Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

TINGKATAN-TINGKATAN PUASA

images (20)

Pada hakekatnya kebahagiaan hakiki adalah manusia yang mampu berada sedekat mungkin dengan khaliqnya. Imam al Ghazali menggambarkan sewaktu manusia itu terjerumus ke dalam hawa nafsu, maka ia menurun ke tingkat paling bawah dan berhubungan dengan lumuran hewan. Sewaktu ia mencegah diri dari hawa nafsu, niscaya terangkatlah ia ketingkat yang paling tinggi.[1]

Dari keterangan di atas, dapat dikatakan bahwa yang menjadi ukuran berhasil atau tidaknya manusia menjadi utama adalah mampu dan tidaknya mengatur hawa nafsu yang ada dalam dirinya.

Berangkat dari pemikiran kemampuan manusia menundukkan keinginan hawa nafsunya yang bertingkat-tingkat, maka Imam Al Ghazali membagi puasa kepada tiga tingkatan atau three grades of fisiming ordinary, special and extra-special.[2] Dalam Ihya ‘Ulumuddin Imam al Ghazali memberi tiga tingkatan puasa, sebagaimana yang diungkapkan dibawah ini:

اعلم أن الصوم ثلاث درجات صوم العوام و صوم الخصوص و صوم خصوص الخصوص

Ketahuilah ada tiga tingkatan puasa yaitu puasa umum, puasa khusus, puasa khusus dari khusus”.[3]

Dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan tiga tingkatan yaitu:[4]

a. Puasa umum yaitu “mencegah perut dan kemaluan dari pada memenuhi keinginannya”.

Puasa umum ini titik beratkan hanya kepada menahan hal-hal yang membatalkan, dalam bentuk kebutuhan perut dan kelamin, tanpa memandang lagi kepada hal-hal yang diharamkan dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Pada tingkat ini orang yang melakukan puasa tidak akan terbatas dari kemaksiatan, karena orang pada tingkat ini tidak mengikutkan hatinya untuk berpuasa pula.

b. Puasa khusus yaitu berusaha mencegah pandangan, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa.

Puasa khusus ini, disamping mencegah keinginan perut dari nafsu kelamin, juga menahan keinginan dari anggota-anggota badan seluruhnya. Hasbi Ash Shidieqy menanggapi pengertian puasa ahlul khusus yaitu memelihara lidah dan berdusta dan berbohong sesudah menahan diri dari makan minum dan jima’.[5]

Berangkat dari konsepsi al-Qur’an, bahwa kehidupan yang sebenarnya hanya ada disisi-Nya yaitu akhirat, maka manusia seharusnya memandang segala kenikmatan yang bersifat lahiriah dan hanya bersifat semu sehingga tidak pula larut di dalamnya. Seperti orang-orang yang berada pada tingkat puasa khusus, benar-benar disadarkan untuk selalu menahan keinginan-keinginan lahiriyah yang berupa anggota-anggota badan dengan kenikmatan yang diingini oleh anggota-anggota tersebut. Tujuannya untuk menemukan kenikmatan yang sebenarnya yakni keterangan batin.

Puasa menurut Imam al Ghazali adalah pada hakekatnya sebagai media untuk bisa dekat dengan Allah SWT. dan hal tersebut benar-benar berfungsi, apabila orang yang melaksanakan puasa dilandasi oleh kemauan yang kuat, maka motivasi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. akan mengalahkan keinginan-keinginan yang bersifat lahiriah. Sebagaimana yang beliau jelaskan:

Bila dalam diri kita telah tumbuh kerinduan untuk bertemu dengan Allah SWT. dan bila keinginan kita untuk mendapatkan makrifat tentang keinginan-Nya nyata dan lebih kuat daripada nafsu makan dan seksual anda berarti anda telah menggandrungi taman makrifat ketimbang surga pemuas nafsu indrawi.”[6]

Berangkat dari pendapat di atas maka, untuk mendapatkan taman makrifat manusia harus melalui proses yang begitu panjang dan berat, seperti dalam ibadah puasa. Pada puasa tingkat khusus ini merupakan dasar-dasar latihan untuk mengurangi syahwat anggota badan untuk dialihkan kepada Dzat yang Maha Agung sehingga menurut beliau, kesempurnaan puasa khusus ini adalah dengan kriteria enam perkara sebagai berikut:[7]

1) Memicingkan mata dan mencegahnya daripada meluaskan pandangan kepada tiap-tiap yang cela dan dimakruhkan dan kepada tiap-tiap yang membimbingkan dan malaikatkan hati daripada mengingat Allah SWT.

2) Menjaga lidah daripada mendengar tiap-tiap yang makruh.

3) Mencegah anggota-anggota badan yang lain dan segala dosa.

4) Tidak membanyakkan makanan yang halal waktu berbuka.

5) Hatinya sesudah berbuka bergantung dan bergocang antara takut dan harap, karena ia tidak mengetahui apakah puasanya diterima atau ditolak.

c. Puasa khusus dari khusus yaitu puasa hati dari segala cita-cita yang hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya daripada selain Allah SWT. secara keseluruhan.[8]

Puasa khusus dan yang khusus menurut beliau adalah puasanya para Nabi, orang-orang shiddiq dan yang dekat dengan khalik, menganggap batal apabila memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi, sehingga hatinya lupa terhadap Allah SWT. kecuali masalah-masalah dunia yang mendorong kearah pemahaman agama, karena hal tersebut dianggap sebagai tanda ingat kepada akhirat.

Dalam bukunya Imam Al Ghazali yang berjudul “Menangkap Kedalaman Rohaniah Peribadatan Islam”, menerangkan bahwa sehingga mereka yang masuk ke dalam tingkatan puasa sangat khusus akan merasa berdosa apabila hari-harinya terisi dengan hal-hal yang dapat membatalkan puasanya. Mereka beranggapan bahwa hal tersebut bermula dari rasa kurang yakin dengan janji Allah SWT. untuk mencukupkan dengan rizkinya.[9]

Hati yang dimaksud dalam puasa khusus dan khusus adalah hati itu bagaikan cermin yang bisa menerima dan memantulkan cahaya Allah SWT sehingga selalu mengingat akan kebesaran dan keagungan Allah SWT dengan tidak dialihkan kepada masalah-masalah yang bersifat duniawi belaka. Karena pada hakekatnya manusia diciptakan oleh Allah SWT. hanya untuk selalu mengabdi dan beribadah kepada-Nya.


[1] Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Jilid II, Terj. Ismail Yakub, MA.SH. (Medan: CV. Faizan, 1986), hlm. 18.

[2] Al Ghazali, Inner Dimensions of Islamic Worship, (Nigeria : Islamic Foundation, 1983), hlm. 75.

[3] Imam al Ghazali, Mukhtasor Ihya ‘Ulumuddin, (Baerut: Darul al Ilmiah, t. th), hlm. 21.

[4] Imam al Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Jilid II, Terj. Ismail Yakub, M.A. SH., Op. Cit, hlm. 14.

[5] T.M. Hasbi Ash Shiddiqie, Pedoman Puasa, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1997), hlm. 44.

[6] Imam al Ghazali, Permata al-Qur’an, (Jakarta: CV. Rajawali, 1985), hlm. 88.

[7] Imam al Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Jilid 2, Terj. Ismail Yakub, MA.SH., Op.Cit., hlm. 14-19.

[8] Ibid., hlm. 14.

[9] Imam Al Ghazali, Menangkap Kedalaman Rohaniah Peribadatan Islam, TERJ.(Jakarta: Rajawali Press, 1987), hlm. 77.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter