina merupakan salah satu wujud dari maksiat faraj yang akan melahirkan berbagai macam penyakit dan bencana.[59] Karenanya, semua agama sepakat bahwa zina merupakan perbuatan yang terlarang. Zina adalah dosa besar dan perbuatan yang paling keji diantara perbuatan keji lainnya. Dan hukumannya pun juga paling berat karena zina mengotori dan merendahkan kehormatan dan nasab manusia.[60] 

Termasuk, perzinaan adalah free sex dan pelacuran, meskipun dilakukan atas dasar suka sama suka. Sebab perzinaan merupakan mengingkaran terhadap nilai-nilai kehormatan dan hak reproduksi. Larangan perzinaan ini berpijak dari firman Allah :

 “dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’ (17) : 32). 

c. Masturbasi, Liwāth dan Ityānu al-Bahāim    
 
 Masturbasi atau onani ialah suatu aktifitas yang mengarah pada pemusatan nafsu birahi melalui rangsangan alat kelamin atau bagian vital lainnya, baik dilakukan sendiri atau oleh orang lain, hingga mencapai orgasme yang bagi laki-laki ditandai dengan ejakulasi dan bagi perempuan dengan berkonstraksinya otot-otot secara otomatis, terutama otot vagina.

Pencapaian orgasme (atau kenikmatan dalam seksual) ini biasanya dilakukan dengan tangan sehingga aktifitas ini dalam fiqih pesantren dikenal dengan al-istimnā’ bi al-kaff, istimnā’ bi al-yadd, atau nikāh al-Yadd (pada perempuan disebut al-Ilthaf). Oleh fiqih masturbasi diberi status haram (terlarang). Muĥammad Nawawŷ, menyatakan  Al-ŝalju, menggosok-gosok penis dengan tujuan memperoleh kenikmatan seksual penis hukumnya haram. Sedangkan onani dengan tangan hukumannya dita’zir. Tasāhaqu, istilah yang digunakan untuk perempuan yang melakuan masturbasi, juga haram.[61]

Selain itu, fiqih juga menetapkan keharaman melakukan sodomi (hubungan seksual lewat dubur / anal sex), homoseksual (liwāţ), masturbasi (al-nikāh bi al-yadd) dan bersetubuh dengan binatang (ityānu al-bahāim).[62] Dalam pandangan fiqih homoseksual, lesbien atau berhubungan seksual dengan binatang masuk dalam kategori perzinaan.

Adapun hubungan seksual yang dilakukan dengan tidak melalui alat kelamin oleh fiqih diancam dengan hukuman takzir.[63]  Adapun dasar teologis larangan dari homoseksual adalah firman Allah: 

dan ingatlah kisah Luth ketika Ia berkata kepada kaumnya: “mengapa kamu mengerjakan perbuatan fakhisah sedangkan kamu mengetahui kekejiannya? Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsumu bukan mendatangi wanita-wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui”. 




[1] Abŭ Ĥāmid bin Muhammad Al-Ġazāli, Al-Mustasfa min Ilmi Ushul, (Beirut : Dar Al-Turats al-Arabi, t.th.) juz I hal. 286. Menurut Al-Syāţiby dalam kitabnya Al-Muwāfqat fî Uŝūl Al-Syari’ah, beberapa komponen fiqih di atas merupakan teknis operasional dalam rangka mewujudkan kemaslahatan manusia sesuai dengan lima tujuan prinsip dalam syari’at Islam (maqāsid al-syarī’ah), lihat Al-Syāţiby, Al-Muwāfqat fî Uŝūl Al-Syari’ah, Juz I (Mesir: Maktabah Al-Tijāriyyah Al-Kubrā)  hal. 4
[2] Menurut Martin van Bruinessen kitab-kitab fiqih yang  paling  populer  dikaji dipesantren adalah kitab  Taqrib (al-Ghayah wa Al-Taqrib) yang juga dikenal dengan  Al-Mukhtashar oleh Abu Syuja’ (Al-Isfahani) dan Syarahnya  Fath Al-Qarib (oleh Ibnu Qasim Al-Ghazzi), lihat Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat : Tardisi-tradisi Islam di Indonesia, (Bandung :Mizan, 1995) hal. 119
[3] Ibnu Qāsim Al-Ghazzi, Fath Al-Qarib, (Dar Iyha Al-Kutub Al-Arabiyyah, t.th.) hal. 7
[4] Ibnu Qasim, Fathul Qarib, (Surabaya : Nur Asia, t.th) hal. 6
[5] Lihat Imam Ibrāhīm al-Bājūrŷ , Op.Cit. hal. 61. Dalam kitab-kitab fiqh pesantren ada dua istilah yang merujuk pada “status kotor”. Pertama, najis, istilah ini digunakan untuk menunjuk pada kondisi kotor atau kotoran yang dapat dilihat oleh mata (bisa dirasakan dengan panca indera), seperti, darah, air seni, kotoran hewan dan lainnya.  Kedua  istilah hadas, istilah ini dipakai untuk menggambarkan status atau kondisi kotor yang tidak bisa dirasakan dengan pancaindera, bersdifat ruhaniyah-spritual.
[6] Lihat Muhammad al-Syarbini Al-Khaţīb,  Al-Iqnā’ fi Hilli Al-Faz Abi Syuja’,  Juz I (Syirkah Nur Asia, t.th) hal. 45
[7] Imam Taqiyuddin Abi Bakar Ibn Muhammad al-Husaini al-Dimasyqy,  Kifaytaul Akhyar fi Hilli Al-Faz Abi Syuja’ (Dar Ihya Kutubul Arabiyyah, t.th.), hal. 27
[8] Lihat Ibrahim Al-Bajuri,  Op. Cit.,  hal. 61. Lihat pula KH. MA. Sahal Mahfudh, Dialog  dengan Kiai Sahal Mahfudh: Solusi Problematika Umat, (Surabaya: Ampel Suci-LTN NU Ma’arif, 2003) Hlm. 336
[9] Ibnu Qasim Al-Guzy, Op. Cit. hal. 61
[10] Aĥmad Siddīq, Ināratu al-Dujā,, (Semarang: Thoha Putera, t.th) Hal. 46
[11] Ibid. hal. 67. ada istilah  “batu syar’I”, yakni benda yang memiliki fungsi yang sama dengan “batu” untuk beristijmar, bisa menghilangkan najis. Dan ada istilah “batu haqiqi”, batu asli.
[12] Op.Cit. hal. 71
[13] Ibrahim Al-Bajuri Op. Cit. hal. 72
[14] Ibnu Qasim al-Ghazi, Op. Cit., hal. 72-75
[15] Zainuddin Ibn Abdul Aziz al-Malibary, Fath al-Muin, (Semarang: Thoha Putera, t.th) hal. 10
[16] Muhammad Nawawŷ Ibn ‘Umar al-Jāwŷ,  Tausyīkh ‘Alā Ibn Qāsim,  (Dar ihya al-kutub al-‘arabiyyah, t.th) hal. 19.
[17] Konon---menurut cerita para Kyai-Kyai Pesantren-- ulama sekaliber Imam al-Ghazali pernah dibuat “pusing”  oleh persoalan haid ini. Di mana  tak kala ia mengkaji (menulis) tentang bab haid ini menemui kesulitan. Kesulitan ini terus menghantui pikiran Al-Ghazali sehingga menyebabkan ia tidak khusu’ ketika salat. Bahkan kakaknya imam Ahmad tidak mau makmum dengan al-Ghazali lantaran tubuh al-Ghazali “terlihat”  berlumuran darah.
[18] Muhammad Ay-Syarbini Al-Khatib, Op.Cit., hal. 55
[19] Ibnu Qasim Al-Ghazy, Op.Cit., hlm. 10
[20] Ibid. hal. 112
[21] Ibrahim Al-Bajuri,  Op.Cit., hal. 113
[22] Imam Nawawi Al-Bantani, Nihayah Al-Zain, (Semarang: Thoha Putera, t.th) hal. 34
[23] Imam Al-Bajuri, Op.Cit., hal. 111.
[24] Lihat Abu Zakariyâ Yahyâ Al-Ansori,  Fath Al-Wahhâb, Dar Ihya Kutubu Al-Arabiyyah, t.th. hal 26
[25] Ibnu Hajar Al-Haitamy, Minhajul Qawim (Semarang: Pustaka Alawiyyah, t.th.) hal. 9
[26] Salim Ibnu Samir Al-Khadrami, Safinah al Naja, (Semarang: Pustaka al-Alawiyyah, t.t.h) hal. 2
[27] Al-Syarbini Al-khatib, Op.Cit., hal. 87
[28] Ibrahim Al-Bajuri, Op.Cit., hal. 113
[29] Ibid. hal. 110. Al-syarbini Al-khatib, Op.Cit., hal. 82
[30] Lihat Imam Salim Ibnu Samir al-Hadrami, Op.Cit., hal. 5. Lihat pula Al-syarbini Al-khatib, Op.Cit., hal. 85. lihat juga Ibrahim Al-Bajuri, Op.Cit., hal. 113
[31] Al-Syarbini Al-khatib, Op. Cit., hal.  85.
[32] Ibid. hal. 85
[33] Muhammad Ibn Umar Ibn Ali An-Nawawi, Op. Cit., hal.  34-35. Iqna’ Hal. 87
[34] Muhammad Asy-Syarbini al-Khatib, Op.Cit., hlm. 86. Dasar dari larangan ini adalah firman Allah SWT: Artinya : “ mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : “haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci….(QS: al-Baqarah (2) : 222)”. Yang dimaksud dengan “menjauhkan diri” dalam ayat ini adalah perintah untuk tidak bersetubuh dengan perempuan yang sedang haid hingga haid telah berhenti
[35] Taqiyuddin Abi Bakar Ibn Muhammad al-Husaini Al-Dimasyqy, Op.Cit., Hal. 78-79
[36] Abu Zakaria al-Anshari,  Fath al-Wahhab,  (Dar Ihya Al-Kutubu Al-Arabiyah, t.th) hal. 169. Lihat juga Zainuddin Ibn Abdul Aziz al-Malibary, Op. cit., hal. 132
[37] Sayyid Sabiq,  Fiqih al-Sunnah,  Juz I, (Kairo: Dar al-Fikr, 1987) hal. 36 Lihat juga, Abu Bakar Syata, Op. Cit., hal. 174.
[38] Muhammad Asy-Syarbini al-Khatib,  Op. Cit.,  hal. 115. Imam Ibrahim Al-Bajuri, Op.Cit., hal. 91
[39] Memang sebagian ulama berpendapat bahwa pernikahan tak lebih adalah sebagai aqad tamlik (kontrak pemilikan), yakni bahwa dengan pernikahan seorang suami telah melakukan kontrak pembelian perangkat seks (budhu’) sebagai alat melanjutkan keturunan dari pihak perempuan yang dinikahinya. Lihat Abdurrahman Al-Jazairi, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah, Juz IV (Beirut : Dar Al-Fikr, 1992)  hal. 1-3.
[40] Imam Taqiyuddin Abi Bakar Ibn Muhammad al-Husaini, Op.Cit.,  Hal. 37-39
[41] Lihat Asy-Syeikh Al-Imam Abu Muhammad, Qurrat Al-‘Uyun, penerbit Nur Asia, t.th. hal. 2. kitab ini secara detail menjelaskan tentang pernikahan, hubungan seksual suami isteri dan kehidupan rumah tangga. Kitab ini boleh dibilang kitab yang paling lengkap dalam membahas persoalan seksualitas.
[42] Sayid Sabiq, Op. Cit.,  hal. 5
[43] Ibid. hal. 10-12
[44] Lihat Abu Hāmid Al-Ghazāli,  Ihya Ulum Al-Din, Juz II ( Dar Ihya Kutub Al-Arabiyyah, t.th.) hal. 23
[45] Ibid. hal. 25
[46] Abu Fadl Muhsin Ebrahim, Aborsi, Kontrasepsi dan Mengatasi Kemandulan : Isu-Isu Biomedis dalam Perspektif Islam, (Bandung: Mizan, 1997) hal. 136
[47] Untuk perkembangan janin menurut Al-Qur’an lihat QS Al-Hajj ayat 5, Al-Furqan ayat 54, al-A’raf ayat 189.
[48] Lihat Muhammad Asy-Syarbini Al-Khatib, Op. Cit.,  hal. 85. Lihat juga B.F Musallam, Seks dan Masyarakat dalam Islam, (Bandung : Pustaka, 1985) hal. 70.
[49] Lihat Abu Bakar Syatha, Op. Cit., hal. 130-131. Lihat juga KH. MA. Sahal Mahfudh,  Dialog  dengan Kiai Sahal Mahfudh : Solusi Problematika Umat, Op.Cit. hlm. 255
[50] Ibid. Abu Bakar Syatha, hal. 131. Ibid. BF Musallam, hal. 74 -76. Dasar keharaman ini adalah : “jangan membunuh anak-anakumu karena atkut faqir….”(Al-Isra’ ayat 31)
[51] Ibid. Abu Bakar Syata, hal. 131.  KH. MA. Sahal Mahfudh, Op. Cit., hal. 257
[52] Al-Ghazali, Op. Cit,  hal. 107
[53] Al-Ghazali, Op. Cit., hal. 53
[54] Imam Taqiyuddin Abi Bakar Ibn Muhammad al-Husaini, Op.Cit.,  hal. 37
[55] Abu Fadl Muhsin Ebrahim, Op.Cit., hal. 140
[56] Abu Fadl Muhsin Ebrahim, Op.Cit., hal. 140
[57] Muhammad Asy-Syarbini al-Khatib, Op.Cit. hal. 220-221
[58] Abi Suja’,  Matan Gâyah wa al-Taqrib, dalam  Kifaytaul Akhyar fi Hilly Ghayat al-Ikhtisar, (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, T.Th) Hal. 78
[59] Muhammad Ibnu Sâlim Ibnu Saîd Babasyil,  Is’ād al-Rafîq,  (Indonesia: Dar Ihya al-Kutubu al-Arabiyah, t.th) hal. 106
[60] Muhammad Asy-Syarbini al-Khatib, Op.Cit. hal. 220
[61] Abi Abdullah Mu’thi Muhammad Ibn Umar Ibn Ali An-Nawawi, Op.Cit. hal. 349
[62] Imam Ibrahim al-Bajuri,  Op.Cit.,  hal. 232-233. Lihat  juga Abi Abdullah Mu’thi Muhammad Ibn Umar Ibn Ali An-Nawawi, Ibid.  hal. 349
[63] Muhammad Asy-Syarbini al-Khatib, Op.Cit. hal. 224

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter