Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MAKNA TAUBAT

images (58)

Setiap manusia memiliki dosa baik dosa besar maupun kecil, dan manusia yang baik bukanlah yang tak pernah bersalah, namun manusia yang baik adalah yang ketika melakukan kesalahan ia tidak mengulangi untuk kedua kalinya. Mengantisipasi keadaaan yang demikian Allah Swt memberi jalan untuk mengeleminir dosa melalui taubat. Untuk itu taubat merupakan keharusan bagi setiap manusia yang menyadari bahwa hidup ini bersifat fana, dan tidak bisa lepas dari pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt.

Taubat (taubat) menurut bahasa, berati menyesal atau kembali (dengan menyesali keadaan yang telah berlalu). Taubat kepada Allah mengandung arti antara lain datang atau kembali kepada-Nya dengan perasaan menyesal atas perbuatan atau sikap diri yang tidak benar di masa lalu dan dengan tekad untuk taat kepada-Nya; dengan kata lain ia mengandung arti kembali kepada sikap, perbuatan, atau pendirian yang lebih baik dan benar.[1]

Taubat dari dosa yang dilakukan orang Mukmin dalam perjalanannya kepada Allah, merupakan kewajiban beragama, diperintahkan al-Qur'anul-Karim dan hadits. Semua ulama telah sepakat, baik ulama zhahiriyah, bathiniyah, fiqih maupun pemerhati perilaku telah menyepakati hal ini.[2]

Taubat mendapat porsi perhatian yang sangat besar dalam al-Qur'an, sebagaimana yang tertuang di berbagai ayat dari surat Makkiyah maupun Madaniyah. Di antaranya yang paling jelas dan nyata adalah,

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, 'Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu." (At-Tahrim, 28: 8).[3]

Ini sekaligus merupakan seruan di dalam al-Qur'an yang ditujukan kepada orang-orang Mukmin. Dia memerintahkan agar mereka bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya dan semurni-murninya, tulus dan benar. Dasar hukum perintah dari Allah yang termuat di dalam al-Qur'an menunjukkan kepada wajib, selagi tidak ada hal lain yang mengalihkannya dari dasar ini. Sementara dalam masalah ini tidak ada yang mengalihkannya. Yang demikian ini diharapkan agar mereka mengharapkan dua tujuan yang fundamental, yang setiap orang Mukmin berusaha untuk meraihnya, yaitu:

1. Penghapusan kesalahan-kesalahan.

2. Masuk ke surga.

Setiap orang Mukmin juga sangat memerlukan kedua hal di atas, yaitu pengampunan dosa dan penghapusan kesalahan. Sebab tidak ada seorang pun yang terlepas dari dosa dan kesalahan, selaras dengan kontruksi kemanusiaannya, yang di dalam dirinya terkandung dua unsur yang saling berbeda: Unsur tanah bumi dan unsur ruh langit. Yang satu membelenggu untuk dibawa ke bawah, dan satunya lagi melepaskannya untuk dibawa ke atas. Yang pertama memungkinkan untuk menurunkannya ke kubangan binatang atau bahkan lebih sesat lagi jalannya, sedangkan yang kedua memungkinkan untuk mengangkatnya ke ufuk alam malaikat atau bahkan lebih baik lagi. Karena itu setiap manusia mempunyai peluang untuk melakukan keburukan dan berbuat dosa. Maka dia sangat membutuhkan taubatan nashuhan (taubat semurni-murninya), agar kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya terhapuskan.[4]

Tujuan lain adalah harapan untuk masuk surga, karena tak ada orang yang tidak menginginkannya. Pertanyaan yang muncul dari setiap orang Mukmin adalah nasib perjalanannya di hari kemudian, apakah dia akan selamat pada hari kiamat ataukah akan celaka? Apakah dia beruntung dan bahagia ataukah menyesal dan menderita? Keselamatan, keberuntungan dan kebahagiaana ada di surga, sedangkan kecelakaan, penyesalan dan penderitaan ada di neraka. Firman Allah:

"Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Ali Imran, 4:185).[5]

Ayat lain yang disebutkan dalam al-Qur'an sehubungan dengan taubat adalah firman-Nya,

"Dan, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung." (An-Nur, 18: 31).[6]

Di dalam ayat ini Allah memerintahkan agar semua orang Mukmin mau bertaubat dan tidak ada pengecualian bagi siapa pun di antara mereka, seperti apa pun tingkat istiqamahnya, seperti apa pun derajatnya sebagai orang yang bertakwa. Siapa pun perlu bertaubat. Di antara orang Mukmin ada yang bertaubat dari dosa besar, karena dia merasa tersiksa dengan dosa yang dilakukannya dan dia bukan orang yang terlindung dari dosa (ma 'shum). Di antara mereka ada yang bertaubat dari dosa-dosa kecil yang diharamkan, dan jarang sekali orang yang selamat dari dosa-dosa kecil ini. Di antara mereka ada yang bertaubat dari syubhat. Sementara siapa yang menjauhi syubhat, berarti telah menyelamatkan agama dan kehormatan dirinya. Di antara mereka ada yang bertaubat dari hal-hal yang dimakruhkan. Di antara mereka ada yang bertaubat dari kelalaian yang selalu menghantui hati. Di antara mereka ada yang bertaubat dari kondisinya yang senantiasa di bawah dan tak pernah naik ke tingkatan yang lebih tinggi lagi.

Taubatnya orang-orang awam tidak sama dengan taubatnya orang-orang khusus, terlebih lagi taubatnya orang-orang yang lebih khusus lagi. Karena itu ada yang berkata, "Kebaikan orang-orang yang berbuat bajik sama dengan keburukan orang-orang yang melakukan taqarrub." Tapi seperti yang disebutkan di dalam ayat ini, semua orang dituntut untuk bertaubat, agar mereka mendapatkan keberuntungan.[7]

Ayat ini terdapat dalam surat Madaniyah, yang di dalamnya Allah berseru kepada orang-orang yang beriman dan makhluk-makhluk pilihan-Nya, agar mereka bertaubat kepada-Nya setelah mereka beriman, bersabar, berhijrah dan berjihad. Kemudian Dia mengaitkan keberuntungan dengan taubat, seperti kaitan sebab-akibat. Di sini digunakan kata "Supaya", yang menggambarkan sebuah harapan. Dengan kata lain, jika kalian bertaubat, berarti kalian berada dalam harapan untuk beruntung. Sementara tidak ada yang mengharap keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat.[8]

Sebagian ulama pemerhati perilaku berkata, "Taubat itu hukumnya wajib bagi setiap orang, termasuk pula para nabi dan wali. Jangan beranggapan bahwa taubat itu hanya dikhususkan bagi Adam Alaihis-Salam, sebagaimana firman-Nya,

"…Dan, durhakalah Adam kepadaRabbnya dan sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk." (Thaha, 16: 121-122).[9]

Kesalahan dan kedurhakaan ini merupakan hukum azaly yang sudah ditetapkan terhadap jenis manusia, yang tidak bisa dirubah dan ditentang, kecuali jika ada perubahan sunnah Ilahy yang melepaskan dirinya dari ketamakan, andaikan Dia ingin merubahnya. Sementara bertaubat kepada Allah yang menjadi hak setiap manusia, amat diperlukan, entah oleh nabi maupun orang bodoh, wali maupun orang sesat.

Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits dari Anas,

"Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat." (Diriwayatkan Ahmad).[10]

Sebagaimana taubat yang diwajibkan kepada semua orang, ia juga diwajibkan dalam keadaan bagaimana pun. Dengan kata lain, taubat ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Pengertian ini ditunjukkan keumuman dalil-dalil yang ada, seperti firman Allah, "Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah". Setiap orang tidak lepas dari kedurhakaan yang dilakukan anggota tubuhnya. Bahkan para nabi dan orang-orang pilihan pun tidak lepas dari kedurhakaan ini, seperti yang disebutkan al-Qur'an dan berbagai pengabaran. Mereka tidak lepas dari kesalahan, lalu mereka bertaubat, menyesalinya dan membebaskan diri darinya.[11]

Kalaupun pada kondisi tertentu seseorang terbebas dari kedurhakaan dengan anggota tubuhnya, toh belum tentu dia terbebas dari hasrat di dalam hati untuk berbuat dosa. Kalau pun dia terbebas dari hasrat ini, belum tentu dia terbebas dari bisikan-bisikan syetan, yang membuatnya lupa mengingat Allah. Jika dia terbebas dari bisikan syetan ini, belum tentu dia terbebas dari kelalaian dan pengabaian ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya. Semua ini mempakan kekurangan dan masing-masing ada sebabnya. Meninggalkan sebab-sebabnya lalu menyibukkan diri dengan kebalikannya, sama dengan meninggalkan jalan itu dan beralih ke jalan kebalikannya. Manusia saling berbeda dalam kadar kekurangannya dan bukan dalam dasarnya.[12]

Tidak ada suatu kebaikan yang tidak disertai rintangan dan tantangan. Demikian pun orang yang melakukan taubat akan mengalami berbagai kendala. Lalu apa yang menghambat manusia untuk bertaubat dan menundanya? Padahal dalam taubat inilah terdapat keselamatan dan kebahagiaannya.

Tidak dapat diragukan bahwa memang di sana ada beberapa macam penghalang dan penghambat bagi manusia untuk bertaubat kepada Allah. Maka dari itu kita perlu mengalihkan teropong ke masalah ini, sebagai upaya untuk mengidentifikasinya. Sebab tidak ada yang mustahil selagi ada usaha yang sungguh-sungguh, tekad yang bulat dan arah yang benar.

Sekalipun tidak semuanya, mayoritas penghambat ini bersifat psikologis, yang timbul dari dalam diri manusia itu sendiri, lalu berpengaruh terhadap perilakunya. Sebagian di antaranya:

1. Meremehkan Dosa

Urutan pertama dari berbagai macam penghambat ini adalah meremehkan dosa, menganggapnya masalah yang enteng, hatinya tidak gundah dan tidak merasa takut. Tidak dapat diragukan, ini merupakan dampak dari kebodohan terhadap kedudukan Allah Azza wa Jalla, Pencipta makhluk, Raja dari segala raja, yang memiliki keagungan dan kemuliaan, yang menciptakan manusia dengan bentuk yang paling bagus, yang memuliakannya, yang menundukkan isi langit dan bumi baginya, yang melimpahinya nikmat lahir dan batin, yang dapat berbuat apa pun menurut kehendak-Nya dalam kekuasaan-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Menundukkan.[13]

Kedurhakaan terhadap sesembahan Yang agung ini tidak boleh diremehkan begitu saja. Apalagi jika seseorang berkata, "Andaikan saja setiap dosa kukerjakan seperti ini." Tapi dia harus menganggap besar setiap kedurhakaan yang dilakukannya terhadap hak Allah.

Ada seorang salaf yang sakit. Ketika dijenguk rekan-rekannya, dia menangis hingga sesenggukan. Mereka heran dibuatnya, lalu bertanya, "Mengapa engkau menangis? Padahal selama hidupmu kami tidak pernah melihatmu melakukan dosa besar, atau kurang sempurna dalam mengerjakan kewajiban atau tidak memenuhi hak."

Dia menjawab, "Demi Allah, aku menangis bukan karena kewajiban yang kutinggalkan, kehormatan yang kulanggar atau hak yang kusia-siakan. Tetapi aku menangis, karena aku takut ada dosa yang pernah kulakukan, lalu aku menganggapnya kecil, padahal di sisi Allah adalah besar."[14]

Ini mengisyaratkan kepada apa yang disebutkan di dalam al-Qur'an, tentang kisah Ummul-Mukminin Aisyah, dan komentar sebagian orang-orang Muslim berkaitan dengan berita bohong yang menyangkut dirinya. Berita bohong itu sengaja disebarluaskan orang-orang munafik, merebak dari mulut ke mulut, tanpa ada rasa takut dan yang tentu saja disertai dengan cemoohan. Lalu turun ayat al-Qur'an yang menetralisir masalah ini,

"(Ingatlah) pada waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikitpun, dan kalian menganggapnya sesuatu yang ringan saja, padahal iapada sisi Allah adalah besar. Dan, mengapa kalian tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Mahasuci Engkau (Wahai Rabb kami), ini adalah dusta yang besar'." (An-Nur: 15-16)[15]

Suatu kali Aisyah pernah menyebut-nyebut madunya, dengan mengisyaratkan bahwa dia itu pendek perawakannya. Nabi Saw yang mendengarnya bersabda, "Wahai Aisyah, engkau telah mengucapkan satu kata yang andaikan engkau mencampurnya dengan air laut, maka engkau bisa mencampurnya." Nabi Saw juga telah memperingatkan untuk menjauhi dosa-dosa kecil, dengan bersabda,

"Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil. Sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil itu seperti segolongan orang yang singgah disuatu lembah. Satu orang datang membawa sepotong dahan, dan orang lain datang membawa sepotong dahan yang lain, hingga mereka membawa tumpukan dahan-dahan yang bisa digunakan untuk memasak roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil yang dilakukan pelakunya, tentu akan membinasakannya." (Diriwayatkan Ahmad dan Ath-Thabrany).[16]

2. Angan-angan yang Mengada-ada

Di antara sebab yang menghambat dan menunda taubat adalah angan-angan yang mengada-ada dalam hidup ini. Artinya, seseorang menganggap hidupnya masih panjang, bahwa kematiannya masih jauh, umurnya masih lama dan bisa dia pergunakan untuk bercanda ria sesukanya, lalai, mengumbar hawa nafsu dan mengikuti jalan syetan.

Bencana yang biasa menimpa diri manusia ialah karena dia selalu beranggapan bahwa hidupnya masih lama dan masih ingin menghindari dari jerat kematian sekalipun kematian itu sudah tampak di depan matanya. Seorang pemuda yang berumur dua puluh tahun berkata, "Aku akan bertaubat pada Allah setelah umur empat puluh tahun." Orang yang sudah berumur empat puluh tahun berkata, "Aku akan bertaubat setelah berumur enam puluh tahun." Orang yang berumur enam puluh tahun berkata, "Aku akan bertaubat setelah berumur tujuh puluh tahun." Begitulah sifat manusia yang selalu ingin menghindar dari kematian, padahal kematian itu terlalu dekat jaraknya dengan dia. Dia berandai-andai untuk bertaubat, padahal dia sangat memerlukan taubat itu.

Permasalahannya, kematian itu tidak perlu meminta izin terlebih dahulu sebelum datang. la datang sekonyong-konyong dan biasanya tidak diduga-duga. la bisa menyambar anak kecil sebelum besar, menyambar pemuda sebelum dewasa, menyambar anak laki-laki sebelum bapaknya, menyambar anak perempuan sebelum ibunya. Jenis kematian yang paling diwaspadai adalah kematian secara tiba-tiba, yang menghampiri seseorang sebelum dia bersiap-siap menyongsongnya, sebelum mencari bekal untuk perjalanannya. Karena itu Nabi Saw berlindung dari kejahatannya. Ini pula yang ditakuti orang-orang shalih terdahulu.[17]

Pada zaman sekarang banyak penyebab kematian secara tiba-tiba, yang tidak ada pada zaman dahulu, sekalipun zaman sekarang sudah ditunjang kemajuan medis cara-cara penanggulangan berbagai macam problem. Hampir setiap saat manusia bisa mendengar kabar tentang orang yang meninggal secara mendadak, entah karena sakit jantung, dibunuh secara misterius, pembuluh darah otak yang tersumbat, kecelakaan kereta api, kecelakaan pesawat terbang dan lain sebagainya yang disebabkan kemajuan peradaban.[18]

Tidak ada artinya seseorang menghindari dari kematian, apalagi dia bisa melihat korban yang berjatuhan setiap saat. Andaikan dia benar-benar mau melihat kejadian di sekitarnya dan orang-orang di sekitarnya, tentu dia akan berpikir, berapa banyak kerabat yang telah mengucapkan kata perpisahan, berapa banyak orang-orang yang dicintai telah berlalu, berapa banyak rekan yang telah dikubur. Andaikan dia melihat daftar nama-nama orang yang telah terbungkus debu, tentu dia akan berpikir lebih jauh tentang semua ini.[19] Karena itu Rasulullah Saw mengajarkan agar kita hidup di dunia ini dengan jiwa orang asing. Kita di dunia ini seperti tamu yang terlalu cepat pergi meninggalkan rumah, entah besok entah lusa. Rumah itu hanya sekedar tempat singgah dan bukan tempat untuk menetap selama-lamanya.[20]

Dosa yang berkaitan dengan hak hamba, terutama hak material, maka taubat darinya tidak cukup hanya dengan menyesalinya dan membebaskan diri darinya, tapi harus mengembalikan hak itu kepada pemiliknya atau meminta pembebasan diri darinya, atau meminta maaf dan memohon pembebasan dari pemenuhan hak karena Allah semata. Jika tidak, maka hak ini sama dengan hutang yang harus dilunasinya, hingga kedua belah pihak harus membuat perhitungan tersendiri pada hari kiamat, dengan menyerahkan kebaikannya kepada orang yang memiliki hak itu. Jika kebaikan-kebaikannya tidak mencukupi, maka keburukan-keburukan orang yang memiliki hak itu dialihkan kepadanya, sampai akhirnya hak itu terpenuhi.

Inilah orang bangkrut seperti yang diperkenalkan dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu? " Mereka menjawab, "Orang yang bangkrut di antara kami ialah yang tidak lagi memiliki dirham dan barang dagangan ". Beliau bersabda, "Orang yang bangkrut di antara umatku ialah yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat. Dia datang padahal dulunya dia mencaci ini, menuduh ini, memakan harta ini, menumpahkan darah ini, memukul ini, lalu diberikan kepadanya ini dari kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum dia diadili tentang apa yang ada pada dirinya, maka diambilkan dari kesalahan-kesalahan mereka, lalu dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke neraka." (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzy).[21]

Boleh jadi dulunya dia termasuk orang yang kaya dan mempunyai banyak kebaikan dan ketaatan. Tetapi kebaikan-kebaikannya itu belum mencukupi untuk memenuhi hak sekian banyak orang yang pernah dizhaliminya, karena pada hari itu seseorang tidak akan menenggang rasa terhadap orang lain dan tidak ada pemenuhan terhadap hak-hak mereka kecuali dengan satu timbangan, yaitu kebaikan dan keburukan.

Karena itu Nabi Saw memerintahkan setiap orang yang pernah menzhalimi orang lain walau sedikit pun, atau merampas sebagian dari hak material atau spiritualnya, maka dia harus memutihkan hisab dengan orang yang dizhaliminya itu selagi masih di dunia, sebelum kezhalimannya diputihkan di akhirat. Caranya ialah dengan meminta maaf, atau meminta pembebasan dirinya atau dengan cara membuat suatu persetujuan yang bisa diterimanya.


[1] Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Djambatan Anggota IKAPI, Jakarta, 1992, hlm. 949.

[2] Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, Risalah Qusyairiyah, disadur umar faruq, pustaka amani jakarta, 2002, hlm. 116.

[3] Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen agama, 1986, hlm. 951.

[4] Humaidi Tatapangarsa, Akhlaq Yang Mulia, PT.Bina Ilmu, Surabaya, 1980, hlm. 43-69.

[5] Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir, Op. Cit, hlm. 109.

[6] Ibid, hlm. 547.

[7] Sa’id Hawa, Intisari IhyaUlumuddin al-Ghazali, Mensucikan Jiwa, Konsep Tazkiyatun Nafs Terpadu, alih bahasa, Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta, 2002, hlm. 400-412.

[8] Ibnu Qayyim, Madarij al-Salikin Baina Manazilu Iyyaka Na’budu Waiyyaka Nasta’in, Dar al-Kitab al-Ilmiyyah, juz 1, hlm. 199-208.

[9] Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-qur’an, Op. Cit, hlm. 490-491.

[10] Al-Imam Abu Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal Asy-Syaibani al-Marwazi, Musnad Ahmad, Dar al-Ma’arif, Mesir, 1382 H/1953M, 340.

[11] Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, juz 1V, Toha Putra, Semarang, tth, 10-13.

[12] TM. Hasbi Ash-Shiddiqi, Al-Islam, jilid 1, Bulan Bintang, Jakarta, 1971, hlm. 465-475-

[13] Ibrahim Muhammad ibn Abdullah al-Buraikan, Pengantar Studi Aqidah Islam, terj.muhammad anis matta, robbani press, jakarta, 1998, hlm. 252.

[14] Humaidi Tatapangarsa, Op. Cit, hlm. 49.

[15] Yayasan Penterjemah/Pentafsir, Op. Cit, hlm. 543.

[16] Al-Imam Abu Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal Asy-Syaibani al-Marwazi, Musnad Ahmad, Dar al-Ma’arif, Mesir, 1382 H/1953 M, hlm. 243.

[17] Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, Op. Cit, hlm. 117.

[18] Acmad Mubarok, Psikologi Qur’ani, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2002, hlm. 29.

[19] Jalaluddin, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hlm. 175.

[20] Ramayulis, Pengantar Psikologi agama, Kalam Mulia, Jakarta, 2002, hlm. 68.

[21] al- Imam Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah ibn Musa ibn ad -Dahak as-Salmi at-Turmuzi, Sunan at-Turmuzi, Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1931, hlm. 221.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter