Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MENSTRUASI DAN PSIKIS WANITA

MENSTRUASI

Pada umumnya gadis remaja belajar tentang haid dari ibunya. Sayang, tidak semua ibu memberikan informasi tentang haid yang memadai terhadap putrinya dan sebagian enggan membicarakan secara terbuka sampai anak gadisnya mengalami proses menstruasi atau haid pertama. Hal ini menimbulkan kecemasan pada anak bahkan sering tumbuh keyakinan bahwa menstruasi atau haid itu sesuatu yang tidak menyenangkan atau serius. Dengan kata lain, dia mengembangkan sikap negatif terhadap haid dan pandangan tersebut berlangsung sampai wanita tersebut menginjak dewasa. Dia mungkin merasa malu dan melihat menstruasi atau haid sebagai penyakit, khususnya ketika mengalami menstruasi atau haid, dia merasa letih atau terganggu.[1]

Banyak juga anak gadis dan wanita dewasa yang selama masa haidnya terus menerus tinggal di tempat tidur sekalipun ia tidak merasa sakit sedikitpun. Maka dari kisah hidupnya kita akan mengetahui bahwa saat menstruasi pertama, ia diperlakukan dengan sangat hati-hati bagaikan sebuah boneka dalam almari kaca, dimanja dan diliputi kasih sayang orang tua yang berlebihan. Ia mendapat perawatan khusus yang sangat menyenangkan dari segenap anggota keluarganya, terutama dari ibunya. Semua pengalaman ini kemudian menjadi pegangan atau sugesti, untuk mendapatkan kembali ulangan pelayanan yang serba istimewa, ketika ia mendapatkan haidnya.

Reaksi anak gadis pada saat menstruasi pertama itu berbeda-beda; bergantung pada; kondisi psikis, usia dan pengaruh lingkungannya. Jika peristiwa haid itu menimbulkan shock hebat disertai iritasi (rangsangan yang mengganggu), maka biasanya anak gadis ini akan merasa sakit atau tidak enak badan, kemudian disertai dengan rasa menyenak mual mau muntah, jadi cepat lelah, dan digenangi oleh emosi-emosi depresif atau perasaan sedih tertekan.[2]

Apapun persoalannya, yang pasti munculnya haid pada anak gadis merupakan pengalaman baru yang bersifat fisiologis dan psikologis dalam rangka mencapai kematangan dan kesempurnaan sebagai wanita. Munculnya haid berkaitan dengan berbagai faktor psikis laten pada diri wanita seperti marah, malu, minder, perasaan kurang, perasaan bersalah, dan lain-lain, baik dengan menganggapnya sebagai laknat dan malapetaka atau peristiwa menyenangkan yang menandai kedewasaan dan kesempurnaan sifat kewanitaannya.[3]


[1] Derek Llewellyn-Jones, Setiap Wanita: Buku Panduan Lengkap tentang Kesehatan, Kebidanan dan Kandungan, (Jakarta: Delapratasa, 1997), hlm. 37

[2] Kartini Kartono, Psikologi Anak: Psikologi Perkembangan, (Bandung: Mandar Maju, 1995), hlm. 214

[3] Zakariyya Ibrahim, Psikologi Wanita, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hlm. 80

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter