Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

SEKS DALAM KEHIDUPAN WANITA

pelukan-ciuman

Pada zaman masyarakat Jahiliyyah sebelum Islam datang dan menjadi kebudayaan Islam, kehidupan wanita tidaklah seindah saat ini. Dahulu wanita hanya bertugas untuk melayani suami, mengasuh anak, memasak, dan juga menata rumah. Kehidupan itu menjadi warisan turun temurun tanpa adanya perubahan sebab mereka patuh pada nenek-moyangnya. Permasalahan ini yang menjadikan kehidupan wanita tidak berarti sama sekali.

Apalagi ketika keluarga tersebut melahirkan anak perempuan, maka ayahnya langsung menggali tanah dan mengubur hidup-hidup bayi yang tidak berdosa itu. menurutnya anak perempuan merupakan aib bagi keluarga. Hampir semua pekerjaan dibebankan pada wanita, sedangkan laki-laki hanya bertugas untuk berperang dan memperluas daerah kekuasaan kaumnya, membujuk paraDewa agar tidak marah padanya dan mengikuti upacara-upacara keagamaan.[1]

Demikian juga wanita diwarisi segudang mitos-mitos dari leluhurnya, mereka sangat miskin atasinformasi tentang seks, itu semua tidak didapat ketika mereka masih kanak-kanak dan sampai beranjak dewasa pesan-pesan itu baru mereka dengar. Pengajaran-pengajaran untuk patuh, atraktif dan pasif menghiasi mitos-mitos tersebut. Jadi, mereka diajari untuk bersikap baik pada suami, melakukan hal-hal yang baik dan pantas untuk dilakukan oleh wanita.

Walaupun dari segi persamaan bisa saja wanita lebih kuat ketimbang laki-laki, akan tetapi hal itu tidak dilaksanakan menyangkut wanita punya sifat yang lemah lembut. Karena wanita diharapkan tergantung pada pria dalam mengetahui hal-hal tentang seks, mereka tidak didorong untuk belajar, membaca, berbicara, berfikir atau melakukan ekperimen dengan kehidupan seksualnya.[2] Jadi, dalam kehidupannya wanita tidak gampang untuk terangsang, dan untuk merangsangnya dibutuhkan waktu yang lama.

Seks bukanlah sesuatu yang mereka inginkan atau ketahui, disamping itu seharusnya mereka tidak mempelajari tubuhnya atau mengamati genitalnya sendiri atau mengijinkan orang lain melihatnya.[3] Oleh karena itu, ketika laki-laki dan perempuan berpacaran, maka hal itu larangan, kecuali sudah menjadi istrinya. Dan lebih banyak wanita dibesarkan dengan didikan untuk meyakini bahwa bangkitnya birahi tergantung pada laki-laki, disamping ajaran untuk tidak terlalu sering terangsang seperti kebanyakan laki-laki. Karena itulah wanita hanya dijadikan boneka seks, selalu siap melayani bila laki-laki memerlukan pelepas ketegangan seksual.

Selanjutnya seks juga tidak dipikirkan oleh wanita “baik-baik” dalam arti mereka hanya berhubungan dengan posisi wanita dibawah dan laki-laki diatas, hanya itu saja. Selain posisi itu adalah dikerjakan oleh wanita “nakal” saja. Sehingga dalam hal ini wanita tidak boleh kelihatan berpengalaman sekalipun mereka sudah lihai dalam masalah ini.

Hambatan-hambatan inilah yang menyebabkan wanita serba salah, rikuh, gelisah dan merasa tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya sendiri. Mereka berpura-pura orgasme untuk menutupi kelamahan laki-laki, karena dikhawatirkan akan merusak jalinan rumah tangga. Namun jika wanita melakukan masturbasi, itupun dilakukan secara diam-diam. Dan tidak heran jika kebanyakan wanita tidak orgasme dalam melakukan seksnya.


[1] Derek Llewellyn-Joness, Setiap Wanita, Buku Panduan Lengkap Tentang Kesehatan, Kebidanan dan Kandungaan, Pustaka Dela Pratasa, Jakarta, hlm. 45-47.

[2] Atputharajah, Petunjuk Mencapai Gairah Seksual (Program Pengkayaan Kenikmatan Seksual Bagi pasangan Suami Istri), Abdul Kareem (Terj.), Handal Niaga Pustaka, Jakarta, 2000, hlm. 187.

[3] Ibid.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter