Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

TEKA-TEKI S3KS


S3ks sebagai urusan kelamin tak pernah kehabisan atau kehilangan daya sensasionalnya bagi siapapun dan di zaman apapun. Selalu saja ada perkembangan-perkembangan baru dalam fenomena s3ks sebuah masyarakat, meski s3xual act yang mendasar sebenarnya hanya begitu-begitu saja. Tapi memang manusia seluruhnya adalah s3ksual. Seluruh tingkah lakunya selalu diresapi oleh identitas s3ksnya, yakni gradasi kelelakiannya (jika ia lelaki) atau keperempuanannya (jika ia perempuan). Implikasinya kemudian adalah terjalinnya koreasi secara otomatis antara s3ksualitas dengan serangkaian konteks sosial yang melingkupinya. S3ks pun lalu jadi sebuah fenomena yang multidimensional, dan hal inilah yang membuat s3ks menjadi potensial untuk “bercerita” dan mengungkap tentang sosok manusia. Karenanya, mempelajari fenomena s3ks adalah mempelajari manusia seutuhnya.
Uniknya lagi, nilai komersial s3ks juga selalu sangat tinggi sehinga membuat para produsen di berbagai bidang terus berlomba-lomba mengeksploitasinya sebagai sebuah komoditi. Koran dan bermacam majalah nyaris semuanya menggelar rubrik-rubrik khusus tentang problem s3ks sebagai persoalan yang seakan tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan persoalan-persoalan serius macam krisis ekonomi, krisis lingkungan, krisis kebudayaan, dan krisis-krisis lain yang telah melanda dunia. Dunia perfilman dan periklanan malah lebih gamblang lagi dalam memanfaatkan seks untuk menjaring konsumen sebanyak-banyaknya.[1]
Akibat langsung dari pengeksploitasian s3ks sebagai sebuah komoditi adalah pereduksian pengertian orang terhadap seksualitas menjadi sekedar gen1talitas dan organ sekunder lainnya belaka. S3ks dianggap sebagai sesuatu yang biologis-fisik semata sehingga maknanya hanya terfokus pada persetubuhan dan intercouse saja, sementara dimensi lain dari s3ks, seperti dimensi behavioral, klinis, psikososial, dan juga sosiokultural, menjadi terabaikan. 
S3ks akhirnya dipandang sebagai barang konsumsi belaka, dan bila kita telah memandang dengan cara ini, maka konsumsi itu menjadi tak terkontrol lagi karena konsumerisme memang menjadi tak terkontrol lagi karena memang konsumerisme memang dunia tanpa batas dan arah. Perkembangan dalam fenomena s3ks masyarakat modern jelas punya indikasi ini. Berbagai gejalanya, antara lain terlihat dari bisnis porn0grafi. Setidaknya ada dua persoalan mendasar dalam kasus ini. Pertama, soal kebebasan s3ks dan yang Kedua soal kek3rasan dalam kaitannya dengan perilaku s3ks manusia.[2]
Sebagai teka-teki, s3ksualitas bisa mengungkapkan banyak hal tentang manusia setiap kali kita menjawabnya dengan benar, tapi sebagai teka-teki ia tetap menjadi obyek yang menarik. S3ks merupakan sesuatu yang natural dan kodrati dalam diri kita. S3ks bekerja secara naluriah setiap kali syaraf mata kita menangkap stimulus tertentu atau indera kita yang lainnya menangkap stimulus yang sejenis. Itulah sebabnya mengapa di dunia yang sudah global sekalipun, s3ks tetap muncul sebagai daya tarik tersendiri di antara berbagai persoalan serius lain yang tengah melanda dunia. Nilai komersialnya sangat tinggi yang membuat para produsen ramai-ramai mengeksploitasinya sebagai komoditas yang tak pernah susut daya jualnya.[3]
 Filsafat dalam hal ini sangat mungkin berperan sebagai counter (tandingan) terjadinya pendangkalan makna akibat gencarnya arus komersialisasi s3ks dan mengembalikan seksualitas pada nilai dan kedudukannya yang esensial dalam diri filosofis, s3ksualitas diharapkan bisa muncul secara lebih komprehensif sampai ke berbagai relasinya yang mungkin, sebagaimana Michel Foucault menganalisa kemungkinan-kemungkinan relasi s3ksualitas dan kekuasaan.[4]
Berbicara tentang s3ks dalam pandangan filsafat pertama-tama adalah berbicara tentang bagaimana idea tentang basic instinct tersebut membentuk manusia dan masyarakatnya. Setiap masyarakat membentuk sendiri nilai-nilai dan aturan-aturan tentang perilaku seksual setiap anggotanya. Tujuan pengaturan ini bisa untuk semata-mata kepentingan sosial, kepentingan psikologis, maupun kepentingan politik. Setiap kebudayaan, karenanya, mempunyai mitos-mitos sendiri yang mengajarkan nilai-nilai perilaku s3ksual yang seharusnya, terutama melalui berbagai tabu yang mereka percayai sebagai kebenaran. Perbedaan nilai-nilai antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya atau antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya, kerap sangat jauh. Tak jarang bahkan kontradiktif satu sama lain.
Perbedaan atau kontradiksi-kontradiksi semacam ini terjadi karena s3ks tidak pernah bisa terlepas dari serangkaian konteks sosial yang meliputinya. Padahal s3ks secara inheren sebenarnya universal nilai-nilainya. Tapi karena s3ks tidak pernah “bebas nilai” maka nilai-nilainya sendiri lantas kabur atau tertutupi oleh nilai-nilai yang menyertainya. Kehidupan sehari-hari, misalnya, menunjukkan pengertian s3ks kerap hanya mengacu pada aktivitas biologis yang berhubungan dengan alat kelamin atau genitalia belaka padahal makna seks sebagai jenis kelamin saja sekalipun sebenarnya meliputi keseluruhan kompleksitas emosi, perasaan, kepribadian dan sikap seseorang yang berkaitan dengan perilaku serta orientasi seksualnya. Itulah s3ksualitas secara keseluruhan.
Arti sempit yang melulu persetubuhan sendiri termasuk sebagai s3x acts, yang berdasarkan tujuannya dapat dibedakan menjadi tiga macam: Pertama, bertujuan untuk memiliki anak (s3x as procreational). Kedua, untuk sekedar kesenangan (just for fun) atau s3ks sebagai hiburan (s3x as recreational). Dan Ketiga, bertujuan sebagai bentuk ungkapan penyatuan rasa cinta atau rasa lainnya (s3x as relational). Sedang bentuk perilaku lain yang lebih luas seperti cara berpakaian yang ser0nok, gerak-gerik, dan ekspresi wajah yang er0tis atau menggoda, membaca majalah p0rno dengan gambar-gambar nud3-nya, serta bentuk-bentuk perasaan terhadap lawan jenis, adalah s3xual behaviour atau perilaku-perilaku s3ksual secara umum.[5]
Konsep identitas s3ksual nyatanya memang tidak pernah fully realized dan settle. Tidak pernah fixed dan pasti. Inilah sebabnya mengapa ada figur selebritis yang lalu menjadi s3x symbol, menjadi lelaki atau perempuan terseksi yang meski memang dimanfaatkan atau direkayasa oleh industri perfilman dan lain sebagainya.




[1] FX. Rudy Gunawan, Refleksi atas Kelamin, Magelang: Indonesia Tera, 2000, hlm. 3-4
[2] ibid., hlm. 5
[3] ibid., hlm. 11
[4] ibid., hlm. 14
[5] ibid., hlm. 19

2 comments


  1. AYOO SERBUU GAN MUMPUNG GRATIS DAN MURAH
    ADU BANTENG, Sabung Ayam, Sportbook, Poker, CEME, CAPSA, DOMINO, Casino
    Modal 20 rb, hasilkan jutaan rupiah
    Bonus 10% All Games Bolavada || Bonus Cashback 10% All Games Bolavada, Kecuali Poker ||
    FREEBET AND FREECHIP 2017 FOR ALL NEW MEMBER !!! Registrasi Sekarang dan Rasakan Sensasi nya!!! ONLY ON : BOLAVADA(dot)com
    BBM : D89CC515
    sabung ayam
    agen terpercaya
    bandar judi

    ReplyDelete
  2. sex merupakan godaan dunia yg utama

    ReplyDelete

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter