Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

SEJARAH PUASA DALÂIL AL-KHAIRÂT

images (41)

Berdasarkan sejarah yang terdapat dalam buku “Sejarah Singkat Kitab Dalâil al-Khairât Syaikh Abû Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazulî” akan diperoleh sejarah singkat awal mula adanya puasa Dalâil. Sejarah singkat dari puasa Dalâil Khairât berawal dari perjalanan hidup seorang wali Allah SWT yang besar dan sempurna, yang ma’rifat kepada Allah SWT, yang muhaqqiq dan washil kepada-Nya, seorang tokoh yang terkenal pada zamannya yang berbeda pada masanya, beliau adalah Sayyid Abû Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazulî r.a yang telah mengarang kitab Dalâil Khairât.

Beliau adalah putra dari Sulaiman bin Abdurrahman bin Abû Bakar bin Sulaiman bin Ya’la bin Yakhluf bin Mûsâ bin Alî bin Yûsuf bin Isa Abdullah bin Jundur bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin Hisan bin Ismail bin Ja’far bin Abdullah bin Hasan bin Alî bin Abî Thâlib karramallahu wajhah.[1] Beliau dilahirkan di Jazulah yaitu sebuah kabilah dari Barbar di pantai negeri Maghribi, (Maroko) Afrika. Beliau belajar di Fas yaitu di sebuah kota yang cukup ramai yang terletak tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan Mesir.

Adapun sebab-musabab beliau mengarang kitab Dalâil Khairât adalah karena pada saat beliau singgah disebuah desa bertepatan dengan waktu shalat dhuhur, tetapi beliau tidak menjumpai seorangpun yang dapat ditanyai untuk mendapatkan air wudhu. Akhirnya beliau menemukan sebuah sumur yang tidak ada timbanya, dalam keadaan bingung karena tidak ada alat untuk menimba air. Tapi kemudian beliau dilihat seorang anak perempuan kecil yang berumur sekitar 7 tahun. Anak itu bertanya : “ya Syaikh, mengapa anda nampak bingung berputar-putar di sekitar sumur ?”. Syaikh menjawab ; “saya

Muhammad Bin Sulaiman, waktu shalat dhuhurku sudah sempit, tapi saya tidak mendapatkan air untuk berwudhu”. Anak itu bertanya lagi : “apakah dengan namamu yang sudah terkenal itu tidak bisa mendapatkan air sekedar untuk berwudlu dari dalam sumur ? tunggu sebentar ! kemudian anak itu mendekat ke dekat bibir sumur dan meniupnya sekali, tiba-tiba airnya mengalir dan memancar di sekitar sumur seperti sungai besar. Kemudian anak itu pulang ke rumahnya dan syaikh Muhammad al-Jazulî pun segera berwudhu dan melaksanakan shalat.

Telah selesai menjalankan shalat, beliau mendatangi rumah anak peremuan kecil itu, sesampainya di sana beliau mengetuk pintu. Anak kecil itu berkata: “siapa itu!” maka Syaikh itu menjawab, “wahai anak perempuanku saya tanya kepadamu demi Allah SWT dan kemaha-agungan-Nya yang menciptakan kamu dan menunjukkan kepadamu terhadap Nabi SAW Muhammad SAW. sebagai Nabi SAW dan Rasulmu yang diharapkan syafaatnya, aku harap engkau mau menemuiku, saya hendak menanyakan satu hal. “ketika anak itu menemuinya, Syaikh Muhammad al-Jazulî bersumpah, “Aku bersumpah kepadamu demi kemahaagungan Allah SWT, demi kemaha-kuasaan-Nya, kemaha-memberi-Nya, demi kemaha-kesempurnaan-Nya, dan demi Nabi SAW Muhammad SAW, demi risalah dan syafaatnya (pertolongan keselamatan yang dikuasakan oleh Allah SWT kepada Nabi SAW Muhammad bagi umatnya) saya mohon kamu mau menceritakan kepadaku dengan apakah kamu bisa mendapatkan martabat yang tinggi sehinga bisa mengeluarkan air dari sumur tanpa menimba?” Anak perempuan itu menjawab, kalaulah tidak karena sumpahmu wahai syaikh, tentulah akan tidak mau meceritakannya. Saya mendapatkan keistimewaan yang demikian itu karena membaca shalawat kepada Nabi SAW Muhammad SAW.

Setelah mendengar jawaban dari anak kecil itu kemudian Syaikh Muhammad al-Jazulî r.a mengarang kitab Dalâil al-Khairâtdi kota Fas. Dan sebelum beliau mensosialisasikan kitab itu, beliau mendapat ilham untuk pulang kembAlî ke tanah kelahirannya. Maka beliau kembali dari Fas ke desanya di tepi daerah Jazulah. Kemudian dengan kesendirinya itu bertemu Syaikh Abû Abdillah Muhammad bin Abdullah al-Saghir seorang penduduk di pinggiran desa dan beliau berguru Dalâil Khairât kepadanya.[2]

Syaikh Muhammad al-Jazulî pada mulanya mulai mendidik para murid (orang-orang yang hendak menempuh jalan menuju sampai wushul kepada Allah SWT) di Pinggiran Asafi di mana banyak sekali orang yang sadar dan bertobat atas bimbingannya. Dzikirnya begitu terkenal dan tersebar dan diamalkan orang-orang diberbagai negeri dan nampaklah keistimewaan-keistimewaan yang besar dan keramat-keramatnya. Syaikh Muhammad al-Jazulî senantiasa berpegang teguh kepada hukum-hukum Allah SWT dengan melaksanakan ajaran al-Qur’ân dan sunah Rasulullah SAW. SAW.

Kemudian beliau pindah dari Asafi ke suatu tempat yang terkenal dengan Afrighal (Afrika). Kemudian beliau membangun masjid dan menetap di tempat itu untuk tetap mendidik dan membimbing para murid ke jalan yang benar sesuai petunjuk Allah SWT. Jelaslah cahaya kebarkahan beliau, dan nampaklah tanda-tanda kerahasiannya para fakir dan orang-orang yang tekun membaca dzikir kepada Allah SWT dan mambaca shalawat semakin banyak.

Dzikir-dzikir beliau dikenal di segenap penjuru dan para pengikutnya pun tersebar di setiap bagian negeri sehingga menjadi semarak dan hiduplah negeri Maghribi. Syaikh Muhammad al-Jazulî memperbaruhi thariqah di Maghribi setelah pengaruh-pengaruh dari pengajarannya, beliau juga mengutus para sahabatnya ke berbagai negeri untuk mendakwahkan hukum Allah SWT dan mendorong ke jalan yang diridhai Allah SWT. Banyak sekali orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan thariqah-nya. Mereka juga banyak yang langsung datang kepada syaikh Muhammad al-Jazulî untuk ber-taqarrub dan mencapai ridha Allah SWT.

Jumlah dari pengikut beliau mencapai 12665 orang di mana kesemuanya itu bisa mendapat fadhilah menurut kadar martabat dan kedekatan mereka dengan Syaikh Muhammad al-Jazulî. Beliau wafat waktu melaksanakan shalat subuh pada sujud yang pertama (atau pada sujud yang kedua menurut satu riwayat) tanggal 16 Rabi’ul Awwal 870 H. Kitab Dalâilal-Khairât inilah yang mengilhami adanya puasa Dalâil, yaitu puasa yang diiringi dengan pembacaan wirid berupa membaca shalawat Nabi Muhammad SAW.[3]


[1] Kisbiyato, et. el, Pon-pes Darul Falah Sejarah pengarang kitab Dalail al-KhairatKudus 2000, hlm. 2

[2] Ibid., hlm. 4

[3] Ibid., hlm. 7

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter