Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

ETIKA BERSENGGAMA


1.          Waktu Melakukan Seks
Dianjurkan bagi suami istri yang hendak melakukan hubungan seksual dengan istrinya, hendaknya memilih waktu setelah shalat isya’. Karena hal itulah yang disunnahkan. Dan boleh-boleh saja sekiranya ia melakukan hubungan seks tersebut setelah shalat Maghrib, sebelum melakukan shalat Isya’. Dan sebagaimana keterangan yang dikemukakan di muka, bahwa hubungan seks antara suami dan istri itu bisa dilakukan sepanjang bulan dan sepanjang hari, kecuali hari-hari dan saat-saat tertentu yang dianjurkan agar dihindari.
Syeikh Abu Muhammad al-Tihami dalam kitab Qurrah al-'Uyûn melarang atau sebaiknya dihindari pasangan suami istri melakukan hubungan seksual pada hari-hari berikut ini:
a.        Hari Rabu yang jatuh pada minggu terakhir tiap bulan, 
b.        Hari ketiga, tiap awal bulan.
c.         Hari kelima tiap bulan. 
d.        Hari ketiga belas pada setiap bulan. 
e.        Hari keenam belas setiap bulan. 
f.          Hari kedua puluh satu pada setiap bulan. 
g.        Hari kedua puluh empat pada setiap bulan. 
h.        Hari kedua puluh lima pada setiap bulan.
Delapan hari yang telah disebutkan di atas tadi juga berlaku untuk seseorang yang akan melakukan suatu pekerjaan yang dianggap penting, seperti hendak menikah, bepergian, menggali sumur, menanam pohon dan lain sebagainya. Di samping hari-hari yang telah disebutkan diatas, hari-hari lain yang harus dihindari untuk mengerjakan sesuatu yang dianggap penting adalah hari Sabtu dan Selasa.
Menurut Syeikh Abu Muhammad al-Tihami, hari Sabtu disebut dengan hari penipuan. Sebab hari itu orang-orang Quraisy pernah berkumpul di gedung “al-Nadwah” untuk mencari ide bagaimana caranya memusnahkan dakwah Nabi SAW. Sedangkan hari Selasa adalah hari dimana darah mengalir. Sebab hari itu ibu Hawa pernah haid, putra Nabi Adam as pernah membunuh saudara kandungnya sendiri, terbunuhnya Jirjiz, Zakaria dan Yahya as, kekalahan tukang sihir Fir’aun, divonisnya Asiyah binti Muzahin permaisyuri Fir’aun dan terbunuhnya sapi Bani Israil.
2.        Hubungan Seks dan Tata Caranya
Bagi suami yang hendak melakukan hubungan seks dengan istrinya, hendaknya ia membersihkan hatinya, dalam arti bertaubat kepada Allah dan menyesali perbuatannya yang menyimpang dari ajaran agama, kekhilafan dan tindakan tercela lainnya yang pernah dilakukan. Jadi, ketika ia melakukan hubungan seks, ia dalam keadaan suci dan bersih, baik lahiriyyah maupun batiniyyah. Hal ini dimaksudkan semoga Allah memberikan karunia kepadanya atas kesempumaan urusan agamanya melalui bimbingan seks dengan istrinya. Sebab ada hadits yang berkenaan dengan masalah ini:
مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفُ الدِّيْنِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الثّنيّ
Barangsiapa menikah, maka ia sungguh telah menyempurnakan separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah dalam separuh yang kedua.
Islam memperbolehkan pasangan suami istri memuaskan kebutuhan seksualnya selama dilakukan dengan cara yang benar, etis, sehat dan tidak berlebihan. Meskipun apa yang terdapat pada istrinya sudah halal untuk dinikmati dan tidak ada larangan untuk berhubungan seks dengan gaya dan posisi yang bagaimanapun asalkan tetap pada lubang vagina, hal itu tidak dipermasalahkan, namun demikian segala sesuatu tetap ada aturannya. Diantara tuntunan Islam, ketika hendak melakukan hubungan seks, maka seorang suami yang akan masuk ke kamar istrinya, hendaknya ia memulai melangkahkan kakinya yang sebelah kanan terlebih dahulu. Kemudian mengucapkan salam sebagai berikut:
بِسْمِ اللهِ وَ السَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
Dengan menyebut asma’ allah, salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada Rasulullah. Dan salam sejahtera semoga tetap tercurahkan kepadamu.
Kemudian suami melakukan shalat dua rakaat atau lebih dengan membaca surat al-Quran semampunya. Kemudian membaca surat al-Fatihah dan surat al-Ikhlash sebanyak tiga kali. Kemudian membaca salawat kepada Nabi Saw sebanyak tiga kali, kemudian berdoa kepada Allah Swt, memohon supaya tetap rukun, harmonis, saling menyayangi dan mencintai sampai akhir hayat. Kemudian ia membaca doa berikut ini:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِي أَهْلِيْ وَ بَارِكْ لِأَهْلِي فِيَّ اللَّهُمَّ رَزِّقْهُمْ مِنِّيْ وَ ارْوُقْنِيْ مِنْهُمْ وَ ارْوُقْنِيْ أُلْفَهُمْ وَ مَوَدَّتَهُمْ وَ ارْزُقْهُمْ أُلْفِيَّ وَ مَوَدَّتِيْ وَ حَبِّبْ بَعْضُناَ بَعْضاً
Ya Allah berkahilah saya dan istri saya. Dan berilah istri dan keluarga saya rizki karena saya. Dan berilah saya rizki karena istri dan keluarga saya. Berilah saya ya Allah keturunan hidup berumah tangga dan cinta kasih. Dan berilah istri dan keluarga saya, curahan kasih sayang dari curahan dan kecintaan kasih sayangku. Dan jadikanlah keluargaku ya Allah saling sayang dan mencintai antara satu dengan lainnya.  
Bagi suami yang hendak melakukan hubungan seks dengan istrinya, sebaiknya sang istri diperintahkan untuk wudhu terlebih dahulu, manakala sang istri ketika dalam keadaan tidak suci dari hadats. Kemudian suami memerintahkan kepada istrinya agar melakukan shalat Magrib dan Isya’ terlebih dahulu, karena pengantin putri biasanya jarang yang melakukan shalat disaat kedua waktu shalat itu tiba, pada malam pertama berbulan madu. Oleh karena itu, maka waspadalah jangan sampai hal itu diabaikan.
Kemudian sang suami hendaklah memerintahkan istrinya untuk melakukan shalat di belakangnya (berjamaah), sebanyak dua rakaat, lalu sang suami bedoa dan istri mengamini doa suaminya. Setelah itu suami dianjurkan supaya menghadap ke wajah istrinya dan kemudian duduk didekatnya sambil memberi salam kepadanya. Kemudian ia meletakkan tangannya diatas ubun-ubun istrinya (kening istrinya) dan berdoa sebagai berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ خَيْرَهاَ وَ خَيْرَ ماَ جِبِلْتَهاَ عَلَيْهِ وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهاَ وَ شَرِّ ماَ جِبِلْتَهاَ عَلَيْهِ
Ya Allah sungguh aku mohon kepadaMu, akan kebaikan istri saya dan kebaikan perangai yang telah engkau ciptakan baginya. Dan aku mohon perlindungan dari keburukan serta buruk watak yang telah engkau ciptakan baginya.
Setelah sang suami berdoa, ia dianjurkan pula membaca surat Yasin, surat al-Waqiah surat ad-Dhuha, surat Insyirah, surat an-Nashr dan ayat Kursi. Semua itu dibaca masing-masing satu kali. Dan ini didasarkan pada petunjuk Nabi Saw sebagai berikut: "Barangsiapa pada setiap pagi membaca sebanyak tiga kali, doa (“aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, dari godaan syeitan yang terkutuk”), kemudian membaca tiga ayat terakhir dari surat Hasyr, yaitu Lau Anzalna... agar Allah menurunkan kepadanya tujuh ribu malaikat untuk mendoakan selamat (kesejahteraan) sehingga pagi dan ketika ia mati, maka ia mati dalam keadaan syahid. Dan barangsiapa membaca sampai pagi maka para malaikat akan turun kepada pembacanya.
Anjuran untuk mengamalkan bacaan dan dzikir di atas sebenarnya tidak hanya khusus dibaca pada malam hari ketika hendak melakukan hubungan seksual saja, namun juga dianjurkan dibaca setiap pagi dan sore, karena orang yang membacanya Allah akan menugaskan kepada tujuh puluh ribu malaikat agar mendoakan kepada para pembacanya sampai pagi, dan jika ia meninggal dihari itu maka ia mati syahid. Bagi suami yang hendaknya jangan lupa meletakkan tangannya pada leher istrinya (memeluknya), sambil mengucapkan doa “Ya Qorib” sebanyak tujuh kali, lalu membaca doa "wahuwa khairun hafidha wahuwa arhamarrahimin."
Pada dasarnya semua doa itu dianjurkan oleh Nabi, baik itu berdasarkan petunjuk al-Quran dalam arti doa yang ada dalam al-Qur’an, ataupun hadits Nabi, karena manusia adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan yang Maha Kuasa. Di samping itu manusia dituntut untuk selalu ingat pada Allah dimanapun dan kapanpun, yang menjadi permasalahan adalah doa tersebut di atas apakah termasuk hadits Nabi, atau perkataan para ulama.
3.        Posisi Melakukan Hubungan Seksual
Setelah seorang mempelai selesai melakukan hal-hal yang berkenaan dengan cara dan etika melakukan hubungan seks sebagaimana dijelaskan di atas maka akan dijelaskan bagaimana cara mencapai kenikmatan hubungan seks dengan berbagai Posisinya. Posisi tubuh dalam melakukan persenggamaan itu amat banyak aneka ragamnya, namun kesemuaannya itu bertujuan satu yaitu tercapainya kepuasan yang sempurna dalam melakukan persenggamaan.  Akan tetapi hal ini tidak boleh disepelekan. Banyak pasutri mengalami kegagalan berumah tangga hanya karena tidak sukses melakukan malam pertama.
Ada beberapa faedah jika pasutri memiliki banyak variasi dalam bersenggama, antara lain:
a.        Membuat aktifitas seksual lebih menarik.
b.        Menghindarkan kebiasaan yang membosankan.
c.         Memperlambat ejakulasi bagi pria.
d.        Menghindari kehamilan pada posisi tertentu.
e.        Memperoleh kehamilan pada posisi tertentu pula.
Adapun posisi persetubuhan itu bermacam-macam dan bebas dilakukan asalkan tetap pada lubang vagina. Dalam konteks ini terdapat hadits Nabi yang mengungkapkan sebuah kasus yang pernah dialami sahabat Umar karena dia telah menjimak isrtinya dengan cara yang menurutnya kurang patut, yakni lewat pinggang istrinya, maka nabi menyatakan:
أقْبِلْ أَو أَدْبِرْ وَ اتَّقُوا الدُّبُرَ وَ الْحَيْضَ (رواه أحمد و الترمذي)
Datangilah istrimu dari arah depan atau belakang tetapi takutlah kamu bersetubuh pada dubur dan dalam keadaan haid. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Dalam melakukan hubungan seks, biasanya istri tidur terlentang di atas seprai yang dingin, karena biasanya saat melakukan hubungan seksual itu suhu tubuh meningkat karena nafsu birahi yang memuncak. Dan juga sebaiknya ruangan tersebut tertutup (terkunci) dan bebas dari intipan, tidak menimbulkan suara berisik sehingga terdengar dari luar. Setelah melakukan Foreplay[1] sampai hangat, hendaknya suami harus menanyakan kepada istrinya apakah sudah siap segalanya? Kemudian suaminya naik ke atas tubuh istrinya (suami telungkup), sementara sang istri menundukkan kepalanya kebawah dan pantatnya (pinggulnya) diangkat keatas dengan diberi ganjal sebuah bantal. Posisi seperti ini adalah yang paling nikmat dalam bersetubuh. Imam al-Razi, sebagaimana dikutip oleh al-Tihami, mengatakan bahwa posisi bersetubuh sebagaimana diterangkan diatas adalah posisi yang dipilih oleh ulama fiqih dan para dokter.
Al-Tihami juga mengutip dari kitab al-Waghsiliyah mengatakan bahwa jangan sesekali melakukan cara bersenggama disaat istri berada diatas suami, sebab yang demikian dialah yang paling aktif memainkan persenggamaan, sedang suaminya dalam keadaan pasif. Cara tersebut menurut Imam ar-Razi dapat mengakibatkan terhentinya aliran darah dan dapat mengakibatkan efek yang tidak baik. Akan tetapi bagi istri yang tidak kuat menahan beban berat badan suaminya, maka posisi ini malah justru menguntungkan.
Al-Tihami mengutip dalam kitab Idhah bahwa posisi dalam besetubuh yang dapat membuat istri nikmat yang tiada tara adalah apabila istri bersetubuh dengan posisi tidur terlentang, sementara suami berada di atas tubuh istrinya dan suami mengusahakan agar kepala sang istri agak menunduk kebawah, kemudian suami menggesekkan penisnya pada bibir kemaluan istrinya sambil menggosokkan pula batang penisnya, setelah itu suami memasukkan penisnya ke lubang kemaluan istrinya sambil digoyang-goyangkan. Apabila suami merasa telah keluar sperma, masukkanlah tangan dibawah pantat istrinya sambil diangkat ke atas agak tinggi maka tentu mereka berdua akan merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Hal yang perlu diperhatikan dalam hubungan seks antara suami istri adalah masalah keperawanan apabila seorang suami bersetubuh dengan gadis, maka menurut Syeikh Umar ibn Abd. Wahab sebaiknya suami jangan mencabut dzakarnya ketika akan keluar sperma, sebagaimana hal ini dilakukan sebagian orang-orang tolol, namun sebaliknya hendaklah dibiarkan saja air sperma masuk ke dalam lubang vagina istrinya dengan harapan semoga Allah menjadikan keturunan yang bermanfaat sebab sprema tersebut. Dan juga barangkali, persetubuhan itu adalah akhir perjumpaan dengan istrinya. Sebab seorang tidak bisa mengelak datangnya maut.
 Disamping itu sang suami disunnahkan saat berejakulasi mengucapkan secara pelan-pelan doa berikut ini:
الحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْماءِ بَشَراً فَجَعَلَهُ نَسَباً وَ صَهْراً وَ كاَنَ رَبُّكَ قَدِيْراً اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ خَلَقْتَ خَلْقاً فِي بَطْنِ هَذِهِ لْمَرْأَةِ فَكَوِّنْهُ ذَكَراً وَ سَمِّيْهِ أَحْمَدَ بِحَقِّ مُحِمَّدٍ صلى الله عليه و سلم رَبِّيْ لاَ تَذَرْنِيْ فَرْداً وَ أَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air mani,lalu Dia menciptakan manusia sebagai keturunan dan keluarga. Sesungguhnya Dialah Tuhan yang Maha Kuasa. Ya Allah Tuhan kami, jika Engkau mentakdirkan didalam perut istriku ini tercipta seorang mahluk, maka jadikanlah ia seorang laki-laki yang akan kuberi nama Ahmad. Dengan hak yang ada pada nabi Muhammad. Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah biarkan aku sendirian (tanpa memiliki keturunan). Engkaulah Tuhan sebaik-baiknya dzat yang mewariskan (yang memberi keturunan).
Apabila suami hendak berejakulasi dan sang istri belum mencapai puncak kenikmatan (orgasme), maka suami hendaknya berusaha memperlambat keluarnya sperma sehingga istrinya benar-benar telah siap orgasme, secara bersama-sama sampai istrinya sudah ada tanda-tanda orgasme dikarenakan watak istri butuh waktu yang lama untuk sampai pada puncak orgasme. Jika keduanya telah mencapai puncak, hendaknya suami mencabut dzakarnya (tidak membiarkan dzakarnya berlama-lama didalam vagina), karena membiarkan dzakar terus berada didalam vagina bisa menimbulkan kekecewaan pada istrinya atau dapat menjadikan sakit pada vagina.
Tentang posisi bersetubuh menurut orang Perancis ada 100 posisi, sedangkan menurut petunjuk buku Kamasutra ada 66 posisi. Akan tetapi semuanya bisa diringkas menjadi 4 posisi yaitu:
a.        Posisi atas bawah (pria diatas dan wanita dibawah dengan berhadap-hadapan).
b.        Posisi atas bawah (wanita diatas dan pria dibawah)
c.         Posisi pria menghadap punggung (dilakukan dengan posisi istri dalam keadaan sujud dan suarni dibelakangnya).
d.        Posisi miring berhadap-hadapan.
Adapun tanda-tanda seorang istri mencapai orgasme adalah sebagai berikut:
a.        Adanya tanda keluar keringat pada bagian dahinya
b.        Sang istri niendekap tubuh suaminya erat-erat.
c.         Lemasnya semua otot.
d.        Adanya tanda-tanda rasa malu melihat wajah suaminya.
e.        Saat orgasme istri kadang-kadang disertai adanya tanda-tanda menggigil (suaranya terengal-engal).
Terkumpulnya air sperma suami dan istri (karena keduanya mengeluarkan air sperma dalam jangka waktu yang sama) pada dasarnya merupakan salah satu penyebab semakin bertambahnya kecintaan istri kepada suami, namun sebaliknya, apabila mereka berdua tidak bersamaan (suami lebih dulu mengeluarkan sperma), maka dapat menjadikan pemicu retaknya kehidupan berumah tangga, jika saja suami dalam hal ini tidak memperhatikan keadaan istrinya.




[1] Adalah istilah dari pemanasan atau permainan pendahuluan, yaitu cumbu rayu sebelum penetrasi/Coitus. Biasanya cumbuan yang digunakan adalah sentuhan, usapan, remasan pada bagian tubuh wanita atau pria dengan tujuan membangkitkan gairah.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter