Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

SEHATKAN MENTALMU DENGAN POSITIVE THINKING

positive

Yang dimaksud kesehatan mental di sini ialah sebagaimana yang didiskusikan oleh para ahli. Misalnya Zakiah Daradjat menyatakan bahwa kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketakwaan dan bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia dunia dan akhirat.[1]

Tohari Musnamar berpendapat bahwa kesehatan mental adalah adanya keseimbangan mental (mental equilibrium) yang harmonis sehingga dapat memecahkan problema-problema hidupnya secara sehat.[2]

Hamdani Bakran al-Dzaky mengemukakan dari sudut pandang Islam, mental yang sehat adalah integrasinya jiwa muthma’innah (jiwa yang tentram), jiwa radhiyyah (jiwa yang meridhai), dan jiwa mardhiyah (jiwa yang diridhai).[3]

Berdasarkan keterangan di atas dapat diketahui bahwa yang dimaksud kesehatan mental ialah keadaan jiwa seseorang yang membuatnya mampu memecahkan problema-problema hidup yang dihadapinya dan terhindarnya dari gangguan kejiwaan yang berdasarkan keimanan dan ketaqwaan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai mental yang sehat atau tidak, maka dibuatlah kriteria-kriteria tertentu. Menurut Utsman Najati, ciri-ciri orang yang mempunyai mental sehat yaitu:

a. Dimensi spiritual: iman kepada Allah, melakukan ibadah, menerima ketentuan dan takdir Allah, senantiasa merasa dekat dengan Allah.

b. Dimensi Psikologis: memiliki keseimbangan emosional, lapang dada, mudah menerima kenyataan hidup, mampu mengendalikan dan mengekang hawa nafsu, jujur, terbebas dari rasa dengki, iri, benci, sombong, menipu, boros, pelit, malas, dan pesimis.

c. Dimensi sosial: mencintai kedua orang tua, teman dan anak, membantu orang yang membutuhkan, bersikap amanah.

d. Dimensi biologis: sehat dari berbagai penyakit.[4]

Menurut Kartono, orang yang tidak sehat mentalnya ditandai dengan fenomena ketakutan, pahit hati, apatis, iri hati, cemburu, kemarahan-kemarahan yang eksplosit, dan ketegangan batin yang kronis. Untuk memperoleh mental yang sehat, ada dua faktor yang mempengaruhi.

Pertama, faktor intern, yaitu faktor dari dalam diri seseorang seperti keimana, ketaqwaan, sikap menghadapi problema hidup, keseimbangan dalam berpikir, kondisi kejiwaan seseorang dan sebagainya. Seseorang yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang tinggi ia akan memperoleh ketenangan dan ketentraman batin dalam hidupnya. Bila ia menghadapi suatu problematika hidup ia menghadapinya dengan sabar dan tidak mudah putus asa. Karena sebenarnya dalam diri manusia telah tertanam tauhid, sehingga terbangun pertahanan diri.

Kedua, faktor ekstern, yaitu faktor yang berasal dari luar diri seseorang seperti kondisi lingkungan baik lingkungan keluarga, masyarakat maupun lingkungan pendidikan seseorang, keadaan ekonomi dan sebagainya.[5]

Sebenarnya faktor intern tersebut lebih dominan pengaruhnya dibanding dengan faktor ekstern. Hal ini sesuai dengan pendapat Zakiah Daradjat, bahwa ketenangan hidup, ketenangan jiwa atau kebahagiaan batin itu banyak tergantung dari faktor ekonomi, adat kebiasaan dan sebagainya. Akan tetapi, lebih bergantung pada cara dan sikap menghadapi faktor-faktor tersebut.[6]

Konsep berpikir positif ditandai oleh 7 hal. Pertama, problematika hanya ada di alam persepsi. Kedua, jangan biarkan masalah tetap berada di tempat yang kita temui. Ketiga, jangan jadi masalah, pisahkan diri dengan masalah. Keempat, belajar dari masa lalu, hidup pada masa sekarang, tentukan target masa depan. Kelima, selalu ada nilai spiritual dalam setiap problematika hidup. Keenam, perubahan pikiran dengan berbagai alternatif akan merubah realitas dan pikiran yang akan memunculkan realitas baru pula. Ketujuh, Allah tidak menutup satu pintu kecuali membukakan pintu lain yang lebih baik.

Dengan melihat kriteria-kriteria mental yang sehat di atas, maka konsep positive thinking merupakan bagian dari kriteria untuk membangun mental yang sehat tersebut. Dengan manfaat berpikir positif, dimaksudkan orang yang tertanam sifat khusnudzon dapat beriman kepada Allah Swt, bernilai luhur, menjaga keseimbangan jiwanya, dengan tidak terlalu khawatir, cemas, atau stres ketika mendapatkan suatu masalah.

Sebaliknya, akan siap apabila ditimpa kesusahan, dengan berpikir jernih, dan mencari solusi atas berbagai permasalahan dengan selalu disertai keimanan kepada Allah Swt. Pentingnya menjaga keseimbangan mental dengan penghayatan positive thinking secara benar, menjadi suatu yang tidak dapat dipungkiri. Ini lebih-lebih bila disadari bahwa dunia zaman sekarang telah berkembang pesat dan kompleks.

Kompleksitas kehidupan ini bisa membuat manusia mengalami konflik-konflik batin yang serius dan kekalutan mental (mental disorder),[7] yang pada akhirnya bisa menjadikannya hidup tidak selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah Swt.[8] Jika tekanan-tekanan batin dan konflik-konflik pribadi tersebut selalu ada pada diri seseorang, maka akibatnya sangat menggangu ketenangan hidupnya dan kerap kali menjadi pusat pengganggu (storings centrum) bagi ketenangan hidup.[9]

Diperlukan pikiran yang jernih dan positif dalam menyikapi setiap problematika yang ada. Karena kalau kita tidak tenang dalam menghadapi situasi yang kompleks ini dikhawatirkan dapat menimbulkan stres yang berbahaya untuk kejiwaan seseorang. Pikiran memegang peranan sentral disini, ketika kita mampu mengendalikan (manage) pikiran kita dari beragam masalah yang ada dapat dipastikan jiwa kita tidak akan terganggu.

Apabila seseorang tidak memiliki daya tahan mental dan spiritual yang tangguh maka akan mudah muncul keadaan stress dan depresi. Keimanan yang lemah sangat rentan dan mudah tertimpa dua keadaan tersebut, maka dari itu kekuatan iman dan ketaqwaanlah yang akan menghasilkan daya tahan mental yang kokoh dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan.[10] Dari sinilah perlunya manusia merubah jiwa yang penuh ketidak-stabilan menjadi jiwa yang tenang dan jiwa yang damai, yakni dengan berpikir positif (khusnudzon) atas berbagai dinamika hidup yang terjadi.

Fisik dan psikis adalah kesatuan dalam eksistensi manusia, yang menyangkut kesehatannya juga terdapat saling berhubungan antara kesehatan fisik dan mental. Keadaan fisik manusia mempengaruhi psikis, sebaliknya psikis mempengaruhi keadaan fisik.[11]Tubuh yang sehat terdapat di dalam pikiran yang sehat” (Healthy body is in the healthy mind). Dari ungkapan ini, maka kita bisa memahami “pikiran yang sakit akan meruntuhkan bangunan tubuh yang kuat menjadi sakit” (in a sick mind could make body sick).[12]

Upaya penanggulangan penyakit jiwa seperti stress, frustasi, depresi, iri, dengki, akan berhasil jika seseorang melakukanya dengan sungguh-sungguh dan hanya berharap pada Allah. Karena keberhasilan seseorang dalam melakukan segala hal ditentukan oleh usahanya sendiri. Sebagaimana firman Allah Swt:

إنّ الله لا يغيّر ما بقوم حتّى يغيّروا ما بأنفسهم

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (Qs. al-Ra’d: 11).

Jika akal dapat mengendalikan jiwa (nafsu) sesuai dengan ajaran-ajaran Sang Pencipta, akan tenanglah jasad dan ruh sehingga manusia akan merasakan kebahagiaan yang hakiki atau ketentraman dan ketenangan.[13]

Begitu besar hikmah berpikir positif, yaitu untuk mendidik kesabaran, ketaqwaan, keimanan dan utamanya untuk mengendalikan emosi/hawa nafsu. Kalau hawa nafsu sudah dikendalikan dengan sendirinya apa yang dimaksudkan dengan gangguan kejiwaan itu dapat dicegah, karena memang dorongan nafsu itulah akar permasalahan timbulnya penyakit mental tersebut. Dengan demikian, dapat ditegaskan lagi bahwa positive thinking sangat berhubungan dengan kesehatan mental, karena positive thinking merupakan upaya preventif dari gangguan kejiwaan dan merupakan faktor yang terpenting dalam mewujudkan mental yang sehat. Sehingga jiwa akan merasa tenang, tentram, dan bahagia.


[1] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental dan Peranannya dalam Pendidikan Agama dan Pengajaran, Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1984, hlm. 4

[2] Tohari Musnamar, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Yogyakarta: UII Press, 1992, hlm. xiii

[3] Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam, Jogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2004, hlm. 447

[4] Utsman Najati, The Ultimate Psychology, Bandung: Pustaka Hidayah, 2008, hlm. 326-327

[5] Kartini Kartono dan Jenni Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental Dalam Islam, Bandung: CV. Mandar Maju, 1989, hlm. 5

[6] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, 1990, hlm. 15

[7] Kartono, Op. Cit., hlm. 30

[8] Musnamar, Op. Cit., hlm. 17

[9] Kartono, Op. Cit., hlm. 4

[10] Adz-Dzaky, Op. Cit., hlm. 2

[11] Moeljono Notosoedirdjo dan Latipun, Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan, Malang: UMM Press, 2002, hlm. 8

[12] Mulyana, Metode Sehat dan Penyembuhan Penyakit Dengan Positif Thinking, Yogyakarta: CV. Kutub Wacana, 2009, hlm. 6

[13] Adnan Syarif, Psikologi Qur’ani, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002, hlm. 59

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter