Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MAKNA HIDUP BAGI KEHIDUPAN MANUSIA

hutan

Hidup memang sebuah misteri, karena kita tidak akan pernah tahu kapan kita dibentuk, hingga menjadi janin yang bakal menjadi manusia utuh, kita juga tidak tahu kapan kita akan mati karena kita tidak mempunyai kuasa untuk memutuskan kehidupan itu sendiri. Hidup juga sulit dimengerti, karena kadang kita tidak mengetahui mengapa kita ada, mengapa kita hidup, dan mengapa kita dilahirkan ke dunia ini.[1]

Dalam diri manusia, ada potensi untuk berhubungan dengan dunia material dan dunia spiritual. Namun, pada kenyataannya manusia modern demikian menafikan potensi ruhaniyahnya, sehingga muncullah apa yang disebut pencarian makna hidup. Mereka rupanya baru menyadari ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.

Manusia modern menghadapi persoalan makna hidup karena beberapa hal. Di antaranya adalah tekanan yang amat berlebihan kepada segi material kehidupan. Kemajuan dan kecanggihan dalam mewujudkan keinginan dan memenuhi kehidupan material yang merupakan ciri utama zaman modern, ternyata harus direbut manusia dengan ongkos yang amat mahal, yaitu hilangnya kesadaran makna hidup yang lebih mendalam.

Definisi sukses dalam perbendaharaan kata manusia modern hampir-hampir identik hanya dengan keberhasilan mewujudkan angan-angan dalam bidang kehidupan material. Ukuran sukses dan tidak sukses kebanyakan terbatas hanya seberapa jauh orang bersangkutan menampilkan dirinya secara lahiriah, dalam kehidupan material. Pada gilirannya, manusia modern pun mengabaikan kesuksesan rohaniah. Pengabaikan kesuksesan rohaniah inilah berimplikasi pada kegersangan spiritual.[2]

Berbeda dengan penghayatan hidup tak bermakna, mereka yang menghayati hidup bermakna menunjukkan corak kehidupan penuh semangat dan gairah hidup serta jauh dari perasaan hampa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuan hidup, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, jelas bagi mereka, dengan demikian kegiatan-kegiatan mereka pun menjadi lebih terarah. serta merasakan sendiri kemajuan-kemajuan yang telah mereka capai. Tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari bagi mereka merupakan sumber kepuasan dan kesenangan tersendiri, sehingga dalam mengerjakannya pun mereka lakukan dengan bersemangat dan penuh tanggung jawab.

Hari demi hari mereka temukan aneka ragam pengalaman baru dan hal-hal menarik, yang semuanya akan menambah kekayaan pengalaman hidup mereka. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, dalam arti menyadari pembatasan-pembatasan lingkungan, tetapi dalam keterbatasan itu mereka tetap dapat menentukan sendiri apa yang paling baik mereka lakukan serta menyadari bahwa makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, betapapun buruknya keadaannya. Kalaupun mereka pada suatu saat berada dalam situasi tak menyenangkan atau mereka sendiri mengalami penderitaan, mereka akan menghadapinya dengan sikap tabah serta sadar bahwa senantiasa ada hikmah yang tersembunyi di balik penderitaanya itu.

Tindak bunuh diri sebagai jalan keluar dari penderitaan berat sekalipun sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Mereka benar-benar menghargai hidup dan kehidupan karena mereka menyadari bahwa hidup dan kehidupan itu senantiasa menawarkan makna yang harus dipenuhi.

Bagi mereka kemampuan untuk menentukan tujuan-tujuan pribadi dan menemukan makna hidup merupakan hal yang sangat berharga dan tinggi nilainya, serta merupakan tantangan untuk memenuhinya secara bertanggung jawab. Mereka mampu mencintai dan menerima cinta kasih orang lain, serta menyadari bahwa cinta kasih merupakan salah satu hal yang menjadikan hidup ini bermakna. Mereka orang-orang yang benar menghayati bahwa hidup dan kehidupan mereka bermakna. Motto hidup mereka: “Raih makna dengan do’a, karya, dan cinta.” Mereka yang menghargai hidup bermakna benar-benar tahu untuk apa mereka hidup, dan bagaimana mereka menjalani hidup.[3]

Tujuan hidup manusia adalah menyempurnakan akhlak, menyadari potensi dan merealisasikannya ke arah penyempurnaan diri, meraih kebahagiaan dan menghindari penderitaan. Namun, segala puncak tujuan hidup adalah ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan, karena hal itu akan mengoptimalisasi tujuan-tujuan lain.

Hidup yang bermakna (the meaningful life) sebagai tujuan utama logoterapi sejalan dengan tujuan agama Islam, yaitu meningkatkan kesehatan mental dan mengembangkan religiusitas. Integrasi antara mental yang sehat dan rasa keagamaan (iman dan takwa) yang tinggi menjelmakan pribadi-pribadi yang unggul semacam ulil albab, salah satu karakter terpuji dalam al-Qur’an. Dengan demikian pengembangan hidup bermakna model logoterapi sama sekali tidak bertentangan dengan usaha-usaha mengembangkan sifat-sifat baik dan membuang sifat-sifat buruk yang dalam wawasan Islam disebut Jihad Akbar. Dalam khasanah budaya Islam, terdapat banyak sekali contoh-contoh sejarah mengenai transformasi kepribadian yang dapat dijadikan bahan pemikiran untuk mengembangkan karakter.

Kehidupan modern menawarkan tiga hal kepada manusia masa kini, yaitu harapan, kesempatan, dan tantangan. Ia menjanjikan harapan untuk perbaikan nasib dan kelimpahan materi, membuka kesempatan peluang yang luas untuk mengaktualisasikan diri dengan memacu diri bekerja keras sebagai tantangannya.

Kehidupan modern memang bukan kehidupan yang ringan untuk dijalani, karena terkadang merupakan ajang persaingan ketat dan keras. Inilah pentingnya mengembangkan karakter tangguh dengan kehidupan yang bermakna, serta menetapkan tujuan hidup yang jelas dan mantap. Dalam hal ini menjadikan iman sebagai makna dan tujuan hidup tertinggi mutlak diperlukan untuk menenangkan hidup saat ini.

Kondisi tersulit sejak zaman Nabi ini tidak hanya membutuhkan pendekatan multidisiplin ilmu, tetapi perlu mendayagunakan energi ke-Tuhanan, seperti yang pernah diperlihatkan para Nabi dalam menyelesaikan kemelut zamannya. Inilah pula dari tujuan psikologi Islami, yang ingin mengembangkan kualitas pribadi dan keberagaman secara optimal.[4]

Allah menciptakan kehidupan bukan tanpa tujuan. Perjalanan hidup manusia harus mempunyai arah dan tujuan. Dengan beribadah kepada Allah maka hidup seseorang tidak akan sia-sia, sehingga hidup menjadi berarti dan bermakna. Itu sebabnya, kebermaknaan hidup tergantung pada sejauhmana hidup tersebut diisi dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kita kepada sang pencipta.[5]

Ibadah merupakan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, yang pada akhirnya memberikan perasan damai, tentram, dan tabah. Ibadah yang dilakukan secara terus-menerus dan khusyuk memberikan perasan seakan-akan mendapatkan bimbingan dan petunjuk-Nya dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.[6]

Kehidupan yang sehat adalah kehidupan yang penuh makna. Hanya dengan makna yang baik, orang akan menjadi insan yang berguna tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Victor Emile Frankl memusatkan perhatian pada pemberian makna kehidupan yang baik di dalam melihat dan memilih berbagai alternatif kehidupan yang penuh dengan konflik. Pilihan kehidupan yang menunai konflik dapat dibuat bermakna, yaitu merubah cara berpikir di dalam melihat sebuah fenomena.[7]

Apabila seseorang sudah memahami makna hidup yang sesungguhnya, yaitu menjalankan misi Tuhan, dan telah mendalami tujuan hidup berdasarkan suara hatinya, maka niscaya ia akan menyadari bahwa salah satu ibadah adalah menjaga dan memelihara fitrah dalam rangka memakmurkan bumi di jalan Allah Swt. Seseorang yang telah mampu menghentikan pengabdian dirinya kepada selain Allah Swt, akan menjadi pribadi-pribadi yang hebat, yang akan meningkatkan seluruh potensi dirinya untuk menghasilkan yang terbaik dengan standar yang sangat tinggi dan tidak berhenti pada batasan duniawi yang relatif rendah, dengan cara pencapaian yang bijaksana dan luhur.[8]

Dengan petunjuk keimanan orang mukmin dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dan rahasia kehidupan ini. Dia mengetahui asal dan kelanjutan serta tujuan hidupnya. Dengan mengetahui rahasia kehidupan ini maka perasaan ragu dalam jiwanya pun menjadi sirna. Dia mengetahui dan mengakui Allah Swt, dzat yang menciptakan segala sesuatu. Dia-lah Allah Swt yang menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya, memuliakan dan memberi keistimewaan. Dia-lah yang menjadikan manusia khalifah di bumi dan menjadikan rizkinya, serta berpegang teguh pada bimbingan-Nya. Keimanan merupakan benteng pertahanan yang kokoh dan tali yang kuat sebagai tempat dia bergantung. Agama dijadikannya sebagai pegangan hidup yang penuh dengan cobaan dan mempunyai pedoman dalam menilai pergaulan hidup, yang sering berubah-ubah.

Orang mukmin mengetahui bahwa di tengah kehidupan dunia yang singkat ini senantiasa berbaur antara kebaikan dan kejahatan, keadilan dan kezhaliman, hak dan bathil, suka dan duka. Karakteristik semacam ini tentu saja bukan merupakan tujuan dan terminal. Ia merupakan medan untuk beramal, untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kehidupan lain yang lebih hakiki.[9]

Dengan didasari iman dan taqwa kepada Allah Swt, hidup seseorang akan lebih bermakna atau berarti, karena iman dan takwa merupakan penolong bagi hati sanubari. Ia memberikan makanan dengan cahaya terang, sehingga tetap kuat, bersih, dan mempunyai pandangan yang jernih dan terang. Itu disebabkan orang beriman meyakini, bahwa Allah Swt senantiasa berada di dekatnya, di mana saja ia berada, ketika ia berjalan ataupun diam, di tempat terbuka maupun saat berada di sampingnya dan senantiasa mengawasinya. Iman yang kuat memberikan kekuatan jiwa, ketenangan, dan harapan.[10]

Bagi seorang mukmin, cinta kepada Allah Swt adalah cinta yang paling luhur dan paling banyak mewujudkan kebahagiaan dan kepuasan jiwa. Hal ini didorong oleh renungan mengenai nikmat-nikmat Allah Swt yang tak seorang pun kuasa menghitungnya. Allah Swt telah menciptakan manusia dari ketiadaan dan memberi nikmat pancaindra, akal, kemampuan belajar, memperoleh pengetahuan ilmu, pekerjaan dan ketrampilan.

Allah Swt telah menciptakannya, menyempurnakan penciptaannya, menjadikannya dalam sebaik-baiknya bentuk, memuliakannya atas sekalian makhluk, menundukkan alam kepadanya dan menjadikannya khalifah di muka bumi. Allah Swt mengutus para Nabi dan Rasul sepanjang masa untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan, menunjukkan kepada jalan kebenaran dan memberikan pedoman yang lurus agar ia hidup tenang dan bahagia dunia dan akhirat.[11]

Orang-orang yang penuh semangat akan hal ini digerakkan oleh suara hatinya. Mereka mengerjakan apa yang menurut suara hatinya pantas dan esensial dikerjakan. Mereka mengejar sesuatu yang lebih bernilai dan bermakna bagi kehidupan mereka. Itulah signifikansi atau kebermaknaan hidup yang menunjukkan arti sifat penting, arti nilai, esensi, dan relevansi suatu hal.[12]


[1] Nindy Ellesse, Hidup Bukan Teka-Teki, Jakarta: Visimedia, 2007, hlm. V.

[2] Sulaiman al-Kumayi, Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym, Semarang: Pustaka Nuun, 2004, hlm. 8-9.

[3] H.D. Bastaman, Logoterapi (Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna), Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2004, hlm. 85-86.

[4] Ibid., hlm. 246-248.

[5] Zaka al-Farisi, Agar Hidup Lebih Hidup, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2008, hlm. 1.

[6] Abdul Wahab, Quantum Qalbu, Yogyakarta: Diva Press, 2008, hlm. 229.

[7] Victor Emile Frankl, Logoterapi (Terapi Psikologi Melalui Pemaknaan Eksistensi), Terj. M. Murtadlo, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003, hlm. x.

[8] Ary Ginanjar, ESQ (Emotional Spiritual Quotient), Jakarta: Penerbit Arga, 2005, hlm. 304-305.

[9] Yusuf Qardhawi, Merasakan Kehadiran Tuhan, Terj. Jazirotul Islamiah, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2005, hlm. 216.

[10] Ibid., hlm. 217.

[11] Ustman Najati, Belajar EQ dan SQ dari Sunnah Nabi, Jakarta: Hikmah, 2002, hlm 85.

[12] Sansulung John Sum, Rahasia Melejitkan Potensi Sukses, Yogyakarta: Gradien Mediatama, 2008, hlm. 81.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter