Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

PHONE SEX DALAM KAJIAN HUKUM ISLAM

Phone sex atau telepon seks merupakan jenis virtual seks yang merujuk ke percakapan seksual ekspilisit antara dua orang atau lebih melalui telepon, kemudian yang melakukan percakapan tersebut berfantasi seksual. Perbincangan ini antara dua orang atau lebih melalui telepon yang bertujuan untuk menstimulasi gairah seksual hingga mencapai titik orgasme.  Phone sex juga bisa dijadikan ajang fantasi seks saat melakukan masturbasi. 
Telepon seks secara psikologis ternyata bisa membuat orang jadi romantis, atau sebaliknya liar. Percakapan bisa mengasyikkan hingga menghabiskan waktu berjam-jam.  Tapi dapat pula berlangsung singkat tanpa banyak basa-basi. Disitulah akan terlihat sejauh mana teknik berkomunikasi dikuasai. Langsung mengeluarkan kata-kata vulgar menandakan tidak bisa mengontrol diri.
Seiring perubahan zaman, phone sex tidak hanya dilakukan oleh pasangan yang saling mengenal. Jasa layanan phone sex dengan mudah didapati melalui media cetak maupun online. Ini dapat dikategorikan sebagai pornografi yang menggunakan audio (pendengaran) sebagai medianya.
Perilaku phone sex sama seperti rokok, alkohol dan obat-obatan terlarang, juga bisa berakibat kecanduan bagi penggunanya. Hal ini disebabkan ketika melakukan kegiatan seks, ada sejenis senyawa kimia yang dilepaskan di dalam tubuh dan memberikan rasa nyaman. Rasa nyaman inilah kemudian yang membuat seseorang ingin merasakannya tidak cukup sekali dan bahkan mulai terobsesi untuk mendapatkan rasa nyaman ini terus menerus.
Dorongan dan obsesi inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk terus melakukan aktivitas seksual secara berlebih dan beresiko tinggi. Seks kemudian menjadi hal terpenting dibanding aspek kehidupan lainnya. Kecanduan seks mungkin tidak akan merusak tubuh seperti halnya alkohol dan narkoba, namun perlahan tapi pasti perilaku seksual akan merusak kehidupan pribadi, baik itu pendidikan, karir, keluarga maupun kehidupan sosial.
Allah Swt memberi manusia pendengaran, penglihatan dan hati, agar manusia bersyukur.  Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Justru digunakan untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Untuk melihat yang tidak halal baginya, mendengar yang tidak patut didengar. Terlebih di era globalisasi ini dengan segenap kecanggihan teknologi dan informasi, baik dari media cetak maupun elektronik, seperti internet, televisi, handphone, majalah, koran, dan lain sebagainya, yang notabene-nya menyajikan gambar wanita-wanita yang terbuka auratnya. Ditambah lagi dengan maraknya layanan phone sex. Dengan mudahnya seseorang menikmati layanan tersebut.
Phone sex dalam maqashid asy-syari'ah kategori memelihara akal dapat dikatakan merusak akal. Akal sehat manusia tidak akan pernah menerima perlakuan yang merendahkan martabat kemanusiaannya demi kesenangan sesaat semata, demi materi duniawi semata.  Pencapaian tujuan kesenangan yang hanya bersifat duniawi, tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang menyenangkan di akhirat kelak. Allah adalah Maha Pemberi Kehormatan kepada yang dikehendakinya. Untuk itulah diturunkan hukum Islam dengan salah satu tujuanya menjaga harga diri.
Phone sex bukan merupakan perbuatan yang dapat memberikan kehormatan ataupun nikmat yang diridlai Allah. Phone sex merupakan perbuatan atau nikmat yang bersifat sementara bagi sebagian manusia dan merendahkan kehormatan dirinya serta melepaskan dirinya pula dari akidah, syariat, dan akhlak (Islami). Phone sex merupakan perbuatan yang menimbulkan kenikmatan yang memperdaya manusia.
Pada satu sisi, layanan phone sex bisa digunakan sebagai alternatif untuk menyalurkan hasrat seksual sementara. Itu dipilih karena dianggap lebih baik daripada zina atau menggunakan jasa pekerja seks secara langsung. Sedangkan di sisi lain, banyak sekali generasi penerus bangsa yang dengan mudah mengakses dan menggunakan jasa layanan phone sex
Bagi pemuda yang telah memiliki kemampuan dan hasrat seksual, Islam menganjurkan adanya pernikahan. Ini agar terjaga kehormatan dirinya dan tidak terjerumus pada zina maupun perbuatan yang mendekatinya. Namun bagi yang belum mampu, Rasulullah Saw menganjurkan untuk berpuasa. Sebagaimana hadits Nabi Saw:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابَ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ أَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّومِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءُ (رواه البخاري)
Wahai para pemuda! Barangsiapa yang sudah memiliki kemampuan (biologis maupun materi), maka menikahlah. Karena hal itu lebih dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah), maka hendaklah dia berpuasa karena hal itu menjadi benteng baginya.” (HR. al-Bukhari).[1]
Telepon seks merupakan zina telinga, lidah dan hati. Ini berarti bahwa layanan telepon seks statusnya menyediakan wadah untuk berzina dengan telinga, lidah dan hati. Itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw:
العَيْناَنِ زِنَاهُماَ النَّظَرُ وَ الأُذُنَانِ زِنَاهُماَ الإِسْتِمَاعُ وَ اللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَ الْيَدُ زِنَاهاَ الْبَطْشُ وَ الرِّجْلُ زِنَاهاَ الْخُطَا وَ الْقَلْبُ يَهْوَى وَ يَتَمَنَّى وَ يُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَ يُكَذِّبُهُ (رواه مسلم)
Mata zinanya melihat, telinga zinanya mendengar, lidah zinanya berbicara, tangan zinanya memegang, kaki zinanya melangkah, dan hati zinanya gairah dan bayangan pikiran kotor. Sementara kemaluan yang akan membenarkan atau mendustakan terjadinya zina sesungguhnya.” (HR. Muslim).[2]
Hukum Islam hadir bertujuan untuk membawa kemaslahatan di muka bumi. Mashlahah yang dapat dipakai setidaknya harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya:
Pertama: yaitu kemaslahatan harus sangat esensial dan primer. Maksudnya, kemaslahatannya yang berhubungan dengan kebutuhan pokok manusia di dunia dan di akhirat. Layanan phone sex bukan merupakan solusi untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Allah Swt telah mengatur pemenuhan tersebut melalui pernikahan.
Kedua, kemaslahatan sangat jelas dan tegas. Artinya, bentuk maslahat yang dimiliki suatu masalah telah jelas lebih besar dari pada mudharat-nya. Layanan telepon seks membawa kerusakan yang lebih besar bagi kehidupan seseorang, meliputi kehidupan pribadi, keluarga, keuangan dan karir.
Ketiga, kemaslahatannya bersifat universal, yakni kemaslahatan tersebut bukan untuk kemaslahatan pribadi namun kemaslahatan untuk banyak orang. Memang bagi beberapa orang yang tidak bisa menyalurkan hasrat seksual kepada pasangan karena faktor jarak, layanan ini bisa menjadi alternatif daripada zina. Namun, bagi banyak orang secara umum layanan ini tidak mempunyai kemaslahatan. Malahan, kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar. 
 Keempat, kemaslahatan berdasarkan dalil universal, yaitu dalil yang tegas diakui syariat.  Al-Qur'an secara tegas melarang zina dan hal-hal yang mengantarkan padanya. Layanan phone sex merupakan prostitusi terselubung dan termasuk perbuatan yang mendekati zina. 
Berikut merupakan kaidah dalam mengambil mashlahah:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Menolak kemafsadatan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”[3]
Menurut kaidah di atas bahwa walaupun suatu hal mengandung kemaslahatan, namun jika terdapat mafsadat (kerusakan) didalamnya, maka sebaiknya ditinggalkan. Ini dikarenakan menghilangkan sebuah mafsadat lebih susah daripada menarik mashlahah. Mudharat yang terkandung dalam layanan phone sex lebih besar ketimbang mashlahah yang bisa didapat, sehingga layanan ini sudah seharusnya dilarang oleh pihak berwajib.
Allah Swt telah mengatur penyaluran hasrat seksual dengan sedemikian baik. Ada berbagai aturan yang harus dipenuhi jika hendak melakukan hubungan seksual dengan suami atau istrinya, bukan dengan operator penyedia layanan phone sex. Tidak ada alasan untuk melakukan phone sex apalagi menggunakan layanan phone sex. Terdapat bahaya yang timbul akibat seorang suami terlalu lama meninggalkan istrinya. Amirul Mu'minin Umar bin Khattab menetapkan peraturan, bahwa untuk para mujahidin diijinkan pergi berperang paling lama hanya selama enam bulan. Berangkat satu bulan, di medan perang empat bulan, dan kembali pulang selama satu bulan. Dari peraturan yang dibuat tersebut mencerminkan betapa pentingnya keharmonisan dalam keluarga, karena dari lingkup terkecil yakni keluargalah yang menentukan kekuatan sebuah negara.


[1] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Riyad: Darussalam, 2008), 438.
[2] Abi Husayn Muslim, Shahih Muslim, (Riyad: Darussalam, 2008), 1141.
[3] Moh. Adib Bisri, Risalah Qawaid Fiqh, (Kudus : Menara Kudus, 1977), 24

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter