Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

PEMBERIAN ASI DITINJAU DARI SEGI PSIKOLOGIS


Hubungan anak dengan Ibu secara psikologis sebenarnya sudah mulai terbangun semasa anak dalam kandungan. Masa kehamilan merupakan masa perpindahan sifat-sifat bawaan dari kedua orang tuanya kepada anak. Seorang ibu tidak dapat mengubah sifat-sifat bawaan yang dipindahkan kepada anak yang tengah dikandungnya.  Persoalan yang harus diperhatikan selama masa ini adalah kemungkinan terjadinya cacat atau efek samping yang diderita anak akibat kelalaian atau ketidak tahuan ibu terhadap masalah tersebut. 

Selama masa ini, seorang ibu berhubungan secara fisik dan emosional dengan sang anak melalui plasenta yang menyalurkan makanan dari darah ibunya. Karenanya, seorang ibu harus senantiasa mengawasi dirinya, baik secara batiniyah maupun lahirinyah, agar anak yang dikandungnya terlindung dari marabahaya dan dapat tumbuh sempurna. Masa kehidupan dalam rahim merupakan masa penting yang berpengaruh pada masa depannya. Sehat atau cacat dirinya, amat bergantung pada kondisi yang terbentuk dalam rahim ibunya. Bahkan, pembentukan asas kebahagiaan dan penderitaan anak dimulai sejak dalam rahim.[1]

Kemudian pada proses kelahiran, seorang anak akan berpisah secara tiba-tiba dari ibunya dan keluar menuju dunia baru yang suhunya lebih rendah dari suhu rahim. Mulai saat itu, ia harus menghirup udara dari lingkungan barunya. Sungguh semua itu membuatnya menderita, sehingga menjadikannya menangis. Dengan tangisnya, ia mengingatkan orang lain akan presensi/kehadirannya.  Karena itu, ia pun amat memerlukan seseorang yang dapat meringankan penderitaannya tersebut.

Sosok ibu akan memeluk, menenangkan, dan menumbuhkan harapan dalam hatinya. Ia pun akan merasakan manisnya kehidupan baru. Seorang anak menghabiskan waktu sembilan bulan dalam perut ibunya; memperoleh makanan dari tubuh, ruh, dan darah ibunya.[2]

Sejak itulah perkembangan kehidupan emosional bayi, yakni berlangsung melalui unitas psikis diantara ibu dan janinnya.  Penghayatan ‘psikis dan semua emosi ibu “menular”, ikut dialami oleh calon bayinya. Jika ibunya mengalami gangguan emosional yang  sangat  kuat dan ia menolak keras kehamilannya, banyak kemungkinannya ibu  tersebut akan mengalami keguguran kandungan, karena bayi itu  juga  tidak mau hidup, sebab ditolak oleh ibunya.

Sebaliknya, bila ibu yang bersangkutan mengharapkan sekali bayinya dan memupuk kehamilannya dengan perasaan penuh kasih sayang, maka janinnya akan tumbuh dalam iklim psikologis hangat mesra dan sehat. Setiap harinya, setiap kondisi ibu itu akan mempengaruhi perkembangan emosional dan temperamen bayinya yang bakal lahir.[3]

Setelah bayi itu lahir, ia akan menghabiskan waktu selama dua tahun untuk meminum air susu ibunya (ASI). Semua itu tentu mendatangkan harapan dan kehangatan. Sepanjang masa tersebut, ia menjalin tali kasih yang erat dengan ibunya. Bahkan dapat dikatakan bahwa keduanya tak lain dari dua tubuh dengan satu ruh.   

Dalam kondisi bagaimanapun dalam sebuah keluarga, perhatian ibu kepada anaknya haruslah tetap terjaga. Allah telah berfirman bahwa seorang ibu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun, karena diketahui bahwa pada masa-masa itu bayi benar-benar membutuhkan kasih sayang murni dari seorang ibu. Sebagaimana firman Allah:

 “Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang ingin menyempurnakan sususan…..” 

Tindakan atau perlakuan orang tua terhadap bayinya dengan cara mengganti ASI dengan susu lain tanpa ada sebab-sebab yang jelas, hanya akan merugikan anak. Anak akan kehilangan makanan dan minuman yang sangat menentukan pertumbuhan fisiknya. Lebih dari  itu, anak kehilangan kontak batin dengan ibunya, yaitu kasih sayang  seperti yang dirasakan oleh anak-anak lain selama menyusu. 

Menurut Dr. Judy Levi, “menyusui menumbuhkan perasaan dibutuhkan oleh seorang makhluk kecil darah daging kita. Menimbulkan rasa nikmat dan puas, yang mendekatkan hubungan antara ibu dan bayinya.[4]

Kebutuhan emosi sang bayi juga sangat besar, kasih sayang dan percaya diri dengan nalurinya yang dianugrahkan Tuhan didapatkan sang bayi melalui proses menyusui, terutama mulutnya yang sangat sensitif (perasa). Sebaliknya si ibu, memiliki kebutuhan lahiriyah agar sang bayi mengambil air susu dari payudaranya. 

Bayi berumur tiga bulan biasanya tak henti-hentinya memandangi wajah ibunya selagi dia menyusu, menatap mata ibunya dan mencintai ibunya dengan  segenap jiwa raganya. Pada usia lima atau enam bulan dia biasanya senang mempermainkan payudara ibunya, minta dibelai oleh ibunya dengan kasih sayang.[5]

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa selama proses menyusui ada manfaat kejiwaan bagi ibu dan bayi. Hal ini membantu terjadinya ikatan diantara keduanya, sehingga menjadi tak terpisahkan dan mencintai satu sama lain.

Dekat secara emosional dengan ibunya pada saat dini mungkin meningkatkan penampilan pendidikan anak kelak di kemudian hari. Ikatan batin bayi dan ibu bisa menjadi landasan yang kuat dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan watak dan kepribadian pada periode-periode sebelumnya. 



[1] Ali Qaimi, Peran Ibu dalam Mendidik Anak, Cahaya, 2002  hal 65.
[2] Kartini Kartono, Psikologi Perkembangan, CV. Mandar Maju, 1995, hal. 88-89.
[3] Ibid, hal 90.
[4] Udy Levi, Petunjuk Menyusui, terj. Dra. Noesreini Meliala, Dian Rakyat, Jakarta, 1991, hal  2.
[5] H.  Syahrah  Obos  dan  H.  Syahidin,  B.A.  (ed),  Melahirkan  Anak  Berkualitas, Ramadhani, Solo, 1996, hal. 108.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter