Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

PROSESI HISAB DI HARI AKHIR

hisab akhirat

Dalam sistem perhisaban Tuhan akan terbagi kepada lima gelombang:[1]

1. Merupakan soal jawab

Setiap orang akan dipanggil ke depan oleh Allah, dan akan ditanyai segala tingkah laku, gerak-gerik dan perbuatannya selama hidup di dunia ini. Masing-masing manusia yang hidup di dunia ini diberi akal dan pikiran, diajarkan kepadanya agama, sehingga dapat membedakan antara perbuatan yang baik dan yang jelek, yang menguntungkan dan merugikan, agar mereka mengerjakan yang baik saja, jangan sampai mengerjakan perbuatan atau tingkah laku yang jelek atau merugikan. Kalau ada di antara manusia yang mengerjakan kejelekan, maka dia akan ditanya dan diminta pertanggung jawaban oleh Allah. Firman Allah:

فو ربك لنسألنّهم أجمعين عما كانوا يعملون

Maka demi Tuhanmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan lebih dahulu. (QS. Al-Hijr: 92-93)

Ahmad Mustafa Al-Maragi dalam Tafsirnya menjelaskan, ayat ini merupakan kiasan yang menunjukkan bahwa Allah itu Esa dalam memiliki dan menguasai hari tersebut. pada hari itu (kiamat), tidak ada seorang pun yang berani memberi pertolongan atau angkat bicara tanpa izin Allah. Sedangkan izin Allah itu, tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui.[2]

2. Membaca kitab catatan

Di samping setiap manusia yang hidup berkeliaran di atas dunia ini, ditugaskan Allah dua malaikat Raqib dan Atib untuk mencatat atau menuliskan setiap gerak gerik dan tindakan yang dilakukannya selama hidup itu. Kedua malaikat itu akan mencatat secara jujur. Firman Allah:

فمن يعمل من الصالحات و هو مؤمن فلا كفران لسعيه و إنا له كاتبون

Maka barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya kami menuliskan amalannya itu untuknya. (QS al-Anbiya’: 94)

3. Mendengarkan rekaman

Selain membaca kitab catatan, juga setiap orang akan mendengarkan kitab bercerita atau beromong, menceritakan setiap perbuatan atau perkataan yang pernah dilakukannya selama hidup di dunia ini. Firman Allah:

هذا كتابنا ينطق عليكم بالحق إنا كنا نستنسخ ما كنتم تعملون

(Allah berfirman) “inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan”. (al-Jaatsiyah : 29)

Kalau dikatakan kitab beromong, berarti yang dimaksudkan dengan kitab itu ialah lembaran-lembaran pita tape recorder atau piringan hitam sekarang ini.

4. Melihat gambar atau foto-foto

Bila seorang yang membaca kitab atau mendengar omongan pita atau piringan hitam belumlah sempurna pengetahuannya terhadap kejadian-kejadian yang dibaca dan di dengarkan itu. Sebab itu nanti untuk kesempurnaan perhisaban, Allah akan memperlihatkan kepada masing-masing manusia gambar atau foto-foto yang hidup dan mungkin berwarna dari apa saja yang pernah mereka lakukan di dalam hidup di dunia ini.

Seorang yang pernah mencuri akan melihat sendiri nanti. Seorang yang pernah menganiaya akan melihat sendiri nanti bagaimana caranya penganiayaan itu, sekalipun penganiayaan itu dilakukannya di tempat gelap yang sunyi pula. Demikian juga dengan orang yang berzina, yang berkata kasar dan sebagainya. Demikian pula bila seorang melakukan perbuatan yang baik, seorang yang memberikan pertolongan terhadap orang yang kecelakaan atau kesusahan, seorang yang bersedekah dan menolong sesama manusia. Firman Allah surat al-Zalzalah: 6-8:

يومئذ يصدر الناس أستاتا ليرو أعمالهم فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره و من يعمل مثقال ذرة شرا يره

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperhatikan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula. (QS. al-Zalzalah : 6-8)

Ketika ayat ini disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada manusia maka banyak di antara para sahabat Rasulullah sendiri yang menangis tersedu-sedu, karena banyak di antara mereka sebelum memeluk agama Islam pernah melakukan berbagai kejahatan dan perbuatan yang teramat rendah. Di antara sahabat yang paling hebat merintih mendengar ayat ini ialah Umar ibn Khatabb r.a, karena ia merasa malu atas perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukannya sebelum masuk Islam.

5. Timbangan

Seluruh kebajikan dan kejahatan yang pernah dilakukan manusia dalam hidup akhirnya oleh Allah diolah dari suatu yang maknawi (pengertian) menjadi sesuatu yang madiy (berunsurkan benda) sehingga mempunyai daya berat atau ringan. Gunanya untuk dapat ditimbang dengan timbangan agar tampak benar-benar kadar tiap-tiap kebenaran, kebaikan, kejahatan dan kepalsuan yang terjadi di dalam hidup manusia di dunia ini, yang selama hidup semua itu diketahui hanya sebagai pengertian yang abstrak.

Allah kemudian membangun satu timbangan besar yang mempunyai dua helai daun dan neraca, untuk menimbang segala kebaikan dan kejelekan yang pernah dilakukan setiap manusia selama hidupnya di dunia ini. Dengan neraca atau timbangan itu nanti akan lebih nyatalah setiap kebaikan dan kejahatan yang pernah dilakukan.

Selama hidup sekarang ini kurang nyata kadar dan nilai setiap kebaikan dan kejelekan yang dilakukan itu. Namun akan nyata nanti, yaitu ada kebajikan yang tampaknya amat kecil, tetapi ketika ditimbang di atas neraca keadilan di hari kiamat, mempunyai daya berat dan nilai yang amat besar. Begitu juga kebalikannya, satu kebajikan yang kita kira amat besar tetapi ternyata nanti mempunyai daya berat dan nilai amat kecil. Demikian dengan kabajikan, dan demikian pula dengan kejelekan atau kejahatan.

Seorang yang bersedekah sekilo gram beras di saat harga beras membumbung tinggi kepada seorang melarat yang tak berdaya, mempunyai nilai yang amat besar, mungkin melebihi nilai derma sebesar jutaan rupiah karena diiringi dengan perasaan riya’.

Ketika manusia menjalani sistem perhisaban Tuhan atau pada saat menjalani siksa neraka, ada salah seorang hamba Allah yang diberi peran untuk memberikan syafa’at kepada manusia. Hamba Allah yang diberi kemuliaan untuk memberi syafa’at yaitu Nabi Muhammad Saw. Maksud dari syafa’at itu ialah memohonkan kepada Allah untuk kebaikan para manusia di akherat.

Syafa’at ini termasuk dalam golongan doa yang mustajab (dikabulkan). Di antaranya ada yang disebut syafa’at uzhma (agung) dan ini hanyalah khusus bagi junjungan Nabi besar Muhammad saw sendiri. Syafa’at Uzhma yang beliau lakukan itu nanti ialah memohonkan Allah Swt agar segera diadakan putusan dan penetapan antara seluruh makhluk, agar mereka itu dapat beristirahat dari kesengsaraan dan kesukaran yang diderita di Padang Mahsyar, tempat mereka berhenti dan berkumpul. Allah Swt akan mengabulkan permohonan Nabi Muhammad saw untuk sedemikian ini.[3]


[1] Bey Arifin, Hidup Sesudah Mati, Cet. 15, CV Bintang Pelajar, Surabaya, 1997, hlm. 219.

[2] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir al-Maragi, Juz III, Mustafa Al-Babi Al-Halabi, Mesir, 1394 H/1974 M, hlm. 24.

[3] Sayyid Sabiq, Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, Terj. Muhammad Abdai Rathomy, CV. Diponegoro, Bandung, 2001, hlm. 451.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter