Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

KISAH HARUT DAN MARUT

sayap

Jalan menuju Allah tak terbatas jumlahnya sama dengan jumlah tarikan nafas makhluk hidup Tuhan. Allah pun telah mengizinkan anak-anak dan orang buta huruf untuk memiliki pengetahuan tentang Dia. Dia membawa pelajaran kepada orang-orang beriman yang sungguh-sungguh dari segala sesuatu di dunia. Dia menghasilkan pelajaran kadang-kadang dari apa yang rupanya sama sekali tanpa pengajaran atau kelihatan bodoh atau bertentangan dengan kebijaksanaan. Seorang wali yang saleh suatu kali ditanya, “Dari mana kamu mempelajari sikap kemalaikatan-mu?” Dia menjawab, “Dari musuh-musuh malaikat yang sama sekali tidak memiliki sikap kemalaikatan.”

Allah menciptakan kedudukan para malaikat di atas kedudukan yang diminta, dalam hirarki cahaya dan tingkat yang mulia dari keindahan yang tidak terbayangkan. Jumlah mereka tidak bisa dihitung, kesempurnaan mereka melebihi perhitungan. Pengetahuan mereka tak terbatas. Bagaimanapun juga, kedudukan mereka di hadapan Allah adalah karunia dan bukan diminta.

Allah, di sisi lain, mengkaruniakan sebuah kedudukan pada manusia yang diizinkan untuk meraihnya. Itulah mengapa manusia mencapai derajat setelah mereka melangkah naik dari jiwa meraka yang lebih rendah dan menggunakan itu sebagai sebuah tangga menuju kesempurnaan. Seperti para malaikat diciptakan sempurna dan tanpa ego, mereka tidak mempunyai tangga. Oleh karena itu, Allah telah menciptakan mereka dengan kesempurnaan yang sama seperti mereka inginkan di seluruh eksistensi mereka.

Umat manusia diciptakan agar mengacu kepada pengetahuan Allah yang direpresentasikan dalam ayat al-Quran. Ketika Allah memutuskan untuk menciptakan Adam, para malaikat yang suci dan murni yang diberkahi Allah dengan cinta IIahiah merasa kasihan pada manusia yang telah diramalkan akan menumpahkan darah di bumi. Mereka prihatin bahwa manusia tidak akan pernah mampu untuk memahami Allah seperti cara yang ditempuh oleh malaikat. Mereka kembali mengecam khalifah itu dan menduga bahwa mereka lebih wajar menyandang tugas tersebut daripada Adam dan anak cucunya. Inilah ganjalan malaikat yang kedua, setelah ganjalan yang pertama mereka ungkapkan ketika Allah menyampaikan rencananya mencipta adam sebagai khalifah.

Menanggapi hal tersebut Allah membuktikan kekeliruan mereka melalui ujian lisan dan teoritis. Hal tersebut dapat dilihat pada surat al-Baqarah ayat 30-33,

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (30) Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!. (31) Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (32) Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?(33) (Q.S: al-Baqarah: 30-33)

Allah juga menyinggung rahasia penciptaan manusia, lantaran upaya mereka dalam penghormatan ini bahwa mereka mendapatkan derajat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi di antara cahaya kemalaikatan. Dalam hal ini, tentu saja mereka tidak seperti malaikat yang mematuhi Allah tanpa kesukaran dan yang derajatnya tetap tidak berubah selamanya.

Untuk menunjukkan kepada para malaikat derajat manusia yang dimuliakan, Allah bertanya siapa di antara mereka yang ingin turun ke bumi dan hidup sebagai makhluk hidup agar mengalami realitas keadaan manusia secara langsung. Dua malaikat melangkah maju, yaitu Harut dan Marut. Akhirnya kedua malaikat tersebut turun ke bumi dengan diberi oleh Allah bekal nafsu syahwat.[1]

Turunnya kedua malaikat tersebut yang sudah diberi nafsu syahwat, maka pada hakekatnya adalah sudah mempunyai sifat kemanusiaan. Walaupun di satu sisi mereka masih mempunyai kekuatan alam malaikat, karena keduanya diciptakan dari unsur malaikat (nur/cahaya), akan tetapi karena keduanya sudah turun ke dunia yang merupakan alam materi, mau tidak mau mereka harus bermetamorfosis menjadi manusia pada umumnya. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa mereka juga butuh makan, minum, pemenuhan kebutuhan rohani, dan tak kalah penting pemenuhan kebutuhan biologis. Dengan demikian sifat-sifat basyariyah yang ghaib dimiliki oleh manusia pada umumnya, mereka harus sudah memilikinya.

Harut dan Marut di satu sisi mempunyai sifat kemalaikatan (karena dibuat dari unsur nur) akan tetapi juga mempunyai unsur manusia. Sehingga ketika mereka membutuhkan untuk berkonsultasi atau meminta informasi tentang dunia malaikat maka mereka bisa mendapatkannya, karena sifat kemalaikatannya menyatu (inheren) dalam dirinya.

Al-Razi dalam hal ini menyatakan sebagaimana yang disitir oleh Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqi bahwa karena tukang-tukang sihir itu telah membuka beberapa pintu sihir yang ganjil, bahkan mereka mengaku dan mendakwakan dirinya menjadi Nabi, dengan mengatakan bahwa pekerjaan aneh yang mereka buat dengan kekuatan sihir adalah mukjizat. Maka Allah mengutus dua orang malaikat (Harut dan Marut) untuk mengajari manusia tentang hal sihir dan macamnya. Maksud pengajaran itu adalah untuk melawan dan meruntuhkan pendakwaan tukang sihir yang telah mangaku sebagai Nabi dan untuk menegaskan kepalsuan mereka yang telah merajalela di muka bumi. Kedua malaikat tersebut apabila hendak mengajari ilmu sihir selalu memberi nasihat, dan mengatakan bahwa mereka ditugaskan untuk menguji mana manusia yang baik dan tidak serta mengingatkan kepada murid-muridnya bahwa janganlah sekali-kali kalian pergunakan sihir untuk keburukan.[2]

Al-Qur’an menyebut kata Harut dan Marut hanya pada satu tempat, yaitu pada surat al-Baqarah: 102 :

Dan Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “sesungguhnya kami hanya cobaan (bagi mu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) denga istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka memperlajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Harut dan Marut sebagaimana yang disebut dalam ayat di atas adalah bagian dari malaikat langit, dimana keduanya diturunkan kedunia ini berkaitan dengan maraknya praktek sihir pada zaman Nabi Sulaiman. Mereka berdua tidaklah mengajarkan amalan sihir, melainkan mereka turun memberikan peringatan.

At-Thabathabai menjelaskan bahwa keberadaan dua malaikat tersebut adalah untuk menepis bahwa apa yang terjadi pada Sulaiman yang menguasai jin, manusia, angin dan sebagainya adalah karena sihir. Padahal apa yang terjadi pada Nabi Sulaiman adalah mukjizat yang telah diberikan Allah kepadanya. Sedangkan turunnya Harut dan Marut adalah untuk mengajarkan ilmu sihir, sehingga masyarakat tahu mana yang disebut mukjizat dan mana yang disebut dengan sihir. Bagaimana mungkin Sulaiman melakukan sihir, yang mana sihir tersebut merupakan bentuk kekufuran kepada-Nya. Hal ini disebabkan Sulaiman adalah ma’shum atau terjaga. Demikianlah mengapa Harut dan Marut diutus ke muka bumi ini, yaitu hanya sebagai ujian bagi manusia dengan statusnya sebagai guru dalam ilmu sihir.[3]

Al-Maraghi berpendapat bahwa ayat di atas berbicara tentang tuduhan terhadap Sulaiman yang dalam memperoleh kekuasaannya melalui sihir serta sihir pada mulanya diajarkan oleh dua malaikat Harut dan Marut. Hal ini karena orang-orang pada waktu Nabi Sulaiman mengira bahwa apa yang diperolehnya adalah hasil dari sihir, padahal apa yang diberikan Allah kepadanya adalah mukjizat.

Kecurigaan masyarakat diperparah pasca meninggalnya Nabi Sulaiman dengan isu dari tukang sihir yang mendapatkan informasi dari setan bahwa semasa Nabi Sulaiman hidup, sihir adalah dilarang, demikian juga dengan karya-karya yang menunjukkan praktek sihir dikumpulkan atau disita dan ditanam dalam singgasana Sulaiman. Dari peristiwa tersebut setan menghembuskan berita bahwa Nabi Sulaiman tempo dulu adalah belajar dari sihir ini, dan buktinya adalah di bawah singgasananya ada beberapa karya yang berkaitan dengan sihir.

Dengan datangnya Harut dan Marut yang membawa sihir adalah sebagai ujian kepadanya dan kepada yang mereka ajari. Ia menyatakan sesuai dengan pengertian lahiriyah, ayat 102 surat al-Baqarah menunjukan bahwa apa yang diturunkan kepada Harut dan Marut bukanlah ilmu sihir tetapi sejenis ilmu sihir. Keduanya mendapat ilham dan petunjuk tentang ilmu sihir tanpa seorang pun mengajar. Hal ini untuk menjaga kemuliaan malaikat. Malaikat yang diturunkan ke muka bumi dengan pakaian manusia yang shaleh serta penuh wibawa adalah untuk mentransformasikan sifat ruhaniyahnya malaikat supaya dapat dicerna oleh indera (kondisi manusia yang materi) manusia. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dengan adanya sihir ini manusia tidak boleh kufur atau ingkar demikian juga dengan mengamalkannya adalah larangan keras, kecuali dalam keadaan terpaksa demi keselamatan jiwa.[4] Al-Maraghi menambahkan bahwa kebiasaan orang-orang di zaman Harut dan Marut sama seperti keadaan di zaman sekarang. Jika bermaksud memutuskan permasalahan rohaniyah, mereka akan berkonsultasi dengan orang bijak dan agung, yakni para ahli taqwa dan bijak.

Setan yang ikut menimba ilmu gaib (sihir) dari yang diajarkan oleh Harut dan Marut, akhirnya menyebarkan sihir tersebut kepada manusia. Akan tetapi jauh setelah itu ketika Nabi Sulaiman berkuasa, sihir beliau larang. Semua buku-buku sihir pada masanya konon beliau tanam di bawah singgasana beliau. Seperti diketahui kekuasaan yang dianugerahkan Allah kepada beliau sangat besar. Manusia, jin, setan, binatang, angin ditundukkan Allah untuk beliau.

Ketika Nabi Sulaiman wafat, setan yang telah lepas kendali menemukan dan mengajarkan kembali sihir-sihir tersebut. Di sinilah sebagian orang Yahudi mengikuti setan-setan, dan percaya apa yang dibisikkan setan kepada mereka, bahwa sebenarnya kekuasaan Nabi Sulaiman bersumber dari sihir dan kehebatan yang terlihat pada beliau itu adalah karena sihir.[5]

Sedangkan mengenai ilmu sihir yang diajarkan oleh Harut dan Marut sampai sekarang masih belum tersingkapkan hakekat ilmu yang mereka pelajari. Apakah ilmu itu mempunyai pengaruh tersendiri atau karena sebab lain yang masih abstrak. Atau memang sama sekali tidak ada pengaruhnya dan hanya karena kepercayaan yang bersangkutan sehingga timbul kekuatan ghaib. Juga masalah sihir yang belum jelas permasalahannya. Apakah yang mereka pelajari itu hanya jimat-jimat, jampi-jampi atau hipnotis, atau bahkan bisikan setan?

Jelasnya, semua jenis ilmu tersebut merupakan perincian dari penjelasan secara global pengertian yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an. Dalam hal ini al-Maraghi tidak mempersoalkan jenis ilmu yang mereka pelajari dari keduanya. Sebab, jika hal tersebut bermanfaat, maka Allah pasti akan menjelaskan perinciannya. Tetapi masalah tersebut sepenuhnya Allah serahkan kepada hasil penyelidikan-penyelidikan umat Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Pada prinsipnya hanya Allah-lah yang menyingkap segala misteri dan menampakkan hakekat sesuatu.

Harut dan Marut tidak dianugerahi kekuatan ghaib melebihi yang lainnya. Bahkan keberhasilan mereka itu karena adanya hubungan yang diciptakan Allah. Jadi, jika ada seseorang yang tertimpa bahaya karena perbuatan mereka, maka kejadian tersebut hanyalah kehendak Allah dan atas izin-Nya. Sebab, hanya Allah-lah yang menciptakan sebab akibat tertimpanya musibah.

M. Quraish Shihab berpendapat didalam tafsirnya bahwa setelah kematian Nabi Sulaiman, kerajaan Bani Israil terbagi dua. Yang pertama adalah kerajaan putra Nabi Sulaiman bernama Rahbi’am dengan ibu kota Yerusalem. Sedangkan kerajaan kedua dipimpin oleh Yurbiam putra Banath, salah seorang anak buah Nabi Sulaiman yang gagah berani dan diserahi oleh beliau kekuasaan yang berpusat di Samirah.Tetapi masyarakatnya sangat bejat dan mengaburkan ajaran agama.

Terjadi persaingan antara kedua kerajaan itu, tentu saja putra Sulaiman mengandalkan dirinya sebagai anak seorang Nabi yang memiliki nama yang sangat harum di masyarakat. Sedangkan musuh-musuhnya berusaha memperkecil keutamaan ini dan menyebarkan isu negatif dan kebohongan atas Nabi Sulaiman seperti bahwa dia telah kafir dan kekuasaan yang sedemikian besar adalah karena sihir, agar nama baik Nabi Sulaiman dan anaknya ikut tercemar. Mereka itulah yang dimaksud oleh ayat 102 surat al-Baqarah ketika menyatakan bahwa mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman, yakni kitab Allah mereka tinggalkan, lalu mereka membaca kitab setan. Mereka menuduh Nabi Sulaiman yang mendapat anugerah kekuasaan dari Allah dengan mengatakan bahwa Nabi Sulaiman telah kafir dan mengajarkan sihir, padahal Nabi Sulaiman tidak kafir juga tidak menggunakan sihir tetapi setan-setan yang kafir dan menggunakan sihir serta mereka mengajarkan manusia tentang sihir.

Orang-orang Yahudi juga mengikuti sihir yang diajarkan oleh dua malaikat yang merupakan hamba-hamba Allah yang tercipta dari cahaya dan hanya taat kepada-Nya. Mereka berdua adalah Harut dan Marut, yang ketika itu di negeri Babil, satu kota populer pada masa lampau di wilayah timur sekitar dua ribu tahun sebelum masehi. Keduanya memang mengajarkan sihir, tetapi berbeda dengan setan dan juga berbeda dengan orang-orang Yahudi yang mengikuti setan. Keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum mengatakan : “Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu janganlah kafir”.[6]

Dari ayat 102 surat al-Baqarah di atas dapat difahami bahwa asal usul sihir itu bermula dari Harut dan Marut. Keduanya tahu tentang sihir, dan mengajarkannya kepada manusia, tetapi mereka tidak mengajarkannya, kecuali setelah memberitahu sisi positif dan sisi negatifnya. Perhatikan bagaimana mereka berkata: “sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Ini berarti, ia tidak menganjurkan mempelajarinya. Berbeda dengan setan karena itu pula sangat diragukan kebenaran siapa yang berkata: “saya mempelajari sihir untuk menggunakannya dalam kebaikan”. Boleh jadi ia tulus saat mengucapkan, tetapi setelah menguasainya, setan akan datang untuk menggoda. Seorang yang memiliki senjata, lebih mudah menganiaya daripada yang tidak memilikinya. Begitulah keadaan manusia yang mengetahui sihir, dan karena itu, Harut dan Marut mengingatkan, bahwa mereka adalah cobaan. Cobaan menyangkut mempelajarinya dan cobaan pula ketika telah menguasainya, apakah digunakan dalam kebaikan atau sebaliknya.[7]

Cobaan itu juga bertujuan untuk membedakan yang taat dan yang durhaka, serta untuk membuktikan bahwa sihir berbeda dengan mukjizat. Karena itu para penyihir bukanlah Nabi, dan karena itu pula jangan gunakan sihir yang dapat menyesatkan dan merugikan kalian, Demikian nasehat Harut dan Marut. Tetapi diantara yang diajarkan itu ada yang membangkang dan enggan mengikuti nasehat. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seseorang dengan pasangan suami isteri.[8]

Al-Zamakhsyari menegaskan bahwa datangnya kedua malaikat yang mengajarkan sihir adalah ujian dari Allah bagi manusia, barangsiapa yang yang mempelajarinya dan mengamalkannya, maka orang tersebut termasuk dalam golongan orang kafir. Demikian sebaliknya jika ada orang yang menjauhi atau mempelajari sihir dan tidak mengamalkannya maka orang tersebut masuk kategori muslim.

Lebih lanjut al-Zamakhsyari menyatakan dengan mengutip qira’ah Hasan bahwa jika kata al-malakain dibaca kasrah lamnya, maka artinya adalah kedua orang yang datang dari negeri Babil, sehingga ia lebih cenderung mengomentari eksistensi sihir dari pada Harut dan Marut, karena apa yang dibawa (sihir) oleh kedua malaikat adalah lebih penting dan berpengaruh terhadap kehidupan manusia.[9]

Turunnya kedua malaikat yang mengajarkan sihir, maka yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mungkin Allah memerintahkan malaikat untuk mengajari manusia ilmu sihir? Menanggapi hal tersebut, al-Thabari menyatakan bahwa Allah menurunkan kebaikan dan kejahatan adalah bersama-sama, akan tetapi Allah tetap menjelaskan dengan diutusnya para Rasul yang menunjukkan mana yang halal dan mana yang haram, semisal: zina, mencuri dan sejenisnya. Dan sihir adalah satu di antara yang dilarang Allah dan telah diberitahukan bahwa larangan keras bagi yang melaksanakannya.

Hal tersebut berangkat dari asumsi bahwa ilmu sihir adalah tidak berdosa, adapun yang menyebabkan dosa adalah dengan mengamalkannya. Sehingga benar apa yang dilakukan oleh kedua malaikat tersebut sebelum mengajarkan ilmu sihir, mereka mengatakan dengan: innama nahnu fitnatun fala takfur. Inilah bentuk dari ketaatan malaikat bahwa dengan diturunkannya di dunia adalah sebagai ujian dan kedua malaikat tersebut mempunyai spesialisasi bentuk sihir, yaitu memisahkan hubungan antara suami-istri. Oleh karenanya, seorang mukmin akan menjadi murni imannya jika mampu meningggalkan belajar dari kedua malaikat Harut dan Marut dan seorang akan menjadi kafir lagi hina dengan belajar sihir. Padahal pengajaran dari kedua malaikat tersebut adalah dalam koridor taat kepada Allah, karena Allah telah memberi izin kepada mereka untuk mengajarkan ilmu Allah yang mereka dapatkan.[10]

Pertentangan antara kebaikan dan kejelekan seseorang dalam berprilaku dapat bercermin dari argumen tentang eksistensi makhluk halus, diantaranya adalah malaikat dan setan, dua simbol yang bertentangan. Di satu sisi malaikat adalah makhluk gaib yang murni mewakili aspek kebaikan murni dari eksistensi, sementara setan dan kaki tangannya mewakili aspek kejahatan murni. Tuhan itu tunggal dan tak terbatas, tidak memiliki sifat yang berlawanan, semua makhluk lainnya memiliki sifat kebalikan, karena itu malaikat mewakili aspek baik manusia sementara setan mewakili aspek buruk manusia. Malaikat mengajak manusia menuju aspek spriritual murni atau kemalaikatan manusia, sementara setan menggoda menuju kejahatan.

Pertentangan hal itu, baik dalam diri manusia dan di alam semesta, terus berlangsung sejak adanya eksistensi. Setiap orang merasakan stimulus ke arah baik dan buruk pada waktu yang bersamaan. Stimulus ke arah kebaikan berasal dari malaikat atau jiwa manusia yang bersih, sedangkan stimulus ke arah kejahatan berasal dari setan yang bersama dengan jasmani manusia, yang mewakili aspek binatangnya.[11]

Oleh sebab itu manusia harus berjuang keras dengan jiwa yang mendorong kepada kejelekan. Kalau malaikat memberi petunjuk yang benar dan memberi inspirasi kepada manusia dengan keimanan, tingkah laku yang baik serta kebajikan. Dan mengajak manusia melawan godaan setan. Begitu juga nafsu jelek berusaha membujuknya untuk berbuat keburukan.

Bukankah kehidupan seseorang merupakan sejarah pertentangan terus menerus antara inspirasi malaikat dan godaan setan? Inilah sebabnya manusia bisa berangkat kepada ke tempat yang paling tinggi atau terbuang ke tempat yang paling rendah. Juga, inilah sebabnya mengapa posisi manusia, para Nabi dan orang suci besar, berada di tingkatan yang lebih tinggi daripada malaikat terbesar. Juga, walaupun malaikat memiliki pengetahuan tentang Allah dan Asmaul Husna serta sifat-sifat-Nya melebihi manusia, tetapi manusia bisa bercermin atas Asmaul Husna dan sifat-sifat-Nya yang lebih komprehenship karena ada indera-indera manusiawi yang lebih maju, kemampuan berefleksi dan bawaan manusia yang kompleks.

Adanya kisah Harut dan Marut dapat dipahami sebagai kisah simbolik. Hal ini dapat diambil pelajaran bahwa manusia biasanya menduga dirinya lebih pandai dan lebih benar dari pihak lain yang sedang melaksanakan satu tugas dalam satu arena, misalnya pemerintahan atau lapangan permainan. Bukankah pemain seringkali dinilai salah dan keliru oleh penonton? Bukankah kelompok oposisi seringkali menganggap kebijaksanaan pemerintah keliru? tetapi penilaian mereka tidak selalu benar. Persilahkan penonton bermain, berilah kendali pemerintahan kepada penentang, tidak jarang terbukti bahwa dugaan mereka tentang kemampuannya dan ketidak-mampuan pihak lain, ternyata sangat meleset. Tidak berbeda dengan para malaikat yang diwakili oleh Harut dan Marut tersebut.[12]

Adanya kisah Harut dan Marut juga dapat diambil pelajaran, bahwa dengan tingginya sebuah kedudukan suatu saat bisa jatuh, terkecuali jika seseorang itu mampu akan mengekang hawa nafsu dan keinginan duniawi yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam jurang kehinaan. Demikian juga dengan ajarannya, sihir dalam perkembangannya selalu mendapat tempat mulai dari zaman Nabi Musa sampai sekarang, sihir selalu menjadi perhatian yang menarik dan banyak disukai manusia.


[1] Syaikh Muhammad Hisham Kabbani, Dialog dengan Para Malaikat Perspektif Sufi, terj. Nur Zain Hae., Hikmah, Jakarta, 2003, hlm. 189-190

[2] Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi, al-Islam II, Pustaka Rizki, Semarang, 2000, hlm. 203

[3] Muhammad Husain at-Thabathabi, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, Juz I, t.tp., Beirut, t.th., hlm. 232

[4] Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, t.tp., t.th., hlm. 181

[5] Ibid., hlm. 180

[6] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an), Lentera Hati, Jakarta, cet. I, 2000, hlm. 266-267

[7] Ibid, hlm 267

[8] Muhammad Quraish Shihab, Yang Tersembunyi, Jin, Iblis, Setan dan Malaikat dalam Al-Qur’an-As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini, Lentera Hati, Jakarta, 2000, hlm 163

[9] Abu al-Qasim Mahmud bin Umar al-Zamakhsyari al-Khawarizy, al-Kasysyaf, Dar al-Fikr, Beirut, t.th., hlm. 301

[10] Abi Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabary, Jami’ al-Bayan an Ta’wil Ayi al-Qur’an, Juz I, Dar al-Fikr, t.tp., hlm. 445-dst. Di sana juga dipaparkan riwayat-riwayat berkaitan dengan eksistensi kedua malaikat Harut dan Marut, yang kebanyakan dari cerita tersebut adalah berangkat dari cerita kaum Yahudi, terutama pada masa Rasulullah dengan mengatakan bahwa Nabi Sulaiman adalah tukang sihir, dengan bukti kuasanya akan segala sesuatu pada waktu, akhirnya alibi tersebut dibantah dengan turunnya al-Qur’an bahwa Nabi Sulaiaman tidaklah kafir, yang kafir dan mengajarkan sihir adalah setan. Adapun kedua malaikat tersebut adalah diturunkan khusus untuk ujian bagi manusia sekaligus sebagai pembeda mana yang mukjizat dan mana yang sihir.

[11] Muhammad Fethullah Gulen, Menghidupkan Iman dengan Mempelajari Tanda-Tanda Kebesaran-Nya, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 39

[12] Muhammad Quraish Shihab, Op. Cit., hlm. 167-168

2 comments

  1. Alhamdulilah terima kasih ilmunya.Saya suka perjelasan mengenai dua malaikat itu.

    ReplyDelete
  2. terima.kasih, ikut mengaji di blog Anda

    ReplyDelete

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter