Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

ONANI: ANTARA PRIA DAN WANITA

lemah

Onani, yang disebut pula sebagai masturbasi atau zelfbevlekking (penodaan diri) itu merupakan panyalahgunaan seksuil; yaitu dengan jalan memanipulasikan alat kelamin sedemikian rupa sehingga mendapatkan “kepuasan seksuil” (kepuasan semu). Gejala onani atau masturbasi pada masa kanak-kanak itu hendaklah jangan dipandang sebagai gejala umum atau lumrah. Gejala tersebut jarang terjadi pada anak normal. Berlangsungnya secara khas individuil; atau terjadi karena effek lingkungan-hidup yang kurang menguntungkan bagi perkembangan anak. Namun demikian, onani pada masa pubertas dan masa adolesens itu lebih banyak terjadi. Terutama pada diri anak-anak laki pada umumnya, onani ini boleh dikatakan merupakan gejala umum; merupakan gejala yang biasa lumrah atau sering terjadi.

Kebanyakan pelaku-pelaku onani yang datang meminta konsultasi pada psikholog atau psikhiater adalah anak laki-laki. 9 dari 10 pelaku yang melakukan onani itu mendapatkan kebiasaan beronani karena menirukan temannya, karena teman tersebut memberikan contoh, memberikan informasi-informasi dan merangsang dirinya.

Sebagai akibat dari pengaruh dari luar yang kurang menguntungkan ini, dan didorong oleh kematangan seksuil yang semakin memuncak, maka anak melakukan onani atau masturbasi.[1]

Di antara faktor paling dominan yang menyebabkan seringnya para remaja mempraktekkan onani, terutama dikalangan remaja pria, ialah karena pengaruh lingkungan yang telah tercemar berbagai macam fitnah dan rangsangan-rangsangan naluri seksual yang tentu saja sangat gampang dan banyak sekali mereka temukan pada mode pakaian, cara berpakaian dan berhias kaum wanita modern, baik di jalan-jalan raya, di pasar-pasar dan di tempat-tempat umum lainnya, yang keberadaannya hampir di setiap sudut.[2]

Fenomena semacam ini, baru yang tampak dari kondisi umum masyarakat. Adapun yang mereka temukan melalui media massa, baik cetak maupun elektronik sudah pasti jauh lebih seru dan sungguh amat mengerikan.

Apa yang mereka saksikan melalui layar televisi, poster-poster, papan-papan reklame, dan lain-lain sangat merangsang naluri biologis mereka, menodai kesucian, mencemari kemuliaan, dan mematikan gairah beserta semangat.

Keadaan semacam ini belum termasuk yang mereka dapatkan dari aneka bacaan seperti buku-buku cabul, majalah-majalah, koran-koran murahan, novel-novel dan cerita-cerita roman lainnya, sungguh sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa, akal dan mental generasi muda.[3]

Semua bentuk rangsangan yang terdapat pada uraian di atas, tentu sudah lebih dari cukup untuk mempengaruhi kepribadian para remaja, sehingga mereka akan menjadi lebih gampang terseret ke lembah perzinaan, kekejian dan kebejatan. Untuk selanjutnya mereka pun akan tenggelam ke dalam lumpur kebobrokan dan kenistaan.

Meirowsky Neisser dan Magnus Hirschfeld dalam bukunya “Das Geslechtsleben der Jugend”, Koln 1926, memberikan data dan kurve mengenai permulaan melakukan onani dan hubungan kelamin dari 436 orang pasiennya. Sedang mengenai lamanya melakukan onani, disebutkan dalam laporan sebagai berikut:

1. 14% melakukan onani dalam waktu relatif pendek.

2. 21% melakukan dalam jangka waktu 1-2 tahun.

3. 30% melakukan dalam jangka waktu 3-4 tahun.

4. 35% melakukan dalam jangka waktu 9-10 tahun.

Maka jumlah yang paling banyak dari anak-anak muda yang melakukan masturbasi itu adalah mereka yang melakukannya selama 3-4 tahun. Hampir 60% dari mereka itu mulai melakukan onani, karena dipengaruhi oleh kawan-kawannya; kurang lebih 30% melakukannya dengan sendirinya (tanpa pengaruh orang lain); dan kurang lebih 11% karena mereka dirangsang oleh buku-buku bacaan.

Persentase total daripada anak-anak laki pubertas dan adolesens yang melakukan onani itu sangat tinggi; diperkirakan diantara 70-90%. Atas dasar kenyataan ini, maka gejala onani itu bisa kita anggap sebagai peristiwa perkembangan yang normal pada usia pubertas. Persentase yang tinggi itukhusus berlaku bagi anak-anak laki.

Onani dikalangan anak-anak gadis tidak begitu banyak jumlahnya, jika dibanding dengan masturbasi dikalangan anak laki-laki. Kebutuhan-kebutuhan seksuil anak gadis pada umumnya lebih banyak disalurkan secara psikhis, yaitu dalam bentuk fantasi-fantasi, kegelisahan fisik dan psikhis, konflik-konflik bathin, mimpi dan mimpi-mimpi siang (day-dreaming). Sehubungan dengan ini dapat dinyatakan, bahwa perkembangan seksuil daripada anak-anak laki dan anak-anak perempuan itu ternyata mengambil pola yang berlainan, yang tidak sama. Maka selanjutnya, seksualitas wanita sejak usia pubertas, adolesensi dan dalam usia dewasa itu berlangsung dengan irama yang berbeda dengan seksualitas pria, dan mempunyai pembagian aksentuasi (keras-melemahnya) yang berbeda.

Berkaitan dengan masalah menstruasi dan onani ini, maka pubertas dan klimakterium itu merupakan dua masa yang sangat kritis bagi wanita. Pada diri wanita, tahun-tahun transisi tersebut (yaitu klimakterium) lebih banyak disertai oleh gejala-gcjala fisik; sedang bagi kaum pria, masa transisi/peralihan itu membavva lebih banyak problematik-problematik psikhologis. Maka sebaliknyalah dengan periode pubertas. Pada masa transisi pubertasini problematik anak laki-laki dicirikan dengan timbulnya lebih banyak gejala-gejala fisik (ekspresi fisik); sedang pada anak-anak gadis, gejala-gejala yang timbul lebih banyak berupa gejala-gejala psikhis.

Dengan kenyataan tersebut di atas dapat dinyatakan, bahwa berlangsungnya perkembangan seksualitas pada diri kaum pria dan kaum wanita itu berbeda; sehingga perkembangan kepribadiannya juga berlaku dengan irama dan nuanceyang berbeda pula. Dapat ditambahkan pula, bahwa seksualitas anak gadis itu sejak usia pubertas sudah berkembang menurut pola yang karakteristik, dan mengambil bentuk diffusitas yang lebih besar; dengan kata lain: mengambil bentuk dengan variasi yang lebih banyak daripada anak-anak laki.


[1] Kartini Kartono, 1981, Patologi Sosial,Jakarta: Rajawali, hlm. 129

[2] Utsman ath-Thawill, 2000. Ajaran Islam tentang Fenomena Seksual,Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm. 60

[3] Ibid, hlm. 61

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter