Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

HUKUM JIMA’ (SENGGAMA) DALAM ISLAM

Kaitannya dengan masalah jima’ (senggama), melakukan jima’ juga memiliki rambu-rambu tersendiri yang disyariatkan oleh Islam. Hukum berjima’ ini sekiranya bisa dijadikan pegangan bagi pasangan suami istri. Tidak hanya bagi kaum laki-laki tetapi juga kaum perempuan. Hukum yang dimaksud disini adalah mengukur maslahah dan mafsadat yang ada pada aktifitas jima’. Diantaranya adalah:
1.     Wajib
Hukum berjima’ menjadi wajib ketika aktifitas tidak dilakukan akan mendatangkan kemudharatan. Dengan kata lain, aktifitas ini akan menjadi wajib, bila suami menginginkannya dan istri dalam keadaan sehat fisik dan rohani, dan jika ditinggakan akan menimbulkan hal yang mudharat.
2.     Sunnah
Sebagaimana kita ketahui bahwasannya aktifitas jima’ adalah bagian dari sedekah. Aktifitas menjadi sunnah, ketika dilakukan pada suami istri yang menginginkannya. Apabila ditinggalkan tidak mendatangkan kemudharatan apa-apa yang signifikan.
3.     Makruh
Hubungan seksual menjadi hukum makruh apabila salah satu pihak dalam keadaan tidak atau kurang sehat. Ketika salah satu pasangan tidak dalam performa terbaiknya, bahkan jika dilakukan itu tidak mendatangkan kemanfaatan, maka aktifitas tersebut dihukumi makruh.
4.     Haram
Kegiatan jima’ yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang diharamkan, seperti ketika melakukan Ihram atau juga ketika dalam keadaan siang hari di bulan Ramadhan, atau juga saat istri dalam keadaan haid. Jika ini dilakukan maka aktifitas jima’ menjadi haram dan tidak boleh dilakukan.
Dalam kaitannya dengan masalah jima’ ini, Islam sangat indah memberikan tuntunan dalam hal hubungan pasangan suami-istri, jima’ bukan hanya dipandang sebagai nafsu belaka melainkan juga hubungan seksual yang harus ada sambungan langsung dengan Sang Pencipta. Hal ini menentukan bagaimana kualitas anak turunnya dan kualitas hubungannya bisa lebih baik.
Menurut imam al-Ghazali, sejauh ini manusia masih menjadikan seks sebagai hal yang menyenangkan dalam hal jasmani saja. al-Junaid al-Baghdadi,  seorang imam besar dalam tasawuf pernah berkata: “Aku membutuhkan seks, sebagaimana aku butuh makan.”
Kata imam al-Ghazali, “Di dunia ini ada satu kenikmatan yang nyaris menyamai kenikmatan surga, yaitu kontak seksual (Muja’ma'ah)”. Imam al-Ghazali ingin menyadarkan kita bahwa kenikmatan surga adalah kenikmatan yang sangat indah, abadi dan tak terbayangkan. Di dunia kita hanya merasakan kenikmatan klimaks seks sesaat saja. Nantinya di akhirat bisa rasakan kenikmatan seks selamanya. Menurut beberapa sumber hadits, bahwasannya kelak di surga, orang yang malakukan jima’ tak pernah mengalami ejakulasi atau orgasme.
Pandangan tersebut memang bernada spiritualistik-sufistik. Seks punya kandungan pemaknaan yang eksoterik dan esoterik. Ibnu Arabi, selaras pandangan emanatif dan Wahdah al-Wujud Ibnu Arabi, bahwa alam tempat tajalli, atau penampakan Tuhan, maka berhubungan intim dengan istri sesungguhnya adalah proses untuk bersatu (wahdah) dengan Tuhan. Menjauhi kebersatuan dengan wanita sesungguhnya menjauhi bersatu dengan Tuhan. 
Dari  sinilah,  kesatuan  seksual pasangan  suami-istri  bisa terjalin dengan  sejalan, selaras dan sinergis. Hubungan yang dilakukan pasangan suami istri harus sejalan dengan kesatuan jiwa dan badan untuk bekal taqarrub kepada Allah. Dalam perspektif Islam inilah, Islam sangat memberikan etika detail untuk menghasilkan umatnya menjadi umat yang terbaik  termasuk didalamnya adalah masalah hubungan jima’. Semuanya terkonsep dengan baik dan teratur serta bisa memberikan solusi yang solutif bagi pasangan suami-istri untuk kesempurnaan dan keharmonisan rumah tangganya.


No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter