Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MENDAHULUKAN FA’IL ATAU MAF’UL BIH


Diperbolehkan mendahulukan maf’ul bih atas fa’il atau mengakhirkannya pada semisal (كَتَبَ زُهَيْرٌ الدَّرْسَ) dan (كَتَبَ الدَّرْسَ زُهَيْرٌ).

Diwajibkan mendahulukan salah satu dari fa’il dan maf’ul di lima tempat, yaitu:[1]

a.  Ketika khawatir terjadinya kesamaran, karena samarnya i’rab beserta tidak adanya qarinah, sehingga tidak bisa diketahui mana fa’il dan maf’ulnya. Maka diwajibkan untuk mendahulukan fa’il, seperti (عَلَّمَ مُوسَى عِيْسَى). Dan jika tidak ada kesamaran karena ada qarinah yang menunjukkannya, maka diperbolehkan untuk mendahulukan maf’ul, seperti (اَكْرَمَتْ مُوسَى سَلْمَى).

b. Ketika ada dlamir yang kembali kepada maf’ul bersambung dengan fa’il, sehingga diwajibkan untuk mengakhirkan fa’il dan mendahulukan maf’ul, seperti (اَكْرَمَ سَعِيْداً غُلاَمُهُ) dan tidak diperbolehkan mengucapkan (اَكْرَمَ غُلاَمُهُ سَعِيْداً). Namun, jika ada dlamir yang kembali kepada fa’il bersambung dengan maf’ul, maka diperbolehkan mendahulukan maf’ul atau mengakhirkannya, seperti (اَكْرَمَ الْاُسْتاَذُ تِلْمِيْذَهُ وَ اَكْرَمَ تِلْمِيْذَهُ الْأُسْتاَذُ).

c.  Ketika fa’il dan maf’ul berupa dlamir semua, dan tidak ada peringkasan pada salah satunya, maka diwajibkan untuk mendahulukan fa’il dan mengakhirkan maf’ul, seperti (اَكْرَمْتُهُ).

d.  Salah satu dari fa’il dan maf’ul berupa dlamir muttashil dan yang lainnya berupa isim dzahir, maka diwajibkan untuk mendahulukan yang berupa isim dlamir, sehingga fa’il didahulukan pada semisal, (اَكْرَمْتُ عَلِياًّ), dan maf’ul didahulukan pada semisal, (اَكْرَمَنِي عَلِيٌّ).

e. Ketika salah satu dari fa’il dan maf’ul meringkas pada fi’il dengan (اِلاَّ) atau (اِنَّماَ), maka diwajibkan untuk mendahulukan dari fa’il dan maf’ul yang fi’il teringkas padanya, maf’ul yang diringkas adalah seperti (ماَ اَكْرَمَ سَعِيْدٌ اِلاَّ خاَلِداً), dan fa’il yang teringkas adalah seperti (ماَ اَكْرَمَ سَعِيْداً اِلاَّ خاَلِدٌ وَ اِنَّماَ اَكْرَمَ سَعِيْداً خاَلِدٌ).

Wajib Mendahulukan Maf’ul atas Fi’il dan Fa’il

Diperbolehkan mendahulukan maf’ul bih atas fi’il dan fa’il secara bersamaan pada semisal (عَلِياًّ اَكْرَمْتُ) dan (اَكْرَمْتُ عَلِياًّ).

Wajib mendahulukan maf’ul atas fi’il dan fa’il di empat masalah, yaitu:[2]

a.    Maf’ul berupa isim syarat, seperti (مَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَماَ لَهُ مِنْ هاَدٍ).

b.  Maf’ul berupa isim istifham, seperti (فَأَيَّ آيَاتِ اللهِ تُنْكِلرُونَ؟).

c.  Maf’ulnya berupa (كَمْ) atau (كَأَيِّنْ) yang khabariyyah, seperti (كَمْ كِتاَبٍ مَلَكْتَ!) dan (كَأَيِّنْ مِنْ عِلْمٍ حَوَيْتَ!).

d.  Ketika yang menashabkan maf’ul itu adalah jawabnya (اَماَّ), dan tidak ada bagi jawabnya (اَماَّ) isim yang dibaca nashab yang didahulukan selain maf’ul itu, seperti (فَأَماَّ الْيَتِيْمَ فَلاَ تَنْهَرْ وَ اَماَّ السَّائِلَ فَلاَ تَنْهَرْ). 

Mendahulukan Salah Satu Maf’ul

Ketika maf’ul berbilang dalam kalam, maka ada sebagian yang memang asal didahulukan atas yang lainnya, adakalanya memang asalnya adalah mubtada’ seperti dalam bab (ظَنَّ), atau adakalanya maf’ul berupa fa’il makna seperti dalam bab (اَعْطَى).

Kedua maf’ulnya (ظَنَّ) dan sesamanya asalnya adalah mubtada’ dan khabar, sehingga ketika kita mengucapkan (عَلِمْتُ اللهَ رَحِيْماً) “aku yakin, Allah adalah Dzat yang Maha Penyayang,” maka asalnya adalah (اللهُ رَحِيْمٌ). Dan kedua maf’ulnya (اَعْطَى) dan sesamanya asalnya bukanlah mubtada’ dan khabar, namun maf’ul yang pertama adalah fa’il dalam makna, sehingga ketika kita mengucapkan (اَلْبَسْتُ الْفَقِيْرَ ثَوباً) “aku telah memakaikan pakaian kepada orang fakir,” maka (الْفَقِيْرَ) adalah fa’il dalam makna karena dialah yang memakai pakaian.

Ketika fi’il menashabkan dua maf’ul, maka yang asal adalah mendahulukan maf’ul pertama, karena asalnya adalah mubtada’ dalam bab (ظَنَّ) dan karena asalnya adalah fa’il makna dalam bab (اَعْطَى), seperti (ظَنَنْتُ الْبَدْرَ طاَلِعاً) dan (اَعْطَيْتُ سَعِيْداً الْكِتاَبَ). Dan diperbolehkan untuk membaliknya jika diamankan dari keserupaan,[3] seperti (ظَنَنْتُ طاَلِعاً الْبَدْرَ) dan (اَعْطَيْتُ الْكِتاَبَ سَعِيْداً).

Diwajibkan mendahulukan salah satu maf’ul atas yang lainnya di empat masalah, yaitu:[4]

a.  Tidak bisa diamankan dari kesamaran, maka diwajibkan mendahulukan maf’ul yang haknya adalah didahulukan, yaitu maf’ul yang pertama, seperti (اَعْطَيْتُكَ اَخاَكَ), jika yang dikhithabi adalah yang diberi yang mengambil dan saudaranya adalah yang diberi yang diambil, dan semisal (ظَنَنْتُكَ خاَلِداً), jika Said adalah yang disangka kalau dia adalah Khalid. Dan jika tidak maka dibalik.

b.   Jika salah satu dari kedua maf’ul adalah isim dzahir dan yang lainnya berupa isim dlamir, maka diwajibkan untuk mendahulukan maf’ul dlamir mengakhirkan maf’ul isim dzahir, seperti (اَعْطَيْتُكَ دِرْهَماً) “aku memberi kamu satu dirham.” Dan (الدِّرْهَمَ اَعْطَيْتُهُ سَعِيْداً) “dirham aku memberikannya kepada Said.”

c.    Jika salah satu maf’ul meringkas fi’il, maka diwajibkan untuk mengakhirkan maf’ul yang diringkas, baik berupa maf’ul pertama atau yang kedua, seperti (ماَ اَعْطَيْتُ سَعِيْداً إِلاَّ دِرْهَماً) “tidaklah aku memberi Said kecuali satu dirham,” dan (ماَ اَعْطَيْتُ الدِّرْهَمَ إِلاَّ سَعِيْداً) tidaklah aku memberi satu dirham kecuali kepada Said.”

d.   Ketika maf’ul pertama mengandung dlamir yang kembali kepada maf’ul kedua, maka diwajibkan untuk mengakhirkan maf’ul pertama dan mendahulukan maf’ul kedua, seperti (اَعْطِ الْقَوسَ باَرَيْهاَ).




[1] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz III hlm. 9
[2] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz III hlm. 12
[3] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz III hlm. 14
[4] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz III hlm. 14

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter