Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

ISLAM JAWA


Topik pembicaraan tentang Islam dan budaya Jawa telah banyak ditulis oleh para pakar. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa dalam berbicara tentang Islam Jawa, perlu kiranya mengenal karya sepektakuler Clifford Geertz, The Religion of Java yang telah di terjemahkan  oleh Aswab Mahasin ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Abangan, Santri, Priyai dalam Masyarakat Jawa”. Karya Geertz tersebut merupakan embrio dari pemikiran setelahnya tentang Islam di Indonesia. 
Geertz menulis karyanya pada awal tahun 1960-an. Meski karya Geertz itu terlihat tua dan telah banyak mendapat kritik dari berbagai kalangan, tetapi karya Geertz  sampai  sekarang  tetap  menjadi kajian yang dapat membetot para pakar dalam memulai penelitian tentang Islam Indonesia lebih khusus Islam di Jawa.
Yang menjadi menarik dari karya Geertz itu tidak hanya terletak pada kecermelangan Geertz menyajikan data empiris mengenai keberagamaan masyarakat Jawa. Namun, juga karena kelihaian Geertz dalam memandang masyarakat Jawa dan membaginya ke dalam beberapa varian.
Pandangan Geertz adalah bahwa Islamisasi di Jawa, yang dimulai pada abad ke tiga belas adalah parsial dan variabel. Muslim yang taat, yang disebut santri, terpusat di pesisir utara, di daerah-daerah pedesaan dimana terdapat sekolah-sekolah tradisional Islam, dan dikalangan para pedagang diperkotaan. Yang disebut dengan abangan adalah mayoritas petani, yang meski secara nominal adalah Islami, tetap terikat dalam animisme Jawa dan tradisi  nenek moyang. Golongan tradisional, terpandang, terutama di perkotaan, meski secara nominal muslim, memperaktekkan bentuk mistisisme yang berasal dari Hindu-Buddha sebelum Islam masuk di Jawa. Golongan bangsawan yang kemudian menjadi birokrat ini, dan orang-orang yang mengadopsi gaya hidup mereka, disebut priyai.
Berangakat dari variasi tersebut, Geertz telah mengembangkan pandangannya dan berasumsi bahwa Islam yang dipeluk orang Jawa adalah artifisial (buatan). Islam Jawa sejatinya adalah Islam yang dilumuri dengan praktik-praktik sinkretisme. Menurut pandangan Geertz pengaruh Islam di Jawa tidak terlalu besar. Islam hanya menyentuh kulit luar budaya Animisme, Hindu dan Budha yang telah mendarah daging dihampir seluruh masyarakat Jawa.
Sinkretisme yang disebutkan Geertz tersebut nampak pada citra dari masing-masing struktur sosial di tiga varian (Abangan, Santri, dan Priyayi): ritual yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk menghalau makhluk halus jahat yang dianggap sebagai penyebab dari ketidak- teraturan dan kesengsaraan dalam masyarakat, agar ekuilibrium (keseimbangan) dalam masyarakat dapat dicapai kembali (varian abangan), penekanan pada tindakan-tindakan keagamaan sebagaimana digariskan dalam Islam (varian  santri), dan suatu kompleks keagamaan  yang menekankan pada pentingnya hakekat alus sebagai lawan dari kasar (kasar dianggap sebagai ciri utama kaum abangan), yang perwujudannya tampak dalam berbagai sistem sosial yang berkaitan dengan etika, tari-tarian, berbagai bentuk kesenian, bahasa dan pakaian (varian priyayi).
Konsep sinkretisme yang ditawarkkan Geertz dalam karyanya nampaknya telah menarik perhatian para peneliti lainnya pada masa-masa berikutnya untuk mengkaji Islam di Indonesia khususnya Jawa. Mereka merasa ingin tahu tentang bagaimana pola interaksi yang dibangun antara Islam dengan budaya masyarakat lokal.
Penempatan Geertz terkait Islam sebagai komponen yang kurang penting dalam konstrusi  agama Jawa, menjadikannya sebagai ilmuan yang sangat gencar di bicarakan sampai sekarang  dalam berbagai kajian-kajian terkait Islam di Indonesia, sekaligus menjadi sasaran amuk kritik dari berbagai kalangan ahli dan pengamat yang akhirnya melahirkan konsep yang berbeda dengan Geertz tentang Islam dan budaya Jawa. Mark R. Woodward misalnya, dalam penelitiannya di Keraton Yogyakarta merupakan sanggahan terhadap konsepsi Geertz bahwa Islam Jawa adalah Islam sinkretik yang merupakan campuran antara Islam, Hindu-Budha dan Animisme. 
Melalui kajian secara mendalam terhadap agama-agama Hindu di India, yang dimaksudkan sebagai kacamata untuk melihat Islam di Jawa yang dikenal sebagai paduan antara Hindu, Islam dan keyakinan lokal, ternyata tidak ditemui unsur tersebut di dalam tradisi keagamaan Islam di Jawa, padahal yang dikaji adalah Islam yang dianggap paling lokal, yaitu Islam di pusat kerajaan Yogyakarta.
Islam Jawa menurut Woodward memiliki keunikan tersendiri daripada Islam di daerah-daerah lain, sedangkan keunikan tersebut, menurut Woodward, bukan terletak pada aspek dipertahankannya budaya agama pra-Islam, melainkan lebih disebabkan oleh karena adanya konsep tentang bagaimana membentuk manusia sempurna sesuai dengan aturan-aturan sosial yang berlaku di masyarakat.
Keunikan Islam Jawa menurut  oodward itu dapat dijelaskan dengan karakteristik dari dua segi, yaitu: penekananannya pada aspek batin dan melaksanakan ritus-ritus tertentu sebagai manifestasi dari penekanan pada aspek batin. Dalm hal ini Woodward memandang bahwasanya Islam di Jawa lebih cenderung menekankan aspek “isi” (dalam bentuk mistik) dari pada wadah (kesalehan normatif/syariah). Persepsi mereka tentang yang dimaksud “isi” adalah Allah, sultan, batin, dan mistik. Sedangkan “isi” mistik itu sendiri meliputi keberadaan wahyu, kasekten, kramat dan kesatuan mistik.
Sedangkan untuk mengekspresikan mistik yang demikian itu, orang Jawa memiliki ritus-ritus tertentu sebagai wadah dari mistik tersebut. Ritus-ritus yang paling permukaan dan umum tampak dalam tradisi yang dilaksanakan kalangan masyarakat adalah tradisi slametan. Ada beberapa bentuk upacara slametan antara lain: slametan kelahiran, slametan khitanan dan perkawinan, slametan  kematian, slametan berdasarkan penaggalan, slametan desa dan slametan sela.
Woodward sampai di sini, tampak sekali ingin mengatakan bahwa Islam Jawa adalah jenis lain dari Islam, meskipun mereka tidak melaksanakan ritus-ritus dari kalangan Islam normatif.  Berbeda dengan Geertz yang mencoba menseparasikan varian abangan dengan santri, seakan-akan abangan bukan Islam (meski secara tersurat Geertz menyebut abangan sebagai bagian dari Islam yang tidak taat), maka Woodward justru menyebut abangan sebagai Islam Jawa yang juga Islam, tetapi dengan jenis tafsir lain, bukan dalam konteks taat atau tidak taat.
Harsja W. Bachtiar mengemukakan pandangan yang juga berbeda dari pada penjelasan Geertz tentang varian masyarakat. Menurut Bachtiar varian yang dijelaskan oleh Geertz terasa sangat membingungkan. Menurutnya, orang Jawa bukanlah semata-mata orang Jawa,  melainkan  mempunyai kedudukan tertentu yang di dalamnya menunjukkan berbagai model perilaku  tertentu yang tidak selalu merefleksikan praktik keberagamaan. Artinya, perilaku orang Jawa tidak seharusnya selalu ditafsirkan dengan mengacu kepada agama, tetapi lebih memungkinkan ditafsirkan dari segi adat yang berlaku secara normatif pada situasi dimana orang Jawa hidup.
Kritik terhadap pandangan Geertz juga dilakukan oleh Nur Syam dalam penelitiannya tentang masyarakat nelayan di Tuban Jawa Timur. Nur Syam dalam penelitiannya menyatakan bahwa Islam pesisiran adalah Islam yang telah melampaui dialog panjang dalam rentang sejarah masyarakat dan melampaui pergumulan yang serius untuk menghasilkan Islam yang bercorak khas. Corak Islam inilah yang disebut sebagai Islam kolaboratif, yaitu Islam hasil konstruksi bersama antara agen dengan masyarakat yang menghasilkan corak Islam yang khas, yakni Islam yang bersentuhan dengan budaya lokal. Tidak semata-mata islam murni tetapi juga tidak semata-mata Jawa. Islam pesisir merupakan gabungan dinamis yang saling menerima dan memberi antara Islam dengan budaya lokal.
Studi lain yang menghasilkan pandangan kritik terhadap Geertz juga dilakukan Andrew Beatty. Dalam deskripsinya tentang masalah slametan di Banyuwangi, Beatty menemukan sebuah realitas yang di dalamnya terdapat berbagai latar belakang golongan sosio-kultural dan ideologi yang berbeda. Mereka ini ternyata dapat bersatu di dalam satu tradisi yang disebut slametan. Realitas ini menurut Beatty merupakan sebuah interkoreksi antara sinkretisme sebagai proses sosial, multivokal ritual, dan hubungan antara Islam dengan tradisi lokal.
Beatty mendeskripsikan bahwa Bayu adalah sebuah desa yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi keagamaan yang justru melahirkan keharmonisan. Semua elemen masyarakat dari kelas dan ragam manapun berbaur dan melakukan kompromi-kompromi teologis tanpa menimbulkan clash. Ada perasaan dan tanggung jawab bersama menciptakan suasana kehidupan desa yang penuh kedamaian. Oleh karena itu, berbagai ritus terutama slametan, pemujaan roh  halus, pertunjukan barong yang bernuansa magis, mitos tempat keramat dan person misalnya, menggambarkan suasana kekaburan hubungan antara elemen-elemen masyarakat di wilayah tersebut. Deskripsi ini barangkali dapat menjadi koreksi atas temuan Geertz, bahwa praktis ketiga  varian santri, abangan, dan priyai, menghuni dunia yang berbeda dan setiap varian itu konsisten dengan identitas mereka masing-masing.
Dengan demikian, Islam praktis yang ditemukan oleh Beatty adalah Islam sebagaimana dikonsepsikan dan dipraktekkan yang dibedakan secara tegas dengan varian-varian agama lain. Sebagai bagian dari Islam Jawa, muslim yang taat tetap meyakini tradisi mereka, dan hidup berdampingan dengan orang-orang yang tidak taat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Islam Bayu  ini  berorientasi  parktis  dan tidak dogmatis.
Selain dari yang telah dijelaskan di atas, kritik terhadap pemikiran Gertz juga di lakukan oleh Pigeaud  (1967), Ricklefs (1979),  Hefner (1985; 1987), Pranowo (1994), Braten (1999) dan yang lainnya.
Membandingkan antara santri dan abangan menurut ketentuan Geertz, memang nampak dengan jelas perbedaannya. Salah satu perbedaannya terletak pada derajat kesalehan. Dan ini menonjol serta prinsip sekali. Biasanya orang-orang abangan, cenderung untuk tidak saleh menurut ukuran Islam. Dan santri menunjukkan suatu identitas kesalehan.
Memang perbedaan pemahaman antara santri dan abangan terletak dalam pengertian prinsip-prinsip Islam bagi dirinya, dapat dijadikan sebagai tolak ukur lain. Perbedaan itu ada karena justru kadar kesalehan mereka berbeda. Dapat dibenarkan dan besar kemungkinan, orang muslim abangan pada suatu waktu bisa menjadi seorang yang saleh dan rajin. Adanya peralihan ini, dengan sendirinya ia bukan abangan lagi, sudah mempunyai kriteria sendiri, walaupun tidak pada tempatnya membeda-bedakan orang muslim itu.
Namun, realisasi kesalehan itu antara lain perwujudannya terlihat dalam bentuk ibadah kepada Allah Swt yang pengaturannya sudah ditetapkan dan tidak akan mengalami perubahan sepanjang masa. Pengalaman mistik dan batin tidak bersumber dari ajaran Islam dan tertolak dari hukum, tidak seperti halnya yang diungkapkan Woodward di atas. Sampai sejauh mana ruang lingkup dan kekuatan agama dalam aktivitas kehidupan seorang pemeluk agama Islam, dapat di ukur dari perilaku yang tampak pada kehidupan sehari-hari, diantaranya adalah perwujudan kesalehan.
Hal ini sejalan dengan apa yang di ungkapkan Ibn Hajar dalam karyanya bahwasanya seorang kyai lahir tidak dengan mudah. Lumrahnya, diawali dengan proses pencarian ilmu dari para ahli ilmu terkemuka. Dari pesantren ke pesantren seseorang banyak belajar dan berlatih hingga suatu ketika ia kembali ke masyarakatnya. Kemudian, seseorang itu pun tidak lantas menjadi seorang kyai. Ia masih harus melalui proses panjang, dimulai dengan mengajar ngaji hingga diikuti mendirikan langgar.
Langgar itulah yang dalam perkembanganya sebagai pusat belajar dan kemudian menjdai pesantren. Pesantren lahir dari embrio bernama langgar atau surau tersebut. Proses itu, sangat panjang dan membutuhkan banyak kesabaran dan ketabahan. Sebelum dianggap kyai, seseorang mesti melewati fase sulit, dimana kemampuan, kesabaran, dan ketelatenannya menghadang berbagai problem masyarakat diuji. Ini yang dinamakan perwujudan kesalehan.
Dengan demikian, Geertz hanyalah merumuskan dan menteorisasikan katagori dan distingsi (perbedaan) yang telah ada; bukan menciptakan. Yang diciptakan Geertz adalah kerumitan bahan, dengan memasukkan katagori priyayi sehingga menciptakan trikotomi: santri, abangan, dan priyayi. Padahal jelas, priyayi adalah katagori sosiologis, bukan katagori keagamaan.
Gambaran awal Islam Jawa yang dilakukan Geertz adalah merupakan sebuah sumbangan yang luar biasa bagi masyarakat Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Gambaran Geertz tentang Islam Jawa tersebut menarik perhatian berbagai ahli dan pengamat baik yang pro maupun yang kontra sehingga pada akhirnya melahirkan persepsi-persepsi yang berbeda dan menjadi warna dalam khazanah kelmuan International.

Tampaknya kita patut memberikan penghargaan kepada Geertz atas pandangannya mengenai varian-varian masyarakat Jawa. Lewat buah pengamatan Geertz yang dituangkan dalam buku The Religion of Java ini keberadaan abangan, santri, dan priyayi di masyarakat Jawa dikenal luas. Dan dari laporan Geertz ini pula, kita dikejutkan dengan sebuah kenyataan bahwa muslim Jawa walaupun mayoritas tetapi masih abangan, dimana hanya lapisan atasnya saja yang Islam, sementara di lapisan bawahnya bukan.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter