Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

CINTA DAN PENGORBANAN

12

Potensi jiwa selalu berkaitan dengan tingkah laku psikologi, tingkah laku tersebut dalam pandangan imam al-Ghazali dan Abraham Maslow selalu berhubungan dengan motivasi, baik bersifat psikologis maupun fisiologis, keterkaitan antara motivasi dan tingkah laku ini bagi mereka merupakan sebuah keniscayaan, karena motivasi yang ada memiliki keterkaitan mutlak dengan kebutuhan yang melandasi timbulnya tingkah laku. Motivasi tingkah laku selain didasarkan atas keinginan untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat fisiologis, juga yang bersifat psikologis.[1]

Apabila kebutuhan manusia yang berkaitan dengan rasa aman dan fisiologi telah terpenuhi, maka muncullah motivasi baru untuk memuaskan kebutuhan akan rasa memiliki, rasa cinta dan kasih sayang, dengan motivasi tersebut orang akan merasa haus akan tata hubungan yang harmonis dengan pihak-pihak lain. Sangat dirasakan manakala kawan-kawan, kekasih, isteri serta anak-anak benar-benar terpisah hubungan dengannya.

Menurut Maslow, orang yang ingin sehat akan selalu mengharapkan hubungan penuh kasih sayang dengan orang lain, mendambakan kebutuhan akan rasa memiliki tempat di tengah-tengah kelompoknya, dan ia akan berikhtiar lebih keras lagi untuk mencapai tujuan tersebut melebihi dari yang lain.

Pemikiran Maslow tersebut berdasarkan atas suatu teori psikososiologi yang berpandangan bahwa terwujudnya kelompok masyarakat sehat selalu dimotivasi oleh kehausan akan hubungan akrab, rasa saling memiliki, dan kebutuhan untuk mengatasi perasaan alienasi (pengasingan) yang dalam istilah Maslow disebut kebutuhan akan cinta dan kebutuhan berteman.

Dengan demikian, manusia tak hanya memerlukan pemenuhan kebutuhan fisik-material, melainkan juga memiliki keinginan untuk memenuhi kebutuhan di luar lingkup biologis yang disebut trans-utilitarian (melampaui kemanfaatan). Hal ini berarti manusia tak hanya ingin mengetahui apa yang diperlukan untuk hidup, tetapi juga memahami apa yang berkaitan dengan kehidupan manusia itu sendiri.[2]

Komitmen cinta diukur berdasarkan tingkat perasaan kelekatan, kepemilikan, dan komitmen pasangan terhadap hubungannya. Keterbukaan diukur dari perasaan tentang privasi diri dalam hubungan. Ambivalensi diukur dengan tingkat perasaan bingung atau ketidakpastian mengenai pasangan atau hubungan yang ada. Ungkapan konflik diukur dari frekuensi terjadinya argumen dan tingkat keseriusan masalah.[3]

Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan yang erat antara cinta dan tingkah laku individu. Privasi seseorang yang tidak ingin diketahui orang lain, akan tetapi dengan pasangan, privasi tersebut lebih bisa diekspresikannya dalam cerita serta tukar pendapat. Hal ini berarti mengorbankan rahasia pribadi untuk diketahui oleh orang lain, karena orang lain disini tidak lagi menjadi orang lain, akan tetapi telah menjadi bagian dari dirinya sendiri.

Cinta mempunyai manifestasi, sedangkan hati manusia adalah alat cinta yang menunjukan berbagai aspek dan posisi.[4] Dalam arti bahwa seberapa besar cinta yang terdapat di dalam hati seseorang, maka akan terwujud manifestasi-manifestasi cinta dalam kehidupan.

Cinta mempunyai kekuatan yang dahsyat dalam melakukan sesuatu hal yang mungkin di luar kebisaan manusia. Energi dan kekuatan cinta dapat menyita waktu, pikiran, dan tenaga hanya untuk orang yang dicintai, kapanpun sang kekasih membutuhkan, sang pecinta akan siap melayaninya, karena dalam tataran inilah kekuatan cinta menampakan dirinya, dengan energi-energi kimia yang telah tersusun di dalam tubuh seseorang.[5] Dengan kata lain, bahwa setiap individu yang masuk dalam dimensi cinta, maka pengorbanan secara otomatis akan dilakukan, hal tersebut dipengaruhi seberapa besar kadar cinta yang ada pada individu.

Cinta bukanlah realitas psikologi yang unik, cinta tak memiliki kekuatan kreatif untuk menyamar sebuah kebencian. Cinta selalu merawat dominasi dan perbudakan terhadap yang dicintainya. Bagaimanapun juga hal tersebut bukanlah suatu yang sulit untuk cinta, semuanya akan menjadi lebih mudah ketika seseorang dapat mencintai.[6]

Tidak setiap orang mempunyai keinginan untuk mencintai dalam tingkat yang sama. Setiap individu sangat sulit untuk ditebak, baik secara emosional ataupun secara intelektual.[7] Akan tetapi, semua orang setuju bahwa cinta merupakan aspek kehidupan manusia yang sangat penting sekali, karena tanpa cinta kehidupan yang maknawi sulit untuk dijalani.[8]

Rasa murah hati, keinginan untuk memberi dan menyenangkan orang adalah karakteristik dari cinta, adanya rasa bahagia katika memberi jasa ataupun hadiah kepada yang dicintai. Kecenderungan untuk bersikap murah hati serta kesediaan melakukan sesuatu untuk orang yang dicintai merupakan khayalan yang umum, yaitu dengan memberikan pengorbanan besar demi kepentingan kekasihnya.[9]

Dalam teori motivasi dinamis mempunyai statment, bahwa percintaan pada tingkat yang lebih tinggi menyebabkan kebutuhan yang lebih rendah.[10] Hal tersebut dapat diartikan bahwa seseorang yang mencintai dengan perasaan cinta yang semakin mendalam, maka ia tak lagi memikirkan dirinya dan kebutuhannya. Semua yang ada menjadi sesuatu yang tak berarti lagi tanpa sang kekasih. Bahkan sesuatu yang tak berarti dalam pandangan orang lain menjadi sangat berarti bila tertanam sebuah kenangan atau yang berhubungan dengan sang kekasih.

Cinta adalah ekspresi dari aktifnya afeksi individu. Sebuah simbol kebebasan yang terbelenggu dalam empirisme yang telah terbentuk, banyak orang yang melakukan sesuatu semata-mata karena tuntutan dan keterpaksaan, walaupun hal tersebut adalah pilihan mereka yang seakan-akan bukan tuntutan serta keterpaksaan.

Motivasi-motivasi yang mereka bangun berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, manusia tak menyadari motivasinya terbentuk dari sebuah tuntutan keadaan. Sedangkan cinta adalah sebuah kebebasan yang manusia raih, cinta berdiri sendiri tanpa tuntutan dan paksaan, sehingga kekuatannya begitu dahsyat. Dalam bentuk yang paling umum, karakter aktif dari cinta dapat dijelaskan bahwa; cinta adalah persoalan memberi dan bukan menerima.[11]

Memberi adalah ekspresi tertinggi dalam jiwa manusia, karena di sana manusia merasa bahagia, puas, hidup berkelimpahan dan penuh berkah. Dengan kata lain, memberi adalah ungkapan adanya sesuatu kebahagiaan dan kemanusiaan yang hidup dalam jiwa seseorang.[12]

Dalam suatu hubungan cinta kasih, cinta selalu mempunyai elemen-elemen dasar tertentu, yaitu perhatian, tanggung jawab, penghargaan, dan pemahaman akan orang yang dicintai.[13]


[1] Abdullah Hadziq, Rekonsiliasi Psikologi Sufistik dan Humanistik, Semarang: RaSAIL, cet ke-1, 2005, hal 223.

[2] Ibid., 140.

[3] David Matsomoto, Pengantar Psikologi Lintas Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet ke-1, 2004, Hal 239.

[4] Annemarie Schimmel, Dunia Rumi Hidup dan Karya Penyair Besar Sufi, Yogyakarta: Pustaka Sufi, cet ke-1, 2002, hal 212.

[5] Floriberta Aning, The Chemistry of Love: Bagaimana Reaksi Kimia Bekerja Dalam Tubuh Kita Pada Saat Jatuh Cinta, Yogyakarta: Milestone, cet ke-1, 2007, hal 16-17.

[6] Ignace Leep, Psikologi Cinta, Yogyakarta: Paragrad Books, cet ke-2, 2006, hal 212.

[7] Ibid., hal 37.

[8] Stephen Palmquis, Pohon Filsafat: The Tree of Philosophy., Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet ke-1, 2002, hal 415.

[9] Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 2 Teori Motivasi dengan Pendekatan Hierarki Kebutuhan Manusia, diterjemahkan oleh Nurul Iman, dari “Motivation and Personality”, Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo, cet ke-4, 1994,hal 43.

[10] Ibid., hal 49.

[11] Erich Fromm, The Art of Loving (ed.), diterjemahkan oleh Syafi’ Alielha dari “The Art of Loving”, Jakarta: Fresh Book, cet ke-3, 2003, hal 36-37.

[12] Ibid., hal 39.

[13] Ibid., hal 44.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter