Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MENYIKAPI SAKIT

berobat

Setiap orang tentu mendambakan keadaan tubuh sehat dan fit sepanjang masa, karena memang sehat adalah anugerah Allah yang paling utama setelah Islam tentunya, dengan tubuh yang sehat membuat manusia dapat bergerak dengan sempurna melakukan aktivitas sehari-hari maupun beribadah dengan baik. Namun tidak selamanya orang mengalami keadaan sehat, manakala tubuh tidak dipelihara dan dalam kondisi melemah, maka penyakit akan berkembang dalam tubuh kadangkala, ketika penyakit datang menyerang, dirasakan sebagai gangguan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, penyakit menimbulkan keadaan yang tidak baik, sehingga penyakit dapat menyebabkan kecemasan dan kemarahan. Tetapi tidak semua orang yang tahu, bahwa sakit merupakan ujian dari Allah Swt bagi orang yang menerimanya. Karena manusia selalu diuji, dalam hal yang ia sukai atau yang tidak disukai.

Ketahuilah dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, apabila manusia mau menyikapinya dengan baik. Penjabaran ini akan menjelaskan makna tersebut:

a. Sabar Menghadapi Penderitaan

Berkenaan dengan etimologi penyakit, penyebab alamiah penyakit diakui keberadaannya sebagaimana juga dampak alamiah kedokteran. Namun hadist dan al-Qur’an menyebutkan tujuan Tuhan mendatangkan penyakit, merupakan cobaan Allah terhadap manusia.[1] Apabila si pasien mampu bersabar menjalaninya akan mendapat pahala.

Apabila orang yang sakit bisa menyikapi dengan sabar dan senantiasa bersyukur, maka akan menjadi tanda keimanan. Karena begitu pentingnya kesabaran, sehingga pahala orang sabar “bighairi hisaab” lewat dari perhitungan Allah (melampaui batas).

b. Ampunan Atas Dosa

Manusia adalah tempatnya lupa dan salah, terkadang musibah yang menimpa manusia banyak hubungannya dengan kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan. Demikian juga sakit yang dirasakan oleh manusia adalah terkait dengan dosa. Penyakit yang bersifat psikis pada dasarnya tidak berbeda dengan penyakit fisik. Penyakit yang dideritanya merupakan musibah yang apabila diterima dengan ikhlas akan menghilangkan dosa yang dilakukannya dan menghapus kesalahannya.

c. Selalu Ingat Kepada Allah

Ketika Allah memberikan ujian sakit, ia pun akan kembali ingat kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Segala sesuatu di dunia ini dan yang berada dalam diri kita adalah kepunyaan-Nya, manakala suatu kenikmatan berupa anugerah kesehatan hadir sepatutnya senantiasa disyukuri serta memelihara, namun suatu penyakit menimpa hendaknya ia pasrah dan memohon ampun kepada Allah dan bertobat.

Penyakit seseorang akan membuka jalan baginya untuk ber-taqarrub kepada Allah. Sikap orang mu'min selalu berharap akan rahmat dan kasih sayang Allah. Dengan cara ini seseorang akan menemukan ketenangan jiwa dan ketentraman hati. Walau dalam keadaan sakit, selalu mendekatkan diri kepada Allah, dengan inilah rahmat Allah akan dirasakan. Ketika Allah mencurahkan kasih sayang dan pertolongannya ketika penyakit menimpanya.

d. Pembersihan Hati dari Penyakit

Ibnu Qayyim menyatakan : “Kalau manusia tidak pernah mendapat cobaan dengan sakit dan pedih, maka ia akan menjadi manusia ujub dan takabur. Hatinya menjadi kasar dan jiwanya beku. Maka musibah dalam bentuk apapun adalah rahmat Allah yang disiramkan kepadanya akan membersihkan karat jiwanya dan menyucikan ibadahnya. Itulah obat dan penawar kehidupan yang diberikan Allah, untuk setiap orang beriman. Ketika ia menjadi bersih dan suci karena penyakitnya, maka martabatnya diangkat dan jiwanya dimuliakan. Pahalanyapun berlimpah-limpah apabila penyakit yang menimpa dirinya diterimanya dengan sabar dan ridha.”[2]

Kadangkala orang merasa ujub, ketika Allah memberi nikmat sehat. Namun ketika penyakit telah menimpanya, barulah ia sadar bahwa dirinya amat lemah dan tidak berdaya. Disinilah, seharusnya si pasien untuk ber-muhasabah merenungi segala dosa dan kesalahannya, dan berusaha memperbaiki diri serta meningkatkan amal baiknya.

e. Menyempurnakan Ikhtiyar untuk Sehat

Dalam pandangan Islam, sabar tidak diartikan sebuah konsep yang apatis, ataupun menerima nasib apa adanya, namun pengertian sabar ini, harus disertai dengan upaya untuk melakukan perubahan yang lebih baik agar dirinya sehat kembali. Islam memberikan anjuran kepada orang yang agar berobat kepada dokter, tabib atau ahli-ahli pengobatan yang lainnya supaya mengobati penyakitnya agar tidak semakin parah dan dapat sehat kembali.

Dalam hadits dijumpai tuntunan untuk berobat sebagaimana dalam hadits berikut ini:

Berobatlah kalian, maka sesungguhnya Allah Swt tidak mendatangkan penyakit kecuali mendatangkan juga obatnya, kecuali penyakit tua. (HR. al-Tirmidzi)[3]

Dengan demikian jelaslah bahwa dalam agama Islam pun, orang yang sakit hendaknya berobat ke dokter atau pengobatan alternatif yang ahli. Meskipun hidup dan mati, sehat dan sakit hanya terjadi oleh takdir Allah Ta’ala, namun orang yang sakit tidak boleh hanya berserah diri kepada Tuhan saja, karena dengan takdir Tuhan ini hendaknya pasien juga menjalankan segala ikhtiar, untuk mengobati penyakitnya dan menjaga kesehatannya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal ikhtiyar pengobatan dan penyembuhan antara lain:

1) Meyakini bahwasanya semua penyakit kesembuhannya hanya dari Allah setelah ikhtiyar daridokter atau tabib yang mahir.

2) Jangan berobat dengan cara yang haram dan menyalahi aqidah.

3) Jangan takut mati, karena penyakit bukan sebab suatu kematian, hanya Allah sajalah yang dapat menetapkan waktu kematian. Untuk itu berusaha lah untuk sehat di kala sakit.[4]

Oleh karena itu, bagi orang yang sedang sakit selain berusaha untuk berobat ke dokter atau ahli alternatif yang telah mahir, alangkah baiknya untuk senantiasa selalu optimis, dengan penuh harapan bahwa Allah akan memberi kesembuhan bagi orang yang sakit.


[1] Fazlur Rahman, Etika Pengobatan Islam, Penjelajahan Seorang Neomodernis, Terj. Jaziar Radianti, Mizan, Bandung, 1999, hlm. 61

[2] Abdullah bin Ali Al-Ju’aisin, Kado Untuk Orang Sakit, Terj. Djamaluddin Ahmad al-Buny, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2001, hlm, 25

[3] Dadang Hawari, Do’a dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis, Dana Bhakti Prima Yasa, Jakarta, 1997, hlm. 16

[4] Abdullah bin Ali Al-Ju’aisin, Op. Cit., hlm. 64

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter