Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

DZIKIR SEBAGAI TERAPI

dzikir

Dzikir yang artinya mengingat (Allah) merupakan metode yang selalu digunakan oleh semua tareqat sufi. Prinsip pokoknya adalah dengan memusatkan pikiran dan perasaan kepada Allah Swt. Dengan cara menyebut namanya berulang-ulang. Dengan demikian, seseorang akan mempunyai pengalaman berhubungan dengan Allah, adanya hubungan ini dengan sendirinya akan menghilangkan rasa keterpisahan antara manusia dengan Tuhannya.

Dzikir mempunyai kemiripan dengan berbagai teknik meditasi pada tradisi agama-agama lain, baik pada tekniknya maupun pada efek yang ditimbulkannya. Dzikir tidak hanya berpengaruh pada perkembangan rokhani atau nafs seseorang, banyak penelitian empiris yang telah membuktikan bahwa dzikir juga berpengaruh pula terhadap dimensi fisik. Misalnya dalam menyembuhkan berbagai jenis penyakit fisik maupun menghilangkan kondisi-kondisi psikopatologi seperti stress, kecemasan dan depresi.[1]

Dzikir dari sudut pandang ilmu kedokteran jiwa/kesehatan jiwa merupakan terapi psikistrik, setingkat lebih tinggi dari pada psikoterapi biasa. Hal ini dikarenakan dzikir mengandung unsur spiritual kerohanian/keagamaan/ke-Tuhanan yang dapat membangkitkan harapan (hope), rasa percaya diri (self confidence) pada diri seseorang yang sedang sakit, sehingga mempercepat prosespenyembuhan.

Sebagaimana diketahui bahwa faal organ tubuh manusia dikendalikan oleh keseimbangan sistem hormonal. Bila sesuatu sebab keseimbangan sistem hormonal terganggu, maka organ tubuh yang bersangkutan akan terganggu fungsinya (faalnya), yang apabila hal tersebut berkelanjutan pada gilirannya dapat berakibat pada terganggunya organ tubuh tersebut secara anatomis. Sebagaimana diketahui bahwa dewasa ini berbagai jenis penyakit yang berkembang adalah penyakit degeneratif, penyakit jantung koroner/kaediovaskuler, gangguan metabolisme tubuh, penyakit psikosomatik/psikofisiologik, gangguan kejiwaan (stress, kecemasan, depresi dan lain-lain).

Dalam cabang ilmu “psiko-neuro-endokrinologi” tersebut diuraikan bagaimana mekanisme atau psikopatologi terjadinya suatu penyakit. Misalnya pada penyakit diabetes milletus. Pada umumnya seseorang itu mengalami stress (ketegangan jiwa) yang berkepanjangan disebabkan yang ersangkutan menderita stressor psikososial (misalnya problem pekerjaan). Faktor psikis ini ditangkap oleh pancaindera diteruskan ke pusat emosi di susunan saraf pusat (limbic system). Bila rangsangan emosional tersebut berkelanjutan, melalui saraf (neuron) diteruskan ke organ kelenjar pancreas (endokrin). Kelenjar pancreas adalah kelenjar yang memproduksi hormon insulin, yaitu hormon yang mengatur kadar gula dalam darah. Kelenjar pancreas dapat terganggu fungsinya antara lain produksi hormon insulin berkurang atau dengan kata lain kadar gula darah orang yang bersangkuta meninggi. Pada mulanya keadaan ini sementara sifatnya dan dapat pulih kembali (reversible), namun dapat pula berkelanjutan tidak dapat pulih (irreversible), atau dengan kata lain orang tersebut menderita dibetes milletus

Faktor-faktor kejiwaan (psikis) melalui jaringan “psiko-neuro-endokrin” secara umum dapat mengakibatkan kekebalan tubuh (imunitas) menurun, yang pada gilirannya tubuh mudah terserang berbagai macam penyakit. Dilain pihak factor kejiwaan (psikis) melalui jaringan “psiko-neuro-endokrin” dapat meningkatkan imunitas (kekebalan) tubuh, sehingga seseorang tidak mudah jatuh sakit atau mempercepat proses penyembuhan.[2]

Menurut para ahli spiritual dan pengobatan sejak zaman Nabi sampai saat ini menyatakan bahwa dzikir merupakan satu kesatuan yang mengandung kekuatan yang mmapu memberikan keyakinan dalam semangat hidup dan memulihkan kesehatan seseorang. Keyakinan ini sangat diperlukan oleh siapapun terlebih lagi untuk orang yang menderita sakit, terutama penyakit yang dideritanya tergolong sulit untuk disembuhkan. Bisa jadi menurut ilmu kedokteran suatu penyakit yang sangat parah tidak dapat disembuhkan, tiada hal yang mustahil didunia ini apabila Allah menghendaki sesuatu. Selain berobat ke ahli medis, pengobatan juga diperlukan dengan cara berdzikir, sebab disamping permohonan kepada Allah dzikir juga berdampak positif terhadap tubuh dan psikologis penderita.

Banyak orang menyadari bahwa keadaan kondisi sakit selain dipengaruhi oleh tubuh fisik juga dipengaruhi oleh aspek lain, seperti keadaan mental, pikiran dan perasaan (psikologis) seseorang yang tidak seimbang, sehingga menimbulkan berbagai rasa sakit. Oleh karena itu, suatu mekanisme tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri, sebab setiap kerja alamiah tubuh manusia merupakan suatu keadaan yang terjadi dengan sendirinya. Dan berdasarkan hasil penelitian para ahli kesehatan, kebiasaan beribadah seperti, shalat, bersedekah, puasa dan ibadah lainnya yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan ajaran Rasulullah SAW dapat menjadi media penyembuhan.

Proses konsentrasi dalam tasawuf dilakukan pada sumber kehidupan dan sumber magnetis yang terletak di bawah tulang dada, dan selanjutnya diperluas ke otak. Bila tingkat konsentrasi yang benar dicapai dan dipertahankan maka kekuatan-kekuatan Fir’aun akan tenggelam dan perjalanan ke negeri yang dijanjikan bisa tercapai. Seperti dituturkan Profesor Agha dalam bukunya The Mystery Of Humanity, “himpunan seluruh tenaga dan dipusatkan pada sumber kehidupan di jantung mu agar temuan-temuan mu tidak bisa musnah sehingga kamu akan hidup dalam keseimbangan dan ketentraman, dan mengenal keabadian”.[3]

Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa organ yang paling berperan di dalam manusia dalam mengaktifkan sifat-sifat ketuhanan adalah organ jantung, sebagaimana sabda Nabi:

“Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, bila ia baik maka sehatlah seluruh tubuh itu, dan jika rusak maka akan sakitlah seluruh tubuh itu. Sesungguhnya itu adalah jantung” (HR. Bukhori dan Muslim)[4]

Untuk lebih jelasnya, apabial diperhatikan gambar tubuh (anatomi) manusia yang terdiri atas rongga dada dan rongga perut, dibagian dalam tubuh itu akan terlihat organ-organ, diantaranya:

1. Rongga dada yang terdiri atas batang tenggorokan, paru-paru dan jantung.

2. Rongga perut yang terdiri atas lambung, hati, kandung empedu, pancreas, usus dua belas jari, usus halus, usus tebal, umbay cacing, rectum, anus dan buah ginjal.

Dari pengamatan atas gambaran tubuh tersebut, jelaslah bahwa segumpal daging (sebesar gengaman tangan) yang dimaksud dalam hadis Rasulullah itu adalah jantung atau al-qalbu dan posisinya berada disebelah kiri dalam rongga dada kita. Sedangkan hati atau al-kabidu letaknya di dalam rongga perut.[5]

Menurut para sufi jantung tidak hanya sebuah pompa fisiologis untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh tetapi jantung juga memberikan dua fungsi vital dan saling terkait, yaitu:

1. Jantung sebagai tempat penyimpanan sifat-sifat ketuhanan hal ini terdapat dalam pengalaman dari Asma’ul Husna.

2. Jantung sebagai tempat pembentukan nafs yang masuk ke dalam tubuh bersamaan dengan setiap nafas. Nafaslah yang mengaktifkan seluruh fungsi dari fisiologis tubuh.[6]

Jadi, jantung merupakan organ yang sangat penting sekali dimana ia adalah tempat pertemuan ketiga komponen yang membangun tubuh yaitu tubuh fisik, tubuh pikiran, dan tubuh roh/jiwa. Jantung atau al-Qalbu ini terkadang disebut juga sebagai hati nurani manusia yang merupakan alat control terhadap tingkah laku manusia, apabila melakukan suatu yang bertentangan dengan dengan dirinya dengan agama. Apabila kita perhatikan orang-orang yang terkena kekalutan mental (mental disorder) karena mereka jauh dari norma-norma religius. Hal ini dapat dikaitkan dengan teori kepribadian Sigmund Freud, apabila seorang tidak berdzikir atau tidak ingat kepada Allah, maka gerak hidupnya akan selalu dalam pengaruh ID (Das Es), maka orang tersebut akan menjadi psikopat, yakni suatu keadaan di mana seorang dalam keadaan tidak memperhatikan norma-norma dalam segala tindakannya, karena Ego (Das Ich) manusia akan senantiasa mengikuti pengaruh alam bawah sadar (ID) dengan demikian pengaruh super Ego (alam moral) tidak berfungsi.

Jika dilihat dari kaca mata psikologis dzakirin (orang yang berdzikir) merupakan orang yang jauh dari ambivalen (kegoncangan jiwa) akibat penderitaan. Dengan senan tiasa berdzikir super ego akan selalu berfungsi sebagai alat control bagi perilaku manusia dengan baik. Dengan demikian dapat dipahami bahwa sesungguhnya mengatasi problem-problem psikologis yang dihadapi oleh mansia dapat diatasi dengan dzikir. Sebab dzikir mampu dijadikan alat penyeimbang (equilibriumi) bagi rohani manusia.[7]


[1] Fuad Nasori Suroso, Membangun Peradigma Psikologis Islam, SIPRES, Jakarta, 1994, hlm. 112

[2] H. Dadang Hawari, Do’a dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis, Dana Bhakti Primayasa, 2001, hlm. Xi

[3] Lyon Wilcox, Ilmu Jiwa Berjumpa Tasawuf, Terj. IG Hani Murti Bagoesoko, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2003, hlm. 73.

[4] Shahih al-Bukhari, Darul Fiqr, Beirut, Jilid 1, 1994, hlm. 21.

[5] Rahman Sani, Hikmah Dzikir dan Do’a:, Tinjauan Ilmu Kesehatan, al-Mawardi Prima, Jakarta, 2002, hlm. 26.

[6] Ibid., hlm. 18.

[7] Afif Anshori, Dzikir Demi Kedamaian Jiwa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, hlm. 81.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter