Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

SEKILAH TENTANG SULTAN AGUNG

sultan agung

Untuk mempermudah pemahaman tentang siapa sebenarnya Sultan Agung, maka perlu kiranya dibahas raja-raja Mataram sebelum Sultan Agung naik tahta, karena hal ini sangat terkait dengan pembahasan ini.

1. Raja-raja yang memerintah Mataram sebelum pemerintahan Sultan Agung

a. Raja Senopati

Dengan adanya perpindahan kekuasaan Pajang ke Mataram pada tahun 1586,[1] maka Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya naik tahta di Mataram dengan gelar Senopati Ing Ngalogo Sayidina Panatagama atau terkenal dengan sebutan Panembahan Senopati saja.[2]

Karena Panembahan Senopati itu adalah raja yang pertama di Mataram, dengan sendirinya beliau ingin menjadikan Mataram itu suatu kerajaan yang besar dan jaya. Untuk mencapai keinginannya itu, Panembahan Senopati harus berperang dengan daerah-daerah yang tidak atau belum mengakui kekuasaan Mataram. Usaha Senopati yang pertama ditujukan ke arah Timur, yaitu dengan menyerang Surabaya, sebab Surabaya mempunyai banyak sekutu dan yang paling berbahaya. Adapun sekutu-sekutu Surabaya diataranya adalah Madiun, Ponorogo, Kediri, Pasuruan dan selain itu ada juga daerah yang masih belum mau tunduk kepada kerajaan Mataram yaitu Blambangan, Panarukan dan Bali.[3]

Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kota Gede[4] tepatnya di sebelah selatan masjid diujung kaki makam ayahnya.[5]

Sampai pada wafatnya itu Panembahan Senopati dalam meluaskan daerah Mataram belum selesai. Namun demikian, Senopati telah meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan kerajaan Mataram selanjutnya.

b. Raja Panembahan Seda Krapyak

Setelah Panembahan Senopati wafat, kemudian diganti oleh puteranya, Raden Mas Jolang. Hal itu berdasarkan dari amanat Senopati kepada puteranya untuk menggantikannya sebagai raja meskipun masih muda.[6] Mas Jolang lebih terkenal dengan sebutan Panembahan Seda Ing Krapyak . adapun disebut demikian karena beliau meninggal di Krapyak pada tahun 1613 setelah beliau memerintah Mataram selama 12 tahun.

Setelah Mas Jolang menjadi raja, beliau melanjutkan perjuangan ayahnya yaitu memperluas kerajaan Mataram. Dalam usahanya itu, Mas Jolang harus menghadapi pemberontakan-pemberontakan yang timbul kembali setelah Panembahan Senopati wafat.

Adapun daerah-daerah pemberontakan itu adalah Demak yang dipimpin oleh Pangeran Puger, dan Ponorogo yang dipimpin oleh Pangeran Djajaraga. Baik Pangeran Puger maupun Pangeran Djajaraga adalah putera Panembahan Senopati.[7] Adapun alasan pemberontakan dari kedua putera Panembahan Senopati itu adalah karena dalam pemilihan pengganti raja dianggap kurang adil oleh Pangeran Puger sebab menurut adat, Pangeran Puger itulah yang lebih berhak menggantikan ayahnya karena Pangeran Puger adalah anak sulung.

Tetapi pemberontakan di Demak dan Ponorogo itu dapat ditundukkan oleh Mas Jolang. Pada tahun 1612 Surabaya bangkit kembali dan sama sekali tidak mau mengakui kedaulatan kerajaan Mataram. Mas Jolang yang mengetahui pemberontakan itu tidak tinggal diam, kemudian dia berusaha memadamkannya, tetapi sebelum usaha itu berhasil Mas Jolang sudah meninggal pada tahun 1613 dan jenazah beliau dimakamkan di Kota Gede.[8]

Mas Jolang atau Panembahan Krapyak meninggalkan empat orang putera dan seorang puteri yaitu Raden Mas Rangsang, Raden Mas Menang, Raden Mas Martapura dan Raden Mas Cakra, sedangkan puterinya bernama Ratu Pandan.[9]

Dari kelima putera-puterinya yang patut menjadi raja adalah Raden Mas Rangsang yang lahir dari isteri yang utama (garwa padmi) Ratu adi puteri asal Pajang, yang nama kanak-kanaknya adalah Raden Mas Jatmika. Dan Raden Mas Martapura, ibunya juga garwa padmi Ratu Lung Ngayu asal Ponorogo,[10] nama kecilnya adalah Raden Mas Wuryah. Beliaulah yang diangkat oleh Pangeran Adipati Anom atau Putera Mahkota,[11] namun sayang beliau sering sakit-sakitan. Pada waktu Panembahan Krapyak meninggal Sultan Agung (Raden Mas Rangsang) berusia 20 tahun sedangkan Raden Mas Martapura baru berusia 8 tahun.[12]

2. Penobatan Sultan Agung Sebagai Raja Mataram

Babad menceritakan bahwa Sesuhunan Anyakrawati (Panembahan Krapyak) menggadang (mempersiapkan) Raden Mas Wuryah atau Martapura untuk menjadi penggantinya. Akan tetepai sepeninggal Panembahan Krapyak, bukan Martapura yang dinobatkan menjadi raja melainkan Raden Mas Jatmika atau Raden Mas Rangsang. Akan tetapi karena Panembahan Krapyak sudah menjatuhkan kaul yang menjadi penggantinya adalah Martapura,[13] maka dilakukanlah menurut adat raja-raja jaman dahulu.

Raden Mas Martapura diangkat menjadi Panembahan dan setelah duduk beberapa saat lamanya di atas singgasana bagindapun turun,[14] karena Pangeran Aria Martapura merasa tidak sanggup memegang tali kendali pemerintahan Mataram.[15] Menurut Van Den Berg, Raden Adipati Martapura diganti Mas Rangsang karena sakit ingatan,[16] maka pada tahun 1613 kekuasaan tertinggi diberikan kepada Raden Mas Rangsang dengan gelar Panembahan Agung Senopati Ing Ngalogo Ngabdurrahman,[17] nama lainnya juga terkenal dengan Prabu Pandita Anyakrakusuma.

Untuk menjaga agar para pendukung Martapura tidak melawan keputusan tersebut, maka dalam penobatan oleh sesepuh Mataram diumumkan siapa yang tidak setuju dengan pengangkatan itu hendaklah maju sekarang juga, ia yang akan menghadapinya.[18] Namun ternyata tidak ada yang menyangkalnya maupun memprotes keputusan tersebut.

Dari uraian tersebut hingga muncullah suatu praduga, bahwa Sultan Agung adalah seorang pemain sejarah yang berbakat dan yang dengan cerdiknya telah melakukan pergeseran. Dugaan itu didasarkan atas perbedaan usia Pangeran Dipati Anom semula yaitu Raden Mas Martapura (Wuryah) dan Raden Mas Jatmika (Rangsang) ada saat mangkatnya ayah mereka, Panembahan Krapyak, pada tahun 1613.

Pada tahun ini mereka itu masing-masing berusia 8 dan 20 tahun. Disamping itu Babad Tanah Jawi memberitahukan kalau Panembahan Krapyak, ayah mereka, sengaja menunjuka Jatmika (Rangsang) menjadi penggantinya. Alasannya adalah ia putera yang tua dan menurut ramalan, atas kehendak Allah, dialah raja yang sanggup mempersatukan tanah Jawa dan menjaman emaskan Mataram. Elain itu, diberitakan juga oleh Babad kalau Martapura tidak selayaknya menjadi raja oleh karena ia menderita sakit ingatan.[19]

G. Moedjanto dalam bukunya Konsep Kekuasaan Jawa berpendapat bahwa pergantian tahta tidak berjalan seperti yang diceritakan oleh Babad. Babad menceritakan bagaimana gambaran kejadiannya. Dan bahwa Sultan Agung memang merebut tahta itu dari adiknya Martapura.[20] Akan tetapi, agar tindakannya merebut tahta tidak menimbulkan suatu gangguan atas keadilan dalam masyarakat, juga atas kelompok pendukung Martapura, maka tindakan legitimasi harus dilakukan.

Legitimasi tersebut antara lain dengan memanfaatkan para pujangga keraton. Apa yang mereka perbuat? Satu diantaranya adalah memaklumkan bahwa kenaikan tahta Sultan Agung adalah kehendak ayahnya sendiri. Jadi, Panembahan Krapyak meninggalkan statement politik yang menentukan bahwa Jatmika-lah pengganti atas tahta. Mengapa demikian? Karena Panembahan Krapyak begitu dikatakan oleh statemen itu menerima wahyu bahwa Jatmika nanti akan dapat membuat Mataram menjadi kerajaan yang jaya.

Gelar “Sultan” diperoleh dari Mekah, yaitu sesudah beliau menjadi raja kemudian berhasil mengirim utusan ke Mekah untuk menyampaikan kepada Syarif Mekah bahwa bagindalah raja Islam yang besar di tanah Jawa, maka bagindapun memakai gelar “Sultan”. Dan lebih terkenallah baginda dengan sebutan “Sultan Agung” dengan pengakuan dari Mekah.

Dalam Daghregister tertanggal 1 Juli 1641, ia telah diebut “Sultan Mataram”.[21] Sedangkan menurut duta Jawa dari Barat, diungkapkan oleh berita-berita yang disampaikan ke Batavia oleh beberapa orang dari Demak dan Pekalongan, yaitu bagaimana kepada sunan dipersembahkan sebuah gelar baru dari tanah Arab dan disebut Sultan Abdul Mohamet Moulana Matavani (sebenarnya mungkin Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani) (Deghregister 30 Oktober 1641).[22] Dengan demikian gelar “Sultan” diperoleh Sultan Agung tepatnya pada tahun 1641.

Kesan pertama yang diperoleh Eropa tentang Sultan Agung adalah bahwa ia tidak dapat dianggap remeh “wajahnya kejam, kaisar dengan dewan penasehatnya memerintah dengan keras, sebagaimana sebuah Negara besar”. Demikianlah kesaksian Bathasar Van Eyndhoven, yang bersama-sama Van Surk pergi ke Mataram dalam tahun 1641 untuk mengucapkan selamat atas pengangkatannya sebagai pemangku pemerintahan.[23]

Dr. H. de Hean menyatakan, “Pangeran Ing Ngalogo ini adalah seseorang yang berada pada puncak kehidupannya berusia sekitar 20 sd 30 tahun, berbadan bagus, sejauh penglihatan kami, sedikit lebih hitam dari pada rata-rata orang jawa, hidung kecil dan tidak pesek, mulut datar dan agak lebar, kasar dalam bahasa, dan lamban dalam berbicara, berwajah tenang dan bulat, dan tampaknya cerdas. Memandang sekelilingnya seperti singa (Jonge, Opkomst, Jil. V. hlm. 313).

Karena de Hean menulis kata-kata ini pada tahun 1622, maka diduga Sultan Agung dilahirkan sekitar 1592-1594, yang tidak jauh berbeda dengan dugaan Van Surk dan Eyndhoven.[24]

Sultan Agung mempunyai cita-cita yang samadengan kerajaan Majapahit, yaitu ingin membangun kerajaan Mataram yang besar dan jaya. Untuk mencapai cita-citanya itu Sultan Agung harus berperang dengan daerah-daerah pesisir utara pulau Jawa yang belum atau tidak mau mengakui kedaulatan kerajaan Mataram. Dan juga beliau ingin mengusir Belanda dari bumi Indonesia, sebab Sultan Agung tahu bahwaBelanda sangat membahayakan.

Meskipun usaha Sultan Agung untuk mengusirbangsa Belanda masih belum berhasil, tetapi sejarah telah membuktikan bahwa dibawah pemerintahan Sultan Agung dari tahun 1613 sampai 1646 itulah kerajaan Mataram mengalami kejayaan dan kemakmuran serta berhasil menghancurkan kota-kota perdagangan pesisir utara dan menaklukkan seluruh kepulauan Jawa, kecuali Batam dan Blambangan di ujung Tenggara pulau Jawa.[25]


[1] Y. Achadiati S., Sejarah Peradaban Manusia Zaman Mataram Islam, cet.1, CV. Multiguna, Jakarta, 1988, h. 11

[2] Selamet Mulyono, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara Islam di Nusantara, Bhratara, Jakarta, 1968, h. 251

[3] Ibid.

[4] Y. Achadiati, Op. Cit, h. 17

[5] J. De. Graaf, Awal Kebangkitan Mataram, Grafiti Press, Jakarta, 1985, h. 126

[6] Ibid.

[7] Selamet Mulyono, Op. Cit, h. 265

[8] R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, III, Kanisius, Yogyakarta, 1985, h. 56

[9] Selamet Mulyono, Loc. Cit.

[10] H. J. De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram, Grafiti Press, Jakarta, 1986, h. 28

[11] G. Moedjanto, Konsep Kekuasaan Jawa, cet-1, Kanisius, Yogyakarta, 1987, h. 158

[12] Ibid, h. 159

[13] Ibib, h. 158

[14] Hamka, Sejarah Umat Islam, jilid IV, cet-2, Bulan Bintang, Jakarta, 1976, h. 274

[15] Y. Achadiati, Op. Cit, h. 20

[16] Van Den Berg, Dari Panggung Peristiwa Sejarah Dunia, Jilid III, JB. Walters, Groningen, Jakarta, 1955, h. 171

[17] Hamka, Op. Cit, h. 274

[18] G. Moedjanto, Op. Cit, h. 158

[19] Ibid, h. 92

[20] Hamka, Op. Cit, h. 274

[21] H. H.De Graaf, Puncak…. Op. Cit, h. 276

[22] Ibid, h. 275

[23] Ibid, h. 102

[24] Ibid, h. 103

[25] Frans Magnes Susena, Etika Jawa, Gramedia, Jakarta, 1985, h. 33

1 comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter