Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

HISAB ALLAH DI HARI AKHIR

hisab

Sebelum manusia masuk ke surga atau neraka, maka terlebih dahulu manusia akan dihimpun di suatu tempat yang bernama “Padang Mahsyar”, artinya tempat berhimpun atau dinamakan “Padang Mauquf”, artinya tempat berhenti sementara. Pada hari itu manusia tidak ingat akan suami-istri, anak, ibu/bapak, keluarga, dan sebagainya. Hari itulah yang disebut nafsi-nafsi, artinya mengurus dirinya masing-masing.

Betapa dahsyatnya hari yang akan datang itu, Tuhanlah yang Maha Mengetahui. Bagaimanapun dahsyat dan mengerikan, tetapi tidak semua manusia gentar dan takut menghadapi hari yang sangat hebat itu, hal ini tergantung kepada amal kebaikan mereka masing-masing.[1]

Di Padang Mahsyar nanti, berkumpullah seluruh manusia dari Adam sampai manusia di akhir zaman, dan masing-masing akan menunggu untuk diperiksa (dihisab dan ditimbang). Orang-orang yang mukmin, apalagi orang itu mati syahid (berperang membela agama Allah), itulah mereka yang tidak takut sedikit pun melihat siksaan Allah, karena bukan untuk mereka. Wajah mereka riang gembira menunggu panggilan Allah untuk masuk ke surga Jannatun Na’im.

Di dunia ini, orang-orang kafir selalu mencemoohkan orang yang beriman, baik dengan sudut mata, perkataan, tingkah laku dan ada juga mereka yang mengatakan orang Islam itu umat yang “Sufaha” (bodoh). Hari itu adalah hari pembalasan, dan orang kafir pula yang akan kena ejekan.

Manusia akan menerima kitabnya (laporannya). Di waktu hidup ini, manusia telah dicatat amal ibadahnya oleh Malaikat Raqib dan Atid. Barangsiapa berbuat kebaikan, maka akan dituliskan 10 ganjarannya. Barangsiapa yang berbuat kejahatan, dan tidak bertaubat dari perbuatannya yang salah serta berdosa itu, maka akan dituliskan pula, tetapi hanya satu saja balasan kejahatannya itu. Inilah kemurahan dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.[2]

Semua amal selama hidupnya, dari masa baligh dituliskan oleh Malaikat Kiraman Katibin. Kumpulan dari catatan amal perbuatan ini, akan merupakan sebuah buku laporan yang jika dimisalkan tak ubahnya sebagai anak-anak sekolah menerima raport yang akan menentukan kenaikan kelas, di antaranya ada yang baik dan ada yang naik dengan percobaan dan ada pula yang harus tetap tinggal setahun lagi, atau tak naik. Demikian pula manusia ini, mereka akan menerima kitab yang akan menentukan masuknya ke dalam surga atau neraka, dan sebagainya. Maka orang yang mendapat dan menerima kitab amalannya itu dari sebelah kanannya, tandanya orang itulah orang surga, mereka tertawa dan tersenyum serta wajahnya berseri-seri. Demikian halnya manusia di kemudian hari, tidak seorang pun yang berdaya, dan tak dapat tolong-menolong serta tidak ada ingatan kepada keluarga dan sahabat seperti dahulu, kecuali hanya memikirkan dan menyusahkan akan dirinya.

Adapun orang yang ditunjukkan buku amalan dari sebelah kanannya, lalu ia berkata: “Ambillah buku saya dan bacalah! Saya yakin bahwa saya akan menerima perhitungan yang sebenarnya”. Maka orang itu mendapat hidup yang disukai, yaitu di dalam surga tertinggi, yang penuh dengan buah-buahan (yang pohonnya) rendah, lalu dikatakan kepadanya: “Makan dan minumlah dengan bersedap-sedap disebabkan amalan yang telah kamu kerjakan masa dahulu”.

Adapun orang yang menerima buku amalannya dari sebelah kirinya, lalu dia berkata: “Aduhai, janganlah hendaknya ditunjukkan buku amalanku ini, dan saya tidak mengetahui bagaimanakah perhitunganku. Wahai cukuplah mati dahulu itu memutuskan hidupku, dan tidaklah berfaedah lagi harta bendaku, dan telah hilang kekuasaanku. Peganglah orang itu hai penjaga neraka, dan belenggulah, kemudian masukanlah dia ke dalam neraka”.[3]

Kemudian masuklah dia ke dalam rantai, yang panjangnya 70 hasta. Sesungguhnya dia masa dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, dan tidak mau menyuruh memberi makan orang miskin. Sebab itu tidak ada baginya karib-kerabat sekarang ini di sini (dalam Neraka). Tidak pula makan selain dari kotoran pemandian (yang sangat kotor). Tiadalah menamakan makanan itu selain orang yang berdosa. (QS. al-Haqqah: 19-37)

Demikianlah keterangan Allah dalam al-Qur'an yang menunjukkan perbedaaan antara orang yang berbuat baik dengan orang yang berbuat jahat, maka buku laporannya juga sangat berbeda caranya menerima dan isinya. Itulah sebabnya orang yang beriman disebut orang kanan, karena menerima kitabnya dari sebelah kanan, dan orang kafir disebut orang kiri, karena menerima buku amalannya dari sebelah kiri, sambil menyesali dirinya sendiri.

Keterangan hari hisab sebagaimana diterangkan di atas diperkuat pula oleh keterangan yang sama dari Bey Arifin:

Bila dikatakan bahwa mati adalah kejadian yang hebat, maka kejadian kiamat adalah beribu kali lebih hebat dari kematian biasa. Sedang kebangkitan di mahsyar adalah kejadian yang beribu kali lebih hebat dari kejadian kiamat. Tibalah waktunya berhisaban, yaitu kejadian yang lebih hebat dari kejadian apa saja yang sebelumnya.[4]

Setiap manusia tanpa kecualinya akan dihisab atau diadili. Satu persatu akan dihadapkan kehadapan Malik dan Yaumiddin, yaitu Penguasa satu-satunya di hari penghisaban itu. Jalannya penghisaban atau pengadilan ini akan disaksikan oleh seluruh manusia, seluruh malaikat, seluruh nabi-nabi dan rasul-rasul sebagai pembela, sedang setiap manusia menjadi terdakwa.

Dalam sistem perhisaban Allah, ada yang mengalami kesulitan dan ada yang lancar, ada yang dengan segala susah payah dan keletihan, ada pula dengan secara gampang dan ringan saja. Ada dengan secara halus, hormat dan manis, ada pula dengan cara kasar diiringi dengan cacian dan makian, semuanya itu tergantung pada keadaan masing-masing orang yang diadili. Allahumma haasibnaa hisaaban yasiiran


[1] Hadiyah Salim, Apa Arti Hidup, Cet. 12, PT al-Ma’arif, Bandung, 1988, hlm. 132.

[2] Ibid., hlm. 133.

[3] Ibid., hlm. 137.

[4] Bey Arifin, Hidup Sesudah Mati, Cet. 15, CV Bintang Pelajar, Surabaya, 1997, hlm. 218

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter