Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

DIPOLIGAMI KARENA POPULARITAS DAN NASAB?

POLIGINI

Orang yang terpandang selalu mendapat perhatian dari masyarakat, wibawanya tinggi, segala apa yang diucapkan biasanya didengar, apa yang dikerjakan biasanya ditiru. Bagi wanita, siapa sih yang tidak senang memiliki suami yang terpandang? Semua orang pasti mengidam-idamkan suami terpandang apalagi kalau suaminya itu orang kaya, ulama (kyai) atau pejabat. Ketika menikah dengan mereka pasti istri pun akan ikut terpandang juga dan wibawanya akan naik. Popularitas seseorang dapat membius para wanita pasrah untuk menjadi istri kedua, ketiga atau keempat.

Wanita yang silau dengan kehidupan dunia, akan silau juga dengan kedudukan seorang yang terpandang. Berapa banyak para pejabat menikah sirri dengan para wanita, berapa banyak pula para ulama (kyai) dan orang-orang kaya berpoligami. Popularitas merupakan salah satu kehidupan dunia, kesenangan yang tidak akan kekal selamanya, bisa saja hancur seketika. Maka bagi para wanita, jangan sekali-kali pasrah menjadi istri kedua, ketiga atau keempat karena populartas semata. Semuanya yang ada di dunia tidak akan kekal, yang kekal adalah kehidupan akhirat.

Selain popularitas, sebagian orang selalu membangga-banggakan nasab apalagi nasab dari kalangan ningrat, bangsawan atau orang-orang yang terpandang bahkan ulama (kyai). Nasab memang dapat mempengaruhi dalam kesuksesan seseorang. Misalnya, jika orang tua bangsawan, maka anaknya pun biasanya menjadi bangsawan. Jika ayahnya ulama (kyai), anaknya pun ada yang menjadi ulama dan seterusnya. Bagaimana tidak? Ketika ayahnya ulama, anaknya hanya tinggal meneruskan saja perjuangan ayahnya, ketika ayahnya bangsawan, anak pun akan ikut terbawa aura kebangsawanannya.

Nasab juga terkadang dijadikan sebagai modal utama bagi para wanita yang pasrah dijadikan istri kedua, ketiga atau keempat. Yang sebelumnya ia tidak akan pernah mau dijadikan istri kedua, akan tetapi karena nasab ia pasrah tidak berdaya. Dengan nasab, ia ingin mempunyai anak yang sama watak dan kepribadian sang ayah. Jika ayahnya kaya, maka ia berkeyakinan anaknya juga akan kaya. Dan jika ayahnya ulama, ia pun percaya bahwa anaknya juga akan menjadi ulama dan begitu pula seterusnya.

Sebenarnya, kesuksesan seseorang bukan hanya ditentukan oleh nasab. Anak dan ayah tidak semua sama dalam watak dan kepribadiannya, begitu pula kesuksesan anak belum tentu sama dengan kesuksesan ayah. Berapa banyak ayahnya bangsawan dan terpandang tetapi anaknya nakal dan hina, berapa banyak ayahnya pintar tetapi anaknya bodoh dan seterusnya?

Anak-anak merupakan perhiasaan dunia, janganlah jadikan anak sebagai penghalang untuk beribadah kepada-Nya. Anak semata-mata adalah titipan Allah, kesuksesan anak adalah bagaimana kita bisa menjaga, merawat, membimbing serta mengajarkan mereka kepada kebaikan terutama beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, bagi para wanita yang pasrah dijadikan istri kedua atau seterusnya karena alasan nasab atau keturunan karena nasab bukanlah semata-mata menjadikan orang sukses, shaleh dan shalehah.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter