Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

ISLAM DAN PERBUDAKAN

penindasan

Perbudakan sebenarnya merupakan masalah klasik, artinya ia sudah ada sejak dahulu. Bahkan ketika masa Socrates, Plato dan Aristoteles hidup sudah ada perbudakan. Namun demikian, Islam membuat syari’at untuk memerdekakan budak dan sebaliknya tidak mensyari’atkan perbudakan. Adapun bila kemudian perbudakan berkembang adalah bukan karena Islam. Perbudakan itu sebagaimana telah disebutkan di atas sudah ada sejak sebelum datangnya agama Islam.

Jika kita berlaku jujur bahwa metoda yang paling bijaksana dalam memecahkan problema perbudakan adalah Islam. Dikatakan demikian, karena Islam menggunakan metode tidak secara revolusioner melainkan secara evolusi atau bertahap. Bisa dilihat misalnya, beberapa ayat al-Qur’an telah mencantumkan baik secara tegas maupun secara tersirat tentang berbagai upaya untuk menghapus perbudakan. Bahkan jika ayat-ayat itu dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh makaakan tampak bahwa Islam sangat menghendaki hapusnya perbudakan baik dalam arti sempit atau harfiah maupun dalam arti luas atau kontekstual,artinya penghapusan perbudakan di situ bukan hanya terpaku pada pengertian budak secara fisik melainkan juga lebih jauh dari itu yaitu budak dalam persfektif ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Sebagai bentuk kesungguhan Islam mengurangi perbudakan maka Islam menyisihkan bagian tertentu dari zakat bagi para budak yang hendak menebus diri dari tuannya. Di pihak lain Islam pun memerintahkan kepada majikannya hendaklah membantu para budaknya. Keadaan ini dapat dilihat misalnya dalam al-Qur’an Surat an-Nur: 33, Surat al-Baqarah: 221, Surat an-Nisa : 25 dan 36. juga dapat dilihat secara tersirat dalam Surat ar-Rum : 22 dan Surat Fathir : 27-28.

Dalam surat An-Nur ayat 33 ditegaskan:

Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka. Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.

Ayat di atas memberi petunjuk bahwa salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta kepada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi pembayaran itu dengan harta yang halal.

Di samping itu al-Quran juga mengharamkan para pemilik budak untuk memaksa hamba sahaya perempuannya melakukan portitusi sebagai upaya untuk memperoleh harta kekayaan:

Dan janganlah kalian paksa hamba sahaya kalian yang perempuan untuk melakukan pelacuran, sedangmereka sendiri menginginkan kesucian dirinya, karena kalian hendak mencari keuntungan duniawi. Namun barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih terhadap mereka karena keterpaksaannya itu. (QS. an-Nur: 33)

Perlakuan mereka memaksa budak-budak perempuannya untuk melakukan perzinaan sudah merupakan kenyataan. Islam mengharamkan hal semacam ini, karena Islam melindungi kehormatan hamba-hamba sahaya perempuan sebagaimana Islam melindungikehormatan hamba-hamba sahaya laki-laki tanpa ada perbedaan.

Dalam bidang adab, akhlaq, kehormatan dan sikap pergaulan yang baik terhadap para budak, maka al-Quran dan Sunnah Nabi memberikan tuntunan yang menakjubkan: Al-Quran memandang lebih utama seorang laki-laki Muslim kawin dengan hamba sahaya wanita yang Muslimah daripada kawin dengan wanita merdeka yang kafir, sebaliknya memandang lebih utama seorang wanita Muslimah yang merdeka kawin dengan hamba sahaya laki-laki yang Mu'min daripada kawin dengan laki-laki merdeka yang kafir meski mempesona:

Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mu'min lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hati kalian. Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mu'min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mu'min lebih baik daripada orang musyrik walaupun dia menarik hati kalian. (Q.S. al-Baqarah: 221)

Dalam usaha menutup jurang perbedaanantara orang merdeka dengan budak, al-Quran menganjurkan laki-laki yang tidak mampu kawin dengan wanita merdeka agar kawin dengan hamba sahaya wanita:

Dan barang siapa di antara kalian (orang merdeka) yang tidak mampu untuk mengawini wanita merdeka yang beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman dari hamba-hamba sahaya kalian.... (Q.S. an-Nisa': 25)

Di dalam pesannya kepada orang-orang Muslim agar berbuat baik kepada bapak-bapak mereka dan ibu-ibu mereka, sanak kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga, sahabat, dan ibnussabil yang ditandaskan secara berulang-ulang dalam berbagai ayatnya, al-Quran juga tidak lupa mengikutsertakan hamba sahaya, katanya:

Dan (berbuat baiklah kepada) hamba-hamba sahaya kalian .... (Q.S. an-Nisa': 36)

Dalam menyebutkan perbedaan warna kulit, al-Quran tidak mengatakan bahwa yang demikian itu menunjukkan keutamaan dan keistimewaan antara yang satu terhadap yang lain, tetapi perbedaan warna kulit itu hanya menunjukkan salah satu tanda kekuasaan Allah Yang Maha Pencipta, keberadaan-Nya, kemaha-kuasaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya:

Di antara bukti kenyataan kekuasaan-Nya itu pula, ialah penciptaan langit dan bumi dan adanya beraneka bahasa dan warna kulit kalian. Dalam hal ini sungguh terdapat bukti bagi orang-orang yang berilmu. (Q.S. ar-Rum: 22)

Tidakkah engkau lihat, betapa Allah menurunkan hujan dari langit. Lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah- buahan yang beraneka warna. Gunung-gunung pun demikian pula, ada yang mempunyai garis-garis putih jernih, dan merah saga, merah yang beraneka ragam warnanya, dan ada pula yang hitam pekat. Demikian juga manusia, semua makhluk bergerak dan binatang ternak, bermacam-macam pula warnanya. Hanya orang-orang yang mengerti sajalah di antara para hamba-Nya yang benar-benar takut kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S. Fathir: 27-28)

Jika menengok lebih dalam lagi tentang kesungguhan ajaran Islam untuk menghilangkan perbudakan, misalnya dapat dilihat dalam hadits-hadits Nabi di antaranya:

Sesungguhnya Tuhanmu sekalian adalah satu, dan bapak kalian adalah satu. Ingatlah! Tidak ada kelebihan bagi bangsa Arab terhadap bangsa non Arab, tidak ada kelebihan bagi bangsa non-Arab terhadap bangsa Arab, tidak ada kelebihan bagi bangsa berkulit merah terhadap bangsa berkulit hitam, dan tidak ada kelebihan bagi bangsa berkulit hitam terhadap bangsa berkulit merah kecuali dengan taqwa. (HR. Ahmad)[1]

Sabda Rasulullah SAW:

Barangsiapa membunuh budaknya maka akan kami bunuh dia, dan barangsiapa memotong (anggota tubuh) budaknya maka akan kami potong (anggota tubuh) nya, dan barangsiapa mengebiri budaknya maka akan kami kebiri dia. (H.R. an-Nasa’i)[2]

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa Islam datang untuk menjelaskan, melalui lisan Nabi Muhammad SAW bahwa tidak ada kelebihan bagi seorang tuan atas seorang budak, tidak ada kelebihan bagi orang yang berkulit putih atas orang yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam kecuali dengan taqwa.

Sesungguhnya Islam menyamakan antara budak dan manusia yang lain menyangkut semua hak dan kewajiban, kecuali dalam beberapa kondisi tertentu yang telah dihapuskan olehIslam karena bertentangan dengan tanggung jawabnya yang telah dibebankan, seperti menggugurkan kewajiban shalat Jum’at dan haji atas mereka.


[1] Al-Imam Abu Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal Asy-Syaibani al-Marwazi, Musnad Ahmad, Mesir: Dar al-Ma’arif, 1382 H/1953 Ms. hlm. 320.

[2] Al-Imam Abu Abdir Rahman Ahmad ibn Syu’aib ibn Ali ibn Sinan ibn Bahr an-Nasa’i,Sunan an-Nasa’i, Mesir: Tijariyah Kubra, tth, hlm. 215.

1 comment

  1. Umat islam memang selalu menyibukkan muslim untuk membuat “polesan” supaya ISLAM terlihat dan di rasakan sesuai dengan moral masyarakat yang beradab. Karena memang jika kita mengungkapkan apa adanya ISLAM sesuai kenyataan, sulit buat masyarakat yang beradab untuk menerima ISLAM adalah agama yang “sempurna”. Tak perlu kita pungkiri banyak diantara kita merasakan kejanggalan secara moral dan juga secara pikiran rasional. Dan ketika kita coba bertanya untuk kejelasan, lebih sering kita hanya mendapatkan sekedar hiburan yang pada intinya mengesankan ISLAM adalah agama yang “sempurna” , tapi tetap belum memberi kejelasan. Seperti bahasan tentang budak. Sebenarnya jawabannya sangat sederhana,

    Apakah islam menghapus perbudakan? Jawabannya adalah: TIDAK!

    Apakakah Rasulullah SAW memiliki budak? Jawabannya adalah: YA!

    Apakah Rasulullah SAW pernah menggauli budak tanpa menikahinya terlebih dahulu dan budak itu melahirkan anak? Jawabannya adalah: IYA pernah. Budak itu bernama Mariah orang koptik, dia budak dirumah salah satu istri rasulullah SAW, dan melahirkan anak laki-laki bernama Ibrahim.

    Apakah itu berarti muslim boleh mengikuti dan mencontoh tauladan Rasulullah SAW untuk masa kini?
    Jawabanya adalah: BOLEH!

    Karena sunah hukumnya dan berpahala bagi yang mengamalkannya!

    Anda mungkin berpikir jawaban-jawaban itu bisa saja bertujuan menghina islam, tapi terpaksa anda harus kecewa, karena itu adalah jawaban yang harus anda terima. anda tidak mungkin meminta jawaban yang sebaliknya agar islam sesuai dengan moral anda.

    ReplyDelete

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter