Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MEMAHAMI MAKNA LADUNNI

ILMU LADUNNI

Pada dasarnya dalam memahami arti ladunnî, mayoritas ulama merujuk pada surat al-Kahf ayat 65 sebagai berikut:

فَوَجَدَ عَبْداً مِنْ عِبَادِناَ آتَيْناَهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِناَ وَ عَلَّمْناَهُ مِنْ لَدُناَّ عِلْماً

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba dari hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (Qs. al-Kahf: 65)

Menurut Thaba’thaba’î, bahwa ilmu yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ilmu ghaib yang tidak diperoleh melalui sebab-sebab yang umum dilakukan manusia seperti melalui indera atau pemikiran. Alasan beliau seperti ini berdasarkan pada kata min ladunnâ yaitu ilmu yang diperoleh tanpa melalui upaya manusia dan hanya diberikan kepada para wali Allah.[1] Syekh Nawawî juga mengatakan bahwa ilmu ladunî yang dimaksud dalam ayat tersebut tergolong ilmu ghaib dan rahasia yang datang bersamaan dengan karunia Allah.[2]

Menurut al-Baghawî, yang dimaksud ilmu ladunnî adalah ilmu batin yang diilhamkan oleh Allah kepada para wali-Nya.[3] Sedangkan al-Fairuz Abadî menyatakan, ilmu yang dimaksud adalah jagat raya atau alam semesta (‘Ilm al-Kawâ’in).[4]

Ismâ’îl Haqqî berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah ilmu ghaib dan berita-berita ghaib. Ilmu ini disebut ilmu ladunî sebab ilmu tersebut berasal dari sisi Allah yang langsung diturunkan ke dalam hati seseorang tanpa melalui perantara seseorang maupun cara-cara yang umum dilakukan. Beliau juga sependapat dengan para ulama sufi seperti Junaid al-Baghdadî yang mengatakan bahwa ilmu ladunnî termasuk ilmu yang dapat diperoleh melalui jalan mukâsyafah (tersingkapnya sesuatu melalui cahaya kalbu).[5] Begitu juga al-Râzî berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ilmu ladunnî yang diperoleh langsung dari Allah tanpa perantara. Menurut kalangan ulama tasawuf, ilmu ini dapat diperoleh melalui jalan mukâsyafah.[6]

Pendapat senada juga dikemukakan oleh al-Shâbunî yang menyatakan bahwa ilmu tersebut adalah ilmu ghaib yang merupakan buah dari ketaqwaan serta keikhlasan. Ilmu ini disebut juga dengan ilmu ladunnî yang hanya dapat diperoleh melalui jalan taqarrub kepada Allah.[7]

Menurut al-Biqa’î, sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah, yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah ilmu batin yang tersembunyi yang berada di sisi Allah semata. Oleh pakar-pakar tasawuf, ilmu yang berdasar mukâsyafah dinamakan ilmu ladunnî. Ilmu ini hanya dapat diraih oleh hamba Allah yang tekun dalam pengolahan jiwa dengan memperindah lahiriahnya dengan ibadah, berakhlak luhur serta bersungguh-sungguh mengasah potensi ruhaniahnya, sehingga pada gilirannya ia memperoleh ma’rifah dan pengetahuan tanpa menggunakan potensi pikir. Dan inilah yang dinamai ilmu ladunnî.[8]

Dari beberapa pendapat para mufassir di atas, secara garis besar menyatakan bahwa persoalan ilmu ladunnî umumnya dikaitkan dengan ilmu ghaib yang datang secara langsung dari Allah tanpa melalui perantara. Walaupun sebagian mufassir percaya bahwa dalam menerima ilmu ladunnî itu tersirat pembelajaran yang tidak tampak, yaitu ketekunan dalam pem-binaan jiwa.

Berkaitan dengan adanya usaha pembelajaran tersebut, Rasyîd Ridha telah menampilkan suatu gagasan dalam tafsirnya, tentang kemutlakan adanya tahapan dalam setiap pengajaran yang disebutkan dalam al-Qur’an. Menurut beliau, secara lahiriah semua ayat al-Qur’an yang mengacu pada kata ta’lîm atau pengajaran mempunyai arti pembelajaran secara bertahap, berangsur-angsur (tadrîj) dan berjenjang, kecuali pengajaran pertama yang diterima Nabi Adam. Ilmu yang diterima Nabi Adam ini dikategorikan daf’atan wâhidah, artinya hanya terjadi sekali saja dan pada waktu tertentu atas izin Allah.[9]


[1] Muhammad Husain Thaba’thaba’î, al-Mîzân Fî Tafsîr al-Qur’ân, Mu’assasah Mathbu’atai Ismâ’îliyyânî, Beirut, t.th., Juz 13, h. 343.

[2] Muhammad Nawawî al-Jawî, Marâh Labîd Tafsîr al-Nawawî, Toha Putra, Semarang, t.th., Juz I, h. 503.

[3] Al-Husain bin Mas’ûd al-Baghawî, Ma’âlim al-Tanzîl, Dâr al-Fikr, Beirut, t.th., Juz. III, h. 584.

[4] Abû Thâhir Ya’qûb al-Fairuz Abâdî, Tanwîr al-Miqbâs, Dâr al-Fikr, Beirut, t.th., h. 250.

[5] Ismâ’îl Haqqî al-Burûsawî, Ruh al-Bayân, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiah, Beirut, t.th., Juz. 5, h. 272.

[6] Muhammad al-Râzî, Tafsîr Fakhr al-Râzî, Dâr al-Fikr, Beirut, t.th., Juz XXI, h. 150.

[7] Muhammad ‘Alî al-Shâbunî, Op. Cit., Jilid II, h. 199.

[8] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Tafsir al-Mishbah, Lentera Hati, Jakarta, 2000, Volume. 11, h. 95.

[9] M. Rasyîd Ridhâ, Tasîr al-Manâr, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiah, Beirut, 2003, Cet. I, Juz. I, h. 218.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter