Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

ORANG YANG MEMPUNYAI HAK RUJUK



Rujuk adalah hak bagi suami atas isterinya selama dalam masa Iddah talaq raj’i, tidak disaratkan adanya ridha dari isteri, maka seorang laki-laki berhak untuk merujuk isterinya walaupun tanpa keridhaan isteri tersebut. Ini adalah hak yang ditetapkan oleh Syara’ bagi suami, maka dia tidak memiliki gugurnya hak walaupun suami telah mentalaq isterinya dengan talaq raj’i, misalnya suami berkata: saya tidak akan merujuk kamu atau saya gugurkan hakku dalam merujuk kamu, maka hak rujuk tetap tidak gugur karena yang demikian itu merupakan sesuatu ungkapan yang mengubah ketetapan yang disyariatkan oleh Allah SWT,[1] dalam firmanya,

الطلاق مرتان فإمساك بمعروف او تسريح بإحسان

Talak yang dapat dirujuki dua kali setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik”.(Qs Al Baqarah: 229 ).[2]

Dan tidak ada seorangpun yang dapat merubah ketetapan atau ketentuan yang disyariatkan oleh Allah SWT.[3]

Imam al-Syafi’i berkata ketika Allah Azzawajala menjadikan rujuk sebagai hak suami atas isterinya selama dalam masa iddah maka bagi isteri tidak punya hak untuk menolak dan tidak punya hak untuk mengganti atas rujuk suaminya karena rujuk adalah hak suami atas isterinya dan rujuk bukan hak isteri atas suaminya,[4] ketika ada firman Allah dalam surat al Baqarah,

و بعولتهن أحق بردهن في ذلك

Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu.” (Qs. Al Baqarah: 228)[5]


[1] Badrun, op. cit., hlm. 366.
[2] Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahannya, op. cit. hlm. 55.
[3] Badrun, lok. Cit.
[4] Muhammad Idris al-Syafi’i, Al Umm, Dar al Fikr, tt, juz. V, hlm.260.
[5] Departemen Agama RI, loc.cit.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter