Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

HUBUNGAN JIWA DENGAN BADAN (JASAD)

download (8)

Dewasa ini, kata “jiwa” dan “Badan” (jasad) sudah tidak asing lagi ditelinga kita, kata-kata itu sudah menjadi bahasa sehari-hari. Kata badan sering pula diganti dengan kata “raga” seperti yang nampak dalam kalimat “berkorban jiwa dan raga demi membela tanah air dan bangsa”. Dalam kalimat tersebut tersimpul adanya konsep kesatuan antara jiwa dan badan atau raga. Jika seseorang mati maka badan akan dikubur dan hancur berkalang tanah. Tapi bersamaan itu pula jiwanya melayang atau lenyap, karena orang tidak akan melihatnya lagi. Dia berkorban jiwa dan raga, tapi dibalik pengertian formal itu sebenarnya tersembunyi suatu pengertian lain yang diyakini oleh orang yang bersedia berkorban itu yaitu bahwa sungguhpun raga dan nyawanya lenyap, jiwa dipercayai tetap “hidup”, terutama bagi yang beragama. Jiwa itu (berharap) akan kembali kepada Tuhan dan hidup bahagia di sisi-Nya. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah SWT surat al-Baqarah ayat 154,

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur dijalan Allah (bahwa mereka itu) telah mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu tetap hidup, tetapi kamu tidak menyadari”.

Pembicaraan tentang jiwa memang masih sedikit karena banyak dari ilmuwan yang terjebak ayat al-Qur’an yang menerangkan bahwa ruh itu adalah urusan Allah dan Kita hanya diberi sedikit sekali pengetahuan tentangnya (QS. al-Isra: 85) padahal ayat itu mengisyaratkan bahwa masalah tentang ruh atau jiwa (ruh yang telah mempribadi) itu adalah sesuatu yang dapat dipelajari.

Plato dapat disebut orang yang pertama yang memulai studinya dengan obyek yang khusus ini. Ia mulai dengan membedakan antara jiwa dan raga (badan) itu sedemikian rupa sehingga orang memperoleh pengertian mengenai adanya konsep dualisme jiwa-raga ini.[1]

Dia mengatakan bahwa jiwa merupakan satu substansi yang eksistensinya mendahului badan yang untuk sementara waktu tertutup di dalam badan seperti dalam sebuah penjara,dan yang dapat menjadi dirinya secara sempurna hanya setelah ia keluar dari badan itu. Ia adalah “ada” dan badan adalah sesuatu yang lain dari “ada” sehingga bisa dikatakan bahwa Plato mengajarkan tentang jiwa dan badan suatu ajaran yang dinamakan dualisme.

Dualisme itu ditolak oleh Aristoteles,seorang murid Plato. Dia berpendapat bahwa setiap makhluk hidup adalah sesuatu yang satu yang merupakan satu substansi saja, akibatnya jiwa bukanlah suatu substansi dia tidak bisa bereksistensi terpisah dari badan.[2]

Pada masa menjelang abad modern, dalam kurun pencerahan Eropa Barat tokoh yang tampil dalam pembahasan dualisme jiwa-badan adalah Rene Descartes (1596-1660 M) yang terkenal dengan perkataannya “Cogito Ergo Sum” (Saya berfikir, karena itu saya ada). Descarter melihat kesaling-terkaitan jiwa–badan, dimana jiwa pada hakekatnya mengarah kepada badan. Kalau badan sakit, jiwa turut merasakannya, tapi jiwalah yang memberi kesadaran dan arti pada badan dan menunjukkan adanya “aku”. Keduanya berbeda, namun saling berkaitan. Dari pendapat Descartes ini melahirkan dampak pada penilaiaan filosof-filosof sesudahnya, seperti Ludwig Feuerbach (1804-1872) dan George Berkeley (1685-1753).

Ludwig Feuerbach, filosof Jerman pada pokoknya mengatakan bahwa manusia itu pada hakekatnya adalah badan tubuh raga yang merupakan bagian dari materi yang lebih luas. Dalam pandangan materialisme ini yang rohani tidak ada, termasuk jiwa. Kalaupun terdapat gejala-gejala yang disebut dan dianggap sebagai rohaniah, termasuk persepsitentang Tuhan, maka hal itu adalah efek-efek saja dari materi, sebagaimana halnya banyak gejala timbul karena proses kimiawi. Jiwa menurutnyahanyalah ekspresi dari tubuh.

Pendapat ini berlawanan dengan pandangan filosof Irlandia, George Berkeley (1685-1753 M) yang justru mengingkari adanya materi sebagai yang hakiki, tentu saja kehadiran materi itu tidak bisa diingkari, tetapi materi itu ada karena dipersepsikan oleh jiwa yang berisikan akal (Being is Being perceived). Semua yang hadir hanyalah pengalaman jiwa. Ia sebenarnya tidak menyangkal adanya tubuh, tapi tubuh itu sendiri pada hakekatnya adalah manifestasi dari kehadiran ruh. Ruh adalah pusat segala sesuatu dalam kehidupan yang bertindak sebagai subyek dan menempatkan yang lain sebagai obyek. Badan hanyalah cerminan dari yang rahani. Yang hakekatnya adalah jiwa.[3]

Kedua pandangan ekstrem yang diwakili oleh Feuerback di satu kutub dan Berkeley di lain kutub yang berlawanan itu mungkin saja cenderung untuk tidak diterima oleh masyarakat ramai. Setidaknya tidak sepenuhnya dianggap benar. Namun, pandangan itu tetap bermanfaat bagi pemahaman tentang jiwa maupun badan. Karena dengan mendasarkan diri dan bertolak dari salah satu aspek manusia, yaitu badan atau jiwa, maka pengetahuan mengenai tiap-tiap hal itu akan cenderung semakin mendalam.

Menurut al-Ghazali, seorang pemikir Islam, bahwa jiwa yang bersih akan membawa dampak yang positif bagi perbuatan-perbuatan anggota badan, karena jiwa dan badan itu dipandang memiliki hubungan saling menerima kesan, seperti yang pernah diungkapkan dalam kitabnya bahwa jiwa itu apabila telah menjadi sempurna dan telah bersih, maka perbuatan-perbuatan anggota badan akan menjadi baik. Begitu juga badan, jika kesan-kesan yang telah ditimbulkan itu baik, maka akan tumbuhlah dalam jiwa, tingkah laku yang baik dan akhlak yang diridhai oleh Allah.

Dari ungkapan ini selain mengandung teori psikologi tentang hubungan jiwa dan tingkah laku jasmani, juga memuat sebuah konsep, bahwa bahwa tingkah laku manusia itu sangat ditentukan oleh keadaan jiwanya dalam relasi horisontalnya dengan alam atau lingkungan dan relasi transendentalnya dengan Tuhan. Ini berarti bahwa unsur rohaniah (kejiwaan) manusia dipandang sangat menentukan terhadap keadaan perbuatan jasmaninya sendiri.[4]

Teori Psikologi al-Ghazali tentang hubungan antara jiwa dan tingkah laku lahiriah adalah sejalan dengan teori psikologi modern. Menurut Psikologi modern, hubungan jiwa dan perbuatan lahiriah hampir tak bisa dipisahkan, karena tingkah laku lahiriah ditentukan oleh keadaan psikologis yang ada dalam pikiran dan perasaan.[5]

Sedangkan dalam al-Qur’an sendiri telah dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk biologis yang disebut al-Basyar sekaligus juga sebagai makhluk rohaniah berikut karakteristik-karakteristik psikologisnya dengan sebut al-Insan.


[1] M. Dawam Raharjo, Nafs, Jurnal Ulumul Qur’an No. 8, Vol. II, 1991, hlm. 53

[2] Louis Leahy, SJ, Manusia sebuah Misteri, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993, hlm. 53 – 54

[3] M. Darwan Raharjo, Op. Cit., hlm. 55

[4] Abdullah Hadziq, Kajian Psikologis Terhadap Tasyfiyat al-Nafs dalam Mizah al-Amal Karya Al-Ghazali, Teologia, Vol. 15, No.2, Juli, 2004, hlm. 231

[5] H. Jalaluddin, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 156 -157

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter