Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MACAM-MACAM HIDAYAH

hidayah

Al-Qur'an tidak secara jelas menggambarkan macam-macam hidayah, namun bila dilihat dari konteks redaksi ayat-ayat yang menggunakan kata dasar ha-da-ya, setidaknya ada empat hidayah yang dianugerahkan Allah kepada manusia, antara lain:

1. Kemampuan alamiah

Hidayah dalam bentuk ini dianugerahkan oleh Allah sejak manusia itu lahir, secara kodrati telah membawa sifat-sifat alamiah, seperti insting, panca indera, dan akal. Pengertian ini dapat kita simak dari ayat :

قَالَ رَبُّناَ الَّذِيْ أَعْطَى كُلَّ شَيئٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى (طه: 50)

Dia (Musa) berkata: Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. (Qs. Thaahaa: 50)

Maksud “memberi petunjuk” pada ayat di atas, menurut Departemen Agama RI adalah Allah menganugerahkan akal, insting (naluri), dan kodrat alamiah untuk kelangsungan hidupnya.[1]

Pendapat ini diperkuat oleh ayat al-Qur'an:

الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَّى وَ الَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى (الأعلى: 2-3)

Allah yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar masing-masing dan memberi petunjuk. (Q.S. al-A’laa: 2 – 3).

Dari pemahaman melalui ayat di atas, Allah Swt menuntun setiap makhluk kepada apa yang perlu dimilikinya dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dialah yang memberi hidayah kepada anak ayam memakan benih ketika baru saja menetas, atau lebah untuk membuat sarangnya dalam bentuk segi enam, karena bentuk tersebut lebih sesuai dengan bentuk badan dan kondisinya.[2]

Selanjutnya marilah kita bahas secara ringkas kemampuan alamiah yang dianugerahkan Allah tadi, antara lain :

a. Insting

Syeikh Thanthawi al-Jauhari menyebutkannya dengan hidayat al-ghariezati, menurut beliau ghariezah (instinc, instink) ialah gerak hati (impuls) yang terdapat dalam bakat manusia dan binatang.[3] Sedang arti insting menurut kamus besar bahasa Indonesia ialah salah satu daya dorong yang utama pada manusia bagi kelangsungan hidupnya (seprti nafsu birahi, rasa takut, dan dorongan untuk berkompetisi), dorongan secara tidak sadar bertindak yang tepat.[4]

Kemampuan alamiah ini dianugerahkan oleh Allah kepada manusia sejak bayi pertama kali lahir. Kita perhatikan ketika lahir seorang bayi, maka dia mulai menangis minta disantuni, lalu dengan dorongan naluri yang dimilikinya apabila didekatkan mulutnya pada buah dada ibunya, secara naluriah ia langsung menghisapnya dan ia merasa tentram.

b. Panca indera

Ahmad Musthafa al-Maraghi menyebutnya dengan istilah hidayat al hawasi. Menurut beliau “hawas ialah indera yakni perangkat badani yang peka terhadap rangsangan yang datang dari luar.”[5] Seperti rangsangan cahaya, bunyi dan sebagainya. Panca indera yang dimaksud ialah alat penglihat (mata), alat pendengar (telinga), alat pencium (hidung), alat perasa (lidah), alat peraba (tangan).

Keterangan mengenai hal ini bisa disimak melalui ayat-ayat berikut:

إِنَّا خَلَقْناَ الإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيْهِ فَجَعَلْناَهُ سَمِيْعاً بَصِيْراً إِناَّ هَدَيْناَهُ السَّبِيْلَ إِمَّا شَاكِراً وَ إِماَّ كَفُوراً (الإنسان: 2-3)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya dengan perintah dan larangan, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Qs. Al-Insaan: 2 - 3).

أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ وَ لِسَاناً وَ شَفَتَيْنِ وَ هَدَيْناَهُ النَّجْدَيْنِ (البلد: 8-10)

Bukankah telah Kami berikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Qs. al-Balad: 8 – 10)

وَ اللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَ جَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَ الأَبْصَارَ وَ الأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل: 78)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Qs. an-Nahl: 78).

c. Akal

Kata ini berasal dari bahasa Arab: al-‘aql, yang mengandung arti pengikat, penahan, pemahaman, dan kebijaksanaan.[6] Dalam pemahaman para ulama, akal bukanlah daya yang dimiliki oleh otak, tapi merupakan daya jiwa (roh), yang berfungsi memahami, dan mengetahui nilai-nilai etis (baik dan buruk), dan epistimologi (benar dan salah), serta memiliki fungsi sebagai pengikat, pemaham dan pengendali nafsu, sehingga berhasil mengangkat manusia menjadi makhluk yang bijaksana.

Akal ada secara potensial pada setiap bayi manusia, tapi tidak ada pada binatang. Ia yang menyebabkan manusia lebih unggul dari binatang, dan karena memiliki akal itulah manusia diberikan tanggung jawab besar untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran di permukaan bumi ini. Akal yang ada secara potensial inilah yang harus diaktualkan semaksimal mungkin agar ia dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Dengan demikian, manusia yang menjadi pemilik akal mendapat pujian sebagai khalifah Tuhan seperti yang diharapkan. Bila akal itu tidak berfungsi dengan baik, tapi terseret dengan hawa nafsu, maka manusia lebih sesat dan berbahaya dari binatang.

Perlu digarisbawahi bahwa, ketiga bentuk kemampuan alamiah manusia memiliki keterbatasan masing-masing, sehingga bila melebihi batas tersebut masing-masing tidak akan berperan secara optimal, sehingga diperlukan adanya bentuk kekuasaan penuntun yang lebih tinggi lagi. Misalnya ketika naluri tidak merasa berdaya, maka panca indera memberikan bantuannya. Barulah kemudian mata melihat, telinga mendengar, lidah mengecap, tangan meraba dan hidung mencium. Dengan demikian, mulailah kita mengadakan kontak dengan dunia lahiriyah, akan tetapi panca indera pun beroperasi pada batas-batas tertentu saja, pada suatu panca indera harus mengakui kelemahannya dalam mengungkap kebenaran. Seperti mata mampu melakukan tugasnya untuk melihat hanya dengan kondisi tertentu, yakni hanya ada cahaya di sekeliling atau jarak yang tidak terlalu jauh, maka mata tidak bisa memandangnya. Contoh lain, ketika mata kita memandang tongkat di dalam air, seolah-olah tongkat itu bengkok padahal sebenarnya lurus. Begitu pula dengan pendengaran, penciuman dan sebagainya. Di sinilah dibutuhkan bentuk penuntun yang lebih tinggi, yakni akal atau daya nalar. Daya inilah yang mampu mendekati kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh panca indera.Tongkat yang seolah-olah bengkok tadi setelah dianalisa oleh akal ternyata di sana terjadi proses pembiasaan pada cahaya.

Akan tetapi, akal atau daya nalar pun tidak mampu menuntun kita ke alam kehidupan yang berada di luar jangkauan panca indera. Bahkan dalam khazaanah kegiatan lahiriyah yang diharapkan bisa memberi suatu tuntunan yang berdaya guna, di sana sini kadang akal bertentangan dengan hawa nafsu, dan seringkali justru nafsu itulah yang memang dan memaksa untuk mengabaikan nalar. Di samping itu, akal sendiri memiliki kelemahan-kelemahan, akal bukan hanya letih menghadapi persoalan-persoalan pelik tetapi ia juga tidak mampu memberi jawaban sekian banyak pertanyaan yang diajukan oleh manusia. Khususnya menyangkut alam metafisika, seta menyangkut kesudahan hidupnya.[7]

Akal hanya berfungsi dalam batas-batas tertentu dan bidang operasinya adalah alam nyata, bahkan dalam bidang inipun terkadang terpedaya oleh kesimpulan-kesimpulannya. “Logika” satu bidang ilmu yang dirumuskan oleh Aristoteles yang katanya mampu memelihara perumusnya sendiri dari sekian banyak kesalahan. Kalau demikian akal mempunyai keterbatasan, lalu apakah ada daya penuntun yang lebih tinggi pada saat akal terbukti tidak berdaya? Jawaban pertanyaan ini telah disinggung oleh Al-Qur'an, melalui ayat berikut

إِنَّا خَلَقْناَ الإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيْهِ فَجَعَلْناَهُ سَمِيْعاً بَصِيْراً إِناَّ هَدَيْناَهُ السَّبِيْلَ إِمَّا شَاكِراً وَ إِماَّ كَفُوراً (الإنسان: 2-3)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya dengan perintah dan larangan, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Qs. al-Insaan: 2 - 3).

Pada ayat di atas teramat jelas, bahwa di samping Allah menganugerahkan panca indera kepada manusia. Dia juga memberi petunjuk-Nya berupa “jalan yang lurus”, yakni berupa tuntunan yang dibawa oleh hamba-hamba pilihan-Nya yang bersih, tuntunan dan syari’at serta penjelasan-penjelasan yang menyangkut ajaran-ajaran agama. Bisa disimak pula lewat ayat berikut :

وَ جَعَلْناَ مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِناَ لَماَّ صَبَرُوا وَ كاَنُوأ بِآياَتِناَ يُوقِنُونَ (السجدة: 24)

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (Qs. as-Sajdah: 24).

إِنَّماَ أَنْتَ مُنْذِرٌ وَ لِكُلِّ قَومٍ هَادٍ (الرعد: 7)

Sesungguhnya engkau (ya Rasul) adalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. (Qs. ar-Ra’d: 7)

وَ إِنَّكَ لاَ تَهْدِيْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ (الشورى: 52)

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk, kepada jalan yang lurus. (Qs. asy-Syuura: 52)

وَ إِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلاَّ خَلاَ فِيْهاَ نَذِيْرٌ (فاطر: 24)

Dan tidak ada satu umat pun yang tidak disinggahi oleh pemberi peringatan. (Qs. Faathir: 24).

وَ لِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رُسُلُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَ هُمْ لاَ يُظْلَمُونَ (يونس: 47)

Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. (Qs. Yunus: 47).

Dari penjelasan ayat-ayat di atas, dapat kita tarik satu kesimpulan bahwa di samping Allah memberikan tuntunan berupa anugerah akal, kemudian Dia melengkapinya hidayah (tuntunan wahyu) yang diturunkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, yang selanjutnya kita kenal dengan hidayah al wahy.

2. Tuntunan Wahyu

Anugrah lain yang Allah berikan kepada manusia sebagaimana dari keterangan di atas yang tidak lain memberikan petunjuk kepada manusia agar ia tidak tersesat dalam menghadapi kehidupannya yakni berupa tuntunan-tuntunan dan penjelasan tentang syari’at keagamaan. Lalu, apakah bentuk konkrit dari tuntunan wahyu itu, yang sampai saat ini masih dirasakan eksistensinya oleh manusia? Al-Qur'an menyatakan dirinya bahwa ia merupakan tuntunan wahyu Illahi yang tidak diragukan lagi kebenarannya, berlaku sepanjang masa, meliputi berbagai aspek kehidupan, sebagai pembeda yang hak dan yang bathil, serta membenarkan dan menjelaskan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Pendek kata, tidak ada yang tertinggal di dalam al-Qur'an. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

ماَ فَرَّطْناَ فِي الْكِتاَبِ مِنْ شَيئٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ (الأنعام: 38)

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Qs. al-An’am: 38).

Dalam rangka memfungsikan al-Qur'an sebagai wahyu petunjuk untuk kehidupan manusia, Fazlur Rahman menjabarkan isi kandungan al-Qur'an ke dalam tujuh tema pokok antara lain : (1) tentang Tuhan, (2) tentang manusia, (3) tentang alam semesta, (4) tentang kenabian dan wahyu, (5) tentang eskatologis, (hari pembalasan), (6) tentang setan dan kejahatan, dan (7) tentang pembentukan masyarakat muslim.[8]

Lebih spesifik lagi, untuk menggambarkan secara jelas fungsi al-Qur'an sebagai kitab petunjuk ada baiknya disimak penjelasan Quraish Shihab dalam buku beliau “Membumikan al-Qur'an” sebagai berikut:

Dari sejarah diturunkannya al-Qur'an, dapat diambil kesimpulan bahwa al-Qur'an mempunyai tiga tujuan pokok:

a. Petunjuk aqidah dan kepercayaan yang harus dianut manusia yang tersimpul dalam keimanan dan ke-Esa-an Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.

b. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dan kehidupannya secara individual atau kolektif.

c. Petunjuk mengenai syari’at dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dengan hubungan dengan Tuhan dan sesamanya atau dengan kata lain yang lebih singkat, al-Qur'an adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.[9]

Petunjuk dalam bentuk wahyu Illahi ini memberikan petunjuk yang berkaitan dengan dalil-dalil yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil, yang benar dan yang salah.[10] Ia menamainya dirinya sebagai tuntunan universal, petunjuk untuk manusia secara keseluruhan yang selanjutnya kita pahami sebagai hidayah al-dien.

Lalu bagaimana menyikapi paman Nabi, Abu Thalib yang seolah-olah dia tidak diberi hidayah, walau nabi sendiri yang memohonnya, kita simak keterangan yang diungkap oleh Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya, ketika mengomentari asbab al-nuzul Qur’an surat al-Qashash ayat 56,

Banyak khabar menerangkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib. Menurut ‘Abbas bin Humaid, Muslim, Tirmidzi, dan Baihaqi di dalam al Dalail, mengeluarkan riwayat dari Abu Hurairah, bahwa menjelang Abu Thalib wafat, Nabi seraya berkata : “Wahai pamanku, ucapkan Laa ilaha illa Allah, niscaya aku menjadi saksi bagimu akan hal itu di sisi Allah pada hari qiyamah. Abu Thalib menjawab: “Kalau saja kau tidak khawatir dicela oleh orang-orang Quraish yang akan berkata yang mendorong untuk mengucapkan kesaksian itu tidak lain adalah ketakutan akan mati, niscaya aku sudah melakukan yang membuatmu senang.” Maka turunlah ayat innaka la tahot man ahbabta, dan seterusnya.[11]

Dari keterangan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa, Abu Thalib tidak mau beriman, bukan berarti tidak menerima hidayah pada peringkat ini (hidayah al-dien), melainkan hidayah pada peringkat yang lebih tinggi. Nabi sekalipun tidak dapat memberikan hidayah pada peringkat ini, seperti pada firman Allah Swt:

إِنَّكَ لاَ تَهْدِيْ مَنْ أَحْبَبْتَ وَ لكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ (القصص: 56)

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Qs. al-Qashash: 56).

Padahal pada kesempatan yang lain Allah menunjuki nabi sebagai pemberi hidayah. Firman Allah :

وَ إِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ (الشورى: 52)

Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Qs. as-Syuura: 52).

Untuk menyikapi ayat-ayat di atas yang seolah kontradiksi, secara sederhana dapat dikemukakan pendapat al-Ashfahany, yang menyatakan bahwa “apabila kata (يهدي) (memberi petunjuk), diikuti oleh (الى) (menuju/kepada), maka hidayah dimaksud adalah petunjuk sebagaimana di jelaskan di atas, yakni berupa penjelasan-penjelasan yang disimpulkan oleh para Nabi dan para pewarisnya yang menyangkut ajaran-ajaran agama secara umum. Oleh karenanya, tepat jika Nabi Saw dijuluki sebagai pemberi petunjuk dalam artian sebagai pemberi penjelasan yang menyangkut aturan-aturan agama (lihat surat asy-Syura ayat 52). Sedang bila kata (يهدي) tidak diikuti oleh (الى) yakni kemampuan aktual yang dianugerahkan Allah kepada manusia tertentu yang dikehendaki-Nya, sehingga mereka dapat melaksanakan petunjuk-petunjuk agama secara umum di atas, yang selanjutnya hidayah pada peringkat ini dinamakan dengan Hidayah at-Taufiq.[12]

3. Tuntunan Taufiq

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa kemampuan aktual yang dianugerahkan Allah kepada manusia tadi dinamakan hidayah at-taufiq atau hidayah al-ma’unah. Hidayah pada tingkat ini semata-mata monopoli Allah, Nabi sekalipun tidak berkompeten untuk memberikannya, seperti pada kasus paman Nabi tadi. Hidayah pada tingkat ini tidak dapat dijangkau oleh analisis dan aneka argumentasi aqliyah, atau yang bila diusahakan akan sangat memberatkan manusia.[13]

Kemudian ayat lain yang menyinggung tentang hidayah at-taufiq antara lain:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَ لَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ (البقرة: 272)

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk (taufiq), akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. (Qs. al Baqarah: 272).

قُلْ فَلِلهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَو شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِيْنَ (الأنعام: 149)

Katakanlah: Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya. (Qs. al An’am: 149).

Untuk menggambarkan lebih jelas lagi tentang hidayah at taufiq ini, bisa kita ambil ilustrasi seperti berikut: Jika Anda ingin ke pasar, Anda bertanya kepada seseorang di manalokasi pasar yang Anda tuju, lalu ada yang memberi informasi tentang lokasi pasar itu, bahkan mengantar Anda langsung menuju pasar yang Anda tuju dengan kendaraannya. Dalam kasus semacam ini, terjadi proses pertemuan antara keinginan Anda ke pasar dan kesediaan orang itu mengantarkan Anda dengan kendaraannya. Dapat kita artikan di sini bahwa hidayah at-taufiq, adalah pertemuan antara kehendak Tuhan dan kehendak Anda, dan kita diperintahkan untuk selalu memohon agar Allah Swt memberi hidayah dalam bentuk ini, yakni terdapat dalam surat al-Fatihah ayat 6 :

إِهْدِناَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (الفاتحة: 6)

Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (Qs. al-Fatihah : 6).

4. Tuntunan berupa jalan ke Surga.

Bentuk hidayah yang terakhir ini pun merupakan otoritas Allah semata yang memberikan sama seperti bentuk hidayah yang ketiga. Manusia hanya mampu berdo’a dan memintanya, serta berusaha meniti jalan yang telah ditetapkan Allah melalui petunjuk hamba-hamba pilihan-Nya dalam bentuk syari’at dan ajaran-ajaran agama yang harus dipatuhi oleh manusia. Apabila ingin memperolehnya, ia harus mematuhi segala apa yang diperintahkan-Nya dan mematuhi serta meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya. Dengan kata lain bentuk hidayah ini diperoleh melalui wahyu atau ilham yang shahih, atau limpahan kecerahan (tajalliyat) yang tercurah dari Allah Swt.[14]

Adapun argumentasi adanya hidayah dalam bentuk keempat ini, bisa kita simak melalui konteks ayat di bawah ini :

وَ نَزَعْناَ ماَ فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ وَ قَالُوا الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَاناَ لِهَذَا وَ ماَ كُناَّ لِنَهْتَدِيَ لَولاَ أَنْ هَدَاناَ اللهُ لَقَدْ جَائَتْ رُسُلُ رَبِّناَ بِالْحَقِّ وَ نُوْدُوْا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُوْرِثْتُمُوهاَ بِماَ كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (الأعراف: 43)

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran." Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (Qs. al-A’raaf : 43)

Ayat ini menggambarkan kepada orang yang mendapat petunjuk Allah Swt berupa anugerah kenikmatan surga karena sebab mereka beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.[15]

Jadi kesimpulannya, secara garis besar makna al-hidayah dalam al-Qur'an mengandung 2 pengertian : pertama, berarti “menunjukkan” (al-dalalah) dan kedua “pertolongan” (al-jannah), sebagaimana masing-masing dari pengertian di atas, telah diisyaratkan oleh al-Qur'an, sebagai berikut :

Pertama: al-dalalah, yang berarti “menunjukkan” diisyaratkan oleh firman Allah SWT:

وَ أَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِماَ كَانُوا يَكْسِبُونَ (فصلت: 17)

Dan adapun kaum Tsamud, maka Kami telah menunjukkan kepada mereka, tetapi merekatelah menyukai kesesatan daripada petunjuk, maka mereka disambar petir yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. Fushshilat: 17).

Kata hadainahum pada ayat di atas, harus dipahami sebagai dalalnahum, yang berarti: Kami tunjukkan kepada jalan yang mengantar mereka kepada kebaikan (iman). Dalam arti bahwa semua orang terbagi sama di dalamnya, baik mu’min maupun kafir karena ayat itu mengisyaratkan bahwa Allah menunjukkan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali, dengan mengutus para Rasul dan menurunkan wahyu, akan tetapi banyak manusia dengan ikhtiyarnya berpaling dan lebih menyukai kesesatan daripada kebenaran dan petunjuk. Tentang kelompok yang menolak kebenaran ini dan berpaling dari Allah serta mendustakan para Rasul-Nya diabaikan oleh al-Qur'an dalam surat Fushshilat ayat 17 di atas.

Kedua: al-jannah, yang berarti pertolongan dan dorongan untuk melakukan kebaikan, pengertian ini diisyaratkan oleh al-Qur'an melalui ayat:

وَ الَّذِينَ اهْتَدَواْ زَادَهُمْ هُدًى وَ آتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ (محمد: 17)

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. (Qs. Muhammad: 17).

Kata zaadahum huda, pada ayat di atas, harus difahami sebagai a’anahum, yang berarti “menolong mereka” untuk mendapatkan petunjuk dan dorongan mereka untuk melakukan kebaikan. Dari ayat ini pula dapat kita pahami bahwa pertolongan dan dorongan melakukan kebaikan itu hanya dianugrahkan khusus bagi orang-orang yang mau menerima petunjuk (al-dalalah), dalam arti kepada-Nya, serta membenarkan para utusan-Nya. Baru kemudian mereka mendapat “pertolongan Allah” serta mendapat dorongan untuk melakukan kebaikan, karena ungkapan (زادهم هدى) di atas, sebelumnya didahului (الذين اهتدوا) yang berarti: “orang yang menerima petunjuk.”

Lalu bagaimana kita menyikapi sebuah ayat al-Qur'an di bawah ini:

يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَ يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ (النحل: 93)

Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (Qs. an-Nahl: 93).

Dari ayat di atas, dapat kita pahami bahwa Allah dalam “menunjuki” dan “menyesatkan” adalah mutlak, sesuai dengan kemahakuasaan-Nya, Allah juga melihat tidak perlu dipertanyakan apa yang ia perbuat. Tetapi pada saat yang sama, Allah juga bersifat adil, dan tidak akan menyesatkan orang yang berhak mendapat petunjuk begitupun sebaliknya. Firman Allah Swt:

إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ (النساء: 40)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah. (Qs. an-Nisaa’: 40).

وَ ماَ رَبُّكَ بِظَلاَّمِ لِلْعِبَادِ (فصلت: 46)

Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. (Qs. Fushshilat: 46).

Dan siapakah mereka yang dikehendaki-Nya mendapatkan pertolongan (petunjuk), adalah mereka yang membuka hatinya kepada petunjuk, yang membuka akalnya kepada kebenaran, yang mencari dan menerima manhaj-Nya dengan ikhlas dan jujur, dan tunduk kepada agamanya dengan perintah ketaatan dan menyerahkan diri. Mereka inilah yang akan ditolong Allah untuk mendapatkan “petunjuk”, dihantarkan kepadanya, didorong untuk melakukannya, serta ditambah keimanan dan petunjuk mereka di dalam kehidupan ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt :

وَ الَّذِينَ اهْتَدَواْ زَادَهُمْ هُدًى وَ آتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ (محمد: 17)

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. (Qs. Muhammad: 17).

Adapun orang-orang yang akan dikehendaki Allah untuk mendapatkan kesesatan adalah mereka yang lari dari kebenaran, yang berpaling dari petunjuk, dan menutup semua pintu yang ada dalam dirinya yang bisa mengantarnya kepada keimanan dan keselamatan mereka, bahkan tidak ada sama sekali dalam diri mereka kesediaan untuk menerima manhaj yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, atau yang telah digariskan dalam kitab-Nya, mereka tuli, bisu, buta, lalu mereka tidak dapat lagi berfikir. Atau mereka yang berputus asa dari rahmat Allah. Mereka tersebut dalam keseharian bisa disebut orang zalim, kafir, musyrik dan munafik.[16]

Jadi, mereka mengingkari Allah dan menolak agama-Nya, maka bagaimana mungkin Allah mau memberi petunjuk padanya sedang Allah telah berfirman:

و الله لاَ يَهْدِي قَومَ الْكَافِرِيْنَ (اليقرة: 264)

Jika mereka orang-orang fasik dan tidak mau mentaati Allah di dalam kehidupannya, maka bagaimana mungkin Allah memberi petunjuk sedangkan Allah telah berfirman:

و الله لاَ يَهْدِي قَومَ الْفَاسِقِيْنَ (المائدة: 108)

Dan terakhir bagaimana Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dalam hidupnya selalu berdusta dan sangat ingkar, sedang Allah telah berfirman:

و الله لاَ يَهْدِي قَومَ الظَّالِمِيْنَ (اليقرة: 258)


[1] Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, Depag, Jakarta, 1992, hlm. 481

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur'an, Vol. 1. Lentera Hati, Jakarta, 2004, hlm. 63

[3] Asy Syeikh Thanthawi al-Jauhari, al-Jawahir Fi Tafsir al-Qur'an al-Karim, Juz I, Cet. II, hlm. 8

[4] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, Cet. III, 1990, hlm. 334

[5] Ahmad Musthafa al Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Juz I, Daar al Fikr, Mesir, Cet.I, 1953, hlm. 35 – 36

[6] Tim Penyusun IAIN, Ensiklopedia Islam, Djambatan, Jakarta, 1992, hlm. 95

[7] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Amanah, Pustaka Kartini, Jakarta,1992, hlm. 56 - 57

[8] Penjelasan lebih rincinya bisa disimak Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Qur'an, Penerbit Pustaka, Bandung, Cet. II, 1996, hlm. vii

[9] Ibid.,hlm. 40

[10] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Op. Cit., hlm. 65

[11] Ahmad Musthafa al-Maraghi, Op. Cit., Juz V, hlm 74

[12] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Amanah, Op.Cit., hlm 180-181.

[13] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Op. Cit., hlm 65.

[14] Lihat M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Op. Cit., hlm. 65

[15] Lihat ayat sebelumnya yakni Qs. Al A’raaf: 42.

[16] Wahyono Abdul Ghofur, Mendialogkan Teks dengan Konteks, Penerbit eLSAQ Press, Yogyakarta, Cet.I, 2005, hlm. 288

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter