Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

FILOSOFI MANUSIA JAWA


Filsafat manusia Jawa secara mitos tertuang dalam aksara Jawa ha na ca ra ka, yang mempunyai arti:

a.     Ha: Hurip, Urip = Hidup. Suatu sifat Zat Yang Maha Esa
b.     Na: (1) Hana = Ada
c.     Caraka:
(1)   Utusan
(2)   Tulisan:
(a)   Ca: Cipta = Pikir = Nalar = Akal = Thinking.
(b)   Ra: Rasa = Perasaan (Feeling)
(c)    Ka: Karsa = Kehendak (Willing)

 Berdasarkan hal itu sebenarnya manusia Jawa mempunyai berbagai macam aliran filsafat, dari rasionalisme (nalar), eksistensialisme (pengada), dan intuisisme (rasa dan karsa). Ini nampaknya sesuai dengan realitas sejarah (fitrah).

Manusia secara fitrah tidak mau untuk dijajah, karena manusia itu menurut Sarte rasion de etre-nya adalah kebebasan dan selalu mempunyai niat untuk mengkoloni sesamanya. Manusia secara alami adalah masyarakat yang suka kekerasan dan dengan kerasan ini dimaksudkan untuk menakut-nakuti supaya mudah untuk dikuasai.

 Manusia secara fitrah mempunyai kepercayaan terhadap yang ghaib. Apakah itu berupa kepercayaan terhadap yang Esa dulu atau yang dari Atheisme ataupun dari Polytheisme. Kepercayaan, dalam dunia Jawa bermula dari Polytheisme [Animisme (Taylor) ataupun Dinamisme (Frazer)], dan kemudian mengalami peng-Esa-an secara sebenarnya ketika Islam melebarkan ekspansinya dari Cina.

 Rasionalisme–Jawa, sepertinya sangat dipengaruhi oleh intuisisme. Hal ini ditengarai ketika manusia Jawa itu berpikir tentang tindakan yang diambil terhadap sesama yang dianggap melanggar etika, karena biasanya manusia Jawa akan selalu menggunakan pitung, apakah ini baik atau tidak jika kemudian dia mengambil tindakan seperti ini. Manusia Jawa itu selalu menggunakan rasanya ketika masyarakat Jawa akan melakukan sesuatu.

 Tindakan itu hanya diambil berdasarkan rasionalisme murni maka akan merusak ketentraman batin karena memang tidak sesuai dengan rasanya. Hal ini dikarenakan orang Jawa itu cukup bangga dengan nilai-nilai tradisionalnya (aslinya) tidak suka dengan adanya nilai-nilai baru yang dianggap akan merusak keharmonisan masyarakat. Masyarakat Jawa cenderung untuk tertutup.

Tiga aliran filsafat yang berkembang dalam tradisi Jawa itu dalam beberapa hal terwadahi dalam lakon wayang. Hal ini bisa dimengerti karena biasanya lakon wayang yang dipentaskan adalah sebuah hasil renungan sebuah karya para ahli filsafat. Epos Mahabarata dan Ramayana adalah dua epos yang dihasilkan oleh filosof Jawa awal, walaupun epos tersebut merupakan saduran dari India namun dalam edisi Jawa ada perbedaan diantara tokoh-tokoh yang dimunculkan.

Beberapa karakter ada penjungkir-balikan secara kontras tokoh Dorna, misalnya, dalam kisah yang asli adalah tokoh yang baik terhadap dua bersaudara Kurawa dan Pandawa, namun dalam edisi Jawa menjadi seorang guru yang jahat. Apalagi bila hal ini dikaitkan dengan perintahnya kepada Bima (Werkudara) —dalam lokon Dewa Ruci— ketika Bima berniat untuk mengambil air suci (tirtamarta) yang kemudian diberikan arah yang menyesatkan mulai dari hutan yang terkenal dengan jalmo moro jalmo mati, dan bertemu dengan dua raksasa yang merupakan jelmaan dari dewa yang dikutuk oleh dewa Wisnu; kemudian ke dasar laut yang ternyata di dasar laut terdapat ular naga. Akhirnya, air suci itu adanya di dalam keheningan sepi dalam dirinya Werkudara itu sendiri.

 Hal ini sangat mencerminkan filsafat pantheisme dalam alur filsafat Jawa. Dunia pewayangan dalam berbagai lakon juga mencerminkan filsafat hidup orang Jawa. Sumantri Ngenger, misalnya, yang menceritakan loyalitas dan balas budi dalam kehidupan sosial adalah suatu hal yang sangat diwajibkan dalam tradisi Jawa. Dunia tingkah laku orang Jawa, sebagaimana dalam filsafat wayang, juga sangat terpengaruhi oleh filsafat kehidupannya, yaitu: dunia wayang. Wayang sebetulnya merupakan lakon hidup manusia yang sedang di beberkan oleh sang dalang lewat lakon-lakon yang diambil dari epos Ramayana khususnya Mahabarata, karena yang kedua ini daripada yang pertama.

Kehidupan orang Jawa kalau Sujatmo adalah: toleran, gotong-royong dan sopan. Sujatmo tidak mendukung akan adanya sinkretisme, karena ia beranggapan bahwa sinkretisme merupakan bukan budaya asli Jawa. Justru ini kemudian menjadi mentah analisisnya karena seperti diketahui bersama bahwa Islam yang datang dari luar adalah Islam yang sinkretik dengan budaya lokal.

Kehidupan rohani orang Jawa secara umum dibedakan menjadi dua yaitu: abangan dan santri. Masing-masing mempunyai religiusitas yang berbeda. Abangan cenderung bersikap tidak ketat dalam menjalankan syariat, sedangkan santri adalah cenderung bersikap ketat dan kehidupannyapun dibuat untuk selalu sesuai dengan syariat.

 Pandangan kosmis, acara ritual magis ini juga tergantung akan keislaman orang Jawa. Apakah mereka santri atau abangan. Santri akan cenderung untuk melakukan upacara slametan yang sesuai dengan syariat sedangkan abangan biasanya akan mencari waktu yang tepat untuk melakukan upacara-upacara slametan tersebut.
Orang Jawa dalam keseharian yang dikenal dengan budaya santun dan alim. Budaya Jawa yang dipadukan antara budaya Hindu-Budha, Islam dan Jawa sendiri dalam proses internalisasinya kemudian Jawa menjadi semacam lukisan yang sangat naturalisik.

Kosmos Jawa di dalamnya hidup berbagai etnis yang saling harmoni tidak ada konflik dan tidak mengenal akan persaingan. Ini bisa dilihat dalam dunia hiburan misalnya, boleh dikatakan hiburan yang ditelevisi adalah mencerminkan budaya Jawa.

Bahasa Orang Jawa sebagai bagian dari bahasa Indonesia, adalah merupakan bahasa yang tertua di Indonesia dan merupakan perpaduan bahasa dari dua negara, bahasa Thai dan Bahasa India, Sansekerta, yang kemudian digabungkan oleh Aji Saka, tokoh mitos yang kemudian memunculkan istilah Nusa Jawa dari rumput sejenis Jewawut. Penggabungan kedua bahasa itu menghasilkan Aksara Jawa.

Bahasa Jawa dalam perkembangannya kemudian memunculkan pengelompokan yang digunakan sesuai dengan derajat sosial seseorang yang pada akhirnya sistim ini memunculkan feodalisme dan stratifikasi kelas. Hal ini disadari atau tidak karena masih sangat erat kaitannya dengan agama-agama sebelumnya, khususnya Hindu-Budha, yang mengajarkan sistem kasta, dan berlaku secara rigid dan saklek.

Bahasa Jawa ini juga dibarengi dengan seperangkat etika ketika akan menggunakannya. Bahasa Jawa yang terstrukturalkan dalam sistem kasta. Bahasa Jawa Kromo Inggil misalnya adalah sebuah bahasa halus yang biasa digunakan oleh kalangan priyayi dan hal ini mengakibatkan semakin kuatnya nilai-nilai feodalisme.

Bahasa Jawa pada prakteknya sangat tergantung pada para pomong praja dan priyayi karena merekalah yang telah membangun dan meng-handarbeni akan eksistensi bahasa/budaya Jawa.

 Tidak mengherankan jika dalam kesehariannya jarang sekali ada orang wong cilik yang mampu berbicara dengan bahasa kromo inggil dengan baik. Memang bahasa kromo ini selain penggunaanya terbatas peredarannya terbatas. Kosa kata yang harus dihafalkan pun cukup sedikit yang berkaitan dengan anggota tubuh: 300-an kata.

Etika Orang Jawa, sebagai etika yang cukup tua, karena merupakan seperangkat nilai yang kemudian turut serta melahirkan ideologi bangsa ini, baik ideologi politik maupun ideologi pendidikan/budaya. Ideologi politik, tentu rakyat Indonesia sebagai bangsa masih ingat akan semboyan “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mang Rawa” dan juga semboyan pendidikan kita dari Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuru Handayani”. Petuah orang besar, yang merupakan perancang ideologi itu dan kesemuanya orang Jawa itu, ternyata mampu menjadi semacam perekat akan kesatuan nasional Indonesia yang didasari atas pemahaman bersama terhadap semboyan filisofis tersebut. 

Etika Jawa yang membuat bangsa ini kurang tegas menurut Niels Mulder adalah tolong menolong. Etika ini membolehkan siapa saja untuk melakukan apa saja dengan dalih untuk menolong. Misalnya, seorang guru negeri diperbolehkan untuk melakukan jual-beli buku-buku tulis atau buku pelajaran dengan harga yang lebih tinggi.

Norma masyarakat bersifat hirarkris dan terstruktur. Siapa yang sedang berkuasa maka ia menjadi benar (moralnya baik) karena dalam masyarakat seperti ini masyarakat tidak membentuk warganya, namun justru individu-warganya yang membentuk merah-putih-nya masyarakat. Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan budaya Jawa yang lain ethok-ethok, disilusi/pura-pura.

 Manusia Jawa dengan falsafah ethok-ethok-nya ini merasa tidak enak hatinya jika untuk mengatakan hal yang salah jika hal itu dari kalangan atas atau orang yang berkuasa. Kharisma sangat berpengaruh apakah  ethok-ethok ini akan berfungsi atau tidak tergantung seberapa kharisma yang dimilikiya. Kharisma dalam dunia Jawa sangat tergantung seberapa banyak seorang tokoh memiliki kekuatan materiil maupun spiritual (magis) dengan diatandainya banyaknya jimat yang dimiliki: cincin, keris dan lainnya.





No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter