BIOGRAFI AL-ZARNUJI

manuskrip ta'lim
Al-Zarnuji adalah orang yang diyakini sebagai satu-satunya pengarang kitab Ta’lim al-Muta’allim, akan tetapi ketenaran nama beliau tidak sehebat kitab yang dikarangnya. Dalam satu literatur disebutkan bahwa al-Zarnuji adalah seorang filosof arab yang namanya disamarkan,[1] yang tidak dikenal identitas namanya secara pasti. Dalam hal ini terdapat perbedaan pada peneliti dalam memberikan nama lengkap (gelar) kepada syekh al-Zarnuji. Sebagaimana dipaparkan oleh Awaluddin Pimay, dalam tesisnya tentang perbedaan nama lengkap (gelar) dari pengarang kitab Ta’lim al-Muta’allim ini, sebagai berikut:
Khairudin al-Zarkeli menuliskan nama al-Zarnuji dengan Nu’man bin Ibrahim bin Khalil al-Zarnuji Tajuddin. Seperti dikutipp oleh Tatang M. Amirin, M. Ali Chasan Umar dalam kulit sampul buku al-Zarnuji yang diterjemahkannya, menyebutkan nama lengkap al-Zarnuji sebagai syekh Nu’man bin Ibrahim bin al-Khalil al-Zarnuji, sementara dalam kata pengantar dituliskannya sebagai syakh Tajuddin Nu’man bin Ibrahim bin al-Khalil al-Zarnuji. Busyairi Madjidi yang mengutip dari buku Fuad al-Ahwani menyebutkan al-Zarnuji dengan Burhanuddin al-Zarnuji. Demikian juga Muchtar Affandi dan beberapa literatur yang dikutip dalam tesisnya. Nama al-Zarnuji dengan Burhanuddin al-Zarnuji atau Burhan al-Din al-Zarnuji. Kecuali itu ditemukan pula sebutan lain untuk al-Zarnuji yaitu Burhan al-Islam al-Zarnuji. Tanpa alasan yang jelas Djudi menyetujui sebutan itulah nama al-Zarnuji.[2]
Hal yang sama juga dipaparkan oleh Ghazali,[3] bahwa orang yang memberikan kontribusi besar melalui pemikiran pendidikan dan pengajaran Islam pada masanya itu memiliki dua sebutan, yaitu “Burhanuddin” dan “Burhanul Islam”, disamping dua gelar tersebut diketahui dari referensi yang berbeda juga didasarkan pada kebiasaan ulama’ dan tokoh-tokoh tertentu dengan gelar-gelar keagamaan, dengan harapan supaya orang yang menyandang gelar tersebut dapat mewujudkan dan mengembangkan masyarakat yang religius. Berdasar pada referensi yang penulis dapatkan, pada umumnya menyebutnya dengan sebutan “Burhanuddin al-Zarnuji”.
Sedangkan berkaitan dengan pertanyaan dimana al-Zarnuji hidup? Von Grunebaum dan Abel memberikan informasi, sebagaimana dikutip oleh Maemonah dalam tesisnya,[4] mereka berpendapat bahwa al-Zarnuji adalah seorangsarjana muslim yang hidup di Persia. Lebih lanjut dia menyatakan bahwa al-Zarnuji ahli hukum dari sekolah Imam Hanafi yang ada di Khurasan dan Transoxiana, sayangnya tidak tersedia fakta yang mendukung informasi ini.
Meskipun begitu seorang penulis muslim membuat spekulasi bahwa al-Zarnuji aslinya berasal dari daerah Afganistan, kemungkinan ini diketahui dengan adanya nama Burhan al-Din, yang memang disetujui bahwa hal itu biasanya digunakan dinegara ini. Terkait dengan hal tersebut, beberapa peneliti berpendapat bahwa dilihat dari nisbahnya nama al-Zarnuji diambil berdasar pada daerah dari mana ia berasal yaitu daerah “Zarand”.[5] Zarand adalah salah satu daerah diwilayah Persia yang pernah menjadi ibu kota Sidjistan yang terletak disebelah selatan Herat.
Dalam masalah riwayat hidup penulis kitab Ta’lim ini juga terjadi ketidak jelasan seperti dikemukakan oleh Abdul Qadir Ahmad, bahwa sedikit sekali dan dapat dihitung dengan jari kitab yang menulis riwayat hidup penulis kitab tersebut.[6] Dan beberapa kajian terhadap kitab Ta’lim, tidak dapat menunjukkan secara pasti mengenai waktu kehidupan dan karir yang dicapainya. Sehingga pengetahuan kita tentang al-Zarnuji sementara ini berdasar pada studi M. Plessner yang dimuat dalam Encyclopedia of Islam.[7]
Dalam buku “Islam Berbagai Perspektif, Didedikasikan untuk 70 Tahun Prof. H. Munawir Sadjali, M.A.”, Affandi Muchtar mendapat informasi lain tentang al-Zarnuji berdasar pada data dari Ibn Khalilkan,[8] yaitu:
Menurutnya Imam al-Zarnuji adalah salah seorang guru imam Rukn ad-Din Imam Zada (Wafat 573/1177–1178) dalam bidang fiqih. Imam Zada juga berguru pada Syekh Ridau al-Din an-Nishapuri (wafat antara tahun 550 dan 600) dalam bidang Mujahadah. Kepopuleran Imam Zada diakui karena prestasinya dalam bidang Ushuluddin bersama dengan kepopuleran ulama lain yang juga mendapat gelar Rukn (sendi). Mereka antara lain Rukn ad-Din al- ‘Amidi (wafat: 615) dan Rukn ad-Din at-Tawusi (wafat: 600). Dari data ini dapat dikatakan bahwa al-Zarnuji hidup sezaman dengan Syaikh Rida ud-Din an-Nisaphuri.
Sehingga mengenai kelahiran atau masa hidup al-Zarnuji hanya dapat diperkirakan lahir pada sekitar tahun 570 H,[9] sedangkan tentang kewafatan al-Zarnuji terdapat perbedaan, ada yang menyatakan al-Zarnuji wafat pada tahun 591 H (1195 M),[10] dan menurut keterangan Plessner, bahwasanya ia telah menyusun kitab tersebut setelah tahun 593 H (1197).[11]
Perkiraan tersebut berdasar adanya fakta bahwa al-Zarnuji banyak mengutip pendapat dari guru beliau yang yang ditulis dalam kitab Ta’lim, dan sebagian guru beliau yang ditulis dalam kitab tersebut meninggal dunia pada akhir abad ke-6 H, dan beliau menimba ilmu dari gurunya saat masih muda. Selain itu, ditemukan bukti yang memperkuat pendapat ini yakni tulisan dari “القرشي” dalam bukunya “al-Jawahir” yang menyebutkan bahwa al-Zarnuji merupakan ulama’ yang hidup satu periode dengan Nu’man bin Ibrahim az-Zarnuji yang meninggal pada tahun yang sama, diapun meninggal tidak jauh dari tahun tersebut karena keduanya hidup dalam satu periode dan generasi.[12]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa al-Zarnuji wafat sekitar tahun 620 H,[13] atau dalam kata lain al-Zarnuji hidup pada seperempat akhir abad ke-6 sampai pada dua pertiga pertama dari abad ke-7 H (menjelang abad XII – awal abad XIII Masehi).

[1] Ahmad Al-Syantanawi, Ibrahim Zaki Khursid dan Abd.Hamid Yunus, Dairot al-Ma’arif al-Islam, Jilid. X, Hlm. 245. Pernyataan tersebut dipertanyakan kebenarannya, sebab tidak ada dasar yang kuat dan al-Zarnuji bukanlah orang Arab. Lihat studi penelitian tentang kitab Ta’lim al-Muta’allim, oleh Imam Ghazali Said, Surabaya: Diyantama,1977), hlm. 15. Akan tetapi Ahmad Usman membantah jika al-Zarnuji merupakan nama seorang filosuf yang menggunakan nama samaran (anonim). Karena pada masanya tidak lazim seseorang menggunakan nama samaran. Lihat Ahmad Usman, al-Ta’lim ‘Inda Burhanul Islam al-Zarnuji, (Kairo: Maktabah al-Anjalu al-Misriyah, 1989), hlm. 175
[2] Awaluddin Pimay, Konsep Pendidik dalam Islam (Studi Komparasi atas Pandangan al-Ghozali dan al-Zarnuji), Tesis PPS IAIN Walisongo Semarang, (Semarang: Perpustakaan Pasca Sarjana IAIN Walisongo, 1999), hlm. 29-30, t.d.
[3] Ghazali, Op.Cit., Hlm. 13
[4] Mochtar Afandi dalam Maemonah, Reward Dan Punishment Sebagai Metode Pendidikan Anak Menurut Ulama Klasik (Studi Pemikiran Ibnu Maskawih, Al-Ghozali Dan Al-Zarnuji), (Semarang: Tesis Program Pasca Sarjana IAIN Walisongo; 2001), hlm. 52, t.d
[5] Abudin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam), (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), Cet II, hlm. 104
[6] Abdul Qadir Ahmad dalam Awaludin, Op.Cit.,Hlm. 30
[7] M. Plessner, “Al-Zarnuji” dalam First Encyclopedia Of Islam, Vol. VIII, (London – New York: E.J. Brill’s, 1987), hlm. 1218
[8] Sudarnoto Abdul Hakim, Hasan Asari, Yudian W. Asmin (penyunting), Islam Berbagai Perspektif, Didedikasikan Untuk 70 tahun H. Munawir Sadzali, (Yogyakarta: LPMI, 1995), hlm. 20
[9] Ghazali Said, Op.cit., Hlm. 19
[10] Hasan Langgulung, Pendidkan Islam Menghadapi abad ke-21, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988), hlm. 31
[11] M. Plessner, Loc. Cit.
[12] Ghazali Said, Op.cit., hlm. 18-19
[13] Ibid.






















1 comment:

  1. Huda, M., & Kartanegara, M. (2015). Islamic Spiritual Character Values of al-Zarnūjī’s Taʻlīm al-Mutaʻallim. Mediterranean Journal of Social Sciences, 6(4), 229.

    ReplyDelete