Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

SEBAB-SEBAB KENAKALAN REMAJA

images (47)

Salah satu permasalahan yang perlu mendapat perhatian khusus dalam menuju pembangunan manusia seutuhnya adalah manusia yang berkaitan dengan generasi muda, khususnya kenakalan remaja yang dewasa ini kita seringkali menyaksikan berbagai kasus yang berhubungan dengan masalah kenakalan remaja. Kenakalan remaja tidak hanya terjadi pada anak yang putus sekolah namun juga dilakukan oleh remaja yang masih berstatus sekolah yang pada akhirnya menimbulkan keresahan sosial sehinga kehidupan masyarakat tidak harmonis lagi, ikatan solidaritas menjadi runtuh. Secara yuridis formal perbuatan-perbuatan mereka jelas melawan hukum tertulis atau undang-undang.

Jika ditinjau dari segi moral dan kesusilaan, perbuatan-perbuatan tersebut melanggar moral, menyalahi norma-norma sosial yang bersifat anti susila. Kenakalaan remaja yang dirasakan sangat mengganggu kehidupan masyarakat, sebenarnya bukanlah suatu keadaan yang berdiri sendiri, melainkan ada beberapa faktor penyebab terjadinya kenakalan. Aat Syafa’at mengatakan bahwapenyebab kenakalan anak adalah lemahnya pemahaman nilai-nilai agama; lemahnya ikatan keluarga; anak delinquency kangen keluarga; kondisi keluarga tidak nyaman, lingkungan sekolah tidak kondusif dan kondisi masyarakat yang buruk; kurangnya kontrol dari semua pendidik (orang tua, guru, tokoh masyarakat dll); kurangnya pemanfaatan waktu luang dan kurangnya fasilitas-fasilitas untuk remaja (sarana olahraga, sarana keagamaan, rekreasi, sanggar seni dan lain-lain). Keluarga yang tidak kondusif dan tatanan sosial masyarakat yang tidak stabil akan mendorong pada tumbuhnya kenakalan anak.[1]

Sedangkan menurut Sujanto, kenakalan anak disebabkan oleh keluarga. Karena sejak kecil anak berada dalam lingkungan keluarga dan sebagian besar waktunya pun dihabiskan bersama keluarga.[2] Adapun keadaan keluarga yang dapat menyebabkan kenakalan anak yakni keluarga yang tidak normal (Broken Home) dan Quasi Broken Home.[3]

Aspek lain didalam keluarga yang menimbulkan kenakalan anak adalah jumlah keluarga anak dan kedudukannya yang mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Seperti keluarga kecil, memperlakukan tidak adil pada salah satu anak. Si bungsu yang selalu disayang dan anak tunggal akan dimanja dengan pengawasan yang berlebihan. Keluarga besar, dengan jumlah anggota keluarga yang banyak, anak-anak biasanya kurang bahkan luput dari pengawasan orangtua. Jadi, kualitas rumah tangga atau kehidupan keluarga jelas sangat mempengaruhi perkembangan anak, terutama dalam membentuk prilaku deliquence.

B. Simajuntak menjelaskan penyebab kenakalan anak ada dua yakni faktor intern dan ekstern. Faktor intern yakni faktor yang datang dari anak tersebut seperti: cacat keturunan yang bersifat biologis-psikis. Pembawaan yang negatif, ketidak-seimbangan pemenuhan kebutuhan pokok dengan keinginan, lemahnya kontrol diri serta presepsi sosial, ketidakmampuan penyesuaian diri terhadap perubahan lingkungan. Dan tidak ada kegemaran atau hobi yang sehat. Sedangkan faktor ekstern yakni faktor yang timbul di luar anak, seperti: rasa cinta dari orang tua dan lingkungan, pendidikan yang kurang menanamkan prilaku yang sesuai dengan apa yang diharapkan, pengawasan yang kurang efektif, kurangnya penghargaan terhadap remaja, kurangnya sarana penyalur waktu senggang dan ketidak-tahuan keluarga dalam menangani masalah remaja, baik dari segi sosiologik, psikologik dan pedagogik.[4] Simanjuntak menekanakan pada kurangnya kontrol diri dan pengawasan yang kurang efektif dari pendidik menjadi penyebab deliquence.

Pada hakikatnya kenakalan anak dapat tumbuh karena faktor individu maupun lingkungannya. Karena manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial oleh karenanya setiap perubahan yang terjadi pada seseorang pastilah di pengaruhi oleh kedudukannya sebagai makhluk tersebut. Meskipun indikator yang dikemukakan para ahli bermacam-macam namun semuanya mengerucut pada kebutuhan dan perkembangan manusia.

Menurut Sudarsono, sebab-sebab kenakalan remaja dipengaruhi antara lain:

a. Keadaan keluarga

Pada dasarnya keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling kecil, tetapi merupakan lingkungan paling dekat dan kuat dalam mendidik anak, terutama bagi anak yang belum memasuki bangku sekolah. Dengan demikian seluk beluk kehidupan keluarga mempunyai pengaruh yang paling mendasar dalam perkembangan anak.

Keluarga mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan anak, keluarga yang baik akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak, sedangkan keluarga yang jelek akan berpengaruh negatif. Oleh karena itu, anak sejak kecil dibesarkan oleh keluarga dan seterusnya, sebagian waktunya adalah di dalam keluarga, maka sudah sepantasnya kalau kemungkinan timbulnya delequency itu sebagian besar juga berasal dari keluarga. Adapun keadaan keluarga yang dapat menjadi sebab delequency dapat berupa keluarga yang tidak utuh, keadaan ekonomi keluarga yang tidak menguntungkan, dan keluarga yang kurang memperhatikan pendidikan agama bagi anak-anaknya.[5]

Menurut Bimo Walgito bahwa keluarga keadaannya dapat dibedakan menjadi keluarga yang normal (normal home) dan keluarga tidak normal. Keluarga normal yaitu keluarga yang mempunyai ciri-ciri antara lain:

1) Keluarga yang lengkap strukturnya (ayah, ibu masih hidup).

2) Interaksi sosial harmonis.

3) Adanya kesefahaman mengenai norma-norma, sehingga dengan demikian tidak akan terdapatnya perbedaan ataupun pertentangan dengan norma-norma, misalnya: ibu melarang, tetapi ayah membolehkan, hal ini justru akan menimbulkan kesulitan-kesulitan anak.

4) Fisik dan mental yang sehat.

Keluarga yang tidak normal, dapat dibedakan broken home yaitu keluarga yang sudah tidak lengkap strukturnya, dapat dikarenakan antara lain: orang tua cerai, kematian salah satu orang tua atau kedua-duanya (ayah dan ibu meninggal), ketidak hadiran dalam tenggang waktu yang lama secara kontinu dari salah satu atau kedua-duanya orang tua dan broken home semu.

Dalam broken home semu sebenarnya struktur keluarga masih lengkap, artinya kedua orang tuanya masih utuh tetapi karena masing-masing anggota keluarganya (ayah atau ibu) mempunyai kesibukan masing-masing, sehingga orang tua tidak sempat memberikan perhatiannya terhadap pendidikan anak-anaknya. Dalam situasi keluarga yang demikian anak mudah mengalami frustasi, mengalami konflik-konflik psikologis, sehingga keadaan ini dapat mudah mendorong anak menjadi delequen.[6]

b. Keadaan sekolah

Ajang pendidikan kedua bagi anak-anak setelah keluarga adalah sekolah. Bagi bangsa Indonesia masa remaja merupakan pembinaan, pengemblengan dan pendidikan di sekolah terutama pada masa-masa permulaan. Dalam masa tersebut pada umumnya remaja duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat.

Selama dalam proses pembinaan, pengemblengan dan pendidikan di sekolah biasannya terjadi interaksi antara sesama anak remaja, dan antara anak-anak remaja dengan para pendidik. Proses interaksi tersebut dalam kenyataannya bukan hanya memiliki aspek sosiologis, yang positif, akan tetapi juga membawa akibat lain yang memberi dorongan bagi anak remaja sekolah untuk menjadi delinquen.

Melalui sekolah akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada anak sebagai individu dan sebagai makhluk sosial. Peraturan sekolah, otoritas guru, disiplin kerja, cara belajar pada anak. Misalnya, anak bisa belajar secara sistematis, bisa bergaul akrab dengan teman-temannya, bisa bermain bersama dan mengadakan eksperimen, dapat berlomba dan bersenda gurau dan seterusnya. Semua pengalaman inimemberikan pengaruh yang besar sekali bagi perkembangan kepribadian anak.[7]

Kondisi sekolah yang tidak baik dapat mengganggu proses belajar mengajar pada anak didik, yang pada gilirannya dapat memberikan peluang pada anak untuk berperilaku menyimpang. Kondisi yang tidak baik antara lain:

1) Sarana dan prasarana sekolah yang tidak memadai.

2) Kuantitas dan kualitas tenaga guru yang tidak memadai.

3) Kuantitas dan kualitas tenaga non guru yang tidak memadai.

4) Kesejahteraan guru yang tidak memadai.

5) Kurikulum sekolah yang sering berganti-ganti, muatan agama atau budi pekerti kurang.

6) Lokasi sekolah di daerah rawan dan lain sebagainya.[8]

Maka di sini hendaknya pengelola sekolah mampu menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi proses belajar mengajar anak didik, dan memenuhi kekurangan-kekurangan yang ada pada sekolah yang bersangkutan sehingga anak akan tenang dalam belajar.

c. Keadaan masyarakat

Masyarakat adalah merupakan tempat pendidikan ketiga setelah keluarga dan sekolah, maka dari itu keadaan masyarakat sekitarnya langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan anak. Karenanya masyarakat dapat menjadi sumber akan terjadinya perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kenakalan remaja.

Keadaan masyarakat ini dapat dilihat dari berbagai segi, misalnya:

1) Dari segi keadaan ekonomi pada umumnya.

2) Fasilitas rekreasi kegoyahan norma dalam masyarakat.

3) Pengaruh norma-norma baru dari luar.

4) Mass media.

5) Kurang atau tidak adanya pimpinan yang dapat dijadikan tempat identifikasi dalam masyarakat.[9]

Faktor kondisi lingkungan sosial masyarakat yang tidak sehat atau rawan, dapat merupakan faktor yang kondusif bagi remaja untuk berprilaku menyimpang. Apapun yang terjadi, mau tidak mau yangnamanya remaja pasti terjun di masyarakat, mengalami hidup dengan bermacam-macam perbedaan, baik berupa bahasa, kebudayaan maupun adat istiadat.

Lingkungan pergaulan buat anak adalah sesuatu yang harus dimasuki karena lingkungan pergaulan seseorang, anak bisa terpengaruh ciri kepribadiannya, tentunya diharapkan terpengaruh oleh hal-hal yang baik, disamping bahwa lingkungan pergaulan adalah sesuatu kebutuhan dalam pengembangan diri untuk hidup bermasyarakat, karena itu lingkungan sosial sewajarnya menjadi perhatian kitasemua agar bisa menjadi lingkungan yang baik yang bisa meredam dorongan-dorongan negatif atau patologis pada anak ataupun remaja.[10]

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebab-sebab kenakalan remaja dipengaruhi anatara lain karena keluarga dalam keadaan broken home, jumlah anak yang kurang menguntungkan dan pengawasan serta pemberian fasilitas yang berlebihan dari orang tua. Disamping itu juga keadaan sekolah dan masyarakat dan masyarakat yang ikut menimbulkan kenakalan remaja, antara lain: perbuatan guru/pendidik yang menangani langsung proses pendidikan, antara lain: kesulitan ekonomi yang dialami oleh pendidik dapat mempengaruhi perhatiannya terhadap anak didik. Berikutnya adalah keadaan masyarakat yang kurang mendukung dan tidak bisa mengatasi masalah pengangguran di kalangan remaja.


[1] Aat Syafaat, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 78 –79

[2] Agus Sudjanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Aksara Baru, 1981), hlm. 226

[3] Broken Home atau keluarga tidak normal disebabkan orangtua meninggal, perceraian, dan salah satu orang tua tidak hadir secara continue dalam tenggan waktu yang lama. Quasi Broken Home adalah kedua orangtua masih utuh, tetapi masing-masing anggota mempunyai kesibukan masing-masing sehingga tidak sempat memberikan perhatiannya terhadap pendidikan anak-anaknya. Lihat Sudarsono, Kenakalan Remaja, hlm. 125.

[4] B. Simanjutak, Pengantar Kriminologi dan Patologi Sosial, Edisi 2, (Bandung: Tarsito, 1981), hlm. 289 -290

[5] Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Aksara Baru, 1981), hlm. 226.

[6] Bimo Walgito, Kenakalan Anak Juvenile Deliquency, (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi, 1975), hlm. 15-16.

[7] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rieneka Cipta, 1991), hlm. 77.

[8] Dadang Hawari, Al-Qur’an Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Jiwa, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Primayasa, 1997), Cet. 3, hlm. 239.

[9] Bimo Walgito, Op. Cit., hlm. 18-19.

[10] Singgih D. Gunarsa dan Ny. Yulia Singgih D. Gunarsa, Op. Cit., hlm. 188-189.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter